Minggu, 18 April 2021

Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo - Part I ( Pengobat Kecewa)

Gunung Lawu

Perencanaan yang gagal akhirnya saya mengalihkan tujuan untuk tetap berjalan di sebuah pegunungan bersama teman saya mas Dwi dari Ungaran. Awalnya kami akan pergi ke Gunung Gede Pangrango bertepatan dengan pelaksanaan pernikahan keponakan saya yang di Jakarta yang terjadwal tanggal 9 April 2021. Berkoordinasi teman-teman yang di Jakarta dan Bogor sudah saya lakukan, namun akhirnya semua ditunda karena akad nikah yang ditunda menjadi tanggal 31 Juli 2021 nantinya. Untuk mengobati rasa kecewa akhirnya kami alihkan tanggal tersebut ke Gunung Lawu yang tidak seperti biasanya.

Kami mengambil jalur yang jauh dari keramaian dan sangat jarang di lewati oleh pendaki kecuali penduduk lokal yaitu Gunung Lawu dengan jalur pendakian Jogorogo Ngawi, Jawa Timur. Jalur ini merupakan jalur terpanjang di Gunung Lawu yang dimulai pendakian dari ketinggian 500 an MDPL. Sementara yang lain jalur pendakian sudah dimulai di atas 1200 an MDPL.

Singkat cerita kami mulai perjalanan kami dari tanggal 8 April 2021 yang saat itu memang sudah terjadi grup mini di WA dengan teman-teman dari Lamongan dan Jombang yang ingin bergabung dengan kami untuk mencoba jalur Gunung Lawu Via Jogorogo. Ada Egi Firmansyah dan Sherif dari Lamongan serta Mas Tawon dan Rois dari Jombang, ditemani relawan basecamp mas Aldi dan mas Ipung. Akan tetapi pada prakteknya masih ada dua orang lagi yang mbarengi kami yaitu mas Yogi dan satu lagi saya lupa namanya. Saya sendiri berangkat dari Demak pukul 14:00 siang dengan mengendarai motor matik saya dan janjian sama mas Dwi di terminak Tingkir pukul 18:00 sore karena mas Dwi nya baru keluar dari pekerjaan pukul 16:00 nya. Saya sampai di terminal tingkir pada pukul 4 sore dan langsung ke mushola untuk menunaikan sholat ashar.

Usai Sholat ashar saya langsung berbaur dengan anak-anak bus mania di terminal Tingkir yang sore itu cukup ramai. Setiap bus yang jadi pelari kami foto satu-satu apalagi kalau yang datang bus Haryanto dan STJ, auto penggemarnya merapat semua termasuk saya hehehehehe....

Bersama temen-temen bus mania dan Mas Rehan Pedagang Cilok yang super koca

Momen-momen itu saya abadikan dengan kameraku yang sudah menua, hingga akhirnya ada kebersamaan berfoto dengan anak-anak bus mania yang salah satunya pedagang cilok yang sangat ramah dan baik hati minta di foto bareng dengan latar belakang bus Haryanto. Kamipun sambil bercerita dan bercanda hingga adzan maghrib berkumandang. Sejenak temanku yang dari Ungaranpun juga sudah sampai. Bergegas kami segera laksanakan sholat Maghrib dan di jamak dengan Sholat Isyak sebelum kami bertolak menuju ke kota Ngawi. 

Sebelum perjalanan kami mulai, saya menitipkan motor saya di parkiran belakang terminal dan akan saya ambil hari Minggunya. Pukul 6:30 malam itu kami mulai perjalanan dari Salatiga dan awalnya aku yang berada di depan untuk mengendarai motornya mas Dwi. Sementara dari Jombang juga sudah mulai bergerak untuk meninggalkan kotanya dengan tujuan yang sama yaitu Kota Ngawi dan ke basecamp Jogorogo. Malam itu kami sampai di kota Solo sekitar pukul 19:30 yang akhirnya Mas Dwi lah yang mengendarai sepeda motor karena harus menggunakan Google map untuk mempermudah perjalanan kami. Kota Sragen kami lalui pukul 20:00 an sementara yang dari Jombang sudah sampai di Ngawi dan mendekati Jogorogo. Sementara yang dari Lamongan belum bergerak sama sekali dari kota nya karena masih menunggu mas Sherif yang baru keluar dari tempat kerjanya pukul 18:00. Alhasil kami segera menuju ke Ngawi dan sekitar pukul 21:00 kami sudah berada di Ngawi menuju segera munuju ke Pasar Jogorogo yang menjadi tempat bertemu kami. 

Pukul 21:30 kami sampai di Pasar Jogorogo dan yang dari Jombang sudah berada di tempat mas Irvan Handri yang beralamat Dukuh Pocol Ds Kletekan RT 05 RW 04, Jogorogo, Ngawi. Kami dijemput mas Irvan di pasar yang sebelumnya kami sudah keblabasan menuju kota Ngawi sekitar 6 km hahahaha. Gagal fokus karena perut mulai laperrrrrrrrrrrrrrrrrr. Namun karena sudah ada janji yang membawakan nasi Boran khas Lamongan akhirnya kami memutuskan untuk tidak makan di perjalanan melainkan menunggu yang dari Lamongan. Tapi eh tapi.... ternyata aku salah sangka, yang sudah sampai di tempat mas Irvan itu adalah teman yang dari Jombang dan nothing nasi Boran. Saking lapernya aku tidak malu-malu untuk menembung ke mas Irvan buat makan malam, memang sudah di siapkan sebenarnya hahahaha. Wahh lauknya ampuuun dahhh kesukaan saya semua, Sayur Gori Kemarin, Tuntuman dan ikan asinn... auto nambah pokoke apalagi temenku yang sudah kelaparan mas Dwi, awale malu-malu tapi akhire nambah juga hahahahahha.... gak usah isin-isin pokoke.

Karena lelah dalam perjalanan kamipun terkantuk dan tertidur lelap hingga akhirnya terbangun karena yang dari Lamongan datang pada pukul 01:00 dini hari. Pun temen saya tetap terlelap tuh tanpa harus terganggu sedikitpun. Nah disitulah akhirnya nasi boran nya sudah tercium bau nya dan saya pun sempat mencicipi meskipun sedikit karena memang cukup pedas buat saya hehehehe... maaf ya mas Sherif. Namun rasa penasaran itu kan sudah tidak lagi seperti apa rasa nasi Boran itu ???

Nasi Boran Khas Lamongan

Tak seberapa lama kamipun semua putuskan buat rehat sampai subuh hari, meski sebentar kamipu cukup nyenyak. Sebenarnya dalam jadwal kami berangkat pukul 06:00 pagi start dari basecamp untuk perjalanan kali ini, akan tetapi semua tidak bisa dipaksakan untuk sesuai dengan jadwal karena berbenturan dengan perjalanan yang jauh dan kondisional sebuah pekerjaan itu lebih penting dibanding sebuah hiburan perjalanan. Usai sarapan dengan nasi Boran dan ada menu-menu lain yang sudah di depan mata kami menyantap dengan lahab tanpa basa basi sedikitpun. Kami berangkat ke basecamp Jogorogo sekitar pukul 07:30 dari rumah mas Irvan Handri. Karena masih ada beberapa bekal yang kami beli di jalan serta jas hujan yang kelupaan membawa, kami singgah di warung sesaat untuk melengkapinya. 

Perjalanan ke basecamp Jogorogo cukup bagus juga viewnya dan kami melewati beberapa perkampungan yang kanan kirinya terbentang sawah yang teras iring di latarbelakangi dengan bukit-bukit di kaki Gunung Lawu. Kata satu temen saya mas Sherif, "Aku tidak pernah menyangka jika kota Ngawi itu punya gunung yang sebesar ini dan berhawa sejuk". Nyatanya tetap nyegerin tanpa harus minum Sprite hehehehhe. Karena udara yang sejuk dan air yang masih bersih semuapun terlihat bersih di perkampungan menuju basecamp ini. Jalan yang sudah beraspal dan betonisasi yang mempermudah kami sampai di basecamp yang berujung batu yang tertata rapi pun kami tidak kesulitan untuk sampai di basecamp.' Dengan nomor kontak person Basecamp Pendakian Lawu via Jogorogo 0857-3552-9131 (Irvan Handri)

https://maps.app.goo.gl/UKn6P4CmRiM8F5bd6

Basecamp & Lapangan Voly yang menjadi start Pendakian

Sesampai di basecamp kamipun sudah ditunggu oleh rekan-rekan yang sekaligus relawan yang akan mengantar kami. Nah disitulah buly demi bulyan dimulai dari jam yang molor serta ada saja yang di buat ngebanyol yang terkadang nganyelake tapi seru. Namun di sisi lain adapula peserta lain yang akan naik gunung Lawu yaitu anak-anak Mapala dari POLINES Semarang yang sedang memantau adik-adiknya yang sudah naik duluan. Akhirnya kami berlima belas (15) naik bersama sesuai arahan Kak Irvan Handri sampai pos 1, karena jalur menuju pos 1 memang banyak cabangnya yang ditakutkan kesasar tentunya. Kalau setelah Pos 1 terserah saja kata beliau (kak Irvan Handri).

Akses Menuju Jogorogo jika naik transportasi umum, baik naik bus dari arah timur atau barat lebih baik turun di kota Ngawi, dari sana biasanya sudah ada travel yang siap mengantar untuk sampai ke basecamp dengan harga juga masih relatif murah lah untuk kantong para traveler. Jika naik motor atau mobil pribadi tinggal klik link di atas, insya allah sudah teraksesable di google map, jadi jangan khawatir kesasar hehehehehe...................

Cerita Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo Part II judul (Jalur Jogorogo Menyapa) will be coming soon




3 komentar

  1. Gass Poll Mas... Semoga segera diresmikan jalurnya dan semoga tetap lestari alamnya, terima kasih tulisannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... maaf mas Endro ada beberapa bagian foto antum yang saya masukkan dalam ceritaku nanti

      Hapus
  2. saya pernah naik gunung lawu via jogorogo 2 kali kesasar pada waktu itu taun 2017 jalur belum terbuka hanya bekas jalan kecil itupun agak ketutup rerumputan dan saya juga sudah memasang penanda pita warna orange

    BalasHapus


EmoticonEmoticon