SYAFIQ ALI DITEMUKAN DALAM KEADAAN MD, Mendaki Berdua Sangat Beresiko Yang Jarang Kita Bahas dan Ketahui
![]() |
Hari Kamis, tanggal 14 Januari 2026 pukul 10:22 telah ditemukansurvivor A1 atas nama Syafiq Ridhan Ali Razan. Tujuh Belas hari dalam dekapan Gunung Selamet survivor ditemukan dalam keadaan Meninggl Dunia (MD) tepatnya di daerah lereng puncak sebelah selatan antara jalur Gunung Malang dan Baturaden.
![]() |
| Peta Pendakian Seluruh Jalur Gunung Slamet |
Dari kejadian tersebut di atas kita banyak belajar apakah aman jika mendaki berdua? Banyak orang mengira mendaki berdua sudah cukup aman. Ada teman, ada saksi, ada yang saling jaga. Namun di lapangan, mendaki hanya berdua justru menyimpan risiko sosial dan psikologis yang besar, terutama jika salah satu hilang dan satu orang lainnya selamat.
Bukan hanya soal fisik dan teknis gunung tetapi soal tekanan publik, tuduhan, hingga fitnah serius yang bisa muncul tanpa ampun.
![]() |
| Orientasi Puncak Guung Slamet |
1. Sorotan Publik Terpusat pada Satu Orang yang Selamat
Ketika dua orang mendaki dan satu dinyatakan hilang, hanya ada satu sumber cerita: orang yang berhasil turun.
Di titik ini, publik sering lupa bahwa:
- Orang tersebut baru saja mengalami kejadian traumatis
- Tubuhnya mungkin masih lemah
- Mentalnya belum stabil
- Ingatannya belum tentu utuh
Namun yang terjadi justru sebaliknya:
- Dipaksa menjawab cepat
- Dituntut kronologi yang rapi
- Setiap perbedaan cerita dianggap mencurigakan
- Padahal tidak semua kejadian ekstrem bisa •langsung diceritakan secara runtut.
2. Kondisi Emosional Membuat Kesaksian Tidak Stabil
Dalam situasi gunung:
- Kelelahan ekstrem
- Kurang makan dan minum
- Cuaca buruk
- Panik
- Rasa bersalah karena selamat sendiri
Semua itu bisa membuat seseorang:
- Lupa urutan kejadian
- Salah menyebut waktu atau lokasi
- Mengubah detail kecil tanpa sadar
Masalahnya, di mata publik:
“Cerita berubah atau boleh dibilang ada yang disembunyikan.”
Padahal dalam dunia psikologi, ingatan korban selamat sering terfragmentasi, bukan karena bohong tetapi karena trauma.
3. Dari Spekulasi hingga Fitnah Berat: Pembunuhan dan Penguburan
Di tahap ini, situasi bisa menjadi jauh lebih berbahaya. Tanpa bukti, tanpa saksi, bahkan tanpa fakta yang jelas, mulai muncul narasi liar seperti:
- “Katanya mereka cekcok”
- “Jangan-jangan dibunuh”
- “Bisa jadi dikubur di gunung”
Fitnah semacam ini sering lahir dari asumsi, bukan data, namun di media sosial, asumsi bisa menyebar lebih cepat daripada klarifikasi.
Akibatnya:
- Rekan yang selamat bukan lagi dipandang sebagai korban
- Tetapi berubah menjadi sasaran tuduhan pembunuhan
- Nama baik hancur sebelum kebenaran ditemukan
Padahal tidak ada bukti, tidak ada saksi, dan proses pencarian pun belum selesai.
4. Media dan Tekanan Netizen Memperparah Situasi
Saat pencarian belum tuntas, tekanan biasanya justru meningkat:
- Media mengejar judul cepat
- Netizen menuntut kepastian
- Komentar liar terus bermunculan
Kalimat seperti:
- “Kenapa bisa terpisah?”
- “Kok bisa selamat sendirian?”
- “Pasti ada yang ditutupi”
Perlahan, opini menggantikan fakta. Rekan yang selamat bisa berubah dari korban menjadi tersangka sosial, meski tidak ada satu pun bukti yang mendukung tuduhan tersebut.
Pelajaran Penting untuk Pendaki
Kasus seperti ini mengajarkan satu hal penting: Risiko mendaki tidak selalu datang dari alam tetapi juga dari manusia dan persepsi publik.
Karena itu:
Mendaki berdua bukan berarti bebas risiko, dokumentasi rencana, jalur, dan komunikasi sangat penting Pendaki yang selamat perlu dilindungi secara psikologis, bukan dihakimi. Publik seharusnya menunggu fakta, bukan membangun asumsi
Penutup
Gunung memang menguji fisik. Namun ketika tragedi terjadi, yang diuji justru kemanusiaan kita. Sebelum ikut berspekulasi, ingatlah:
- Orang yang selamat juga korban
- Trauma tidak selalu bisa diceritakan dengan rapi
- Fitnah pembunuhan bisa melukai lebih dalam daripada cuaca ekstrem
- Naik gunung itu soal tanggung jawab
- Turun gunung, soal empati.
- Jika kalian belum siap APALAGI HANYA BERDUA YANG MINIM PENGETAHUAN
- Gunung bukan tempat pengaduan tetapi menjadi laga survive atau resiko terlukai bahkan kehilangan nyawa.
- Dianjurkan untuk tidak tektok pada gunung dengan ketinggan lebih dari 3000 MDPL
![]() |
| Lokasi ditemukan Syafiq Ali |



