Mount Lover

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Tentang Blog Ini

Blog ini merupakan cerita murni dari penulis dari pengalaman yang pernah kami lalui, semoga blog ini bermanfaat buat pembaca dan selalu menerima kritikan yang bersifat membangun. Saya ucapkan terimakasih kepada yang telah mengunjunginya, jika anda terkesan silahkan isikan tulisan anda melalui kolom komentar atau bila membutuhkan jasa guide pendakian gunung, bisa hubungi saya, Mr.Ady, WA/SMS/Telp. 085725247115

Follow Us

Pengalaman Serunya Menapaki Raung nya Jawa Tengah

Pengalaman Serunya Menapaki Raung nya Jawa Tengah

Jalur Naga

Tingginya tidak seberapa, 1602 Meter Di atas Permukaan Air Laut (MDPL), Gunung Muria terletak di tiga wilayah yaitu, Kudus, Jepara dan Pati. Gunung ini memiliki banyak puncak, namun yang sering menjadi tempat untuk para pencari mistik dan pesugihan ada di Puncak songolikur (29), Puncak Natas Angin, Puncak Rogo Jembangan dan Puncak Argowiloso. 

Puncak Natas Angin adalah yang salah satu memiliki pemandangan yang bagus, perjalanan dimulai dari Desa Rahtawu, Terletak di pinggir jalan menuju pusat desa Rahtawu, yang mana di sungai yang mengalir jernih dari pegunungan Muria. Sungai ini menjadi salah satu irigasi sepanjang tahun yang tidak pernah kering untuk mengairi ladang dan sawah masyarakat Kudus.

Memasuki pintu gerbang pendakian kita akan disambut dengan ladang petani, dari berbagai macam tanaman dan sayuran. Semakin ke atas kita akan beretemu dengan hutan jati yang mulai berkurang jumlahnya, yang setiap saat terjadi pembalakan liar yang tidak diiringi dengan reboisasinya. Apalagi kalau pada saat musim kemarau gunung muria puncak Natas Angin ini sangat panas dan meranggas.

Sekitar 1 jam perjalanan dari basecamp kita akan bertemu dengan sungai kecil yang memiliki mata air jernih, biasanya digunakan para pendaki untuk mencuci muka dan mengambil air untuk  bekal perjalanan. Ada beberapa pos sebelum kita sampai di pemakaman. Medan pendakian tidak terlalu terjal dan dibuat zig zag jadi mempermudah para pendaki untuk mendaki di gunung ini. Namun sebelum kita sampai di pemakaman jalur pendakian sudah mulai terasa dengan kemiringan 60 derajat cukup menguras tenaga untuk sampai di tempat pemakaman. Sebelum pemakaman ada mata air abadi yang jernih dan menjadi mata air terakhir sebelum kita summit ke Puncak Natas Anginnya. 

Di pemakaman ini kita akan bertemu dengan beberapa warung makan yang menjajakan makanannya, cukup murah dan pas untuk kantong para peziarah dan para pendaki. Satu kali makan dan lauk pauk serta air minum tidak sampai Rp. 20.000. cukup murah kannn. Suasana makan yang sedikit mistik membuat hawa daerah makam ini sedikit seram, belum lagi dengan bau kemenyan yang menyengat menambah suasana yang sedikit seram. 

Komplek Pemakaman


Dari pemakaman kita akan summit, diawalai dengan jalan yang menurun, dengan ladang pohon pisang yang tidak beraturan, kemudian jalan mulai menanjak dan kita akan bertemu beberapa makam di jalur ini yang masih kental dengan aura mistiknya. Keluar dari jalur hutan kita akan bertemu jalan setapak di bibir jurang dengan kemiringan 80-90 derajat. Jalur inilah yang disebut Jalur Naga, ada yang menyebut Ondo Rante dan adapulan yang menyebut Raungnya Jawa Tengah. 

Medan yang terjal namun masih rimbun dengan ilalang liar sebagai pegangan tangan saat summit. Sebelah kanan dengan jurang terjal dan sebelah kiri masih dengan hutan yang lebat. Cukup menguji adrenalin kita bila kita naik pada malam hari, jika kurang hati hati kita bisa salah jalur dan masuk ke jurang, karena ini satu-satunya jalur yang bisa kita lewati. Di jalur ini ada beberapa tempat mendirikan tenda dengan view kota Kudus dengan nuansa biru nya.

Jalur Pendakian dengan rumput liar

Kurang lebih 1 jam kita akan meniti jalur ini, kita akan sampai di puncak Natas Angin. Puncak ini sangat luas ada ada beberapa spot yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Spot pertama dengan view kota Kudus, Pati, Rembang dan Jepara dan yang spot kedua adalah petilasan Soekarno. Dimana lokasi ini ada sebuah Goa yang konon dulu merupakan tempat pertapa Presiden RI pertama yaitu Presiden Soekarno. 

Goa ini cukup nyaman buat istirahat, cukup untuk 4-6 orang dengan view kota Jepara dengan lautnya yang kemilauan pada saat senja hari. Puncak Natas Angin ini juga menyuguhkan sun rise yang sangat indah yang muncul dari bali Puncak Songolikur (29). Golden sun rise pun terasa indah dengan sedikit cerita berbau mistik Gunung Muria 1602 MDPL

Golden Sun Rise Puncak Natas Angin
Pendakian Gunung Muria akan ramai pada malam satu Syuro, jadi semua jalur akan full dengan pendakian dan siap-siap bererbut tempat untuk mendirikan tenda. Namun kalau hari-hari biasa jalur tidak seramai seperti gunung-gunung tinggi di Jawa Tengah
Cikuray Gunungnya si Bagong

Cikuray Gunungnya si Bagong

Puncak Cikuray 2821 MDPL

Gunung Cikuray atau biasa disebut dengan kata Cikuray merupakan salah satu gunung di daerah Garut, Bandung, Jawa Barat. Memiliki ketinggian 2821 Meter Di atas Permukaan Laut, gunung ini menjadi incaran para pecinta ketinggian khususnya di daerah sekitar. Jalur pendakian juga tersebar di beberapa desa di kaki gunung Cikuray ini. Hanya yang paling terkenal adalah Basecamp Pemancar yang memiliki tujuh pos dengan jarak tempuh kurang lebih 7 sampai dengan 8 jam untuk sampai ke puncaknya.

Pendakian kali ini kami memilih jalur yang berbeda, yakni kami memilih Basecamp Carik, di desa Cikajang, Garut, Jawa Barat. Bermula memiliki kenalan dengan orang setempat yang merekomendasikan kami untuk naik jalur lewat basecamp ini. Selain hanya ada dua pos tetapi juga jalur ini lebih singkat untuk sampai ke puncak Cikuraynya.

Perjalanan kami mulai dari Cikajangnya dengan melewati kebun teh yang melewati SMA 4 Garut. Sebenarnya ada beberapa jalan tikus untuk menuju basecamp ini, namun karena kita baru pertama kali akhirnya memilih jalur utama. Memasuki desa Carik jalan yang menanjak dan banyak sekali ketemu dengan sepeda motor petani yang mengangkut hasil panen atau pupuk untuk di bawa ke atau dari ladangnya. Rata-rata para petani menanam sayuran di lereng-lereng Cikuray ini seperti Kentang, Wortel, Kol, Cabe dan beberapa jenis sayuran lainnya.

Dari Cikajang ke basecamp Carik kurang lebih 20 menit dengan kendaraan bermotor. Namun juga tidak jarang para pendaki berjalan kaki dari Cikajang dengan waktu tempuh 1 sampai 1,5 jam. Basecamp Carik ini tidak terlalu besar, hanya rumah penduduk dan ditangani oleh pemuda desa Carik tersebut. Harga tiket masuk sebesar Rp 5000 dan parkir motor sebesar Rp10.000.

Perjalanan kami mulai pada pukul 14:00 WIB, setelah mendapat petunjuk dari basecamp yang hanya jalur sampai di ujung kebun petani. Sangat minim petunjuk melalui jalur Carik ini. Namun semua ini tidak menyurutkan niat kami naik ke gunung Cikuray ini. Berbekal petunjuk tadi kami pertama melintas di hutan cemara yang sangat teduh dan medan jalur ini menjadi satu dengan jalur para petani yang  mengendarai motor trailnya yang berantai untuk memudahkan mengendarainya. Petunjuk awal adalah kami menemukan sungai yang sangat jernih airnya, rasanya segar sekali saat kami basuh muka dan rasa dinginnya menghilangkan keringat yang sudah membasahi kulit muka kami.

Hutan Cemara

Dari sungai ini petunjuk terakhir adalah mencari satu saung yang berada di tengah ladang petani. Di sini adalah mata air terakhir yang akan kita dapatkan. Benar saja ada pipa air yang dialirkan untuk menyirami tanaman para petani. Akhirnya kami istirahat sejenak dan mengambil air untuk bekal kami. Di sini kami bertemu dengan petani dan memberikan gambaran jalur pendakian jalur ini. Beliau bilang untuk mencapai pos satu butuh waktu 2 sampai 3 jam.  Waktu yang cukup lama saya rasa untuk mencapai pos 1.

Kebetulan ada beberapa pendaki yang lewat jalur ini sebelumnya jadi kami berdua sepakat untuk mengikuti dan berusaha untuk bertemu dengan mereka, biar tidak salah jalan hehehehehe. Benar saja setengah jam kami berjalan mulai bertemu dengan mereka yang berjumlah 11 orang dan ada 5 orang diantaranya perempuan. Sempat kami bertegur sapa di sepanjang jalur pendakian ini dan akhirnya kami terpisah di jalur menuju pos 1.

Jalur menuju pos 1 ini sangat beragam, dari hutan yang lebat, jalur yang lumayan licin dan beberapa harus merangkak dengan memegang akar-akar pohon. Kurang lebih 3 jam kami berjalan, kami tidak menemukan namanya papanisasi atau petunjuk yang mengarakahkan perjalanan ke Puncak Cikuray. Kami berfikir hanya untuk segera ketemu dengan pos 1. Suara binatang malampun sudah sayup - sayup terdengar, seiring perut kami yang sudah mulai tergoncang. Beberapa kali kami istirahat ada satu tempat yang lumayan datar dengan ada bekas bangku untuk duduk, kami beristirahat untuk minum dan makan bekal makanan yang kami bawa. Di jalur ini kami juga bertemu 5 orang pendaki yang berasal dari Cikajang yang salah satunya kelelahan karena baru pertama kali naik gunung ini serta membawa beban yang cukup berat. Alhasil orang tersebut mabuk gunung, serta kepala pusing dan lemas. Namun karena teman yang sigap akhirnya dia tidak membawa beban hingga sampai puncak.

Terlepas dari kejadian di atas, fikiran kami terus berfikir kapan sampai pos 1 nya karena faktor yang sudah cukup lelah dan pada pukul 17:30 teman kami kak Irvan bilang, POS 2 dengan nada lantangnya. Ahhh pos 2?? tanyaku, kapan kita sampai pos satunya.... akhirnya saya semangat sekali untuk segera sampai pos 2. Hehehe faktor lelah yang tadinya menggerogoti tubuhku hilang seketika saat sampai pos 2. Pos 2 ini tidak terlalu luas buat camp bisa untuk 3 - 4 tenda. 

Pos 2 Gunung Cikuray basecamp Carik

Suasana sore yang semakin gelap, dari pos dua kami menuju hutan mati. Inilah perjalanan tersulit untuk mencapai hutan mati ini karena medan yang sangat terjal menaiki bukit bukit, meski tidak berjurang namun tanjakan yang tajam juga sangat berbahaya jika kita terjatuh, sehingga harus ekstra hati hati. Kurang lebih 1,5 jam kita sampai di hutan mati ini. Kebetulan bertemu dengan beberapa pendaki yang mendirikan tenda di hutan mati ini. Juga tidak cukup luas hanya untuk 3 - 4 tenda di lokasi ini. Selain lokasi yang tidak terlalu luas, lokasi ini sudah mulai diendus oleh penghuni gunung Cikuray yaitu Babi hutan atau yang biasa dipanggil Bagong. 

Saat kami sampai di lokasi ini pendaki itu sedang mengemasi tenda dan ingin pindah ke puncak untuk menghindari serangan-serangan bagong. Tidak cukup itu saja saat kami menuju puncak kamipun juga dibuntuti si Bagong yang sudah mengendus makanan di tas kami. Dengan langkah lebih cepat kami menyalakan senter kami dan sesekali kami mengusir Bagong yang mengikuti kami dari belakang. 

Akhirnya kami sampai di Puncak Cikuray pada pukul 19:00 dan ternyata puncak cikuray sudah padat dengan pendaki lain yang naik dari berbagai basecamp baik yang legal ataupun illegal. Tidak kalah ramainya dengan gunung-gunung lain, saya rasa Cikuray lebih ramai karena dalam semalam kita harus beronda untuk menjaga tenda kami dari serangan bagong yang sebesar-besar kambing.

Di saat sunrise spot sangat menakjubkan dengan lautan awannya yang bergumpal jika beruntung mendapatkan cuaca cerah. Dari puncak Cikuray ini kita akan bisa melihat Gunung Papandayan, Gunung Guntur, Gunung Cermai dan beberapa gunung lainnya. Dijamin tidak akan bosan untuk naik ke Cikuray ini. Hanya rekomendasi buat pendakian jalur Carik mungkin lebih mempersingkat waktu dibanding dengan jalur Pemancar yang memakan waktu 8 jam untuk sampai ke puncaknya.

Rekomendasi juga buat Basecamp Carik, mungkin pengelolaannya lebih dimatangkan lagi, sehingga terkoordinir dengan baik, sehingga akan banyak juga pengunjungnya dan bisa menambah pendapatan daerah nya

Hutan lebat Cikuray


Pendakian Merbabu Full Sabana via Selo Lama

Pendakian Merbabu Full Sabana via Selo Lama

Merbabu Via Selo Lama

Tidak akan ada habisnya jika kita mau mengeksplor gunung Merbabu yang selalu diminati para pecinta alam. Salah satunya adalah Jalur Selo Lama yang menyuguhkan alam yang sangat mempesona dengan hutan yang masih cukup lebat.

Perjalanan kami mulai dari Pasar Selo setelah mengisi logistik dan mampir ke warung bang Prety Wonan di Pasar Selo. Dari sini kami menuju basecamp Selo Lama. Di jalan kami akan ditarik retribusi per orang Rp. 2500, guna banyar wahana dan pasti akan ditanya mau lewat Gancik atau Selo Lama di situ. Setelah itu perjalanan bisa dilanjutkan dengan jalan yang menanjak dengan di Cor semen. Ada beberapa titik yang cor semennya tidak full jalan sehingga harus ekstra hati hati dengan medan yang sempit juga.
Pendaftaran manual yang sekarang sudah mulai diganti dengan on line

Di gerbang pendakian kita akan ditarik sebesar Rp. 15.000 namun karena sekarang baru pengenalan sistem booking online di Merbabu, semoga bisa berjalan dengan baik aamiin. Terlepas dari situ memasuki gerbang pendakian, kita akan memasuki hutan cemara yang cukup rimbun dan ada tempat pengelolaan sampah para pendaki yang dilakukan 3 atau 4 hari sekali. Menuju pos satu kita membutuhkan waktu 1,5 jam. Medan masih bersahabat dengan masih banyak sekali bonus jalan datar bahkan ada yang turun juga jalannya. Pos 1 atau Dok Malang ini berupa dataran yang bisa menampung 15-20 tenda dengan tumbuhan sekitar masih besar-besar sehingga nyaman sekali buat mendirikan tenda di sana.

Dari pos satu ke pos 2, medan mulai menanjak dan ada dua jalur yang akan bertemu sebelum pos 2. Medan cukup terjal dan ada beberapa bagian yang menggunakan tali untuk berpegangan. Hutan mulai terbuka dan bisa melihat beberapa bukit yang perkasa. Menuju pos 2 yang di sebut Pandean ini cukup 45 menit saja. Pos 2 ini sangat luas untuk mendirikan tenda. Beberapa penghuni kawasan ini juga bisa ditemukan seperti Monyet hitam berbulu tebal yang sering berloncatan untuk mencari perdu-perdu yang mereka konsumsi.

Di sebelah barat pos dua ini, nampak dari kejauhan medan yang mulai kembali menggelitik kaki untuk segera menapakinya. Jalan yang sangat bersahat tentunya tidak terlalu tinggi untuk menuju ke Pos 3 atau biasa disebut dengan Watu Tulis. Kawasan ini sangat luas dengan kapasitas lokasi kurang lebih 60 tenda. Dari sini Gunung Merapi sudah mulai mengintip dari sebelah selatan jika cuaca bagus. Sabana yang hijau juga menyejukkan mata kemana arah kita memandang. Namun perlu di cermati jua, lokasi justru pohon pelindung sudah tidak ada, sehingga kalau mendirikan tenda di sini jika ada badai tentunya kurang bersahabat.

Menuju Sabana 1

Menuju pos 4 atau Sabana I yang biasa disebut Jemblongan ini membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam lamanya. Diawali dengan medan yang sangat menguras tenaga dan sesekali memandang ke belakang dengan view Merapi yang semakain gagah. Sangat luas di tempat ini dan masih banyak juga pohon pohon edelwis yang  besar sehingga juga sangat nyaman buat mendirikan tenda. View sun rise juga bisa di dapat dari tempat ini hanya kita harus menaiki bukit dan view kota Boyolali juga akan kelihatan.

Di sebelahnya adaah Pos 5 yang biasa disebut dengan Sabana 2 atau gunung Kenong ini bisa memuat kurang lebih 50 tenda. Sabana sangat luas dan tersedia pula WC di pos 5 ini dan masih juga kita dapatkan pohon-pohon edelwis yang tumbuh subur. Ini menjadi pos terakhir sebelum kita summit. Masih juga ada beberapa tempat untuk mendirikan tempat camp di sekitar pos 5 ini dengan mencari tempat yang aman dari badai dan sengatan matahari jika siang hari.

Menuju ke Sabana 3 dan ke Puncak Trianggulasi atau Kenteng Songo kurang lebih 1 jam estimasi waktunya. Menyusuri sabana sebelah barat atau jalur lama di sela-sela bunga edelwis rasanya surga Merbabu ini tidak akan habis pesonanya. Jika masih ada tenaga lebih, bisa juga menyusuri jalan setapak yang dari jalur Suwanting. Nyatanya pemandangan juga tidak kalah cantikanya. Yang terpenting adalah kita tetap menjaga alam dan melestarikannya sehingga anak cucu kita kelak masih akan tetap menikmatinya.

Jalur Suwanting


Estimasi perjalanan gunung Merbabu via Selo Lama
Base camp - Pos 1 = 1,5 Jam
Pos 1 - Pos 2= 1 jam
Pos 2 - Pos 3= 45 menit
Pos 3 - Pos 4 (Sabana 1) = 1 jam
Pos 4 - Pos 5 (Sabana 2) = 30 menit
Pos 5 - Sabana 3 dan puncak = 1 jam

Info Angkutan bisa hubungi bang Prety Wonan 0856-5100-6007

Pendakian Gunung Lawu Cemoro Sewu

Pendakian Gunung Lawu Cemoro Sewu

Pendakian Gunung Lawu Via Cemoro Sewu Magetan Jawa Timr

Gunung Lawu yang sangat familiar dan sudah tidak asing lagi pagi para pecinta ketinggian. Apalagi saat ini media sosial yang sangat banyak berperan dalam mempublikasikannya, sehingga seolah-olah sudah menjadi agenda rutin diakhir pekan banyak sekalai anak-anak muda yang sudah mengagendakan mendaki ke puncak gunung yang salah satunya Gunung Lawu. Gunung Lawu ini terletak di dua Provinsi yaitu Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan Base Campnya ada 3 jalur resmi yang bisa dilewati yaitu Base Camp Candi Cetho di Karanganyar, Cemoro Sewu di Perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah dan Cemoro Sewu di Magetan Jawa Timur.

Terletak di pinggir jalan raya Karanganyar - Magetan basecamp ini tidak pernah sepi di setiap akhir pekan untuk mendaftar para pendaki yang hendak naik Gunung Lawu. Rp 15.000 untuk tiket masuk dan Parkir Rp. 5000 masih sangat terjangkau bagi kantong para pendaki. 

Pos Pendaftaran Pendakian
Pendakian melalui Cemoro Sewu dikenal sebagai syurganya para pendaki. Memasuki area pendakian akan disambut dengan rimbunnya hutan pinus dan cemara yang sangat sejuk. Jalan masih cukup lebar dan relatif datar. Menuju ke Pos 1 jalan sudah mulai menyempit dan mulai bertemu dengan hutan yang mulai rimbun dengan pohon-pohon yang besar di kanan kiri jalur pendakian. Mendekati pos satu jalur sudah tertata batu dengan rapi sehingga mempermudah para pendaki untuk naik dan turun selama pendakian. 

Perjalanan menuju pos 1 kurang lebih 1,5 s/d 2 jam. Pos 1 Pos Wes Wesan ini ada shelter yang bisa dimanfaatkan para pendaki untuk sejenak istirahat. Ada beberapa warung yang menjajakan jajanannya. Tempatnya cukup luas untuk mendirikan tenda di sekitar pos 1 ini. 

Pos 1

Menuju pos 2 Watu Gedeg juga tidak jauh beda dengan batu yang sudah tertata rapi seperti anak tangga, kurang lebih 1 jam kita akan sampai di Pos 2. Menuju Pos 3 Watu Gede, anak tangga berbatu sudah menanti, yang pasti anak tangga ini akan sangat panjang jaraknya. Terkadang di kanan kiri ada beberapa besi yang bisa digunakan untuk berpegangan. Namun karena sudah lama ada banyak sekali yang sudah rusak karena faktor alam. Kurang lebih 2,5 jam kita akan sampai di Pos 3. Cukup luas untuk mendirikan tenda, namun untuk shelternya sendiri kondisi sudah rusak karena faktor alam yang tidak menentu. 

Menuju pos 4 Watu Kapur, masih dengan batu-batu yang tertata rapi perjalanan cukup menguras tenaga karena perjalanan ini membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam, Pos ini tidak cukup banyak menyediakan tempat camp hanya cukup untuk 3-4 tenda saja itupun untuk tenda ukuran 2 atau 3 orang.

Menuju pos 5 yaitu Jolo Tundo, jalur ini jalur yang sangat comfortable, karena jalur yang datar dan pemandangan Gunung lawu sangat cantik. Selain jalur yang datar pohon cantigi yang tumbuh subur juga menambah sejuknya mata saat kita memandang. Kurang lebih setengah jam untuk sampai ke Jolo Tundo.

Pos 5 Jolotundo ini sangat luas warung Mbok Nah sudah menantinya dengan Nasi Pecel, Kopi, Teh dan yang paling favorit buat saya sendiri adalah pisang Kepok Rebusnya Mbok Nah sangat lezat. Ada sumber air yang bisa diambil di sini yaitu Sendang Drajat. Jernih dan segar rasanya saat dahaga menjadi penawar juga buat muka-muka kusut yang semalam menahan kantuk selama perjalanan.

Salah Satu Wanita-Wanita tangguh melegenda Mbok Nah di Gunung Lawu

Dari Jolo Tundo ke puncak tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu 15 sampai 20 menit kita akan sampai ke Hargo Dumilah puncak Gunung Lawu dengan ketinggian 3265 MDPL

Estimasi Pendakian Gunung Lawu
Basecamp - Pos 1 Wes-Wesan (1,5 jam)
Pos 1 - Pos 2 Watu Gede (2 jam)
Pos 2 - Pos 3 Watu Gedeg (2 jam)
Pos 3 - Pos 4 Watu Kapur ( 2 jam)
Pos 4 - Pos 5 Jolo Tundo (30 menit)
Pos 5 - Puncak Hargo Dumilah (20 Menit)

Bawa sampah kembali ke bawah, dan mulailah mengurangi penggunaan tisu basah, botol air mineral di gunung untuk mengurangi sampah yang tidak mudah busuk. Dan selalu taatilah peraturan pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu Magetan

Karena kebersamaan itu akan timbul keceriaan

Basecamp Cunthel, Gunung Merbabu Kopeng Salatiga

Basecamp Cunthel, Gunung Merbabu Kopeng Salatiga


Jalur Basecamp Pendakian Gunung Merbabu via Cunthel Kopeng

Basecamp ini terletak di tengah perkampungan Desa Cunthel, Kopeng, yang masuk wilayah Kabupaten Semarang. Untuk menuju basecamp ini bisa ditempuh dari beberapa arah, Jika dari Magelang bisa lewat jalan alternatif Magelang - Salatiga berjarak kurang lebih 15-20 Km berada di sebelah kanan jalan. Tepatnya setelah alfamart yang bersampingan dengan wisata Kopeng. Maju 50 meter akan bertemu dengan pertigaan dan nanti akan ada papan petunjuk ke arah basecamp Cunthel.
Untuk dari wilayah Semarang - Solo bisa turun mengambil arah jalan lingkar Salatiga. Akan bertemu dengan perempatan yang mengarah ke Kopeng kurang lebih 5-8 km. Akan bertemu dengan Indomaret di Kopeng setelah Pombensin mengambil arah yang lurus dan sudah ada papan petunjuk menuju arah basecamp.

Menuju basecamp Cunthel ini akan melewati hutan cemara yang merupakan arena untuk Pramuka dan lain sebagainya. Di sebelah kiri parkir ada air terjun yang lumayan tinggi dan ada taman yang bisa digunakan untuk relaksasi. Air terjun ini akan bagus pada musim hujan. Setelah melewati hutan cemara akan bertemu dengan kebun para petani dan ada Gardu Pandang yang cukup bagus. Dengan pemandangan Gunung Telomoyo dan Gunung Andong dan saat sore dengan sun set yang lumayan bangus.

Dari gardu pandang ini menuju basecamp kurang lebih setengah kilometer. Kita akan disambut dengan Top Selfie area. Cukup bagus buat para pemburu fotoprofile atau instagramable di sini. Cukup bayar Rp 2000 untuk parkir sepeda motor sudah bisa mencoba beberapa area untuk berseleb ala ala katanya hehehehe.

Memasuki area basecamp Cunthel, area ini cukup luas bisa menampung 50 motor di dalam dan 10-20 mobil di luar. Namun untuk even even tertentu terkadang parkir motor bisa melebar ke arah pemakaman di samping basecamp. Masuk ruang basecamp, sangat artistik, selain dengan cat yang baru kemudian ruangan juga bersih sehingga nyaman buat istirahat. MCK juga bersih dengan mata air yang masih alami. 

Halaman Basecamp Cuthel yang cukup luas

Ruangan basecamp yang sangat nyaman buat istirahat

Untuk urusan logistik, tenang kawan, ada warung pakde Tono yang siap 24 jam melayani konsumennya. Warung yang kecil ini sangat bersih sekali, sedikit taman yang unik menambah cantik warung ini. Menu yang ditawarkan pun juga beraneka macam dan yang mantap adalah nasi pecelnya. Harga terjangkau tidak terlalu murah dan tidak terlalu mahal, cukupanlah buat kantong para pendaki yang rata-rata hampir suka semua jenis makanannya. 

Menu favorit, pecel ayam sambal bawang

Bisa dihubungi setiap saat alias 24 jam

Warung pakde Tono ini juga menyediakan toilet yang bersih, dengan uang Rp 2000 sudah bisa membersihkan badan setelah turun dari Gunung Merbabu. Bagi tamu yang kemalaman dan bila menginginkan penginapan di tempat pakde Tono pun tersedia sebuah kamar yang sangat nyaman buat untuk istirahat. 

Oh ya di basecamp ini, pemandangannya juga tidak kalah cantik loh kawan, Gunung Andong, Gunung Telomoyo dan Sindoro Sumbing juga kelihatan jika cuaca cerah. Udara yang sejuk dan alam yang masih alami, penduduk yang ramah saya rasa ini akan membuat para pengunjung merasa nyaman untuk berlama-lama disini. Untuk pendakian gunung Merbabu sendiri dipatok harga Rp. 15.000 dengan parkir motor Rp. 5000 dan mobil Rp. 10.000.

Depan Basecamp Cunthel
Dijamin tidak akan mengecewakan, untuk basecamp dan travel info bisa dihubungi
Bang Wid Merbabu : 0821-3432-2412
Bang Wanto : 0856-4070-3787
Pakde Tono 0813-2593-2700


Gunung Sumbing Lewat Kaliangkrik Magelang

Gunung Sumbing Lewat Kaliangkrik Magelang





Gunung Sumbing merupakan salah satu yang menjadi daya tarik tersendiri buat dikunjungi. Selain mempunyai pemandangan yang bagus, namun gunung Sumbing ini juga memiliki jalur pendakian yang rata-rata menjadi tantangan tersendiri bagi para pendaki.. Gunung Sumbing sendiri memiliki ketinggian 3371 MDPL. Tertinggi ke dua setelah gunung Slamet. Gunung Sumbing ini terbagi dari berbagai kabupaten, yakni Temanggung, Wonosobo dan Magelang dan memiliki basecamp, antara lain:

  1. Base camp Garung. Basecamp ini terletak di sisi Utara Gunung Sumbing yang berlokasi di Wonosobo.
  2. Base camp Posong. Terletak di perbatasan Temanggung dan Wonosobo 
  3. Base camp Bawongso. Berlokasi di sebelah Barat atau Barat Daya gunung sumbing ini menjadi jalur Sun Set bagi para pendaki.
  4. Jalur Banaran. Bertolak belakang dengan Bawongso, jalur banaran ini terletak di sebelah timur atau east route nya pendakian gunung Sumbing yang berlokasi di Temanggung. Sun rise yang cantik juga ditawarkan di sini. bisa baca juga di http://www.mountlover.com/2019/03/gunung-sumbing-east-route-banaran.html 
  5. Jalur base camp Kaliangkrik. Ada dua jalur di Kaliangkrik ini yakni lewat Butuh dan Mangli yang akhir nya ke dua jalur ini bertemu sebelum pos 3.
Terletak di sebelah Selatan gunung Sumbing ini, Jalur Kaliangkrik via Butuh kali ini yang akan kami kisahkan kepada para pembaca. 

Dusun Kaliangkrik sendiri terletak di sebelah Barat kota Magelang kurang lebih 15-20 Km. Menuju perkampungannya kita akan bertemu pasar Kaliangkrik dan setelah itu maju kurang lebih 2 km kita belok kanan. Jalan mulai menanjak ke arah kampung ini dan sudah ada petunjuk untuk menuju ke basecamp Butuh. Mendekati basecamp Butuh, jalan semakin menanjak dan bagi para pengendara motor lebih baik tidak berboncengan jika sudah dekat dengan basecamp menghidari kejadian yang tidak diinginkan tentunya. 

Basecamp Butuh sendiri sebenarnya punya bapak Kepala Dusun yang sangat baik. Rumah yang bersih dan tempat parkir yang cukup luas juga ditawarkan di basecamp Butuh ini. Kami sarankan para pendaki, akan lebih enak mendaki di jalur ini pada siang hari sehingga untuk menikmati keeksotisan jalur ini bisa lebih lama. Belum lagi kita akan bertemu dengan sungai yang memiliki air jernih rasanya kita akan semakin betah untuk berlama-lama di jalur ini.

Perjalanan kami dari basecamp kita mulai, yang pertama menuju pos 1. Kita akan dihadapkan dengan eskalator tak berjalan atau anak tangga batu yang tersusun sangat rapi. Menuju pos 1 ini kita membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam lamanya. Melintasi ladang petani yang sesekali berpapasan dengan gaya bahasa yang sopan mereka menyapa kami sepanjang perjalanan. Bahkan terkadang ada juga yang iseng-iseng menawarkan makan bersama di ladangnya. Kalau saya sendiri biasanya kalau ada tanaman sayuran pasti saya memintanya untuk bekal masak disaat camp nanti, hehehehe. Pos satu ini cukup luas untuk menampung beberapa tenda dan sebelumnya juga ada pipa mata air untuk mengisi perbekalan minum kita.

Menuju pos 2 jalur masih berupa anak tangga, kurang lebih 1 jam kita akan sampai di pos 2 dengan melewati hutan pohon pinus atau pohon cemara yang tumbuh subur di lereng gunung Sumbing ini. Ada rasa tersendiri saat sepoi angin menerpa daun-daun cemara yang menimbulkan cirikhas bunyi tersendiri, sehingga ada rasa damai yang menghilangkan rasa jenuh di dunia kerja ataupun sekolah juga perkuliahan. Cukup luas pos 2 ini dan sangat sejuk untuk beristirahat di sini.

Menuju pos 3 jalur pendakian sangat bersahabat sepanjang jalur yang datar dan sesekali menurun ini juga menyuguhkan pemandangan kota Magelang yang terlihat jelas sekali. Panorama lampu pijar di malam haripun tidak kalah cantiknya seolah - olah menjadi kunang-kunang yang mengerdipkan lampunya dan kian kemari menunjukkan keanggunannya. Pos 3 ini tidak cukup luas seperti pos 2, hanya untuk beberapa tenda yang di sekililingnya tumbuh subur hutan lamtoro. Ada beberapa anak sungai yang kita lintasi, jadi harus hati hati juga saat menyeberangi sungai ini, kondisi yang miring terkadang memudahkan terpeleset.



Masih dengan hutan lamtoro namun kondisi jalan sudah mulai menanjak, terkadang tidak jarang pula untuk sedikit merangkak untuk sampai ke pos 4 ini. Gunung Merbabu dan Merapi selalu membayangi dibelakang perjalanan kami. Sebagai obat lelah terkadang sesekali kita duduk sambil menikmati bekal perjalanan. Apalagi kalau pas untung kabut tipis dan batas cakrawala yang menyejukkan mata kita. Pesona Kaliangkrik ini tidak akan habis untuk dibidik kamera di setiap sudutnya. Pos 4 ini berujung pada pohon lamtoro tunggal yang sekarang tinggal kenangan karena setelah kebakaran beberapa waktu yang lalu. Cukup luas untuk mendirikan tenda, akan tetapi kondisi yang miring dan lahan yang terbuka sedikit ekstrim jika terjadi badai. Tetapi jangan tanya pemandangannya ya hehehehhe


Di ujung pendakian kita akan melihat Puncak Sejati Kaliangkrik. Kurang lebih 1,5 jam. Perjalanan yang cukup terjal untuk menggapai puncak ini. Batu-batu besar yang kokoh ini seolah menggambarkan betapa kokonya gunung Sumbing ini. Berjalan memutar terlebih dahulu sekitar 10 menit. Puncak Kaliangkrik ditandai dengan Papan Puncak Sejati. Namun jika masih ada ekstra tenaga bisa juga turun ke Telaga banjaran dan akan bertemu jalur dari Banaran Temanggung. Selain itu akan bertemu dengan makam di kawah gunung Sumbing. Ke arah barat akan menyusuri sabana dan bisa menuju Puncak Rajawali dan Puncak Buntu 




Estimasi Waktu Pendakian Gunung Sumbing Via Butuh, Kaliangkrik


Basecamp - Pos 1 : 2 Jam
Pos 1 - Pos 2 : 1 Jam
Pos 2 - Pos 3 : 1 Jam
Pos 3 - Pos 4 : 2 Jam
Pos 4 - Puncak Kaliangkrik : 1,5 Jam
Pos 4 - Puncak Rajawali : 2 Jam
Pos 4 - Puncak Kawah : 2,5 Jam
Puncak Kawah - Kawah Segara Wedi : 15 Menit


Puisi Gunung

Puisi Gunung





Elegi Pagi

Kabut tipis pada cakrawala
Menyapa para pengelana waktu
Menyambutnya tanpa gegap gempita

Hanya belaian lembut embunmu
Mengusap lembut pada pori ari kami

Elegi pagi nan sunyi
Bercakrawala tanpa basa basi
Menyerukan kami untuk bangun dari mimpi

Elegi pagi
Mengapus nestapa yang lama tersembunyi
Yang terambing untuk mencari jiwa sejati

Elegi pagi
Kau sadarkan kami
Untuk kami segera beranjak
Diantara bias sinarmu
Diantara lembut pawanamu
Juga... 
Diantara kabut tipismu
Untuk kami dapatkan asa kami

By: Mr. Adi P
Mountlover.com