Rabu, 11 Maret 2020

Seremnya Tik Tok Gunung Muria (Natas Angin)


Gunung Muria menjadi gunung yang paling banyak dikunjungi oleh orang-orang kejawen pada malam 1 Syuro atau malam tahun baru hijriah. Dari seluruh pos pendakian dipadati mereka yang hobi dengan sisik melik kejawen. Jadi tidak heran para pengunjung rata-rata orang luar kota atau bahkan orang seberang pulaupun bisa kita temui di sana. Mereka datang membawa bunga-bunga para peziarah, minyak wangi serta dupa atau kemenyan yang akan dibakar saat berziarah di sana. Komplek pemakaman yang terletak di pertengahan pendakian menjadi ramai dan beberapa warung makanpun berdiri untuk melayani para pembeli dan beberapa pendaki yang mungkin bersamaan dengan para peziarah. 

Perjalanan tik tok kami mulai dari Rahtawu pada pukul delapan pagi hari dengan beban day pack yang tidak terlalu berat. Pagi itu begitu cerah menemani perjalanan kami dan dengan semangat kami memasuki hutan yang mulai beralih fungsi sebagai kebun petani serta pohon-pohon besar yang sudah mulai menghilang dari peredaran yang ditebang tanpa ada penanaman kembali. Sesaat kami bertemu dengan ulat bulu yang berjalan diantara dedaunan seolah menyambut kedatangan kami dengan mempertontonkan bulunya yang indah meski dibaliknya terselip bisa yang cukup gatal jika terkena kulit kita.

Perjalanan kami sampai di sumber air pertama ditempuh dengan kurang lebih 45 menit. Botol kami isi dengan air yang jernih dan rasa yang menyegarkan tenggorokan kami. Meski tak sedingin air kulkas namun banyak membantu untuk menghilangkan rasa dahaga kami. Perjalanan kami lanjutkan dengan menapaki jalan yang semakin meninggi. Medan pendakian gunung Muria dibuat zig zag yang membuat perjalanan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Dengan ketinggian 1.601 MDPL yang biasanya bisa ditempuh 1-2 jam, perjalanan kami kali ini dibilang cukup lama. Mungkin karena faktor siang hari dan terlihat jalurnya membuat perjalanan kami terhambat dengan mengabadikan gambar sepanjang perjalanan.
Rumput Liar yang bersahabat
Sebelum sampai ke komplek pemakaman kami sempatkan singgah kembali di mata air yang kedua untuk mengisi botol kami yang sudah kosong. Tidak berapa lama kami duduk sambil memandang kota Kudus, Pati yang tirlihat cantik sekali pada waktu itu. Kamipun melanjutkan perjalanan menuju ke komplek pemakaman yang terlihat sangat sepi. Tidak terlihat satu orangpun di sana hanya wangi kemenyan dan dupa-dupa yang tercium di sekeliling makam. Sekilas komplek pemakaman pertama memang yang paling besar di Natas Angin ini. Ada beberapa bangunan yang berdiri untuk mereka yang akan berdoa di sekitar makam serta memberikan rasa nyaman dari hawa dingin di Gunung Muria ini. 

Tidak jauh dari pemakaman kami menapaki jalur yang sedikit menurun dan sedikit ada rasa aneh yang berlebihan menurut saya. Kami melewati kebun pisang yang sangat tinggi-tinggi pohonnya, jadi jika berbuah terlihat tidak wajar seperti pohon pisang biasa. Pohon pisang di sini juga sedikit unik dengan bentuk yang lebih ramping dibanding dengan pohon pisang pada umumnya. Mungkin karena faktor air yang tidak terlalu banyak sehingga beradaptasi menjadi lebih kecil pohonnya. 

Jalan sedikit menanjak saat kami melanjutkan perjalanan kami, sudah pukul 11 an saat kami melewati pemakaman ke dua. Pemakaman ini lebih kecil hanya beberapa nisan di komplek ini. Di bawah pohon yang rimbun dan sedikit ada rasa mistiknya meskipun di siang hari. Berlalu begitu saja akhirnya kami tinggalkan komplek makam itu dan tidak jauh dari situ ada lagi satu makam di area terbuka tetapi rasa mistisnya lebih besar dibanding pemakaman yang pertama dan ke dua.

Gegas kami meninggalkan tempat tadi dan mulailah perjalan yang ekstrim untuk menuju ke puncak Natas Angin. Kami berjalan di bibir tebing yang sangat dalam dengan kemiringan hampir sempurna 90 derajat di sepanjang jalur menuju puncak. Namun berbeda di sebelahnya dengan hutan yang rimbun yang lebih landai. Jalur Ondo Rante atau Jalur Naga Natas Angin ini sangat menyiksa dengan medan terjalnya. Pegangan rumput-rumput ilalalang yang setinggi badan membuat kami lebih nyaman tetapi tetap saja ada luka dibagian lengan atau kaki yang tidak pakai pakaian yang panjang dan pastinya perih dan gatal-gatal. Tap tidak apalahh..... namanya juga mbolang

Kurang lebih hampir satu jam kami sampai di puncak Natas Angin. Saat itu sudah menunjukkan pukul satu siang, dan kamipun mengeluarkan logistik kami untuk mengganjal perut kami yang sudah mulai keroncongan. Kami juga mendirikan tenda buat rehat kami di tempat yang mulai teduh kala itu karena mentari sudah mulai condong ke barat. Puncak Natas Angin ini biasa disebut dengan Petilasan Soekarno, yang konon katanya menjadi tempat persemedian Presiden RI pertama bapak Ir. Soekarno. Lokasinya cukup luas bisa memuat 10-15 tenda ukuran besar dan sedang dan tempatnya juga sangat nyaman dari terpaan badai. Karena di sekililing area beberapa ilalang tumbuh subur setinggi badan manusia jadi cukup nyaman.
Puncak Natas Angin (Petilasan Soekarno)
Di sebelah utara tidak jauh dari petilasan Soekarno terdapat Goa yang cukup luas untuk berlindung dan menghadap ke arah kota Jepara yang terlihat dari kejauhan. Goa ini bisa memuat 3-4 orang serta cukup nyaman buat istirahat jika kita tidak bawa perlengkapan tenda bisa digunakan istirahat sepanjang malam.

Kami pun merebahkan badan kami sambil menikmati sejuknya udara kala itu. Langit yang cerah dan sesekali segerombolan awan nampak berjalan lambat dihadapan kami. Semakin sore semakin dingin hawa di Puncak Natas Angin ini, dan kamipun mulai mengenakan baju rangkap kembali biar tidak terlalu dingin. Sholat Zuhur sudah kami jamak dengan Sholat Ashar sebelumnya, sehingga kami bisa lebih leluasa menikmati pemandangan sore itu. 

Senja mulai bergulir saat kabut tipis mulai turun di Puncak Natas Angin, saat menatap tebing yang berseberangan kabut itu tidak bisa menyebarang ke arah bukit sebelahnya mungkin karena sepoi angin senja itu dari arah utara lebih kuat. Kabut itu seolah membuat garis pembatas yang sangat sempurna senja itu. Sesaat kami mulai mengemasi barang-barang kami untuk dibawa turun, bersama senja yang mulai menguning dan mentari yang beranjak meninggalkan bumi kami pun juga beranjak meninggalkan Puncak Natas Angin. 
Batas Kabut yang mempesona
Perjalanan turun kami senja itu memang menjadi sedikit canggung dimana kami harus pulang di malam hari saat turun gunung. Langkah kami juga harus ekstra hati-hati mengingat di sebelah kira kami tebing yang sangat dalam yang siap memangsa kami jika tidak hati-hati. Suasan mistis malam itu mulai kami rasakan saat kami mulai turun dari puncak Natas Angin. 

Tidak berhenti di situ saja, saat kami mulai melewati area pemakaman mentaripun benar-benar sudah tidak terlihat. Sedikit berkabut dengan kegelapan yang bercampur jadi satu, mungkin karena kami hanya berdua dan saya sendiri berjalan di belakang, seolah-olah ada yang mengikuti kami dari belakang dan setiap kami tengok tak ada apapun di belakang saya. Pada pemakaman ke dua sempat saya melihat bayangan sedikit gelap bentuknya manusia yang sangat tinggi di belakangku, sesaat aku hanya melirik saja dengan rasa takutku. Aku hanya diam tanpa bilang teman saya waktu itu.

Jalan kami percepat dengan harapan saat Mahrib datang kami sudah di bawah pemakaman pertama. Akan tetapi waktu berkata lain, saat adzan mulai terdengar kami masih di ladang pisang yang aneh tadi pagi kami temukan. Bergegas sedikit berlari saya segera menyusul temanku yang sudah mendekati pemakaman pertama. Saat itulah saya seperti di tekel atau di sleeding seseorang yang tidak kelihatan. Berguling-guling saya jatuh dengan sedikit merasa sakit karena kaki terkena batu saat jatuh. Sambil meringis-meringis saya sedikit berlari meski jalan sedikit naik menjelang pemakaman pertama. 

Antara takut dan terburu-buru menjadi satu yang akhirnya membuat konsentrasi kami jadi ambyar, beruntung senja kalau itu tidak turun hujan, meski berkabut tipis jalan masih tetap bisa terlihat dengan senter yang sudah mulai kami nyalakan. Sejenak kami mampir di tempat mata air untuk membasuh muka dan dibawah lampu-lampu kota mulai terlihat berkelap - kerlip dengan cantiknya. Namun semua masih berbaur dengan daya mistik di gunung Muria. Perjalanan kami turun juga ada beberapa tempat yang cukup horor yang membuat bulukudu kami berdiri. Perjalanan turun kami ternyata lebih cepat dibanding saat naiknya, faktor sedikit takut lah yang mempercepat langkah kami dan apa yang aku alami tidak pernah saya ceritakan kepada temanku hingga cerita ini saya tulis.
Berjalan di Tepi Jurang di Sepanjang jalur pendakian
Gunung Muria, Gunung yang penuh rasa kejawen dengan dunia kemistisannya, membuat banyak orang yang datang untuk berziarah dan berdoa dengan harapan mereka ngalap berkah dengan apa yang mereka lakukan. Akan tetapi menurut saya pribadi saya tetap menghormati mereka dan prinsip saya adalah berdoalah kepada Yang Maha Kuasa dengan cara yang sudah diajarkan sebagaiamana dalam Kitab Nya dan Hadisnya. Insya Allah kita akan tetap di tuntun ke jalan yang benar. Ammiin

Comments


EmoticonEmoticon