Rabu, 13 Maret 2019

Gunung Sumbing East Route Banaran



Untuk ke dua kalinya saya mengunjungi gunung Sumbing via Banaran (East Route). Namun keduanya adalah sama, yakni sama - sama mengantar tamu dari Philipina. Kami mendaki bertujuh antara lain saya Mr. Adi ceritanya sebagai yang dituakan karena memang usia sudah 45 tahun pada tanggal 8 Maret 2019. Hehehe.... Kemudian Irvan Handri adalah teman dumay yang tidak pernah bertemu sebelumnya, kami hanya chat di FB, WA ataupun IG yang bekerja di salah satu perusahaan garment di Bekasi Jawa Barat. Bang Susilo adalah berikutnya yang merupakan orang Magelang yang awalnya saya kenal beliau pada saat ingin naik Gunung Semeru Desember lalu namun gagal karena berbenturan dengan acara di depan rumahnya. Yoel merupakan teman sekampus Irvan Handri di Bandung saat itu dan kini beliau bekerja sebagai Dosen sebuah Akademi Negri di Solo. Kemudian Aris merupakan adik kandung Yoel yang saat ini masih di bangku kuliah di Bali dengan jurusa Arkeologi. Thirdy atau Bang Roy, adalah orang Philipina yang sudah menetap di Indonesia dan sudah memiliki istri dan dua anak. Beliau adalah Vendor di sebuat merk terkenal di Indonesia yang bernama T*F. Terakhir adalah Priyono yang saat ini masih duduk di kelas 2 MA di Boyolali, dia berasal dari Ampel berdekatan dengan Jalur Merbabu basecamp Tombua. 

Bisa dibaca juga 
http://www.mountlover.com/2019/02/merbabu-jalur-pendakian-yang-bikin.html

Adalah unsur ketidak sengajaan untuk pendakian ini, karena pada awalnya saya berencana ke Cikuray hanya dengan Irvan Handri pada akhir April 2019. Namun tiba - tiba saya dikontak sama Irvan bahwa beliau ingin ke Sumbing untuk mengantar temannya (Bang Roy) dengan beberapa pertimbangan akhirnya dipilihlan Gunung Sumbing East Route (Banaran Temanggung). Akhirnya kami sepakat mepo di basecamp jam 9 pagi dan jam 10 pagi dimulailah pendakian. Namun karena faktor kendaraan kamilah yang akhirnya pukul 10 saya, Kak Yoel, Kak Aris dan Kak Pri baru sampai basecamp. Istirahat dan makan pagi kemudian disepakati naik pukul 10:30. 

Dimulailah pendakian dengan naik ojek menuju Pos 0 dengan uang Rp. 20.000 bisa menghemat 2 jam perjalanan untuk mencapai di Pos 0. Dari pos ini kita terlebih dahulu berdoa dan menuju Pos 1. Untuk sampai pos 1 kita melewati Pos Bayangan 1 atau Dong Banger. Jalan lumayan lebar dan motor trail bisa sampai di Dong Banger ini. Ada aliran pipa dari mata air yang bisa dimanfaatkan untuk isi ulang air . Kemudia menuju pas bayangan dua dengan anak tangga yang terjajar rapi. Untuk mencapai pos bayangan dua kurang lebih setengah jam. Pos ini sebenarnya merupakan warung, ada mushola dan toilet yang bersih dengan air pipa mata air yang tentunya juga digunakan untuk mengisi air bagi para pendaki lainnya. Kami sepakat buat rehat untuk sholat duhur yang kami jamak dengan ashar sementara yang lain juga menunggu kami sambil rehat sejenak.

Menuju pos 1 kita dihadapkan kembali dengan anak tangga kurang lebih 234 jumlahya yang memang ada plus minusnya. Setengah jam akhirnya kami sampai di Pos 1. Merupakan shelter yang di sampingnya ada makam dan kami rehat sambil mengisi perut yang mulai keroncongan anakondanya. Kemudia kami menuju pos 2 dengan jarak tempuh kurang lebih 45 menit sampai satu jam. Masih dengan anak tangga yang jumlahnya hampir 500 anak tangga. Cukup nyaman juga sebenarnya karena setiap akhir anak tangga pasti ada tempat duduk yang memanjakan pendaki sehingga pakaian juga tidak terlalu kotor meski pada musim hujan sekalipun. 

Pos 2 ini juga ada shelter di samping pohon besar dan terdapat papanisasi lokasi pos 2. Karena di shelter ada banyak pendaki yang istirahat, akhirnya kami istirahat di dekat  papanisasi. Dokumentasi cekrak cekrek wajah - wajah yang masih seger, usai itu kami menuju pos 3. Perjalanan menuju pos 3 kurang lebih 1 jam lamanya. Kami melewati Punuk Kebo dan Setari yang merupaka tempat datar dan nyaman buat isirahat dan makan siang kami yang kami isi dengan biskuit sebagai ganjal perut. Masih dengan anak tangga sepanjang perjalanan kami, sesekali jalan yang licin membuat kami harus ekstra hati-hati termasuk saya yang aku memakai decker untuk dengkul ku yang sudah mulai letoy. Sampai di Pos 3 ternyata sudah banyak para pendaki yang sudah mendirikan tenda, karena dari informasi dari para pendaki yang turun, di Pos 4 tejadi badai yang sangat besar dan mematahkan frame tenda para pendaki. 


Kamipun sepakat buat melanjutkan perjalanan menuju pos 4, tidak jauh dari pos 3 kami bertemu dengan lahan terbuka akibat habis terbakar pada musim kemarau tahun 2018. Menyisakan banyak pohon lamtoro yang kering dan mati, hanya 1 atau 2 yang masih hidup dan akhirnya nampaklah hutan mati sepanjang perjalanan kami menuju pos 4. Di sisi lain tumbuhlah rumput hijau dan bunga-bunga berwarna kuning yang mungkin tersimpan banyak madu, hingga banyak kumbang - kumbang hitam kecil yang hinggap dan menghisapnya. Menjelang Pos 4 kami bertemu pendaki yang turun dengan muka agak kesal dengan sedikit kasar menaruh karilnya. Tanpa kami mintapun mereka langsung mengingatkan ke kami, bang di atas badai besar bang lebih baik camp di sini saja bersama kami. Memang saat itu saya khususnya sudah mendengar dengungan angin di atas sana dan rasanya sayapun membenarkan kalau memang terjadi badai besar di pos 4.

Sempat ragu-ragu kami untuk melanjutkan perjalanan ke pos 4, namun kami tetap sepakat untuk mendirikan tenda di pos tersebut. Belum juga sampai pos 4 badai pun sudah menyapa kami dan di depan kami sudah ada 2 orang yang berasal dari Kendal yang sengaja menunggu kami. Usut punya usut mereka akan camp di pos 4 jika kami juga camp di pos 4. Suhu yang menusuk tulangpun mulai kami rasakan hingga akhirnya saya dan teman mulai memakai jaket meski belum sampai di tempat camp. Menapaki Watu Ondo Rantai sebelum pos empat, kami naik satu persatu dengan hati hati, di sebelah kiri ada satu tenda biru berdiri dengan fly sheetnya. Cukup nyaman dan terlindung dari serangan badai nampaknya. Namun sayangnya hanya muat untuk satu tenda saja. Sudahlah gumamku saat itu, tetap pos 4 yang menjadi tujuan kami karena yang berdekatan dengan mata air.

Akhirnya bang Susilo dan Irvan Handri jalan lebih dulu untuk mencari lokasi yang aman buat camp, sementara kami masih sibuk dengan cekrak cekrek di atas watu ondo. Eh maappp ya guysss....
Sesampai kami, ternyata hasilnya 0 meski tempat banyak yang kosong namun lokasi yang kami inginkan di pos 4 tidak ada yang luput dari terjangan badai. Akhirnya mas Susislo dan Irvan Handir menuruni bukit dan menuju ke hutan mati 200 meter dari pos 4, cukup lama mereka di sana dan akhirnya kami dapat tempat yang cukup untuk tiga tenda dan cukup nyaman dari terjangan badai. Terimakasih ya bang hehehehe.... meski kami harus membangun dengan meratakan tanah sekitarnya dengan mencabut rumput - rumput sebagai alas untuk meratakan tempat shelter kami.


Tempat alternatif camp Pos 4 saat badai

Singkatnya kami membangun tenda kami masing-masing, saya di bantu kak Yoel dan Kak Priyono, Irfan membangun tenda sendiri, sementara bang Roy dibantu Kak Ari dan Bang Susilo, namun karena faktor yang sudah agak gelap dan dingin sudah mulai menusuk, tenda bang Roy paling lama selesainya karena ada frame yang patah karena salah penempatan, sementara yang lain bantu bang Roy, saya sudah masuk duluan ke tenda. Jujur aku sudah kedinginan dan di dalampun sudah tidak tanggung lagi semua pakaian saya pakai, Kaos panjang pendek, celana panjang , sarung dan SB semua menempel di tubuhku. Tetap saja masih dingin.

Kira - kira pukul 18:00 kami sudah masuk tenda semua, Kak Irvan sama mas Susilo, Bang Roy sama Kak Yoel, dan tenda saya yang paling besar diisi Saya, Kak Ari dan kak Supri. Sholat Maghrib dan Isya saya jamak dengan tayamum di dalam tenda. Sementara yang lain masak kopi, kami sudah kenyang dengan air putih dan krupuk udang seplastik. Faktor lelahlah akhirnya yang menidurkan kami dalam mimpi dengan desingan badai yang terdengar diatara ranting ranting kering pohon lamtoro kering. 

Pukul 3 dini hari badai itu akhirnya intensnya menurun dan ketenangan kami dapatkan. Tidak terlalu dingin, dan sesuai kesepakatan kami summit pukul  04:30 dini hari. Usai sholat subuh, kami keluar dari tenda masing-masing dengan berbekal snack, coklat, tik tak dan air mineral mulailah summit kami. Keluar dari tenda nampaklah lampu kota Temanggung dan sekitarnya dengan cerahnya. Di atas pos 4 kami berhenti cukup lama, jika kita lanjutkan summit saya katakan tidak akan mendapat sun rise. Sembari mengisi bekal air minum di sungai kecil dengan mata air yang jernih kami menunggu sun rise dan cekrik cekrik pun di mulai lagi. He he he ....


Sun Rise dengan Back Ground Merapi Merbabu

Tanjakan penyesalan dihadapan kami untuk mencapai Telaga Banjaran, meski tidak ada begitu dingin namun kabut mulai turun dari puncak. Kami mempercepat langkah kami hingga sampai di Telaga Banjaran dan sampailah kami di Makam dan Kawah Gunung Sumbing. Dokumentasi sesaat kami melanjutkan perjalan menuju puncak Rajawali. Sebenarnya bang Roy hampir menyerah denga sedikit merayuku " Kalau bang Adi mau tetap di sini saya temani saja" itu pintanya, namun aku jawab, tetap go on bang Roy untuk Puncak Rajawali. Mau tidak mau bang Roy mengikuti kami dengan ganjalan perut Tik Tak yang kami bawa untuk bertujuh dan coklat silver que** dari Irvan cukup juga. 


Kawah Gunung Sumbing

Sampailah kami di pertemuan dari Puncak Buntu dan Puncak Rajawali. Awan mulai menipis saat kami sampai di Puncak Rajawali di 3371 MDPL. Sesekali Gunung Sindoro terlihat menyapa kami pada saat itu waktu menujukkan pukul 9:30. Hampir satu jam kami berada di puncak Rajawali dengan cerita kami menuju puncak ini dengan sedikit canda tawa kami untuk menghilangkan rasa lapar dan letih kami. Kamipun turun menuju pos 4 dan cuaca mulai cerah sehingga sabana Telaga Banjaran terlihat jelas. 


Puncak Rajawali

Langkah kami percepat hingga kami sampai di tempat camp saya dan Irvan yang jatah memasak yang pada saat itu serba menu tempe, sebenarnya ada ayam dan mie namun ternyata ayam yang kami beli sudah mulai berbau maka kami serahkan kepada penunggu gunung Sumbing, semoga kenyang ya kawan. Singkat cerita kami makan siang dengan menu serba tempe, telur, bakwan mie dan sosis rasanya sangat nikmat sekali dan habis tanpa sisa karena faktor laparnya kami yang semalaman tidak bertemu nasi. Hehehehe....


Telaga Banjaran punya cerita

Berkemas dan perjalanan turun kami mulai pukul 13:30 dengan target sampai dibasecamp harus tidak menyalakan senter lagi. Di Dong Banger kami menelpon ojek agar supaya lebih cepat sampai basecamp. Sayangnya di tempat ini kak Irvan tertinggallah Power Bank nya yang ia sadari saat sudah sampai di basecamp pada pukul 16:30. Pukul 17:00 kita say good bye dengan Irvan yang pulang ke Jakarta dan bang Susilo ke Magelang. Sementara kami berlima satu mobil menuju ke Salatiga, dan Solo. Terkahir adalah saya sampai rumah pukul 11 malam hari. Alhamdulillah niat yang tulus terbalaskan dengan nikmat Tuhan yang tiada terkira Indahnya. Terimakasih buat semuanya yang telah menjadi bagia cerita ini.

4 komentar

  1. Gak ada alasan untuk tidak kembali..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... karena semua memiliki kelebihan tersendiri di setiap perjalanan kami bang

      Hapus
  2. Cukup membantu untuk kawan kawan yang memerlukan informasi sekitar pendakian... Bagus kaka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas kunjungan, dan semoga bermanfaat bagi para pembaca aamiin

      Hapus


EmoticonEmoticon