Trip Pendakian Gunung Lawu Via Candi Cetho, Perjalanan Sunyi Menembus Kabut Suri


Sahabat MountLover sedikit berbagi pengalaman mengulangi perjalanan saya ke lawu kali ini saya di temani oleh Kak El Ahmed dari Purwodadi dan Kak Irhas dari Demak. Saat waktu yang sudah disepakati.

Saya dan Kak Irhas berangkat ke Lawu Via Candi Cetho Karanganyar. Mepo kami dengan Kak Irhas di Pertigaan Sruwen Kabupaten Semarang, sementara Mepo dengan Kak El, langsung di Basecamp Candi Cetho.

Sampai di Karanganyar sudah pukul 21.00 malam dan kami sengaja singgah di kediaman bang Hery Mbolapala untuk istirahat dan menyewa beberapa alat pendakian. Paginya kami setelah sarapan kami kemas barang-barang kami dan segera ke basecamp Candi Cetho.

Kurang lebih 15 menit dari Desa Ngargoyoso kami sampai di basecamp. Sembari menunggu Kak El, kami membeli logistik sebagai perbekalan perjalanan kali ini.

Well setelah kami tunggu sekian menit, Kak El datang juga, bergegas kami melakukan registrasi dengan mengisi formulir yang sudah disediakan oleh basecamp. Setelahnya kami gendong keril kami yang cukup berat tapi kami sepakat untuk bergantian membawa jika capek, hehehehe.

Melintasi pelataran anak tangga Candi Cetho, lantas kami menuju loket Check In Pendakian dengan membayar Harga Tiket Masuk (HTM) sebesar Rp. 20.000,- harga tersebut harga weekday, karena jika weekend harga bisa Rp 25.000 - Rp. 30.000 ditambah biaya parkir Rp 5000 untuk sepeda motor dan Rp. 15.000 - Rp. 20.000 untuk mobil.

Meninggalkan KTP sebagai bukti pendakian dan segera kami melangkahkan kaki kami ke Gerbang Pendakian. Pukul 10:00 kami mulai perjalanan dari Pintu Gerbang menuju Pos 1.

Jalur Pendakian

Estimasi Pendakian

Basecamp - Pos 1 Goa Putri (Mbah Branti): ± 1 jam

Selesai mengabadikan Pintu Gerbang cirikhas Candi Cetho, kami menyusuri jalan setapak dan disambut kabut yang cukup tebal. Tidak lama setelah melintas sungai yang cukup deras airnya jika hujan, jalur sedikit menanjak sampai di Candi Kethek. Melintas kebun warga yang ditanami sayuran dan pohon pinus yang ditiup angin rasanya membuat fresh pikiran yang sekian lama dijenuhkan dengan beban kerja yang seabrek. Perjalanan satu jam lebih hingga bertemu dengan Pos 1 Goa Putri atau Mbah Branti. Kami sempatkan minum dan jajan di warung, menumpang kamar mandi dan menumpang untuk sholat Duhur yang kami jamak dengan sholat ashar. Perut yang sudah mulai keroncongan kami isi dengan soto simbok. Harga Rp 10.000 rasanya tidak mahal dibanding dengan perjuangan beliau membawa barang dagangan ke warung yang melintasi beberapa tanjakan yang cukup menguras tenaga.

Pos 1 - Pos 2 Telaga Kuning: ± 1,5 jam (lebih menanjak)

Meninggalkan Pos 1 ke Pos 2 Telaga Kuning dengan badan yang sudah fit setelah diisi sotonya simak di warung tadi. Kembali memasuki hutan yang rimbun. Perdu yang sudah berumur dan menjulang tinggi kami temui di sepanjang jalur pendakian. Jalan yang semakin menanjak, membuat nafas kami lebih cepat detak jantungnya. Sesekali terdengar burung-burung berkicau, mereka terbang dari ranting ke ranting seolah mengiringi perjalanan kami bertiga. Setiap ada kesempatan saya bercakap-cakap dengan pendaki lain yang sama-sama naik pada hari itu. Kurang lebih 1,5 jam kami sampai Pos 2 Telaga Kuning. Di pos ini ada semacam telaga buatan untuk menampung air dari sumbernya, sekaligus untuk mengisi ulang botol kosong para pendaki. Ada tiga pancuran yang buat, telaga ini memiliki lebar kurang lebi 2 meter dan panjang 4 meter. Biasanya para pendaki mampir untuk cuci muka, sesekali ada juga yang berendam di telaga ini. Di belakangnya ada warung dan tersedian jajanan yang bisa kita beli. 

Pos 2 - Pos 3 Candi Kembar: ± 2 jam (Terjal)

Langkah kecil kembali kami ayunkan, pelan tapi pasti perjalanan kami menuju Pos 3 Candi Kembar. Jalanan semakin terjal dengan kemiringan yang cukup menguras tenaga. Setiap kami berhenti selalu ada saja botol yang berkurang isinya. Matahari yang siang itu cukup menyengat karena hutan yang mulai terbuka. Bertemu hutan lamtoro yang tidak terlalu rimbun, sesekali burung jalak membersamai langkah kami.

Menuju pos 3 ini menjadi rute terpanjang dan terlama dari pendakian gunung Lawu via Candi Cetho. Kami sarankan untuk membawa bekal lebih dalam perjalanan, karena kita butuh banyak energi selama pendakian.

Dua jam perjalanan kami sampai di Pos 3, merebahkan tubuh untuk mengurangi rasa pegal-pegal. Lalu satu dari kami mengisi air di kran mata air yang tersedia. Botol-botol kosong kami isi untuk bekal ke pos berikutnya. Di pos 3 ini sudah banyak tenda berdiri, area cukup luas buat mendirikan tenda. Selain kanan kiri masih banyak tumbuhan dan tanah datar yang sudah dibikin sedemikian rupa, membuat Pos 3 ini diminati para pendaki untuk ngecamp. Pos 3 juga menjadi pertengahan pendakian, tentunya untuk summit attack dibutuhkan waktu yang lebih lama juga.

Pos 3 - Pos 4 Penggik: ± 2 jam (Terjal)

Selepas mengisi perut dengan snack berat kami, perjalanan masih harus kami tempuh lagi untuk menuju pos 4 Penggik. Jalur ini menjadi jalur terterjal dengan durasi waktu kurang lebih dua jam. Hutan cemara yang tidak terlalu lebat membuat pemandangan di kota Karanganyar terlihat jelas. Di pos 4 ini terdapat shelter yang bisa digunakan untuk istirahat. Area yang tidak terlalu luas sehingga jarang yang mendirikan tenda di pos ini bisa memuat 2-4 tenda kapasitas 3 orang, namun cukup nyaman dibawah pohon lamtoro yang cukup tinggi. 

Pos 5 - Pos 5 Bulak Peperangan: ± 1 jam (tidak terlalu terjal)

Menuju pos 5 kami dihadapkan dibeberapa medan yang random. Ada yang super terjal dan ada pula yang landai. Pertengahan antara pos 4 dan pos 5 ada tebing di sebelah kanan jalur pendakian. Cukup dalam dan tidak terlihat dasar jurangnya karena bersemak belukar. Terdengar suara arus air di bawahnya yang menandakan ada pergerakan air dalam sungai tersebut. Ada spot sunset juga menjelang tanjakan terakhir sebelum pos 5.

Spot ini cukup bagus untuk swa foto berlatar belakang lembah dan punggung bukit gunung Lawu yang gagah. Rona senja nampak jelas jika cuaca cerah yang patut untuk diabadikan. Setelah tanjakan terkahir dengan rimbun cemara yang berada di sepanjang jalur pendakian dan sesekali menemui pohon cemara yang tumbang. Mungkin karena badai yang besar dan pohon yang sudah mati dan lapuk termakan usia. Kami sampai di Pos 5 Bulak Peperangan pada pukul 17:00 setelah 1 jam perjalanan dari Pos 4 tadi.

Pos ini sangat luas karena merupakan area sabana yang panjang. Rumput tebal di sekitar jalur pendakian menambahkan cantiknya pemandangan di pos 5. Ada warung yang menjajakan makanan untuk para pengunjung. Segera kami mendirikan tenda, dan Fly sheet untuk lebih nyaman meskipun cuaca sore itu sangat cerah. Namun sebagai antisipasi keamanan dan kenyamanan saat istirahat malam itu.

Pos 5 - Pos 6 Gupakan Menjangan: ± 30 - 45 menit 

Alarm HP ku sudah berbunyi pada pukul 03:15, Kak El dan Kek Irhas segera aku bangunkan untuk persiapan summit attack. Sambil mengumpulkan nyawa, ku teguk air putih yang rasanya seperti baru keluar dari kulkas. Camilan dan snack berat juga tidak lupa aku santap sebagai ganjal perut saat melakukan summit attack. Pukul 03:30 kami mulai keluar tenda dan ada beberapa teman yang bergabung dengan kami, karena mereka baru perdana ke Lawu via Candi Cetho.

Pesiapan Summit Attack

Senter sudah terpasang di kepala kami dan tak lupa kami berdoa untuk keselamatan hingga ke puncak. Medan yang cukup bersahat membuat langkah kami bisa lebih cepat dan pukul 04.00 kami sampai di pos 6 Gupakan Menjangan.

Pos 6 - Pasar Dieng: ± 30 menit (lebih menanjak)

Gupakan Menjangan kami lewati begitu saja dengan sederet tenda yang berjajar rapi dengan ramai perbincangan yang siap untuk melanjutkan perjalanan. Ada satu tempat yang hilang rasanya saat melewati Gupakan Menjangan. Telaga yang dulu penuh dengan air saat hujan, kini sudah penuh dengan tanah sehingga tak ada lagi air untuk bisa mengisi ulang. Akan tetapi jangan risau teman-teman, karena di sebelah kanan masih ada cekungan yang menampung air juga jika musih penghujan ya hehehe.

Sabana sangat luas dan jalur yang luas pula menyambut langkah kami. Udara masih dingin yang masih menempelkan jaket di tubuh kami. Menjelang Pasar Dieng hutan tak lagi ditumbuhi pohon-pohon besar. Berganti dengan pohon cantigi dengan pucuk yang berwarna kemerahan. Di sini kami cukup lama berhenti karena menjelang sun rise.

Mengabadikan moment matahari terbit dengan kamera ponsel kami secukupnya. Burung jalak mulai menuntun kami menuju Pasar Dieng, Pada pukul 06.00 kami sampai di Pasar Dieng. Tidak ada yang berubah saat sampai di sini, batu padas putih berserakan dan beberapa ada yang ditumpuk untuk penunjuk arah. Hanya papan saja yang mulai usang termakan waktu. Pasar Dieng ini menjadi titik temu antara jalur pendakian via Candi Cetho dan Cemoro Kandang.

Pasar Dieng - Hargo Dalem: ± 30 menit (relatif datar)

Tidak banyak moment yang kami abadikan dan kami melanjutkan ke Hargo Dalem untuk segera sarapan di warung Alm Mbok Yem. Tidak butuh waktu lama kurang dari 30 menit kami sampai di Hargo Dalem. Menuju warung Mbok Yem ternyata tutup, entah karena apa dan kami pindah ke warung sebelahnya untuk memesan soto dan susu anget. Harga Rp 25.000 tidak terlalu mahal dan masih aman untuk kantong-kantong para pendaki. Untuk mendapatkan rasa hangat tubuh kami, kami menikmati soto di halaman warung Mbok Yem.

Foto Mbok Yem masih abadi bersama kenangan para pendaki. Ada yang hilang selain mbok Yem, Temon yang manja serta kucingnya juga tidak muncul di warung mbokyem. Hanya ayam-ayam yang menjadi hewan penghuni di sekitar warung Hargo Dalem.

Hargo Dalem - Hargo Dumilah (Puncak): ± 30-45 menit (Tanjakan Terjal)

Sarapan sudah kelar, akhirnya kami memutuskan untuk ke Hargo Dumilah. Kami lebih memilih jalur dari belakang Mbok Yem, meski terjal tetapi masih cukup bersahabat kok hehehe. Effort di jalur ini cenderung pada medan yang berbatu, mudah terpeleset dan sangat terik jika matahari sudah di atas jam 9 pagi. Namun semua tak menyurutkan semangat kami untuk sampai ke Puncak Hargo Dalem. Tiga puluh menit kami berjalan di punggungan terakhir Gunung Lawu, dan ramai para pendaki yang bergantian untuk megabadikan foto di Puncak.

Saya sendiri tidak terlalu banyak karena memang sudah beberapa kali ke sini, cukup menunggu kak el dan kak irhas sambil makan semangka yang ditawari pendaki lain. Manis banget rasanya, dingin alami yang melegakan tenggorokan. Lantas aku pamit untuk turun duluan kepada kak el dan kak Irhas, karena mereka ingin ke Geger Boyo. Tidak terlalu ngoyo saat perjalanan turun kami ke tenda di Bulak Peperangan.

Pukul 10:00 kami putuskan turun ke basecamp dari Bulak Peperangan dan pukul 13:30 kami sampai dibasecamp. Tidak lupa kami mengambil KTP sekaligus membuang sampah ditempat yang sudah di sediakan. 

#gununglawu

#trip

#candicetho

#Karanganyar

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url