Mount Lover

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Tentang Blog Ini

Blog ini merupakan cerita murni dari penulis dari pengalaman yang pernah kami lalui, semoga blog ini bermanfaat buat pembaca dan selalu menerima kritikan yang bersifat membangun. Saya ucapkan terimakasih kepada yang telah mengunjunginya, jika anda terkesan silahkan isikan tulisan anda melalui kolom komentar atau bila membutuhkan jasa guide pendakian gunung, bisa hubungi saya, Mr.Ady, WA/SMS/Telp. 085725247115

Follow Us

8 Tips Mendaki Gunung Saat Musim Hujan

8 Tips Mendaki Gunung Saat Musim Hujan




Kita ketahui bahwa negara Indonesia merupakan negara tropis yang memiliki 2 musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Namun bagi kalangan para penggiat alam yang meraka sudah memang menjadi hobinya mereka tidak akan mengenal musim untuk menjelajah di pegunungan yang mereka inginkan. Memang rata-rata semua pendakian memiliki resiko masing masing, misalnya pada musim kemarau resiko yang sering terjadi adalah bahaya kebakaran hutan, debu yang tebal serta panas yang sangat menyengat. 

Pada musim penghujan juga lebih banyak resiko yang akan didapatkan para pendaki. Pertama, cuaca yang tidak mendukung, hujan yang mengguyur pasti akan membuat segala peralatan basah semua. Kedua, kabut yang tebal dan pasti menghalangi pemandangan kita dan tidak bisa mendapatkan view indah yang kita inginkan. Ketiga, medan yang licin tentunya akan berisiko terpeleset jika tidak berhati-hati. Keempat, mudah terserang penyakit gunung seperti Hypotermia karena faktor badan yang terlalu dingin. 

Akan lebih baik kita menunda pendakian jika musim hujan telah datang, selain meminimalisasi kecelakaan namun juga biarkan alam merehabilitasi populasinya kembali selama musim penghujan. Saya sendiri sangat setuju dengan adanya penutupan pendakian pada sebuah gunung di awal tahun selama 3-4 bulan. Paling tidak bisa menyegarkan ekosistem kembali yang kemarin habis terbakar pada musim kemarau.

Lagi-lagi semua adalah pilihan, jika memang tetap berniat mendaki pada musim hujan, sebaiknya pertimbangkan beberapa faktor di bawah ini:
1. Pilih gunung atau bukit yang mudah didaki
Jika ingin tetap mendaki dimusim penghujan, pemilohan gunung yang tepat harus dilakukan. Sangat lebih baik tidak mendaki gunung yang medan pendakiannya sulit karena saat hujan kondisinya akan menjadi lebih buruk.
Pilih juga gunung yang waktu tempuh ke puncak dan perjalanannya singkat. Hal ini penting untuk menghindari cuaca buruk. Jika cuaca mulai memburuk perjalanan turun bisa segera dilakukan dengan cepat.

2. Sebisa mungkin tidak berkemah
Memang tenda bisa dibawa ketika mendaki untuk mengantisipasi cuaca buruk seperti hujan dan angin. Namun tetap saja berkemah dikondisi cuaca buruk tetaplah beresiko hypotermia.

3. Bawa Jas Hujan
Jas hujan menjadi wajib dibawa ketika melakukan pendakian di musin penghujan. Tentu saja tujuannya agar tidak basah kuyup ketika harus menerjang hujan karena di gunung biasanya minim tempat berteduh.
Jika sampai basah kuyup karena tidak membawa jas hujan, pendakian pun akan semakin berat. Terlebih jika udara atau angin dingin menerpa, pakaian yang basah akan melipatgandakan resiko terkena hypotermia.

4. Membawa Pakaian Ganti Extra
Baju ganti memang sebaiknya dibawa ketika mendaki, baik di musim hujan atau kemarau. Namun resiko pakaian basah tetap lebih besar ketika musim penghujan tiba, meski sudah memakai jas hujan, air masih bisa masuk melalui celah atau lubang kecil.

Oleh karena itu untuk menjaga agar tubuh tetap kering, pakaian ganti harus dibawa ekstra. Pastikan baju ganti itu diletakkan di tempat kedam seperti bungkus plastik air agar tidak basah.

5. Mendaki Ketika Cuaca Sedang Baik
Pastikan memulai perjalanan mendaki ketika cuaca sedang cerah. Hal itu lebih baik dari pada jika harus menerjang hujan sejak awal perjalanan. Bagaimanapun juga perjalanan lebih mudah ketika tidak diguyur hujan.

Jika kondisi memburuk ketika akan berangkat seperti terjadi hujan lebat atau bahkan badai, tunggu dulu sampai cuaca membaik.

6. Menghindari Berjalan di Malam Hari
Mendaki di musim penghujan akan lebih aman dilakukan di siang hari. Saat masih terang jalur pendakian lebih mudah dilihat oleh mata sehingga bisa meminimkan resiko tersesat. Saat malam hari terutama jika hujan turun, jalur pendakian akan lebih sulit dilihat. Jika berkabut tebal turun, maka hal ini akan semakin meningkatkan resiko tersesat.

7. Periksa Jadwal Buka-Tutup Gunung
Periksa juga mana saja gunung yang tetap dibuka untuk pendakian ketika musim hujan. Beberapa gunung seperti Gunung Prahu, Gunung Gede-Pangrango, Gunung Semeru selalu tutup saat musim penghujan dan biasanya dimulai tanggal 2 Januari penutupannya.

Jangan sampai ketika sudah sampai pos pendakian gunung yang dituju, ternyata gunung tujuan pendakian sedang tutup sehingga perjalanan menjadi sia-sia. 

Jika pendakian ditutup, jangan pula nekat mendaki selain membahayakan keselamatan diri sendiri, pihak pengelola pendakian juga tidak segan memberikan hukuman kepada mereka yang nekat mendaki atau bahkan AUTO BLACKLIST.

Pasar Bubrah Gunung Merapi 2963 MDPL Base Camp Barameru

8. Auto Update Prakiraan Cuaca 1 Minggu sebelum Hari H Pendakian
Ini harus dilakukan melihat prakiraan cuaca sebelum hari H pendakian. Hal ini sangat penting paling tidak kita bisa mengantisipasi dan menyiapkan segala perbekalan untuk pendakian dengan baik. Saat pendakian dilakukanpun kita juga harus siap dengan apa yang akan didapatkan. Itu semua kembali kepada diri kita masing-masing, jika kita mempunyai jiwa yang legowo, tentunya semua akan ringan dan tidak akan kecewa dengan hasil terburuk sekalipun saat pendakian.


55 Istilah Pendakian Yang Wajib Diketaui

55 Istilah Pendakian Yang Wajib Diketaui

Semeru: Sedih Menahan Rindu

Hai teman-teman, tidak salah rasanya apabila kita memiliki hobby yang bisa membuat refresh kembali setelah jenuh menjalani rutinitas kita sehari. Semua butuh waktu luang dan uang tentunya untuk bisa menikmati sesuatu yang kita inginkan.

Salah satu hobby yang akhir-akhir ini menjadi banyak peminatnya yaitu ''Mendaki Gunung''. Dari mendaki gunung itu kita atau mereka pasti akan menemukan hal-hal baru termasuk istilah-istilah pendakian yang sebelumnya pasti belum kita ketahui.

Nah sobat-sobat berikut ini, saya akan berbagi pengetahuan dengan istilah-istilah pendakian yang mungkin masih asing buat sobat semua. Kita mulai dari peralatan ya teman-temen.....
1. Day Pack: Merupakan tas ransel yang ukurannya kecil dengan kapasitas 30 liter an.
2. Ceril : Tas Rasnsel yang berukuran lebih besar dengan kapasitas 50-80 liter untuk ukuran orang-orang Indonesia.
3. Bag Cover: Penutup tas agar terlindung dari kotoran debu, atau air hujan atau juga disebut Rain Cover.
4. Tracking Pole: Merupakan tongkat kecil yang panjangnya kurang lebih 1,5 meter dan bisa dimodifikasi ukurannya sesuai dengan keinginannya.
5. Doom: Tenda yang digunakan untuk berteduh dengan ukuran dan kapasitas bervariasi dari 1 - 6 orang atau bahkan bisa lebih.
6. Frame: Fiber yang digunakan untuk mendirikan tenda yang bisa dilipat (Rangka Tenda).
7. Single Layer: Tenda yang hanya beratap tunggal
8 Double Layer: Tenda yang beratap ganda
9. Fly Sheet: Kain payung yang lebar, biasanya digunakan untuk dipasaang di atas tenda yang dibentangkan dengan tali.
10. Pasak: Besi kecil berbentuk siku untuk pengikat tali tenda yang ditancapakan ke tanah
11. Roof: Kain payung kecil yang dipasang diatas tenda dan biasanya untuk penutup ventilasi.
12. Matras: alas yang terbuat dari semi karet dan plastik untuk tempat berbaring
13. Headlamp: Lampu senter dipasang di kepala untuk penerangan pada malam hari selama pendakian.
14. Glove: Sarung tangan untuk melindungi dari hawa dingin
15. Buff: Slayer yang mempunyai multifungsi pada berbagai kondisi, penutup kepala, masker atau kondisi darurat bisa dipakai pengikat atau pembungkus luka.
16. Ponco: Penutup kepala yang tebal untuk melindungi dari rasa dingin
17. Geiter: Pelindung sepatu agar tidak kemasukan kerikil atau tanah ke dalam sepatu
18. Sleeping Bag (SB): Kantong Tidur atau selimut tebal yang digunakan untuk melindungi tubuh selama tidur yang memiliki resleting untuk membuka dan menutup.
19.  Nesting: Alat memasak
20. Webbing: Tali pita untuk pegangan pada tempat-tempat yang rawan kecelakaan
21. Tali Prusik: Benang yang biasa dijadikan gelang namun memiliki fungsi pada kondisi tertentu.
22. Kompas: Alat penunjuk arah

Merbabu: Menanti Restu Bapak Ibu
Nah sekarang istilah yang lain yang tidak kalah penting ya teman-teman hehehe
23. Simaksi: Pendaftaran sebelum pendakian
24. Basecamp: Tempat pendaftaran para pendaki sebelum melakukan pendakian
25. Shelter: Bangunan yang didirikan seperti gasebo sebagai tempat istirahat selama perjalanan pendakian.
26. Pos : Tempat singgah atau istirahat
27. Top: Puncak dari sebuah Gunung
28. Sulfatara: Asap putih yang keluar dari kawah dan berbau belerang
29. Rock: Batu yang longsor dan membahayakan para pendaki, biasanya spontanitas diucapakan oleh pendaki lain saat mengetahui batu yang longsor.
30. Trekking: Memulai perjalanan mendaki
31. Tik Tok: Mendaki gunung yang tidak sampai menginap dan langsung turun saat setelah sampai puncak.
32. Summit Attack: Perjalanan menuju ke puncak dari tempat mendirikan tenda.
33. Bonus: Jalan datar dalam perjalan mendaki
34. Break: istirahat selama dalam perjalanan yang hanya sebentar
35. Sabana: Padang rumput yang luas
36. Bivak: membangun tempat berteduh sementara sebelum melanjutkan perjalan
37. Penmas: Pendakian Massal/Penanaman Masal
38. OT: Open Trip pendakian
39. Opsih: Oprasi Bersih sampah gunung
40. Mepo: Meeting Poing atau tempat berkumpul dan bertemu sebelum melakukan perjalanan

Kalau ini istilah yang berkaitan dengan perorangan ya friend...
41. Survival: Bertahan hidup
42. Survivor: Orang yang bertahan hidup pada kondisi tertentu.
43. Ranger: Penjaga Taman Nasional
44. Leader: Pemimpin pendakian
45. Sweeper: Orang yang paling belakang yang mendaki pada satu kelompok
46. Porter: Orang yang membawakan barang selama pendakian
47. Guide: Pemandu perjalanan selama pendakian

Selain itu ada juga istilah - istilah lucu dalam pendakian ya gaeesss...
48. Merbabu: menanti restu bapak ibu
49. Strong: Stres yang tak tertolong
50. Semeru: Sedih Menahan Rindu
51. MDPL : Meter diatas Permukaan Laut
52. MASL; Meter Above Sea Level
53. Pendaki Bakso Dilan : Banya Ngaso Dikit Jalan
54. Solo Hiker: Mendaki yang sendiri
55. Pendaki Jones: Jomblo Hapines hahahaha......

Nah itu teman-teman istilah-istilah pendakian yang mesti kita ketahui sebelum melakukan pendakian sesungguhnya. Percayalah teman kita akan tau secara tidak langsung selama kita melakukan pendakian. Mungkin dari temen-temen ada yang mau menambahkan...
Doble Sun (Sun Set and Sun Rise) Pendakian Gunung Sindoro via Ndoro Arum Banaran Wonosobo

Doble Sun (Sun Set and Sun Rise) Pendakian Gunung Sindoro via Ndoro Arum Banaran Wonosobo

Gunung Sindor Via Ndoro Arum

Salah satu Tripel S nya gunung di Jawa Tengah yaitu, Slamet, Sumbing, Sindoro. Triple S ini yang menjadi incaran para pendaki khususnya mereka yang datang dari luar pulau Jawa. Karena untuk mencapai dari ketiga puncak gunung ini tidak hanya cukup 3 hari saja, mungkin bisa seminggu. Buat saya sendiri Gunung Sindoro merupakan gunung yang sangat meracuni seperti gunung gunung yang lain. Memiliki keindahan yang tidak pernah membosankan dan dengan jalur yang cukup bersahabat. 

Gunung Sindoro termasuk gunung yang baru - baru ini aktif kembali sejak tahun 2012 yang lalu, dimulai dengan asap sulfatara yang tipis yang keluar dari kawahnya hingga sekarang asap yang sudah tebal dan membentuk kawah baru di sebelah Barat Daya gunung ini. Memiliki ketinggian 3153 MDPL yang memilki puncak yang sangat luas dengan pusat kawah di sisi selatan gunung ini. Kurang lebih 5-10 hektar luas di area puncaknya. Sehingga tidak jarang pada event agustusan sering dibuat untuk mengadakan upacara bendera memperingati hari Kemerdekaan RI yang berlokasi di Segara Wedi yang sangat luas.

Untuk mencapai puncaknya terdapat beberapa basecamp yang bisa di tempuh, antaralain Jalur Kledung yang paling ramai, Basecamp Sigedang, Basecamp Bangsri, Basecamp Tambi dan terakhir Basecamp Ndoro Arum yang rata-rata semua basecamp masuk ke dalam wilayah Wonosobo kecuali Kledung merupakan perbatasan dari Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo.

Basecamp Ndoro Arum sendiri termasuk Banaran, Kayu Giang, Garung yang merupakan wilayah Wonosobo yang berada di sebelah barat gunung Sindoro. Perjalanan kami menuju basecamp cukup membingungkan waktu itu, hingga akhirnya kami di jemput salah satu teman basecamp di depan terminal Mendolo Wonosobo. Dari terminal kita maju dan akhirnya menyusuri jalan arah ke timur yang awal mulanya memang beraspal. Namun lama kelamaan jalan ini menuju basecamp ini di beton dan menjelang basecamp jalan masih berbatu kecil yang sudah tertata rapi namun jalan untuk menuju ke basecamp memang harus fit kendaraannya.

Sesampai dibasecamp kami disambut dengan hangat oleh basecamp dan akhirnya kami diminta singgah sebentar di rumah kak Iman atau Bolodewo untuk istirahat dan melaksanakan kewajiban sholat kami. Namun tak hanya itu kami juga di suguhi beraneka makanan serta dapat bonus makan pula yang sangat mengenyangkan waktu itu.

Sepakat kami pukul 3 berangkat dengan membayar registrasi HTM sebesar Rp. 15.000 dan parkir Rp. 1000. Ada penggunaan fasilitas basecamp Rp.10.000 untuk satu rombongan. Kami berdelapan orang dan ditemani kak Bolodewo sebagai penunjuk arah buat kami. Kamipun sepakat naik ojek dari basecamp menuju pos 1 dengan harga ojek Rp. 20.000. Jalan ojek menuju pos satu sangat bagus sekali (bagus untuk off road maksudnya heheheheheheeeee) sehingga para pengendara menggunakan motor yang sudah dimodifikasi dan wussssssssssssssssssss melintasi kebun kebun petani dengan debunya (maklum musim kemarau).

Sesampai di pemberhentian ojek, kami berdoa dan segera kami melangkahkan perjalanan kami menuju pos 1 yang tidak jauh lagi. Di Pos 1 NGERATA kami disambut dengan teduhnya pohon CEMARA yang sangat jarang ditemukan di gunung lain. Karena biasanya hutan pinus yang ada di gunung-gunung lainnya. Pos 1 ini sangat luas dan merupakan tempat camp ceria yang sangat teduh dengan rimbunnya pohon cemara. Bau yang khas pohon cemara ini yang membuat kami betah berlama-lama di pos 1 ini. 

Mentari sore itu mulai meredup dan perlahan panasnya pun berkurang saat kami melanjutkan perjalanan kami menuju pos 2. Untuk sampai ke Pos 2 kami melewati Taman kecil yang berbunga khas di gunung Sindoro. Kami melewati Pos Bayangan I yang di sekelilingnya terdapat tumbuh liar rumput alang-alang. Kurang lebih 100 meter kami berjalan tedapat papan peringatan sebelum memasuki jalur naga. Saat kami melintas di jalur naga ini matahari perlahan menuju ke peraduannya. Samar di sebelah barat sana ada gunung Slamet dan Gunung Cermai serta Pegunungan Dieng yang waktu itu sangat cerah. Awan melintas di depan kami sehingga Sun Set yang kami dapatkan sangat sempurna kombinasinya.
Sun Set di Jalur Naga Sindoro

Lampu senterpun mulai kami nyalakan saat mulai gelap, dan sedikit sinar bulan malam itu juga cukup membantu kami. Pos 2 atau yang di sebut Kayu Sawa ternyata papannya sudah tidak ada karena pohon tempat memansang sudah tumbang karena cuaca. Tempat nya hanya ada bebarapa lokasi untuk mendirikan tenda. Dari pos 2 ini sudah tumbuh subur pohon Lamtoro yang rimbun. Tanjakannya cukup terjal dan beberapa tempat ada lokasi untuk mendirikan tenda meski dengan ukuran kapasitas 2 orang. 

Awal pendakian kami berencana akan mendirikan tenda kami di Pos 3, namun akhirnya kami memutuskan untuk mendirikan tenda kami di Pos Bayangan 3. Cuaca yang sedikit berangin waktu itu kami lebih memilih faktor yang aman, selain di pos 3 juga sudah tidak ada vegetasi juga. Kami berfikir pada saat siangnya pasti akan merasa panas dan tidak bisa istirahat. Istirahat kami malam itu cukup nyenyak dan kamipun pukul 02:30 sudah bangun untuk melanjutkan perjalanan kami. Munuju pos 3 jalan mulai terjal dan sedikit berbatu. Kurang lebih 1 jam kami sampai di Pos 3 yang di sebut WATU PUTIH. Dari Pos 3 ini kita bisa melihat keindahan kota Wonosobo, Dieng dan Garung dengan kerlap kerlip lampunya. Di pos 3 ini kami sempatkan sholat subuh berjamaah dengan tayamum, maklum bekal air kita gunakan untuk minum selama menuju ke puncak.

Di samping kiri pos terdapat sabana Parikesit dan ada nama yang cukup unik yakni Tanjakan Mertua Galak. Kurang lebih seperempat jam kita akan melewati Watu Plerenan yang cukup datar buat kita istirahat. Pos 4 atau UCI-UCI tidak jauh lagi dari sini kurang lebih setengah jam. Pos 4 ini sudah berada di kemiringan yang terjal, hanya sebagai tempat istirahat sejenak sebelum kita menuju puncaknya. Kita akan bertemu dengan Watu Tatah dan jalur ini akan bertemu dengan jalur buntu di sebelah kirinya. Di atasnya sudah dipasang tali untuk pegangan karena medan yang di lalui cukup terjal. Disambut dengan hutan mati Cantigi yang terkena asap belerang di sana ada juga 1 makam yang berlokasi di samping Segoro Wedi yang sangat luas. Tempat inilah yang yang sering digunakan untuk perayaan Agustusan dari berbagai jalur pendakian Gunung Sindoro.

Pukul 05:30 Waktu itu kami sampai di Puncak Sindoro berbarengan dengan Sun Rise pagi itu. Rasanya pagi itu kami mendapatkan apa yang kami inginkan dengan bagun kami yang lebih awal. Sun Set dan Sun Rise kami dapatkan. Sebelah timur sana tampak barisan gunung yang sedikit berkabut, Gunung Sumbing, Merbabu, Merapi, Andong, Telomoyo serta Ungaran tampak indah dengan pesonanya. 
Sun Rise Di Puncak Sindoro

Udara yang dingin pagi itu sedikit hilang saat sinar mentari mulai meninggi, akhirnya kami menuju ke Kawah Sindoro dan mengabadikannya. Ada satu titik kawah yang ternyata masih berair jernih seperti air yang mendidih. Beberapa titik kawah sudah menguning karena kadar belerang yang sangat tinggi dan tebing-tebing kawah yang longsor karena rapuh setelah terkena asap sulfataranya. Sesaat kami mengabadikan keindahan kawah ini dari berbagai posisi dengan latar belakang gunung Sumbing yang gagah. 
Kawah Gunung Sindoro dari sisi Selatan

Kurang lebih 2 jam kami berada di puncak dan akhirnya kami memutuskan untuk turun dan menengok kawah di sebelah barat daya dari kejauhan. Warna pohon sekitarnya kuning keemasan karena terkena asap belerangnya. Kemudian kami melintasi Segero Wedi kembali, di ujung Segoro Wedi ini terdapat kawah mati yang cukup dalam dan tampak jelas bekas batas-batas air yang mengisinya. Mungkin saat musim penghujan menjadi danau kecil yang menampung jernihnya air dan layak untuk di konsumsi. Akan tetapi pada masanya kemungkinan juga akan menjadi kawah aktif seperti kawah pusatnya karena ada lobang yang cukup besar mengarah ke pusat kawah. 
Pasir Ombo

Akhirnya kami turun ke pos bayangan 3 dan pukul 09:15 kami sampai dan istirahat sebentar sebelum kami memasak bekal kami. Ada mie instan, papeda dan minuman penghangat untuk mengisi perut kami yang sudah mulai keroncongan. Pukul 11:00 kami turun perlahan menyusuri bukit bukit dan jalur naga yang kami lalui sebelumnya. Di atas pos 1 hutan cemara kami istirahat menunggu teman yang masih di belakang. Teman kami Kak Bolodewo berbekal HT menghubungi pihak basecamp untuk menjemput kami di bawah pos 1.

Tidak lama ojek pun datang kami di angkut satu persatu dan pendakian kami selesai sampai basecamp Ndoro Arum kembali dengan selamat pada pukul 14:00 siang hari. Kami akhirnya menumpang ISHOMA di kediaman kak Bolodewo kembali. Pukul 16:00 sore kami berpamitan dan menuju ke rumah masing-masing dan pada pukul 20:00 malam hari kami masing-masing mengabarkan sudah sampai rumah kami dengan selamat. Alhamdulillah misi kami berjalan dengan lancar meski ada sedikit kendala itu hal yang wajar dan bisa kami atasi bersama-sama.

Peta Jalur Pendakian
Estimasi Perjalanan
Basecamp-Pos 1 Reratan = Naik Ojek 15 menit
Pos 1 - Pos 2 Kayu Sawa= 1.5 Jam
Pos 2 - Pos 3 Watu Putih = 2,5 Jam
Pos 3 - Pos 4 Uci - Uci = 1,5 Jam
Pos 4 - Puncak = 1,5 Jam
Puncak-Basecamp = 3 - 3.5 jam
Puisi Gunung

Puisi Gunung

Pohon Awan
Pohon Awan

Awan seputih kapas
Arak berarak di langit luas
Awan seputih salju
Membaur di langit biru

Awan kau bersanding sunyi
Diantara perdu bisu
Yang tak lagi berhijau daun
Hanya sesekali berdesing
Saat sepoi angin menerpa
Pada cabang ranting kecil
Yang semakin mengering

Engkaupun berbalut bisu
Saat aku menatapmu 
Di dalam sunyi yang tak henti
Aku berharap di sana
Sedikit berlindung di bawahmu
Untuk kudapat sejuk daunmu

Namun nyatanya
Perdu itu sudah berlalu
Dipangkas waktu yang tak berujung
Yang entah kapan kapan kan kembali

#puisialam #puisigunung #puisirindu

Alasan Mengapa Mendaki Gunung

Alasan Mengapa Mendaki Gunung

Puncak Gunung Lawu

Adakalanya dalam sebuah pendakian tentunya harus memiliki sebuah misi atau tujuan tertentu ke gunung yang kita daki. Tujuan itu bisa bermacam-macam, ada yang memang mereka benar-benar pecinta alam, ada juga mereka yang masih mencari jati diri dan ada pula mereka yang memang memiliki ambisi tertentu. Namun ketika kita berkata dengan kata ambisi biasanya kata itu memiliki makna yang sedikit negatif dan itu juga tergantung kalimatnya.

Begitu pula dengan saya, ketika saya mendaki sebuah gunung juga ada beberapa tujuan yang mungkin tidak mudah saya dapatkan di daratan. Karena mendaki gunung buat saya adalah bukan ajang bermain-main namun bagaimana cara saya untuk lebih mendekatkan diri kepada alam dan penciptanya. Mendaki gunung bukan hanya menunjukkan seberapa kuat daya tahan tubuh kita berada di zonasi yang tidak nyaman. Karena mendaki gunung itu pasti akan kita alami yang namanya dari kurang tidur, Kedinginan, Kelaparan dan kotor yang semua menjadi satu rasa yang jarang kita alami di daratan. Selain itu mendaki juga mengakibatkan kantong kering dengan peralatan yang branded dan terkadang juga biaya yang tidak sedikit pula untuk mencapai sebuah gunung dari bentuk trasnportasinya.
Shelter 3 Gunung Kerinci 

Sementara di sisi lain saat kita mendaki juga unpredictable atau tidak bisa diperkirakan sebelumnya, karena mendaki di gunung belum tentu sama setiap saatnya. Cuaca yang tidak menentu yang kadang cerah, berawan, hujan, badai ataupun berdebu itu yang tidak bisa kita perkirakan sebelumnya. Sehingga pada saat mendaki tentunya kita sudah harus siap dengan segala cuaca pada saat mulai mendaki. Pada saat itulah ketika mendaki gunung dengan cuaca yang berbeda kita harus pandai-pandai beradaptasi dengan cuaca yang setiap saat bisa berubah. Bahkan adapula saat mendaki kita tidak sesuai yang kita harapkan dan rasanya itu akan membuat kita cepat drop dan menyesal apalagi mendaki gunung yang jaraknya jauh dari rumah kita dengan perjalanan berhari-hari itu yang terkadang orang tidak bisa menerima kenyataan. 

Akan variatif jawabannya jika kita bertanya kepada seseorang dengan tujuan mendaki gunung itu. Kalau saya sendiri pasti tidak hanya satu tujuan saya untuk mendaki gunung, yakni antaralain:
  1. Mendekatkan diri kepada alam dan penciptanya.
  2. Menambah tali silaturrohiim
  3. Menghilangkan rasa jenuh dari rutinitas kerja
  4. Belajar yang tidak pernah kami dapatkan di bangku sekolah
  5. Hunting Foto
  6. Memotret

Disini tentunya pasti ada alasan yang lebih detail yang akan kami uraikan pada masing-masing point dari tujuan mendaki kami.
1. Mendekatkan Diri Kepada Alam dan Penciptanya.
Kami berfikir bahwa sebagai mahluk Allah yang sempurna tentunya kita harus taat kepadaNYA. Bahwasannya beribadah sebagai seorang muslim tidak hanya Sholat, Puasa, Membayar Zakat serta menunaikan Ibadah Haji jika mampu, akan tetapi beribadah dengan mensyukuri apa yang telah Allah berikan dan berupa tazabur alam itu juga merupakan ibadah. Karena sejatinya manusia dan segala mahluk hidup itu semua berasal dari alam dan akan kembali kepada alam pula, sehingga kita harus menghormati dan alam paling tidak dengan tidak membuah sampah sembarangan dan kita bawa turun sampah kita itu menjadi salah satu cara kita menghargai alam ini.

2. Menambah Tali Silaturrohmi
Dengan mendaki gunung ini saya rasa kita akan menambah tali silaturrohiim dengan pendaki yang lain. Saling bertegur sapa di perjalanan dan terkadang saling berbagi logistik sepanjang perjalanan itu menjadi nilai silaturrohiim tersendiri buat kami. Selain kita mendapatkan hablumminannass namun juga mendapatkan nilai Hablumminallah juga. Jika ikhlas tentunya kita akan mendapatkan pahala meski sekecil apapun.
Ranu Kumbolo Gunung Semeru

3. Menghilangkan Rasa Jenuh dari Rutinitas Kerja
Pada saat mengerjakan rutinitas, tentunya kita akan bertemu dengan titik jenuh pada suatu waktu. Tentunya kita membutuhkan refreshing fikiran kita untuk mendapatkan semangat kerja kembali. Meskipun sebenarnya tidak hanya ke gunung saja untuk menghilangkan rasa jenuh itu. Namun buat saya gunung adalah pelarian terbaik untuk menumbuhkan semangat kerja kembali.

4. Belajar yang tidak didapat di bangku sekolah
Jika di sekolahan terkadang kita lebih banyak dengan teori yang diajarkan bapak ibu guru, berbeda dengan di alam, senantiasa kita belajar dengan mempraktekkan langsung dengan pengetahuan yang kita miliki. Terkadang kita mendapatkan hal yang baru yang sebelumnya tidak pernah kita ketahui sebelumnya. Sebagai contoh bagaimana cara menentukan arah mata angin jika kita hendak melakukan sholat di malam hari apalagi kita dalam kondisi di tengah hutan. Sehingga pengetahuan inilah yang terkadang jarang pula kita dapatkan di sekolahan.

5. Hunting Foto
Saya tidak akan munafik pada sat saya mencoba dalam sebuah perjalanan tentu akan mengabadikan moment yang jarang terjadi. Sehingga foto-foto inilah yang kelak nantinya menjadi cerita kami untuk anak dan cucu yang bisa memberikan motivasi mereka tentunya yang positif.

Puncak Trianggulasi Gunung Merbabu

6. Memfoto atau Mengambil Gambar
Ada rasa kepuasan tersendiri pada saat mengambil foto alam ini ataupun mengambil gambar apapun yang menghasilkan seni yang bisa saya nikmati tersendiri dengan hasil bidikan kamera kami tentunya. Dari sinilah terkadang mengambil caption manusia yang terkadang mereka puas dengan hasilnya bisa membuat mereak senang itu menjadi sebuah rasa tersendiri yang bisa menyenangkan orang lain dengan hasil bidikan sendiri.

Pasar Bubrah Gunung Merapi
Dan tetaplah jadi diri sendiri dengan berbagai macam pelajaran yang tertempa selama di alam, jangan pernah berputus asa selama asa itu belum tergapai
Pendakian Gunung Prahu dan Estimasi Perjalanannya

Pendakian Gunung Prahu dan Estimasi Perjalanannya


Gunung Dieng dengan Panoramanya
Siapa yang tak kenal dengan Gunung Prahu di Dieng Jawa Tengah, gunung yang memiliki pesona yang sangat menakjubkan dengan ribuan kilometer persegi sabana yang terbentang. Gunung ini terletak di Dieng yang termasuk di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Gunung Prahu sendiri memiliki ketinggian 2565 MDPL yang berdekatan dengan dengan gunung-gunung lain di sekitar Dieng seperti Gunung Bismo, Gunung Kembang, Bukit Sikuni dan beberapa gunung lainnya. Gunung ini memiliki basecamp yang bisa digunakan untuk melakukan pendakian seperti:
- Basecamp Patak Banteng
- Basecamp Wates
- Basecamp Dieng
- Basecamp Candi Dwija Dieng
Kesemua basecamp mengerucut ke Puncak yang sama namun berbeda dalam durasi waktunya. Akan tetapi rata-rata untuk sampai ke puncak Gunung Prahu ini dibutuhkan waktu kurang lebih 3 jam dari setiap basecamp yang membedakan adalah jalur menjuju ke puncaknya.

Khususnya Basecamp Patak Banteng yang sejauh ini menjadi basecamp paling ramai diantara basecamp yang lain. Selain merupakan jalur yang cukup dekat untuk sampai ke sunrise camp, basecamp ini juga sangat dekat dengan jalan raya dan menyediakan tempat parkir yang sangat luas.

Perjalanan menuju ke Puncaknya cukup terjal memang, pertama kita akan disambut dengan anak tangga pelangi yang unik sebelum kita melintasi kebun petani yang berujung ketemu dengan jalan babatuan yang lebar yang digunakan oleh para petani melintas dengan kendaraannya mengakut hasil panennya. Munuju pos 1 juga tidak terlalu lama kurang lebih 30-45 menit kita akan sampai pos 1atau yang biasa disebut dengan SIKUT DEWO. Perjalanan menuju pos 1 juga banya ditemui para pedagang souvenir yang menjajakan dagangannya, meski harga tidak jauh beda dengan harga yang di basecamp tetapi tidak jarang pula para pendaki singgah untuk melihat lihat dan membelinya.

Sepanjang jalan menuju puncakpun masih ada beberap para pedangang makanan yang bisa dimanfaatkan untuk tempat istirahat dan mengisi perut. Menuju ke Pos 2 CANGGAL WALANGAN kita akan melewati hutan pinus yang cukup rimbun dan teduh. Tidak terlalu lama untuk sampai ke pos 2 kurang lebih 20-30 menit perjalanan. Jalannya terkadang datar dan terkadang terjal dan memasuki pertengahan pos 2 ke pos 3 jalan sudah mulai menanjak tajam. Pijakan - pijakan tanah yang sangat licin pada musim penghujan dan berdebu pada saat kemarau ini sangat menguji kesabaran kita dan memang harus ekstra hati hati jika melintasi jalan ini. 

Menjelang pos 3 CACINGAN memang sudah dibuat anak tangga yang bertujuan untuk memudahkan para pendaki untuk berjalan, sedikit dibuat berkelok memang cukup mengurangi beban kaki untuk melangkah. Di pos 3 ini kita sudah bisa melihat pemandangan kota Dieng dan sekitarnya. Dimalam hari lampu lampu kota berkelap kelip semakin menambah cantik keindahan kota Dieng di malam hari. Pada siang harinya di pos 3 ini pula jika cuaca bersahabat kita bisa melihat Telaga Warna yang indah. Dari sini pula kita akan bisa melihat Gunung Slamet yang terlihat kecil di sebelah baratnya. Untuk sampai pos 3 ini memang jalur terlama di Patak Banteng ini, kurang lebih 1 jam dengan medan yang terjal tentunya memang butuh stamina yang kuat.
Sunrise Camp di Malam hari

Selepas dari pos 3 kita akan menuju pos 4 yang disebut dengan PLAWANGAN. Tempat ini yang menjadi favorit pagi para pendaki untuk mendirikan tendanya. Sebagai sun rise camp tentunya akan banyak hiruk pikuk dan canda tawa para pendaki yang menanti matahari terbit. Kurang lebih 15 menit kita akan sampai di pos 4 ini dan rata-rata para pendaki meraka akan berlama-lama di sun rise camp ini karena keindahan tempat ini menjadi spot foto yang paling digemari untuk diabadikan. Banyak area tempat untuk mendikrikan tenda, jadi jangan pernah bingung jika mau camp di sini ya gaesss....

Dari pos 4 Plawangan jika ingin ke puncak juga tidak terlalu jauh. Nanti akan melewati bukit teletabis dengan hamparan sabananya yang hijau atau tergantung musim juga sebenarnya. Namun sebelum sampai bukit teletabis ini kita akan bertemu dengan nama yang unik yaitu Padang Lonte Sore, hiiiiii jangan berpikir negatif ya man temannnn. Selanjutnya untuk menuju ke puncak juga sudah tidak lama lagi dari bukit teletabis ini.

Estimasi waktu
Basecamp - Pos 1 (Sikut Dewo) = 45 menit
Pos 1 - Pos 2 (Canggal Walangan) = 30 menit
Pos 2 - Pos 3 (Cacingan) = 1 jam
Pos 3 - Pos 4 (Plawangan) = 15 menit
Pos 4 - Puncak = 30 menit

Semoga bermanfaat, jika ada tulisan yang mungkin kurang benar mohon diberikan komentar yang bersifat membangun.

View yang tidak membosankan