Rabu, 19 Juli 2023

Pendakian Gunung Sumbing Via Garung (Jalur Terbaru)

Gunung Sumbing 3371 MDPL
BASECAMP GARUNG WONOSOBO

Kebetulan dapat undangan untuk kondangan di basecamp Banaran Gunung Sindoro jalur barat serta request teman lama untuk merapat ke Gunung Sumbing, kemudian kami memutuskan untuk memilih basecamp Gunung Sumbing via Garung Wonosobo.

Basecamp yang berlokasi di Garung, Butuh, Kalikajar, Wonosobo ini memiliki tempat yang strategis. Posisi berdampingan dengan lapangan sepakbola warga dusun Butuh, membuat basecamp ini semakin banyak diminati para pendaki. Saat cuaca cerah pemandangan juga sangat cantik dan bisa memandang Gunung Sumbing di sebelah kanan dan Gunung Sindoro di sebelah kiri.

Singkat cerita setelah sarapan pagi itu, kami mulai persiapan untuk pendakian dengan diawali registrasi di basecamp. Harga tiket masuk sebesar Rp 25.000. Selain itu harga ojek dari basecamp menuju pos 1 dikenai tarif Rp 25.000, untuk parkir motor Rp 5000 dan mobil Rp 10.000. Mengabadikan momen kebersamaan di depan basecamp kami lakukan sebelum kita memulai pendakian. Cekrek cekrek tetap dengan senyum cerah kami. Setelah check in sudah selesai kami dibagi tiket untuk ojek dengan dibariskan untuk mempermudah penghitungannya.

Cekrek-Cekrek Sebelum Naik Ojek in the Hoi

OJEK IN THE HOIIII

Antrian ojekpun kami memulai, karena saat itu ada hajatan maka jalur ojek di putar melalui kampung bawah yang seharusnya melalui jalur kampung kami dibawa tukang ojeknya melewati pemakaman. Begitu naik ojek, tas kami di gendong tukang ojeknya, sementara salah satu yang unik adalah kita duduk didepan sebagai penyeimbang motor.

Ngeeeeennggg ruunn ruuunnn ruuunnnnn itu adalah blayeran yang super sensasional. Bagaimana tidak kami semua di ajak berimajinasi serasa naik roalcoaster darat. Motor-motor lawas yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa dan saat off roadnya ammmmpuun dah banternya. 

Satu petikan kalimat yang saya ingat "Pegangannya jangan kaku, biar kami luwes memainkan stangnya, "kata abangnya. Sayapun mempersiapkan ponsel untuk mengabadikan momen tersebut. Baru beberapa ratus meter jalan sudah berbatu dan disitulah kecepatan semakin ditambah. Ngeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeengggggggggggggggg.....................

3 menit berlalu dalam off road, saat itu saya di komandoi siap ya mas depan ada jalan bergelombang. Pikir saya adalah kecepatan akan dikurangi, ternyata tidak, justru di gaspol dan saya pun seperti mau terbang diantara pikiran yang kalut dan berteriak sebisanya hahahahaha..

Bersyukur dalam naik cuaca bagus, jadi dokumentasi nampak jelas gunung sumbing di depan. Meskipun goyang-goyang videonya tapi tetap saja in the hoi di atas motor tua napas muda itu hahaha.

Sesampai pos 1 Halim semua tertawa terbahak dan ada yang bilang, nyowoku meh keri ono nggon belokan kono mau (nyawaku hampir ketinggalan di belokan sana tadi) dan alhamdulillah semua rombongan kami ber 16 mandali dalam off road nya. Basecamp ke Pos 1 Halim ini berjarak 2,5 km dengan waktu tempuh 2 jam dengan jalan kaki dan 20 menit menggunakan jasa Ojek in the hoi.

Turun Ojek disuguhkan View seperti ini 

POS 1 HALIM (PANGKALAN OJEK) - POS 2 MBAON (2 KM)

Pos 1 Halim ini aestetik lokasinya, lokasi di perbatasan ladang petani dan bisa memandang gunung Sindoro diantara pepohonan pinus yang melambai-lambai diterpa angin pegunungan. Selain itu di pos 1 Halim ada warung dan shelter untuk berteduh dan rehat saat naik atapun turun. Tempat yang teduh di bawah rimbunnya pohon cemara membuat udara segara berbau kas daun cemara ini terkadang terselip bau tembakau para petani yang menanam di ladang mereka di musim kemarau. Atau asap tembakau dari tukang ojek yang siap mengantarkan turun yang tidak seekstrim saat naiknya hehehe.

Pukul 08:30 WIB setelah berdoa sebelum memulai pendakian, langkah kami disambut dengan sepoi candu gunung sumbing dan kamipun memutuskan untuk melalui jalur baru. Kali pertama melalui jalur ini memang berbeda dengan jalur lama yang dari awal sudah di suguhi jalan yang terjal. Berbeda dengan jalur ini lebih banyak datarnya. Sepanjang jalan yang mendatar terkadang kami menemui jalan yang menurun dan ada satu sungai yang cukup besar. Namun saat itu itu menjelang musim kemarau sehingga airnya sudah mulai mengering meskipun ada genangan-genangan air namun tidak layak juga untuk di konsumsi. 

Jalan sedikit menanjak dan kami bertemu shelter untuk sedikit mengambil nafas-nafas tua kami hehehe. Mendekati pos 2 Mbaon kami melewati hutan pinus yang cukup rapat dan lagi-lagi ini membuat kami sedikit terbantu tidak terkena sengatan matahari yang mulai panas saat itu. Rombongan sudah mulai berpencar ada yang berjalan pelan ada yang berjalan sedang dan ada pula yang berjalan lebih cepat karena memang ada faktor yang mengharuskan seperti saat itu. Selain itu juga sudah menjadi kesepakatan di awal meski terpencar tetap berusaha untuk saling berkomunikasi meskipun dengan sautan suara dari jauh.

Pukul 09:45 WIB kami sampai di Pos 2 Mbaon 15 menit lebih cepat dari waktu tempuh yang rata-rata 1,5 jam.

Pos 1 Malim

POS 2 MBAON - POS 3 SEBOGO (2 KM) "SEMANGKA RASA KARI"

Melihat jalur peta menuju pos 3 kok 2 jam waktu tempuhnya, membuat kami di Pos 2 Mbaon, kami mulai mengeluarkan perbekalan kami untuk mengisi rongga-rongga perut kami yang mulai mengosong. Ah pas bener ada yang menawari semangka warna kuning dan tidak kami sia-siakan Semangka rasa kari ini hehehe.. Rasa Kari alias Kari Mangan hahahaha.

1-2 potong mini rasanya sudah menyegerkan tenggorokan serasa semangka yang baru keluar dari kulkas yang dingin. Perjalanan yang masih panjang membuat kami segera meninggalkan pos dua ini. Jalan beranak tangga menyambut langkah kaki kami namun masih dalam vegetasi yang aman. Sesekali mentari menyapa wajah kami untuk mengharuskan tangan kami menyeka keringat yang keluar dari pori-pori lusuh kami. 

Ahh... lega rasanya saat kami menempatkan posisi duduk kami di bawah rimbunan pohon menuju jalur pos 3 ini yang didominasi pohon Lamtoro yang memiliki bahasa latin (Leucaena Leucocephala) ini. Menapaki jalur ini yang kami inginkan adalah Pengkolan 9 yang katanya ada warungnya. Setiap ketemu pendaki yang turun selalu kami bertanya apakah sudah dekat dengan Pengkolan 9 dan mereka menjawab sebentar lagi bang di atas sana.

Kalimat itu yang membuat kami ayem meskipun kata sebentar lagi itu hanya kiasan dan mendapatkan Pengkolan 9 itu setelah 1,5 jam kami berjalan. Lega rasanya di Pengkolan 9 ini ada warung yang berjualan eh ditraktir pula dengan tempe mendoan yang masih anget rasanya mah beda banget dengan tempe mendoan di bawah. Selain rasanya yang mantap beruntungnya kami bisa mendapatkan view yang cerah pula di depan warung. Tempat ini juga bisa digunakan untuk mendirikan tenda ada beberapa tempat datar yang cukup nyaman cukup untuk 4-5 tenda dengan kapasitas 4 orang.

Tempe mendoan sudah masuk ke dalam perut dan siap memberikan support energi untuk lanjutan perjalanan menuju pos 3. Masih dalam vegetasi Lamtoro kami melanjutkan perjalanan di jalan yang sedikit berdebu. Angin semilir sejuk bercampur teriknya mentari ini seolah menjadi santapan kami di setiap moment. Mendapatkan jalur menurun menuju pos 3 ini menjadi sebuah bonus buat kami bergegas untuk munuju Jembatan 3 Gunung Thukung. Dalam benakku jembatan ini cukup lebar dan panjang nyatanya jembatan ini hanya 2 - 3 meter panjangnya di sebuah tikungan dan anehnya dalam peta dari jembatan ke pos 3 itu cukup panjang jalurnya, namun nyatanya hanya puluhan langkah meski agak menanjak dan tidak kurang dari 3 menit kita sampai di Pos 3 Sebogo. Alaaahhh kena PRANK Juga nih sama basecamp hahahaha.

Pos 2 Mbaon


POS 3 SEBOGO - CAMP AREA 1 (SHELTER MERAH)

Rasa letih itu menggelitiki tulang punggung dan boyok ku untuk segera menaruh ransel gunungku. Sengaja tidak saya lepas memang dan kugunakan untuk menopang badan untuk rebahan. Bertemu dengan pendaki lain yang rehat di pos 3 yang mereka mengeluarkan amunisi untuk mengganjak perut yang sudah menggeliat kembali. Kami pun tidak mau kalah dengan mereka bola nasi maniskupun saya keluarkan. Brondong yang kudapatkan dari kondangan kami bagi-bagi. Rasa renyah dan manis ini sedikit mengisi suara retakan gigi kami saat mengunyah dan diatara candaan teman sebelah yang sama-sama rehat. Ada celetukan begini "Berbagi makanan adalah hal yang biasa namn berbagi cinta cukup satu saja" aahhh masuuuuuuuuuuuuuuuuuuukkk....

Pos 3 Sebogo

Sayup-sayup terdengar adzan Duhur kami pun singgah di Pos 3 ini cukup lama. Saya sendiri sempat tertidur setelah melahap 2 brondong yang manis tadi. kurang lebih 45 menit rasanya dipanggil kaki dekil ini untuk mengajak menapaki menuju Camp Area 1. Sebenarnya dari pos 3 bahkan dari tanjakan setelah Pengkolan 9 Shelter merah itu sudah nampak. Mata kami selalu melihat shelter tersebut untuk menggegaskan langkah kami. Tidak butuh waktu lama untuk sampai hanya kurang lebih 20 menit kami sampai di Camp Area 1 (Shelter Merah).

Meskipun sedikit panas paling tidak pohon lamtoro masih melindungi kami jika terjadi badai dan sebagainya. Camp area satu ini banyak sekali lokasi untuk mendirikan tenda di dataran-dataran yang sudah disiapkan oleh pengelola. Selain itu tidak jauh dari tempat ini ada sumber air yang bisa didapat sehingga tidak takut jika kekurangan air. 

Shelter Merah ini merupakan bangunan berbentuk Limas Segitiga yang digunakan sebagai tempat darurat untuk menangani pendaki yang bermasalah. Ada lampu dengan daya solar, CCTV dan Microphone untuk berkomunikasi dengan pihak pengelola di basecamp. Selain itu Shelter Merah ini menjadi satu spot ciamiiik untuk menikmati sun set di dengan latar belakang gunung Sindoro sebelah kanannya. 

Camp Area 1 Shelter Merah

Pertendaan dan permasakan kami mulai, kerjasama yang baik membuat kami lebih cepat merampungkan kerjaan. Usai makan kami mencoba ke mata air di sebelah timur sherlter. Tidak terlalu jauh ada satu sungai kecil yang mengalir meski kecil tetapi cukup untuk kebutuhan masak memasak kami. Cuci muka dan buang air kecil kami lakukan dan sedikit menjauh dari sumber air. Ternyata jalur mata air ini menjadi akses pedagang untuk berangkat dan pulang dengan lewat jalur lama yang melewati Pestan. 

Sholat ashar dan dzuhur yang kami jamak usai dan kami mulai menikmati senja yang menyapa. Hawa dingin yang menyusup ke pori-pori kami akhirnya mengharuskan kami mengenakan kembali yang sudah kami tanggalkan di bawah tadi. Awan setengah di depan menambah cantiknya Sindoro menjelang sun set. Pose-pose terbaik kami dan menjadi cameramen dadakan yang amatir tapi hasil tidak mengecewakan hahaha. Adapula yang update foto prifile WA nya yang sesekali mendapat signal ah komplit rasanya senja itu. 

Sun Set Moment

Satu rombongan akhirnya datang juga dan segera mengkondisikan tenda dan segalanya yang disambut dengan adzan maghrib. Tidak butuh waktu lama buat kami untuk segera menyiapkan makan malam kami dengan menu yang super mantap. Santapan krupuk menjadi dan beberapa lauk lain menjadi rasa tersendiri tentunya. Ada sambal, ada oseng terong dan telur asin, ada lagi tempe mie dan komplit nya sambel yang uhhh ternyata bukan hanya kami saja yang menikmati namun ada preman Gunung Sumbing mengintai hahahah.

Lagi asik-asiknya makan si bagas nongol dari atas berusaha untuk ikut nimbrung makan malam kami. Dengan sopan kami menolaknya dan si bagas lari entah kemana.

Sholat maghrib yang jamak dengan sholat isyak kami lakukan di dalam tenda dan kami. Udara yang super dingin membuat saya enggan untuk keluar dari tenda meski ada teman-teman di luar yang ngopi. Secara bersahutan kami sepakat untuk bangun pukul 02:30 dini hari untuk persiapan summit attack.

Malam itu tidak terlalu banyak bermimpi dalam tidur kucingku karena sering bangun dengan udara dingin yang sedikit menyiksa. Namun rasa lelah kamilah yang sebagian menyeyakkan di peraduan malam kami. Dengkuran dari tenda sebelah menjadi irama dan nada dering kami untuk menghalau bagas yang mendekati tenda kami. 

CAMP AREA 1 (SHELTER MERAH) - POS 4 KIJANG RANCAK 1 KM (GAK TAU DIMANA)

Tepat pukul 03:00 hari kami memulai summit attack. Dari 16 orang, ada 3 orang yang tidak ikut dan berjaga di shelter 1. Mata yang masih kuyu diantara kantuk kami paksakan. Lampu senter yang kalah dengan purnama malam itu membuat saya tidak banyak kugunakan. Cukup senter dari Allah saja yang menerangi summit attack ku kala itu. 

Camp Area 2 sudah kami lewati dengan medan yang berbatu dan berdebu. Ada beberapa pendaki yang membawa webbing untuk menarik temannya mengingat jalur yang semakin menanjak dengan kemiringan lumayan curam. Adzan subuh berkumandang kami berhenti sejenak namun tidak menemukan tempat yang pas untuk sholat subuh. Hingga akhirnya kami menemukan satu percabangan jalur dan itu sudah hampir pukul 05:00. Tayamum dan jamaah sholat subuh kami lakukan, berdoa terbaik tentu itu yang kami panjatkan. Hingga selesai sholat kami melihat Map pendakian ternyata kami sudah berada di atas Pos 4. Kami saling tanya Pos 4 dimana? Semua menjawab gak tau dimana pos 4!  Lahhhhh ini gimana ceritanya hehehehe

Sindoro Dari Sumbing

POS 4 KIJANG RANCAK - PUNCAK KEKAWAH 1,7 KM ( GAK DAPAT SUNRISE)

Ya sudahlah, kehilangan moment di pos 4 tidak memutuskan semangat kami untuk segera mencapai puncak ke kawah. Di luar ekpektasi jalur yang dibuat memutar membuat waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke pucak Kekawah juga lama. Berharap dapat sun rise dipuncak nyatanya kita masih terjebak di kelokan lembah edelwis yang menggoda. Bukan hanya itu godaan dalam perjalanan, namun gunung Sindoro bersolek dengan sinar mentari pagi membuat kami membidik untuk kami abadikan. 

Sedikit bonus jalan untuk mencicipi terjalnya gunung Sumbing ini kami berhenti sejenak di Batu Belah dan sambil menunggu teman-teman di belakang. Tidak menunggu lama kamipun sepakat untuk kembali menuju ke Puncak Kekawah. 

Pukul 06:20 kami sampai di puncak Kekawah. Di sana sudah banyak pendaki lain yang lebih awal sampai dan ada beberapa yang lanjut ke Puncak Rajawali. Mengisi perut kami sambil menunggu lengkap teman kami yang lain untuk sampai di Puncak Kekawah. Setelahnya kami menawarkan ada yang lanjut dan ada yang tetap di puncak ke Kawah.

Lembah Edelwis

PUNCAK KE KAWAH - PUNCAK RAJAWALI 0,5 KM (JALUR ESKRIM)

Di sini tiga orang tetap di Puncak Kekawah dan lainnya melanjutkan ke Puncak Rajawali. Batu keras dan pemandangan kawah Gunung Sumbing yang menghiasi perjalanan kami. Sesekali kami menyapa pendaki lain yang berpapasan. 

Bertemu berbatu dan jalur yang ekstrim membuat kami pegangan erat-erat webbing yang sudah di pasang untuk memudahkan kami. Dua webbing kami lewati hingga kami mendapati jalur datar sedikti memutar untuk ketemu webbing berikutnya. Tim awal berlima kami sudah menuruni webbing yang lebih ekstirm dibanding sebelumnya. Di sana kami ketemu jalur dari kawah yang bisa menuju basecamp Kaliangkrik, Banaran ataupun Pangukuhan.yang melintasi kawah Sumbing. 

Setengah jam kami menunggu tim belakang kami, akhirnya mereka berbalik arah dan kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak Rajawali. 

Lima orang yang sampai di Puncak Rajawali kami saling mengucapkan selamat. Ambil gambar sebagus mungkin dan video semenarik mungkin. Satu dari teman kami tiba-tiba menghilang saat kami ajak untuk foto bersama. 

Kemudian saya menyusul ternyata si anak sendirian menghadap awan yang sangat cantik. Di situ saya lihat matanya sembab menitikkan air mata. Aku menenangkannya dan dia berucap kali pertama muncak dan mendapatkan pemandangan yang bagus hingga tidak berhentinya bersyukur. Tidak sia-sia jauh-jauh ke Sumbing dengan keberkahan ini. 

Selebihnya kami bergegas untuk turun dan tidak ketemu malam lagi saat turun. 

Buat saya Puncak Bukan Bonus tapi Menjadi sebuah Tujuan

CAMP AREA 1 (SHELTER MERAH) - BASECAMP GARUNG (KABUT TEBAL)

Setelah beberes segala perlengkapan, pukul 02:30 bergegas untuk turun dengan sisa-sisa tenaga kami. Kami bergegas untuk menuruni tapak demi tapak jalur yang sudah semakin berdebu. Beban kami berkurang namun pengalaman dan memori otak kami memenuhi otak kami dan mencari cara untuk bercerita nantinya. Sengatan mentari siang itu begitu menyengat untuk kami berlama-lama di perjalanan. Kami semakin mempercepat langkah kami saat mendapatkan datar yang cukup panjang. Sedikit lari kecil terkadang kami lakukan untuk meringankan langkah kami.

Tempat Rahasia untuk spot foto ini hahaha

Beruntung kabut tebal tidak lama kemudian berpihak kepada kami. Mengurangi dehidrasi saat kepanasan dan bisa menanggalkan penutup kepala rasanya menjadi perpisahan yang menyenangkan dengan gunung Sumbing senja itu. 

Di setiap pos selalu kami singgahi meski hanya sebentar untuk menaikkan mood perjalanan kami yang tinggal beberapa jengkal lagi. Saat terdengar suara bising motor itulah menjadi terbahagia kami khususnya saya yang ingin segera menempel di jok kumal para ojeker.

Pukul 15:30 kami sampai di Pos 1 Malim dan rehat sebentar sebelum memesan ojek. Bang ojekpun mempersilahkan ku untuk menaiki kendaraan, kali ini berbeda tas yang di depan dan penumpang dibelakang. Tidak ada keseruan saat turun dan rasanya hanya ingin segera sampai di basecamp.

SAY GOOD BYE

Turun dari ojek bergegas saya mengambil pakaian ganti sabun dan segala macam yang aku butuhkan, perut sudah meronta untuk segera mengeluarkan unek-uneknya. Beruntung hanya aku saja yang mengantri, saat masuk plongggggg rasanya unek-unek yang sudah terpendam beberapa jam dari camp Area 1 tadi.

Aku berharap pukul 19:00 bisa mengegaskan motor untuk kembali ke kota asal. Namun hujan deras malam itu mengirimkanku kembali masuk ke dalam basecamp untuk mengeluarkan SB dan memposisikan di tempat terhangat. Pukul 21:00 cuaca sudah berkabut dalam angan mau segera packing eh malah bertemu orang-orang dari Pati dan akan pulang ke Semarang, Namun karena mereka harus mampir-mampir dulu ke Temanggung akhirnya jalan teraman adalah stay lagi di basecamp sampai pagi harinya.

Pukul 03:00 dini hari aku terbangun dan memaksakan mata untuk kubuka dan segera siapkan raga menuju ke kota ku Demak. Pamit sama teman-teman baru itu rasanya lebih menyayangkan namun apa harus dikata semua akan ada waktunya lagi di kala waktu, tempat yang tepat untuk memulai sebuah perjalanan.

Terimakasih teman-teman dari Sidoarjo Jawa Timur, Karanganyar dan Magelang yang banyak memberikan warna cerita dalam tulisanku. Satu Kalimat Penutup pada perjalanaku adalah 

"Jangan Pernah Lelah Saat Engkau Mencoba, Belajar untuk Bangkit dan Hadapi Setiap Moment dengan Senyuman Insya Allah akan menjadi sebuah Kekuatan"





2 komentar

  1. Mantab...keren tulisannya pak....
    Bersyukur karena menjadi salah satu bagian dalam cerita tersebut...mengukir kenangan untuk diceritakan kpda anak cucu kelak...bahagia ...bersyukur...dan selalu ucap Alhamdulillah atas segala pencapaian...karena semua tidak mungkin tanpa campur tangan Tuhan...see you di next summit bapak...

    BalasHapus
  2. Senang bisa membaca tulisan ini bisa senyum-senyum sendiri seolah-olah ikut merasakan dalam perjalanan. Semoga saya juga bisa ke sana suatu saat nanti, aamiin

    BalasHapus


EmoticonEmoticon