Rabu, 15 Mei 2024

Ada Yang Baru di Merbabu Via Thekelan???

AKU TIDAK PERNAH TAHU, JIKA AKU TIDAK MEMAKSA KAKI UNTUK BERGERAK. ADA HAL YANG TIDAK PERNAH TERPIKIRKAN DAN ITULAH JAWABANNYA SAAT KAKIKU MULAI TERHENTI DI TITIK INI


Sepertinya itu pertanyaan yang menggelitik buat saya saat kembali ke Merbabu Via Thekelan Kopeng pada kali ini. Pendakian kali ini sedikit berbeda dengan biasanya yang biasanya full pack pada saat pendakian, kali ini saya cukup membawa Day Pack sesuai dengan kesepakatan teman-teman.

Bermula dari media sosial yang memberangkatkan kami bertiga untuk ke Merbabu via Thekelan. Saya sendiri dari Demak, Mas Rokhim dari Blora dan Mas Nanda dari Klaten yang saat ini berdomisili di kota Solo karena sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Solo.

Kesepakatan awal kami akan memulai pendakian pada pukul 11:00 akan tetapi karena sesuatu hal dengan kendaraan saya, akhirnya kami baru bisa memulai pendakian pada pukul 15:15 selepas sholat ashar. 

Kabut tipis dan mendung sedikit kehitaman nampaknya menjadi teman pendakian kami sore itu. Setapak demi setapak sampailah kami di akhir ladang penduduk yang ditanami berbagai macam tanaman sayuran. Mereka sangat ramah dan tak segan-segannya menawari kami untuk memetik sayuran ataupun buah-buahan yang mereka tanam. Termasuk manawari kami buah jeruk, yang akhirnya kami mengiyakan dan pemetikan buahnya saat kami turun besok.

Hal yang baru di pendakian Merbabu via Thekelan yakni tersedianya jasa ojek sampai pos 1 dengan harga Rp. 45.000. Buat kami terasa mahal untuk sebuah pengeluaran, jalan di buat memutar dan sesekali menerabas jalur pendakian. Tidak masalah sebenarnya karena semua demi kebaikan warga yang terkadang memanfaatkan jalan tersebut untuk mengambil kayu dari lereng hutan Merbabu. 

Satu jam perjalanan kami, disambut dengan ramainya ojek dan pendaki lain yang sedang beristirahat di pos 1. Tidak lupa ibu kedai yang ramah menawari kami teh anget untuk mampir ke warungnya. Dengan halus kami menolak karena di rasa belum terlalu haus sangat. Lagi pula di pos 1 juga ada kran yang airnya sangat sejuk untuk di teguk. Kami keluarkanlah botol kami yang kecil untuk mengambil air buat perjalanan sampai di tempat camp area.

Mendung sore itu semakin menggantung, kabut putih yang cukup tebal menyapa pori-pori kami hingga rasa sejuk itu menghinggapi tubuh kami yang sudah basah dengan keringat selama perjalanan. Melintasi jembatan di sungai selepas pos 1 rasanya kurang afdol jika tidak mengambil gambar dan cekrek cekrek beberapa kali dari kami mengabadikan moment tersebut. 

Jembatannya Aestetik kan yakk

Selain jalur ojek ada juga yang baru di pendakian Merbabu via Thekelan, yaitu beberapa jalur dirubah arahnya karena faktor tergerus air cukup dalam pasca kebakaran tahun lalu. Hujan akhir tahun 2023 dan awal tahun 2024 menyisakan jalur pendakian yang cukup dalam hingga pengelola membuat jalur baru yang lebih nyaman untuk dilalui.

Satu jam kemudian sampailah kami di pos 2. Masih sama dan tidak banyak perubahan hanya mata air memang sudah dimatikan pada kran di pos 2. Di sana kami bertemu dengan pendaki dari Magelang yang hendak turun. Mereka masih anak sekolah SMP dan SMA/SMK yang menghabiskan liburannya untuk berpetualang. Karena masih perdana mereka mendaki, mereka hanya bilang kemarin kami sampai pos 2 dengan waktu tempuh kurang lebih 5 jam. Sementara kami kami hanya kurang lebih dua jam. Mereka terheran kok bisa cepat langkah kami. Usut punya usut adalah pengepakan logistiklah yang membuat mereka melangkah lebih lamban. Menurut saya itu baik karena tentu mereka belajar dari pengalaman yang mereka alami.

Baguskan viewnya Pos 2 hehehe

Di sekitar Pereng Putih sebelah kiri jalur pendakian, kami disapa gerimis yang cukup deras. Jas hujan kami keluarkan, paling tidak untuk melindungi badan kami. Sial nya saya hanya membawa satu celana panjang dan tidak membawa celana pendek cadangan. Kami hanya menikmati perjalanan dengan cengkerama bersama gerimis. Ada pentunjuk mata air sebelah kanan sebelum pohon akasia kembar. Bergegas kami mengambil satu botol besar untuk keperluan masak-memasak.

Sabar Nak 1 menyambut kami bersama hujan yang cukup deras. Kami masih bergelut dengan aroma embun dan sesekali menghirup air hujan untuk membasahi kerongkongan kami. Seger dan seru saja saya rasa. Apakah hanya aku saja? hahahahaa

Pos 3 sudah di depan mata sementara gerimis masih saja mengajak kami bercanda. Serunya untuk sampai pos 3 pada saat melihat di bawah cerah, di tempat kami berpijak hujan dan melihat ke puncak tower mendung gelap. Dilema kami memutar pikiran untuk mencari aman saja. Hembusan angin yang menggoyangkan ilalang Merbabu cukup kuat, hingga pada titik temu kami memutuskan untuk mendirikan tenda di Pos 3 di bagian lembahnya. Tempat yang aman dari badai karena kana kirinya di apit bukit yang cukup tinggi dan bukan arus angin. Sudah ada dua tenda berdiri di sana. Dengan sopan kami menyapa dan meminta izin untuk ikut mendirikan tenda.

Begitu tenda berdiri semua perlatan dan raga kami memasuki tenda untuk berteduh. Rintik hujan kecil masih mencumbui punggukan Merbabu yang menghijau. Memasak air untuk secangkir hangat kopi dan wedang jahe lah yang kemudian menghangatkan badan kami. Tidak lupa camilan kami keluarkan untuk mengisi amunisi cacing-cacing dalam perut kami yang sudah mulai keroncongan. 

Adzan maghrib berkumandang, bergegas untuk mengambil tayamum untuk kutunaikan sholat. Badan yang cukup letih setelah berjalan di punggung Merbabu mengantarkan kami untuk memasuki ruang Sleeping Bag yang cukup hangat. Memakai celana mantol rasanya menjadi pengalaman tersendiri buat saya setelah celana basah saya tanggalkan. Dingin-dingin sempriwing tapi tidak gurih-gurih nyoiii.

Dua jam kami sudah terpulaskan oleh dinginnya udara Merbabu. Mencoba untuk keluar dan udara yang bersahabat nampaknya menuntun kami ke Pos 3 sekedar menengok suasanya. Apa yang kami lihat... City Light kota Salatiga dan sekitarnya tampak begitu bersih untuk kami nikmati. Bukan itu saja kamipun mengabadikan moment tersebut dengan teman-teman termasuk yang menenda sebelumnya dengan kami. Meski tidak semua ikut rasanya tambah teman itu juga seru untuk sekedar bergurau.

Ini City Lightnya, Cantik kan...

Aku kembali ke tenda lebih awal karena dingin yang sudah tidak tertahan. Tidur dan merecovery tenaga untuk summit attack yang kami wacanakan pada pukul 03:00 dini hari. Malam itu sedikit badai dan gerimis sehingga cukup dingin. SB dan jaket tebal mengajakku bercanda sepanjang malam dengan suhu Merbabu yang tidak di tawar lagi. Tetapi kami tetap menikmati pada sedikit gurauan angin malam itu untuk sedikit merapatkan SB untuk menutup kepala seperti kepompong.

Alarm HP kami berbunyi menunjukkan pukul 02:00 dini hari. Masih terkantuk aku mencoba meraba HP di saku tenda sebelah kanan. Seperti memegang es batu, terasa dingin dan beku lalu melepaskan sarung tangan untuk mematikan nada deringnya. Alih-alih langsung bangun dingin yang begitu menusuk tulang lebih menyuruhku menarik selimut lagi. Sialnya 10 menit kemudian ternyata alarm berbunyi lagi, ku lakukan hal yang sama, bedanya kali ini aku benar-benar bangun. Mengucek-ucek mata dan menghilangkan tai totok yang menempel di rambut-rambut mata. Masih kayu tapi berusaha untuk mengumpulkan nyawa untuk membangunkan sebelah dan tenda sebelah dan tenda sebelahnya lagi. 

Pukul 03:00 dini hari persiapan summit attack sudah di mulai seperempat jam sebelumnya. Mengisi kerongkongan yang kering dengan air kulkas alami. Nyesss rasanya mengaliri mulut, tenggorokan hingga ke lambung. Semua serba dingin sama perasaan dia ke saya yang sangat dingin. (Ehh apa sih yakkk). Untuk memberi sedikit tenaga kue turbo yang kami bawa ku coba gilas dengan gigiku yang beberapanya sudah tanggal. 

03:30 summit attack kami mulai (saya Adi (Demak), Nanda (Klaten), Rohim (Blora), Lutfi (Kendal), mas Hafis, mas Bari, sama mas Jojo (mereka dari Tangerang). Tidak lupa berdoa dengan memohon keselamatan dan cuaca cerah. Ditemani dengan kabut pekat pagi itu kami menyalakan senter kami. Eh saya malah tidak bawa senter dan numpang dengan teman lain di depannya. Gak papa kan yakkk. Baru beberapa menit kami berjalan, kami sudah dipaksa alam untuk memakai jas hujan yang sudah kami siapkan. Tidak deras tetapi cukup basah jika tidak memakainya. 

Saya yang dituakan dan memang paling tua sebenarnya hehehe, sebagai penunjuk jalan dan menyemangati mereka yang membawa beban yang cukup berat untuk bekal di puncak nanti. Pukul 04:30 kami sampai puncak Tower yang sudah ambruk. Saya sendiri melaksanakan sholat subuh dan diikuti beberapa teman lain. Mengisi amunisi setelah di hajar tanjakan watu gubug yang cukup miring tanjakannya.


Tower Kenangan

Pukul 05:00 kami melanjutkan perjalanan dengan menuruni jalan setapak hingga akhirnya bertemu dengan cabang pendakian Merbabu via Wekas Magelang. Bau belerang mulai tercium menyengat saat kami melewati kawah mati Merbabu. Jalan kami percepat untuk segera sampai di mata air abadi di bawah Puncak Geger Sapi. Tidak semua orang tahu dan berani melewati rute itu kecuali mereka yang sudah paham medannya. Meneguk air bersih tapi sedikit bau belerang, tak menyurutkan kami untuk menelannya supaya dahaga kami terurai.

Menerabas jalan untuk mempercepat perjalanan kami ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Setelah mata air ada beberapa tanjakan yang menurut kami tidak terjal tapi miringnya hampir 70 derajat. Kebayangkan seperti apa, beruntung sudah ada webbing untuk pegangan sehingga mempermudah langkah kami.

Hampir sampai di pertigaan bertemu dengan rombongan pendakian lain sebanyak 5 orang Mas Sholikin dan kawan-kawan yang rencananya mau turun karena berbagai pertimbangan dari tim. Akan tetapi ada sedikit Paksaan dari kami untuk melanjutkan perjalanan dan akhirnya bergabunglah dengan kami menjadi ber 13 orang.

Sampailah kami di Jembatan Setan, dimana akal busuk saya mulai jahil. Setelah melewati Jembatan Setan saya minta semua ambil arah kanan dengan merangkak tebing yang cukup curam hampir 90 derajat kemiringinannya. Tidak terlalu tinggi kurang lebih 2-3 meter yang sudah dibantu dengan webbing yang diikit pada pohon cantigi yang kuat. Satu per satu sudah menaiki tebing tersebut dan tidak lama lagi puncak Kenteng Songo di depan mata.

Lantas aku mempersilahkan mereka terlebih dahulu untuk mencapai puncaknya. Mentari sudah meninggi saat kami sampai di Puncak Kenteng Songo, dan sudah banyak pendaki lain yang mengabadikan moment. Merapi sempat terlihat jelas sekian menit sebelum awan menutupinya sesekali namun tidak mengubah cantiknya viewnya. Alhamdulillah kami ber13 sampai dengan selamat di puncak Merbabu. Mengisi amunisi dan mengabadikan moment sambil bercanda dengan teman-teman lain.

Satu yang unik saat itu aku rasakan, tiba-tiba ada dua orang cowok menghampiri saya untuk mengajak berfoto dengan alasan melihat saya yang sudah berusia masih semangat untuk naik gunung. Katanya salut dengan pengalaman yang sempat saya ceritakan hehehe. 

Diapit Ustad-Ustad Muda yang sedang pengabdian di Magetan


Camp Area Pos 3

Kembali ke Pos 3 pukul 08:30 an, hanya kali ini kami ajak memutar melewati Puncak Geger Sapi dan sesekali bertemu dengan pendaki lain yang summit kesiangan. Memberikan semangat lima menit lagi tidak lupa kami berikan kepada mereka. Eh ada juga pendaki yang lain naik dari desa Pantaran Ampel Boyolali yang sedang ambil air di mata air abadinya Merbabu. 

Masak seperlunya untuk persiapan turun dan setelahnya packing untuk kembali ke basecamp. Mendekati selesai packing turun hujan yang memaksakan kami kembali ke dalam tenda. Tertidur sesaat sambil menunggu hujan reda yang pada akhirnya memberikan semangat untuk pulang. Meski tidak komplit pulangnya dengan rombongan paling tidak kami sempat bertukar nomor WA untuk sekedar share hasil dokumentasi kami masing-masing.

"Pertemuan yang singkat untuk rindu yang berkepanjangan"

Pertemuan yang singkat untuk rindu yang berkepanjangan, itulah kalimat terakhir ku ucpakan ke beberapa rekan. Akan ada rindu di setiap waktu untuk kembali ke Merbabu, entah itu kapan.
Terimakasih Basecamp Pendakian Merbabu Via Thekelan



1 komentar


EmoticonEmoticon