Jumat, 16 Agustus 2019

Doble Sun (Sun Set and Sun Rise) Pendakian Gunung Sindoro via Ndoro Arum Banaran Wonosobo

Gunung Sindor Via Ndoro Arum

Salah satu Tripel S nya gunung di Jawa Tengah yaitu, Slamet, Sumbing, Sindoro. Triple S ini yang menjadi incaran para pendaki khususnya mereka yang datang dari luar pulau Jawa. Karena untuk mencapai dari ketiga puncak gunung ini tidak hanya cukup 3 hari saja, mungkin bisa seminggu. Buat saya sendiri Gunung Sindoro merupakan gunung yang sangat meracuni seperti gunung gunung yang lain. Memiliki keindahan yang tidak pernah membosankan dan dengan jalur yang cukup bersahabat. 

Gunung Sindoro termasuk gunung yang baru - baru ini aktif kembali sejak tahun 2012 yang lalu, dimulai dengan asap sulfatara yang tipis yang keluar dari kawahnya hingga sekarang asap yang sudah tebal dan membentuk kawah baru di sebelah Barat Daya gunung ini. Memiliki ketinggian 3153 MDPL yang memilki puncak yang sangat luas dengan pusat kawah di sisi selatan gunung ini. Kurang lebih 5-10 hektar luas di area puncaknya. Sehingga tidak jarang pada event agustusan sering dibuat untuk mengadakan upacara bendera memperingati hari Kemerdekaan RI yang berlokasi di Segara Wedi yang sangat luas.

Untuk mencapai puncaknya terdapat beberapa basecamp yang bisa di tempuh, antaralain Jalur Kledung yang paling ramai, Basecamp Sigedang, Basecamp Bangsri, Basecamp Tambi dan terakhir Basecamp Ndoro Arum yang rata-rata semua basecamp masuk ke dalam wilayah Wonosobo kecuali Kledung merupakan perbatasan dari Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.

Basecamp Ndoro Arum sendiri termasuk Banaran, Kayu Giang, Garung yang merupakan wilayah Wonosobo yang berada di sebelah barat gunung Sindoro. Perjalanan kami menuju basecamp cukup membingungkan waktu itu, hingga akhirnya kami di jemput salah satu teman basecamp di depan terminal Mendolo Wonosobo. Dari terminal kita maju dan akhirnya menyusuri jalan arah ke timur yang awal mulanya memang beraspal. Namun lama kelamaan jalan ini menuju basecamp ini di beton dan menjelang basecamp jalan masih berbatu kecil yang sudah tertata rapi namun jalan untuk menuju ke basecamp memang harus fit kendaraannya.

Sesampai dibasecamp kami disambut dengan hangat oleh basecamp dan akhirnya kami diminta singgah sebentar di rumah kak Iman atau Bolodewo untuk istirahat dan melaksanakan kewajiban sholat kami. Namun tak hanya itu kami juga di suguhi beraneka makanan serta dapat bonus makan pula yang sangat mengenyangkan waktu itu.

Sepakat kami pukul 3 berangkat dengan membayar registrasi HTM sebesar Rp. 15.000 dan parkir Rp. 1000. Ada penggunaan fasilitas basecamp Rp.10.000 untuk satu rombongan. Kami berdelapan orang dan ditemani kak Bolodewo sebagai penunjuk arah buat kami. Kamipun sepakat naik ojek dari basecamp menuju pos 1 dengan harga ojek Rp. 20.000. Jalan ojek menuju pos satu sangat bagus sekali (bagus untuk off road maksudnya heheheheheheeeee) sehingga para pengendara menggunakan motor yang sudah dimodifikasi dan wussssssssssssssssssss melintasi kebun kebun petani dengan debunya (maklum musim kemarau).

Sesampai di pemberhentian ojek, kami berdoa dan segera kami melangkahkan perjalanan kami menuju pos 1 yang tidak jauh lagi. Di Pos 1 NGERATA kami disambut dengan teduhnya pohon CEMARA yang sangat jarang ditemukan di gunung lain. Karena biasanya hutan pinus yang ada di gunung-gunung lainnya. Pos 1 ini sangat luas dan merupakan tempat camp ceria yang sangat teduh dengan rimbunnya pohon cemara. Bau yang khas pohon cemara ini yang membuat kami betah berlama-lama di pos 1 ini. 

Mentari sore itu mulai meredup dan perlahan panasnya pun berkurang saat kami melanjutkan perjalanan kami menuju pos 2. Untuk sampai ke Pos 2 kami melewati Taman kecil yang berbunga khas di gunung Sindoro. Kami melewati Pos Bayangan I yang di sekelilingnya terdapat tumbuh liar rumput alang-alang. Kurang lebih 100 meter kami berjalan tedapat papan peringatan sebelum memasuki jalur naga. Saat kami melintas di jalur naga ini matahari perlahan menuju ke peraduannya. Samar di sebelah barat sana ada gunung Slamet dan Gunung Cermai serta Pegunungan Dieng yang waktu itu sangat cerah. Awan melintas di depan kami sehingga Sun Set yang kami dapatkan sangat sempurna kombinasinya.
Sun Set di Jalur Naga Sindoro

Lampu senterpun mulai kami nyalakan saat mulai gelap, dan sedikit sinar bulan malam itu juga cukup membantu kami. Pos 2 atau yang di sebut Kayu Sawa ternyata papannya sudah tidak ada karena pohon tempat memansang sudah tumbang karena cuaca. Tempat nya hanya ada bebarapa lokasi untuk mendirikan tenda. Dari pos 2 ini sudah tumbuh subur pohon Lamtoro yang rimbun. Tanjakannya cukup terjal dan beberapa tempat ada lokasi untuk mendirikan tenda meski dengan ukuran kapasitas 2 orang. 

Awal pendakian kami berencana akan mendirikan tenda kami di Pos 3, namun akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda kami di Pos Bayangan 3. Cuaca yang sedikit berangin waktu itu kami lebih memilih faktor yang aman, selain di pos 3 juga sudah tidak ada vegetasi juga. Kami berfikir pada saat siangnya pasti akan merasa panas dan tidak bisa istirahat. Istirahat kami malam itu cukup nyenyak dan kamipun pukul 02:30 sudah bangun untuk melanjutkan perjalanan kami. Munuju pos 3 jalan mulai terjal dan sedikit berbatu. Kurang lebih 1 jam kami sampai di Pos 3 yang di sebut WATU PUTIH. Dari Pos 3 ini kita bisa melihat keindahan kota Wonosobo, Dieng dan Garung dengan kerlap kerlip lampunya. Di pos 3 ini kami sempatkan sholat subuh berjamaah dengan tayamum, maklum bekal air kita gunakan untuk minum selama menuju ke puncak.

Di samping kiri pos terdapat sabana Parikesit dan ada nama yang cukup unik yakni Tanjakan Mertua Galak. Kurang lebih seperempat jam kita akan melewati Watu Plerenan yang cukup datar buat kita istirahat. Pos 4 atau UCI-UCI tidak jauh lagi dari sini kurang lebih setengah jam. Pos 4 ini sudah berada di kemiringan yang terjal, hanya sebagai tempat istirahat sejenak sebelum kita menuju puncaknya. Kita akan bertemu dengan Watu Tatah dan jalur ini akan bertemu dengan jalur buntu di sebelah kirinya. Di atasnya sudah dipasang tali untuk pegangan karena medan yang di lalui cukup terjal. Disambut dengan hutan mati Cantigi yang terkena asap belerang di sana ada juga 1 makam yang berlokasi di samping Segoro Wedi yang sangat luas. Tempat inilah yang yang sering digunakan untuk perayaan Agustusan dari berbagai jalur pendakian Gunung Sindoro.

Pukul 05:30 Waktu itu kami sampai di Puncak Sindoro berbarengan dengan Sun Rise pagi itu. Rasanya pagi itu kami mendapatkan apa yang kami inginkan dengan bagun kami yang lebih awal. Sun Set dan Sun Rise kami dapatkan. Sebelah timur sana tampak barisan gunung yang sedikit berkabut, Gunung Sumbing, Merbabu, Merapi, Andong, Telomoyo serta Ungaran tampak indah dengan pesonanya. 
Sun Rise Di Puncak Sindoro

Udara yang dingin pagi itu sedikit hilang saat sinar mentari mulai meninggi, akhirnya kami menuju ke Kawah Sindoro dan mengabadikannya. Ada satu titik kawah yang ternyata masih berair jernih seperti air yang mendidih. Beberapa titik kawah sudah menguning karena kadar belerang yang sangat tinggi dan tebing-tebing kawah yang longsor karena rapuh setelah terkena asap sulfataranya. Sesaat kami mengabadikan keindahan kawah ini dari berbagai posisi dengan latar belakang gunung Sumbing yang gagah. 
Kawah Gunung Sindoro dari sisi Selatan

Kurang lebih 2 jam kami berada di puncak dan akhirnya kami memutuskan untuk turun dan menengok kawah di sebelah barat daya dari kejauhan. Warna pohon sekitarnya kuning keemasan karena terkena asap belerangnya. Kemudian kami melintasi Segero Wedi kembali, di ujung Segoro Wedi ini terdapat kawah mati yang cukup dalam dan tampak jelas bekas batas-batas air yang mengisinya. Mungkin saat musim penghujan menjadi danau kecil yang menampung jernihnya air dan layak untuk di konsumsi. Akan tetapi pada masanya kemungkinan juga akan menjadi kawah aktif seperti kawah pusatnya karena ada lobang yang cukup besar mengarah ke pusat kawah. 
Pasir Ombo

Akhirnya kami turun ke pos bayangan 3 dan pukul 09:15 kami sampai dan istirahat sebentar sebelum kami memasak bekal kami. Ada mie instan, papeda dan minuman penghangat untuk mengisi perut kami yang sudah mulai keroncongan. Pukul 11:00 kami turun perlahan menyusuri bukit bukit dan jalur naga yang kami lalui sebelumnya. Di atas pos 1 hutan cemara kami istirahat menunggu teman yang masih di belakang. Teman kami Kak Bolodewo berbekal HT menghubungi pihak basecamp untuk menjemput kami di bawah pos 1.

Tidak lama ojek pun datang kami di angkut satu persatu dan pendakian kami selesai sampai basecamp Ndoro Arum kembali dengan selamat pada pukul 14:00 siang hari. Kami akhirnya menumpang ISHOMA di kediaman kak Bolodewo kembali. Pukul 16:00 sore kami berpamitan dan menuju ke rumah masing-masing dan pada pukul 20:00 malam hari kami masing-masing mengabarkan sudah sampai rumah kami dengan selamat. Alhamdulillah misi kami berjalan dengan lancar meski ada sedikit kendala itu hal yang wajar dan bisa kami atasi bersama-sama.

Peta Jalur Pendakian
Estimasi Perjalanan
Basecamp-Pos 1 Reratan = Naik Ojek 15 menit
Pos 1 - Pos 2 Kayu Sawa= 1.5 Jam
Pos 2 - Pos 3 Watu Putih = 2,5 Jam
Pos 3 - Pos 4 Uci - Uci = 1,5 Jam
Pos 4 - Puncak = 1,5 Jam
Puncak-Basecamp = 3 - 3.5 jam
Comments


EmoticonEmoticon