Senin, 25 Maret 2019

Expedisi Atap Sumatra Gunung Kerinci

Terimakasih Lion Air 

Siapa yang tidak ingin coba mendaki gunung Kerinci yang menjadi salah satu seven summit di Indonesia. Pasti para pencinta ketinggian akan melakukan upaya bagaimana bisa mencapai atap Sumatra ini. Mulai dari menabung, ikut open trip ataupun dengan jalur mandiri. Secara atap Sumatra ini merupakan gunung api tertinggi di Asia atau gunung tertinggi kedua setelah Puncak Jaya atau Cartens Pyramid di Irian Jaya.

Begitu juga saya, mempunyai angan - angan untuk ke atap Sumatra ini sejak saya mengantar teman orang Padang Uda David yang saat itu minta ke atap Jawa, Semeru. Dari situlah saya termotivasi untuk mengumpulkan biaya untuk menuju ke atap Sumatra ini. Namun karena faktor sudah kebutuhan rumah tangga akhirnya selalu berbenturan dengan kebutuhan pokok.

Namun Allah berkata lain, karena doa yang diijabah itu akan memberikan jalan untuk sebuah tujuan yang diinginkannya. Dipertemukannlah saya dengan seorang anak muda dari Philipina, dia adalah Edward Evaristo. Kami dipertemukan di media sosial khususnya pada grup Komunitas Pendaki Indonesia Raya (KPGIR). Saat itu beliau memosting keinginannya ingin mendaki Gunung Sumbing dan Sindoro. Singkat cerita akhirnya kami bertemu di Bandara Ahmad Yani yang lama dan akhirnya dalam tiga hari kami dobel S plus Candi Borobudur. Akhir pertemuan kami dia katakan saya akan balik lagi ke Indonesia.

Selalu komunikasi dengan face book ataupun dengan Whatsapp itu yang kami lakukan, hingga akhirnya kami sepakat buat perjalanan ke Atap Sumatra. Saya berangkat dari Semarang Ahmad Yani- Jakarta (Soeta) dan Padang (Minangkabau). Edward dari Philipina - Malaysia dan Padang (Minangkabau). Kami bertemu di Bandara Minangkabau sekitar pukul 10:00 pada waktu itu. Sambil menunggu teman menjemput kami (Uda Indra be Okta dan Uda Liang) sekitar seperempat jam akhirnya mereka sampai. Kami di bawa ke sebuah tempat makan yang sangat sederhana, di pinggir sungai yang jernih sekali. Puas dengan masakan yang lezat akhirnya kami dibawa ke basecamp Rindu Alam untuk istirahat.


Atap Sumatra dari Kabin Lion Air

Selama istirahat saya pun mencaoba mengontak teman Uda Rizki yang berada di Solok yang siap mendampingi kami ke Gunung Kerinci. Pukul 21:00 kami naik travel ke Solok tempat Uda Rizki Syahmendra. Perjalanan darat yang cukup melelahkan akhirnya kami sampai tempat uda Rizki sekitar pukul 2 dini hari. Pukul tujuh pagi kami melanjutkan perjalanan kami ke Aro dan akhirnya kami tiba di Basecamp Aro pukul 11:00.. 

Perjalanan kami naik ke gunung Kerinci ini kami hanya bertiga pada saat itu kami bertemu dengan tim dari Bengkulu yang akhirnya kami gabung bersama mereke. Pukul 13:00 kami mulai perjalanan kami, kata pengelola basecamp ini adalah kelompok terakhir yang naik pada hari itu karena kalau naik di atas pukul 2 sudah tidak diijinkan, mengingat lebatnya hutan gunung Kerinci dan masih banyaknya hewan liar yang ada.

Pintu Rimba pun menyapa kami dengan ramahnya, udara yang sejuk dan langit yang cukup cerah. Begitu masuk hutan gunung Kerinci, hutan lebat sudah lebih dulu menyambut kami dengan rimbunnya dedaunan dan jejak-jejak kaki kaki para pendaki lain yang datang dari penjuru Indonesia bahkan negara. Hutan yang lebat membuat perjalanan kami sangat nyaman, selain diawali dengan banyak jalan yang datar, sinar matahari yang tidak tembus membuat kami tidak banyak berkeringat sehingga kami bisa sedikit lebih cepat untuk mempercepat langkah kami.

Pos 1, pos 2 dan pos 3 yang masing-masing memiliki pos bayangan serta ada mata airu yang bisa dimanfaatkan untuk mengisi perbekalan air para pendaki untuk kebutuhan masak terutamanya. Target kami adalah Shelter 1 untuk bermalam dan mendirikan tenda. Alhamdulillah kami sampai di shelter 1 pada pukul 4.30 sore hari lebih cepat setengah jam dari perkiraan awal. Dari shelter 1 ini kami naik sedikit kami mendirikan tenda di bawah pohon besar dan cukup untuk 3 tenda di sana. Alhamdulillah pula udara pada malam itu sangat bersahabat, hening, sunyi dan sejuk itu yang kami dapatkan hingga istirahat kami sangat nyenyak dan dini hari kami terbangun pada pukul 5. Saya pun segera bertayamum untuk menunaikan sholat subuh. Persiapan makan pagi pun kami siapkan dengan menu Mie Ramen dari Philipina ditambah sayuran, bakso juga sosis. Kata Edward Mantap rasanya.

Dilokasi ini masih banyak sekali tupai - tupai yang mencari makan di sekitar pohom dan tidak jarang pula terlihat mengais-ngais makanan sisa para pendaki.

Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami ada pukul 07:30. Berdoa kami laksanakan sebelum perjalanan kedua kami. Awal perjalanan hari ke dua ini saya sempatkan bertanya kepada uda Rizki, " berapa jam untuk sampai di Shelter 3? uda Rizky menjawab dengan tegas yaitu "tiga jam". Dalam benak saya berfikir, kalau tiga jam berarti nanti tiba di shelter kira kira pukul 11 siang hari. Rasanya semangat sekali untuk segera melanjutkan perjalan kami. 

Sisa hujan 2 hari sebelumnya membuat jalan yang sangat licinpun dimulai, lumpur yang tebal jangan tanya lagi sudah pasti menempel di sepatu ataupun sandal kami. Beruntung juga sebenarnya saya pakai sandal yang kebesaran ukurannya. Hehehehe
Gumam saya saat itu ini hampir 3 jam perjalanan kami menembus hutan dari shelter 1 ke Shelter 2, pandangan kami kok belum ada "hilal nya shelter 2". Gerutu saya..ini pasti uda Rizky bohong kepada saya shelter 3 hanya 3 jam dari tempat kami mendirikan tenda. Hasssudahlah saya bilang yang penting semangat. Perjalanan ini kami sudah dihadapkan dengan lorong lorong yang terjal dan sesekali harus mendunduk dengan rimbunnya rimba ini. Akhirnya pukul 11:30 pun kami sampai di Shelter 2 dan kami sejenak beristirahat untuk mengisi perut kami dengan perbekalan kami.


Tanjakan Penyiksaan

Saling menyapa dengan pendaki lain, kemudian kami dapat rombongan lain juga dari Bengkulu dan Riau. Perjalanan menuju Shelter 3 ini sangat melelahkan dan aku sebut ini adalah "Tanjakan Penyiksaan". Mulai masuk rute ini kami sudah dihadapkan dengan jalur yang sangat parah, jalur yang rawan longsor dengan medan pendakian yang sangat terjal tapi juga sangat licin jika sehabis hujan. Banyak pohon Cantigi yang tumbang dan akhirnya akar - akar pohon inilah yang menjadi pegangan dan pijakan kami untuk sampai shelter 3. Tidak hanya itu saja ada beberapa bagian kita harus merayap ataupun bergelantungan dari akar satu ke akar lain, meloncat pijakan satu ke pijakan lain dengan berat tas kami, sungguh ini membuat dengkul-dengkul kami bertemu dengan wajah yang sesungguhnya.

Tiga jam kami lalui akhirnya kami sampai di batas vegetasi gunung ini. Sayapun sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi selain tetap dengan rasa syukur kami. Tempat ini sangat terbuka dengan pemandangan yang sangat menakjubkan saat itu. Awan yang terbentang di hadapan kami membuat kami berhenti cukup lama. Karena baper airmata sayapun tidak tertahan lagi, suara yang parau selalu kusebutkan ke agunganMU ya Rabb kami. Banyak kali kami beristirahat yang akhirnya memperlambat perjalanan kami. Dari batas vegetasi menuju shelter 3 masih membutuhkan 1,5 jam. 


Batas Vegetasi

Sesampai di Shelter tiga kami berdiam diri sejenak untuk melepaskan lelah kami, dari tiga jam perjalanan menjadi 8 jam lebih perjalanan kami. Penyiksaan itu akhirnya berakhir sudah tinggal kami memikirkan summit kami pada hari ke 3 nya besok hari. Akhirnya kami mendirikan tenda dengan menghadap ke selatan dengan pemandangan awan di depan tenda kami. Tidak saya lupakan kewajiban kami 5 waktu hingga akhirnya kami membuat makan malam dan istirahat total pada malam itu. 

Hotel di atas awan kami

Singkatnya kami pukul 3 dini hari melakukan summit ke Puncak Gunung Kerinci, sedikit temaram senter saya membuat agak terganggu dengan pandangan saya. Meskipun cerah saat itu, kami memulai perjalanan ini dengan semangat. Banyak teman-teman juga yang summit pada waktu itu. Medan berbatuan sedikit mempermudah langkah kami meskipun kadang terpeleset juga karena ada juga medan yang berpasir. Tugu Yudha adalahan tujuan kami beristirahat kami, sambil meminum air yang kami ambil dari Shelter 3 juga biscuit pemberian tim SAR yang sedang DIKSAR di gunung Kerinci sebanyak 70 orang waktu itu.

Kemudian kami lanjutkan perjalanan kami hingga akhirnya kami sampai puncak Gunung Kerinci. Puncak Indrapura dengan ketinggian 3805 Meter Diatas Permukaan Air Laut. Kembali rasa haru dan bangga bisa mendapatkan kesempatan besar ini untuk menapaki jejak atap Sumatra. Aku hanya terdiam, jujur perjuangan ini merupakan perjuangan yang melelahkan. Lelah dengan jalurnya yang sangat luar biasa, namun semua terbayarkan lelah kami di puncak ini. 


Puncak Indrapura 3805 MDPL

05:30 tepatnya kami sampai di Puncak Indrapura, menunggu matahari muncul akhirnya aku sempatkan buat sholat subuh sebagai rasa syukur kami. Dinginpun sudah mulai terasa saat kami berdiam diri. Dengan sisa - sisa tenaga kami bergerak agar tidak terasa semakin dingin. Dari puncak inilah kami bisa melihat seluruh kota ataupun desa di kaki Gunung Kerinci. Kawah yang dalam dan menganga juga terhampar di depan kami dengan asap sulfatara yang cukup tebal. Beruntung hari itu hembusan angin sangat berpihak kepada kami sehingga kami tidak terlalu terganggu dengan asap sulfatara puncak Kerinci ini.

Awan yang tebal menjadi dambaan kami selanjutnya saat sunrise tidak muncul juga meski saat itu sudah pukul 06:30. Hanya bayangan kemerahan yang kami dapat, bahkan danau gunung tujuhpun tampaknya masih enggan untuk muncul terhalang oleh gulungan awan yang sangat tebal. Pun tidak mengurangi rasa syukur kami kepada Allah SWT yang telah memberikan kami kekuatan dan kemudahan pada semua ini. 


Samudra Awan yang Amzing

Terlebih lagi kepada uda Rizky Syahmendra, terimakasih yang sangat dalam telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk mengantar kami hingga berkahirnya pendakian kami. Terimakasih juga buat Uda Indra Be Okta Putra, Uda Liang yang banyak berperan dan membantu kami selama di Kota Padang. Terimakasih Uni yang akhirnya bisa meminjami saya laptop buat pindah file juga tehnya yang lamak sekali. Terimaksih juga para driver yang telah mengantar dan menjemput kami selama perjalanan. Terimakasih juga buat keluarga Uda Rizky yang telah memberi kami penginapan untuk istirahat dan makan pagi. Terimakasih juga buat Soba yang mengantar dan menjemputku ke Bandara Ahmad Yani Semarang. Also big thanks to Edward Evaristo whose support me about the flight ticket From Semarang to Padang and round ticket. 

Semoga pengalaman ini kelak menjadi bagian cerita saya kepada anak cucu kami dan bermanfaat pula buat pembaca. Aamiin
Comments


EmoticonEmoticon