Jumat, 15 Februari 2019

Pendakian Gunung Lawu Basecamp Candi Cetho Karanganyar

Gunung Lawu, terletak di beberapa kabupaten yakni Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Magetan dan terletan di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Jawa Timur. Memiliki ketinggian 3265 MDPL dan untuk mencapai puncak bisa melewati beberapa basecamp yaitu, Candi Cetho Karanganyar, Cemoro Sewu Magetan dan Cemoro Kandang Karanganyar.

Candi Cetho
Pada kesempatan ini penulis akan memberikan pengalaman pendakian gunung Lawu lewat Candi Cetho Karanganyar. Pendakian dimulai dari penitipan sepeda motor dan sekaligus warung di basecamp Candi Cetho.

Sunset di Candi Cetho

Perjalanan dari Candi Cetho, dimulai dengan mengambil jalur sebelah kiri, dan akan bertemu dengan anak tangga yang lumayan menanjak. Kemudian kita akan bertemu dengan tempat pendafatan tiket yang terjangkau harganya Rp 15.000,- saya rasa tidak sebanding dengan pemandangan yang disuguhkan dalam perjalanannya.

Dari loket pendaftaran kita menuju ke Candi Ketek yang jaraknya tidak terlalu jauh, dengan jalan berbatuan kita akan menyebrangi sungai kecil yang arusnya cukup kuat pada saat musim hujan. Pada Candi Kethek biasanya digunakan anak-anak sekolah untuk kegiatan Pramuka dan lain-lain. Belok kanan sekitar kemudian kita akan melewati ladang petani. Ada beberapa ruas jalur jadi harus diperhatikan betul-betul jalurnya.

Wajah-Wajah yang sok imut 

Menuju Pos I, jalur mulai menanjak dan hutanpun sudah semakin lebat. Pada Pos I ini ada shelter yang bisa digunakan untuk istirahat. Tidak cukup lebar memang namun cukup nyaman. Kalau pun mau mendirikan tenda juga bisa untuk 2-4 tenda yang berkapasitas 3 orang. Hanya pada Pos I ini view memang kurang mendukung dan view tidak terlalu luas.


Pos I

Menuju Pos II jalan semakin menanjak dan beberapa pohon besar semakin banyak kita temukan. Pada pohon-pohon tumbuh lumut yang tebal yang menandakan sinar matahari yang tidak bisa menyinari pohon tersebut. Untuk sampai Pos II membutuhkan waktu 1-1,5 Jam. Pos II ini cukup luas untuk membangun tenda, bisa untuk 6-8 tenda, serta ada Shelter yang cukup luas untuk singgah. Pada Pos II terdapat 2 pohon besar yang saat ini kondisinya sudah mati dan kering, jadi sebaiknya hati-hati saat memutusakan untuk camp di sini.

Pos II

Lanjut ke Pos 3, jalan semakin sempit dan hanya setapak saja yang bisa kita pijaki, selain semakin menanjak, jalur menuju Pos 3 ditumbuhi pohon lamtoro yang subur. Tidak terlalu panas jika siang hari dan jalur ini dibuat zig zag sehingga mempermudah para pendaki untuk berjalan, relatif lama memang. Jalur sangat panjang, bisa memakan waktu hampir 2 jam untuk sampai Pos 3. Ada shelter yang bisa dimanfaatkan pendaki untuk singgah dan yang paling spesial di sini adalah, lokasi buat camp sangat banyak, meski terpisah-pisah namun terlindungi oleh pohon-pohon lamtoro sehingga tidak kepanasan di siang harinya. Selain itu ada juga mata air yang bisa dikonsumsi yang penting dijaga ya gaesss.

Menuju Pos 4, medan semakin berat untuk menuju pos ini, masih di hutan lamtoro dan jalur masih zig zag sebelum akhirnya kita ketemu seperti bukit pada pos ini. Kurang lebih 1 jam untuk sampai pos 4 ini dan memang agak jarang yang camp di pos 4 ini. 

Dari pos 4 ini, kita akan bertemu dengan tanjakan yang lumayan kemiringannya dan sudah mulai bertemu dengan pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Tiupan angin yang sepoi-sepoi menambah khas tersendiri suara lambaian daun pinus ini. Dingin pasti ia, karena di atas tanjakan ini kita akan bertemu dengan sabana sabana lawu yang menjadi ikon pendakian lewat candi Cetho ini. Tidak sampai satu jam kita akan bertemu dengan pos 5, dimana pos ini menjadi lokasi vavorit untuk mendirikan tenda. Sangat luas area nya untuk mendirikan tenda, hamparan rumput yang hijau dan barisan bukit kanan dan kiri yang mengapit sabana ini, membuat pendaki betah untuk berlama-lama di sini.


Sabana di Pos 5

Terlepas dari keindahan pos 5, untuk menuju ke pos 6 kita akan bertemu dengan satu tanjakan yang orang-orang sebut tanjakan cintanya di jalur candi Cetho. Tak setinggi di semeru memang, namun cukup buat dengkul kita lumayan juga hehehehe. Setelah tanjakan cinta ini kita akan disuguhkan kembali dengan sabana yang lebih luas lagi dan lagi. Hutan pinus tumbuh di mana-mana, Sesekali pendaki bisa menemukan bunga anggrek yang menempel di pohon pinus. Bunganya sangat cantik berwarna ungu dan tumbuh subur bunga ini. Tapi jangan dirusak ya broooo and siiisss

Pohon Tumbang Icon Jalur Candi Cetho

Tanjakan Cinta ala Gunung Lawu

Tidak lama dari pos 5 kita akan sampai pasa Pos 6 yang biasa dinamakan dengan Gupakan Menjangan. Sabana yang sangat luas dan kalau beruntung seperti saya bisa menemukan sebuah telaga yang mirip sekali dengan ranukumbolo. Saya namai saja tempat ini menjadi Ranukumbolo Mini ala Gunung Lawu Via Candi Cetho. Konon tempat ini menjadi lahan Menjangan atay Rusa untuk merumput seharian. Mungkin karena sekarang banyak pendaki, atau kasus kebakaran akhirnya sudah jarang sekali untuk ketemu dengan rusa tersebut.

Ranukumbolo Mini Gunung Lawu

Sabananya... Jangan Mupeng ya gaeeesssss

Semakin eksotis setiap sudut sabana disini hingga diakhir dengan terjalnya medan untu sampai ke Pasar Dieng. Pasar Dieng ini adalah menjadi titik temu daru kedua jalur yang berbeda yaitu dari Cemoro Kandang. Disinilah tempat yang harus berhati-hati pada saat turun terlebih jika berkabut, kalau tidak peka kita bisa salah jalur baik ke Candi Cetho atau Cemoro Kandang. Pasar Dieng ini merupakan kawasan yang berbatu kecil dan beberapa pendaki suka menumpuk batu tersebut sebagai penanda arah. Pohon Cantigi yang tumbuh subur, meski agak jarang tetap saja menambah spot cantik tersendiri, ada beberapa sabana bula yang kita jumpai di Pasar Dieng ini.

Bukan Dieng Wonosobo hehehehe

Pasar Dieng menuju ke Hargo Dumilah tidak terlalu jauh, Hargo Dumilah menjadi tempat pertapaan yang memiliki ritual khusus, bertemu anak tangga beberapa kali, Beberapa edelwis mulai tumbuh subur pada jalur ini, bahkan kalau bejo bisa bertemu dengan edelwis yang berwarna ungu yang hanya dimiliki Gunung Lawu. Bersikaplah sopan selalu dimana berada ya kawan, ada rasa tersendiri pada saat kita di Hargo Dumilah ini. Pemahaman masing-masing orang pasti berbeda-beda dan sudah selayaknya kita saling menghormati satu sama lain.

Edelwis diantara Pohon Cantigi

Di samping Hargo Dumilah ini menjadi penantian terakhir untuk saat - saat perut sudah mulai keroncongan yaitu WARUNG MBOKYEM yang sangat LEGENDARIS. Warung yang berketinggia 3000 an MDPL ini menjadi warung tertinggi di Indonesia. Warung ini menjadi favorit pagi pendaki, selain harga yang sangat murah, rasanya tidak kalah lezat dengan restoran ternama di bawah sana. Lauknya cukup simple yaitu, Nasi Pecel dan Mendoan, Teh Hangat yang harganya tidak kurang dari 15.000. Satu terpenting lagi lauknya yakni RASA LAPAR itu menjadi lauk terlezat jika kita makan.

SIMBOK YEM, yang legendaris sesekali menjadi rebutan para pendaki untuk minta berfoto untuk mengabadikan dengan beliau. Beliau yang sudah sepuh yang selama ini banyak sekali membantu para pendaki untuk masalah perut lapar, selain itu warung Mbok Yem ini menjadi yang tertua diantaranya, karena saat ini ada beberapa warung yang berdiri di sekitar mbok Yem. 

Setelah menikmati Nasi Pecel dan Teh Panas, jalur menuju puncakGunung Lawu ada di belakang warung Mbok Yem ini. Jalan berbatua dan cuku menanjak, meski tidak terlalu lama kurang lebih setengah jam kita akan sampai Tugu Puncak Gunung Lawu. Dari puncak inilah kita bisa melihat beberapa barisan gunung di sebeleha timur ada Gunung Wilis di Kediri, sebelah barat Laut kita bisa melihat gunung Merapi dan Merbabu. Telaga Sarangan juga terlihat jika cuaca cerah.


WM LEGENDARIS MBOK YEM

Pada puncak inilah pendakian berakhir, puncak yang panjang ini terkadang para pendaki bisa ke arah barat untuk bisa lebih memandang cakrawala yang sangat luas. Di sisi selatan ada juga kawah mati yang sangat luas, bersabana dan bertelaga. Tidak sedikit para pendaki yang turun untuk mengambil air dan mengukir nama mereka di sana, seperti saya heheheehheee.
Kawah Mati Gunung Lawu

Numpag Rehat dan Minum
Tips Pendakian Gunung Lawu Via Candi Cetho
  • Mulailah perjalanan pada pagi hari, sehingga punca waktu yang panjang dan tidak buru-buru, karena saat ini jalur ini menjadi jalur terpanjang di Gunung Lawu
  • Pilihlah bulan-bulan yang bersahabat untuk mendaki, karena pada saat kemarau debu lebih tebal dan rentan dengan kebakaran
  • Untuk akses untuk menuju ke basecamp Candi Cetho, kalau dari Solo bisa cari bus yang ke arah Karanganyar dan Tawang Mangu, turun di pertigaan yang ada tugu selamat datang di Candi Cetho, Nanti ada angkot yang siap mengantarnya atau bisa sewa mobil-mobil charteran sampai diterminal angkotnya.
  • Untuk lebih detailnya bisa meminta informasi kepada teman saya bang Hery Cah Lawu, beliau adalah penyewa alat gunung dan termasuk anak gunung lawu yang aktif dibidang kegiatan alam wilayah Karanganyar. Ini akun beliau bisa di add ya gaess  https://www.facebook.com/tyiang.drojo WA 081228224789
  • Selamat mencoba



Terimakasih Mbok Yem dengan Nasi Pecel yang sangat melegendaris di kalangan pendaki, jasamu tak kan pernah tergantikan meski mulai muncul penjual lain di sekelilingmu.

2 komentar


EmoticonEmoticon