Kamis, 16 Januari 2020

Mendaki Gunung Sindoro Base Camp Kledung


Gunung Sindoro merupakan tujuan kami untuk menghabiskan liburan semester kali ini. Bersama beberapa teman di media sosial, kami mulai merencanakan untuk mendaki Gunung Sindoro dengan Basecamp Kledung yang berbatasan dengan Kota Wonosobo. Basecamp Kledung sendiri sebenarnya masih di wilayah Temanggung namun karena sudah berdekatan dengan Wonosobo rata-rata kita menyebut Wonosobo untuk Gunung Sindoro yang memiliki ketinggian 3153 MDPL. 

Akhirnya kami sepakat untuk bertemu di basecamp Kledung dengan teman-teman. Pukul 12.00 kami semua sudah berkumpul dan saling berkenalan secara langsung, karena selama ini kami hanya berkomunikasi lewat Whatsaap atau media sosial yang lain. Kemudian kami melakukan registrasi sebelum kami makan siang dan sholat duhur terlebih dahulu. Setelah itu kamipun packing dan sia-siap untuk melakukan perjalanan kami mendaki Gunung Sindoro. Berdoa kami lakukan untuk memohon keselamatan selama perjalanan, cuaca yang cerah dan tidak terganggu oleh penghuni Gunung Sindoro.

Sesaat tukang ojekpun menghampiri kami untuk menawarkan jasanya mengantar kami hingga pertengahan pos 1 dan pos 2. Dengan tersenyum sopan kami menolak untuk tidak menumpang ojek, karena menurut kami ini adalah pengalaman pertama kami dan kami sepakat untuk lebih tahu terlebih dahulu perjalanan mendaki Gunung Sindoro dari basecamp.

Jalan berbatu hingga pos 1 kami tempuh kurang lebih 1 jam dan kami beristirahat sejenak diantara gas-gas motor trail yang mengangkut pendaki baik naik ataupun turun. Kemudain kami melanjutkan perjalanan kami yang disambut dengan pintu gerbang Gunung Sindoro yang cukup unik buat saya. Masih berhutan lebat di awal pendakian hingga kami sampai pos 2 dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam. 

Di pos 2 ini kami mulai terasa membutuhkan suplement untuk tubuh kami, dan salah satu dari teman kami mengeluarkan bekalnya untuk dimakan bersama. Sejauh sampai pos 2 ini medan lumayan bersahabat bahkan ada beberapa jalan yang menurun dan datar menjadi bonus perjalanan kami. Memulai perjalanan kami kembali menuju pos 3, kamipun mulai disuguhkan jalan yang mulai terjal dan beberapa medan dengan sedikit berbatu. 

Cukup menguras tenaga memang dan perjalanan kamipun sedikit terhambat karena salah satu teman kami yang cukup besar badannya mulai merasa lemas. Kamipun tetap menyemangatinya hingga perjalanan kami sampai di Pos 3 dengan waktu hampir 2 jam. Cukup lama kami berada di pos 3 hingga waktu menunjukkan pukul 5. Akhirnya kamipun sepakat untuk mendirikan tenda kami di Sun Rise camp. Dan kamipun kembali melanjutkan perjalanan kami menuju sun rise camp.

Kurang lebih 1 jam kami sampai di sun rise camp dan kami memilih tempat yang nyaman untuk mendirikan tenda kami. Sun Rise camp ini cukup luas bisa memuat tenda kurang lebih 75-100 tenda. Selain view yang bagus serta tempat yang luas, sun rise camp ini menjadi tempat hunting sun rise yang bagus pula. Tidak heran jika malam harinya menjadi semakin ramai dengan para pendaki lain yang juga ingin menghabiskan malamnya di sun rise camp ini. 


Istirahat kami semalaman sedikit terganggu dengan kedatangan tamu tak diundang. Para pendaki lainpun juga ikut berteriak-teriak mengusir babi - babi penghuni Gunung Sindoro ini. Mereka mengendus bau-bau makanan sehingga berusaha untuk mengobrak-abrik tenda para pendaki. Akhirnya kami pun bergantian menjaga tenda kami dengan pendaki lain. 

Pukul 3 dini hari kamipun sepakat untuk melakukan summit ke puncak Gunung Sindoro. Dengan membawa day pack, kami membawa bekal makanan dan air mineral untuk perjalanan kami. Beruntung malam itu kami diberikan cuaca yang cerah sehingga pandangan kami sangat jelas. 


Kamipun bergegas melangkah dengan senter di tangan kami. Karena tidak terlalu banyak membawa beban, perjalanan kamipun cukup cepat hingga kami sampai pos 4 dengan waktu yang tidak terlalu lama. Watu Tatah namanya pos 4 ini, pos ini sudah berada di 3/4 bagian jalur pendakian Gunung Sindoro, sehingga menurut kami sudah tidak akan lama lagi sampai puncak. 

Siluet pagi hari semakin jelas, ketika kami menengok ke belakang terlihat Gunung Sumbing yang sangat cerah pula. Terlihat pula senter-senter di gunung Sumbing yang juga melakukan summit ke puncaknya. Terkadang kami saling menyorotkan senter kami sebagai tanda berkomunikasi dengan jarak jauh. Unik memang, tapi itulah yang kami lakukan.

Bayangan-bayangan pundak Gunung Sindoropun mulai terlihat, ini membuat kami semakin semangat untuk segera sampai ke puncak. Ada beberapa punggung Gunung Sindoro ini yang memberikan harapan palsu kepada kami. Dari Watu Tatah kitapun bertemu dengan tanjakan yang semakin lama semakin tajam kemiringannya. Hutan lamtoro yang tidak habis-habis membuat kami sedikit mengeluh hingga akhirnya kami mulai bertemu dengan ladang edelwis yang sudah tidak berdaun dan tidak berbunga lagi. Aroma belerang pun sudah kami rasakan sejak di ladang lamtoro di bawah tadi. Karena semakin menyengat baunya kamipun mulai menutup hidung kami dengan masker untuk menghindari asap yang beracun. 

Sun Rise Time
Jalur mulai berkerikil tajam yang bisa saja membuat kaki tergelincir saat naik dan turun. Meski sedikit tersesengal-sengal kamipun sangat senang saat kami sampai di Puncak Sindoro sesuai yang apa kami inginkan. Mendapatkan sun rise di Puncak Gunung Sindoro pagi itu, menjadi secuil syurga yang Allah berikan kepada kami. Bersyukur kami berlima bisa menjaga stamina kami hingga kami bisa mencapai puncak Gunung Sindoro dengan selamat. 

Monent yang tak pernah terlupakan

Kawah Gunug Sindoro
Setelah kami mengabadikan moment di Puncak Gunung Sindoro, kamipun kembali ke tempat pendirian tenda di Sun Rise Camp. Sesekali kami berhenti untuk mengabadikan gunung Sumbing yang nampak gagah di depan mata. Terutama di Watu Tatah, yang menjadi favorit para pendaki untuk mengabadikan momennya. 

Pukul 9 kami sampai di Sun Rise camp. Menikmati bekal serta memasak air untuk menghangatkan tubuh kami. Hingga akhirnya kamipun mengemas peralatan kami untuk bergegas turun. Pukul 10:30 kami mulai turun ke basecamp, di sela-sela perjalanan kami turun tetap saja kami mengabadikan perjalanan kami. Rasanya tidak ada kata bosan untuk moment kali ini. Beruntung sekali teman media sosial ini menjadi tim yang kompak selama pendakian. 

Hingga akhirnya kami sampai basecamp pada pukul 14.00. Kamipun segera lapor ke basecamp dan mengambil identitas kami. Alhamdulillah perjalanan kami kali ini sangat mengesankan buat kami. Bagaimana tidak, bermula dari teman media sosial hingga benar-benar menjadi teman di media yang nyata, kami pun berharap semoga kelak bisa mendaki bersama kembali untuk mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kami. 


Comments


EmoticonEmoticon