Mount Lover

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Tentang Blog Ini

Blog ini merupakan cerita murni dari penulis dari pengalaman yang pernah kami lalui, semoga blog ini bermanfaat buat pembaca dan selalu menerima kritikan yang bersifat membangun. Saya ucapkan terimakasih kepada yang telah mengunjunginya, jika anda terkesan silahkan isikan tulisan anda melalui kolom komentar atau bila membutuhkan jasa guide pendakian gunung, bisa hubungi saya, Mr.Ady, WA/SMS/Telp. 085725247115

Follow Us

Tips Jika Kita Tersesat di Hutan

Tips Jika Kita Tersesat di Hutan


Inilah hal-hal yang harus dilakukan ketika kita tersesat di hutan ataupun di gunung. Langkah-langkah yang efisien serta dapat menghemat energi adalah sebagai berikut:

STOP

Bukan berarti kita berhenti untuk melakukan sesuatu akan tetapi lebih mengarah kepada apa yang harus kita lakukan. STOP berarti Stop (berhenti), Think (berfikir), Observe (amanti), Plan (Rencana). Tersesat di hutan atau di gunung memang menjadi momok tersendiri kepada merekan yang menyukai kegiatan outdoor, sehingga sudah sepantasnya dan seharusnya sebagai seorang yang menyukai kegiatan tersebut haruslah bisa berfikir tenang dan mengambil sebuah keputusan dengan pertimbangan.

Buat Keputusan-Keputusan Pertama yang Tepat

Anda boleh mulai bergerak jika anda sudah menunggu dan yakin tidak ada seseorang yang akan datang untuk melakukan penyelamatan. Apabila anda berjalan kaki dan mengetahui bahwa posisi anda tidak jauh dari pemukiman, cobalah untuk mencari tahu dari mana anda berangkat dan kembali pada titik yang anda kenali.

Orientasi Hutan

Jika anda tidak memiliki petunjuk apapun, maka anda perlu memilih arah secaa konsisten mengikuti arah tersebut. Jika memungkinkan, tinggalkan catatan berisi arah kemana anda akan pergi dan pukul berapa anda berada di titik tersebut dengan harapan keberuntungan, tim penyelamat akan mengikuti catatan yang anda tinggalkan dan menemukan anda dalam waktu yang tidak terlalu lama. 

Ikuti Jejak Binatang

Jejak binatang bisa saja menuntun anda pada sumber air atau area terbuka yang membuat anda lebih mudah terlihat oleh tim penyelamat.

Tetapkan Prioritas untuk bertahan hidup

Ada beberapa hal yang harus anda prioritaskan untuk dapat bertahan hidup di hutan. Diantaranya adalah menemukan sumber air untuk diminum, menemukan atau membuat tempat tidur sebelum malam tiba, dan mencari sumber makanan. http://www.mountlover.com/2020/02/7-buah-dan-tanaman-yang-enak-dikonsumsi.html 

Buatlah Signal Keberadaan Terkini

Jika memungkinkan buatlah tanda-tanda keberadaan anda dengan sinyal S.O.S, sehingga para relawan mudah untuk menemukan titik keberadaan anda. http://www.mountlover.com/2020/02/5-tanda-sos-saat-tersesat-digunung.html

Semoga bermanfaat

Mendaki Gunung Lawu Part I (Ketemu Bule Lagi)

Mendaki Gunung Lawu Part I (Ketemu Bule Lagi)

Bule Oh Bule

Perjalanan kali ini kami mulai dari Kota Salatiga tepatnya waktu itu dengan berjanjian dengan Kak Ardhi yang kala itu mengantar barang ke Semarang. Janjian awal adalah mau silaturrohiim ke tempat beliau dan paginya akan ke Gerojogan Sewu Tawangmangu. Namun setelah dipikir-pikir karena lokasi tersebut ada di kaki Gunung Lawu, akhirnya kami memutuskan untuk naik Gunung Lawu lewat basecamp Cemoro Sewu.

Sesampai di tempat kak Ardhi saya dipersilahkan istirahat sementara beliau pergi ke kantornya kembali untuk laporan dari tugas-tugasnya. Sementara saya berkomunikasi dengan bang Mbegog Soak Solo untuk diajak gabung naik ke Gunung Lawu dan beliaupun menyanggupinya.

Perjalanan dari Karanganyar kami mulai pada sore hari pukul 5 yang kala itu diiringi dengan hujan rintik-rintik. Dengan motor kami pacu perjalanan kami ke basecamp Cemoro Sewu. Karena tidak tau jalan saya hanya nebeng di belakang dan pada pukul 18:30 kami sudah sampai di basecamp Cemoro Sewu dan menunggu kedatangan bang Mbegog yang kala itu baru sampai pada pukul 20:00 bersama dengan kedua temannya. Kami mengisi perut kami di sebuah warung makan pinggir jalan raya dengan menu yang sederhana namun sangat nikmat dengan harga yang terjangkau. Usai makan malam kami mendaftarkan diri untuk masuk dan naik gunung Lawu pada pukul 21:00 dan bang Mbegog yang mengurus semua.

Makan Malam di Warung

Perjalanan saya rasakan sangat enak malam itu karena baru kali pertama dan belum tahu medan saya fikir jalannya yang landai dan lebar itu pikiran yang pertama. Semakin ke atas jalan semakin mengecil dan tinggallah jalan setapak yang sudah mulai beranak tangga dengan batu-batu gunung yang tersusun rapi. Sampai di pos 1 kami butuhkan waktu satu jam kala itu. Istirahat sebentar kami melanjutkan ke pos 2 yang akhirnya kami tempuh tidak kuranglebih 2 jam karena memang ini jarak pos yang terjauh diantara pos yang lain di jalur Cemoro Sewu. 

Menuju ke pos 3 rasa kantukpun sudah mulai menyerang saya. Maklum di tempat kak Ardhi tidak digunakan istirahat tapi malah jalan-jalan dan nonton sepak bola di dekat kos-kosannya. Perjalanan mulai mengendor dan sesekali teman-teman menyemangatiku untuk diajak jalan lagi. Ini pos tiganya mana kok tidak sampai sampai gumamku saat itu. Alhasil beberapa kali aku harus terkantuk-kantuk saat istirahat sambil sesekali minum air mineral yang kami bawa untuk melepaskan dahaga. Pukul 01:00 pun kami baru sampai pos 3 dan kamipun beristirahat sejenak dan mengeluarkan bekal kami untuk dimakan malam itu.

Seperempat jam kemudian kami lanjutkan lagi menuju pos 4. Jalan masih berbatu dan sedikit beranak tangga namun tidak separah dari pos 2 ke pos 3. Dengan langkah kecilku aku tetap disemangati untuk segera sampai ke pos 4 yang akhirnya kami tempuh kurang dari satu jam. Kami hanya rehat sejenak di pos 4 dan bergegas menuju ke Pos 5. Kebetulan malam itu bulan sangat bersahabat dan angin yang tidak bertiup terlalu kencang yang sedikit memudahkan perjalanan kami. Meskipun begitu kami tetap hati-hati dalam perjalanan kami. Kurang lebih pukul 02:00 kami sampai di pos 5.

Jalan semakin bersahabat dengan jalanan yang tertata batu rapi. Menuju ke puncak kami melewati beberapa jalan landai dengan vebetasi yang mulai berkurang, dan tampaklah malam itu lampu-lampu di sekitar kota Karanganyar, Magetan dan sekitarnya yang memanjakan mata. Tidak terasa akhirnya kami sampai di Sendang Drajat pada pukul 03:00 dini hari.

Kami beristirahat di samping makam dengan menggelar matras seadanya. Mengingat kami tidak membawa tenda kami istirahat sambil mengeluarkan bekal kami. Bang Mbegog mulai menyalakan kompor untuk memasak air hangat biar bisa menghangatkan tubuh kami. Karena kami ingin masak mie instan kala itu, bang Mbegog mengajakku untuk mengambil air di Sendang Drajat. Kata bang Mbegog kalau orang yang pertama kali ke Sendan Derajat itu harus minum airnya dengan tangan tidak boleh dikokop. Aku berfikir ini sungguhan apa ngerjain saya ya, sudah gitu udara sangat dingin lagi mungkin bisa 10 derajat kala itu suhunya. Akupun manut saja waktu itu dan yapppp aku minum cukup banyak waktu itu. Apa yang terjadi selanjutnya.....

Kak Ardhi yang masih imut

Tanganku mati rasa karena dinginnya air Sendang Drajat, disisi lain bang Mbegog tertawa dengan riangnya yang berhasil mengerjai saya. Suntukku Kurang ajar ini bocah sama orang tua, awas suatu ketika aku balasss pokonya. Aku segera lari menuju kompor yang sudah menyala dengan maksimal, kutempelkan rapat-rapat tanganku ke kompor yang nesting yang sudah mulai panas. Lama-lama rasa dingin itu hilang dan mereka tertawa puas sepuas-puasnya dengan lugunya saya kala itu. Minum hangat, makan mie dan kenyang waktu itu sembari nunggu waktu subuh lagi-lagi aku harus berwudlu ke sendang drajat lagi namun karena ini adalah kewajiban ya mau tidak mau rasa dingin tadi harus ku lawan.

Usai sholat subuh kami mengemas barang-barang kami kembali untuk dibawa dan tak lupa kami singgah sesaat ke warung Mbok Nah yang berada di dekat Sendang Drajat. Tidak terlalu lebar kala itu warung mbok Nah, namun cukup lengkap juga sajian jajannya. Bergegas kami naik ke puncak Gunung Lawu, lagi-lagi saya dikerjai oleh saudara bang Mbegog ini, katanya puncak masih 1 jam lagi. Pikirku wah tidak dapat sun rise dong kalau begitu dipuncak nanti. Padahal waktu itu waktu sudah menunjukkan pukul 05:15. 

Mendekati puncak yang tidak saya sadari kala itu sun rise menunjukkan wajahnya yang malu-malu. Sedikit tertutup awan hitam, namun tetap saja cantik untuk dinikmatinya. Kami diajak rehat sebentar untuk mengabadikan momen kala itu. Usai itu bang mbegog tiba-tiba lari meninggaklan kami dan menghilang dan nggak taunya we ladalah sampai puncak juga ternyata hanya sekian detik kami sudah sampai puncak. 

Dengan Bule di Depan Warung Mbok Nah

Kurang Ajjjar aku bilang, lagi lagi aku dikerjain si Mbegog itu. Puas di puncak akhirnya kami di ajak menuju ke Kawah Mati yang kebetulan masih berair sedikit kala itu. Wah kesempatan nihh bisikku untuk segera minum dan hemmmm lebih segar dibanding dengan minuman kemasan. Kami sempatkan istirahat di kawah mati cukup lama dan Kak Ardhi mengeluarkan kering tempe untuk sarapan pagi kami. Mengukir nama kami di Kawah Mati, kemudian kami bergegas untuk turun melewati jalur nai sebelah timur dan langsung ketemu dengan warung Mbok Nah.

Mak bedunduk eehh ada bule nyasar di dekat warung Mbok Nah, talking - talking akhirnya kami bisa mengajak bule tersebut buat foto bareng hehehehe. Senang rasanya bisa foto bareng dengan mereka bisa menjadi kenangan tersendiri buat saya, kami dan kawan-kawan.

Merapi Part II (Ada Bule di Merapi)

Merapi Part II (Ada Bule di Merapi)


Merbabu dari Merapi

Pengalaman menapakkan kakiku yang pertama membuat saya benar-benar ketagihan untuk kembali ke Merapi. Selain itu aktivitas di media sosial yang akhirnya menambah bnnyak teman-teman yang memiliki keinginan yang sama untuk menghabiskan sebuah liburan di sebuah gunung yang kemudian mengagendakan untuk janji bertemu di Merapi bersama. Shelter Penggiat Alam merupakan kelompok pecinta alam yang diadministrasi oleh beliau Kang Musvero (Pemalang) menjadikan grup pertama di media sosial yang merencakan tanggal 23 dan 24 Maret untuk bertemu di Pasar Bubrah gunung Merapi. 
Berkoordinasi dengan telepon seadanya waktu itu dengan memanfaatkan bonusan menelpon pada sesama kartu GSM, selama H minus seminggu. Ada yang dari Surabaya (Nico), Jakarta (Hery), Bandung, Pemalang (Musvero), Demak (Mr. Adi), Semarang, Cirebon (Afirman K), Wonogiri (Ardi), Solo (Belind Ard), dan beberapa kota lainnya yang jumlahnya waktu itu ada kurang lebih 55 orang, 
Depan Basecamp Barameru


Pada hari H saya sendiri bersama rombongan dari Demak dan tergabung dengan Semarang berangkat bersama dan bertemu di Undip. Konvoi dengan sepeda motor kami sampai di Basecamp Barameru pada senja hari menjelang waktu maghrib. Indah sangat pemandangan senja kala itu. Di depan nampak Gunung Merbabu yang sangat menawan pemandangan untuk diabadikan. Namun sesampai kami di basecamp ada beberapa teman yang sudah naik terlebih dahulu karena mereka membawa perlengkapan yang cukup memadahi untuk bisa mendirikan tenda di Pasar Bubrah. Sementara kami memutuskan untuk memulai pendakian di pertengahan malam kala itu. Kami tunaikan kewajiban kami untuk sholat maghrib dan isyak sekaligus memohon untuk keselamatan dan cuaca cerah saat pendakian. Dan satu lagi yang tidak lupa adalah semoga ketemu BULE di puncak Merapi nantinya.


Waktu selebihnya sebelum sampai pertengahan malam kami gunakan untuk istirahat, ada yang tiduran, ada yang ngopi, ada yang ngobrol dengan teman-teman baru, dan saya sendiri memilih di dapur menemani simbok yang sedang masak pesanan para pengunjung. Alih-alih bisa mendapatkan api di dapur untuk menghangatkan badan juga hehehehe. Namun akhirnya kantukpun menyerang yang membuat kepalaku tergeletak di dekat dapur. Rasa bodoamat dengan orang lalu lalang tidak membuat kantukku goyah hingga pertengahan malam tiba. 

Pukul 00:00 kami bangun dan persiapan untuk naik pada malam itu. Setelah semuanya siap kami berkumpul di depan basecamp untuk berdoa bersama memohon keselamatan sepanjang perjalanan nanti. Dalam rombongan saya ada anak SMP kelas VII (Danar Didik K) dan anak Papua (Yahzu Keizi), Anak SMA (Agus Supratman) yang mereka adalah murid-murid di Bimbel saya kala itu. Perjalanan malam itu terasa berbeda dengan perjalan pertama saat saya ke Merapi. Jumlah yang banyak dengan berbagai tipe orang-orang yang berbeda membuat perjalanan tidak sesuai dengan harapan. Akupun terpisah dari kedua muridku Danar Didik dan Yahzu, mereka beristirahat di Pos 2 di dalam Goa, sementara saya dan Agus melanjutkan perjalanan hingga sampai pasar bubrah pada pukul 04:30 an di dalam Goa yang berkapasitas 6 orang di bawah Watu Gajah. Kamipun masuk dan menunggu hingga menjelang matahari terbit dengan suhu yang cukup dingin pada waktu itu.
Narsis dulu sebelum naik di depan Basecamp Barameru

Pukul 05:00 an setelah sholat subuh, kami menuju ke Pasar Bubrah untuk bertemu dengan teman-teman dari Shelter Penggiat Alam sambil menunggu sun rise. Sayangnya saat matahari terbit kabutpun turun sehingga tidak bisa mendapat gambar matahari terbit sempurna waktu itu. Kamipun bertemu dengan orang - orang yang kusebutkan di atas dan mengabadikan momen kebersamaan waktu itu yang kemudian kami lanjutkan naik ke Puncak Merapi. Kurang lebih 40 menit kamipun sampai di Puncak dan tidak berlama-lama kamipun turun mengingat asap sulfatara yang cukup tebal kala itu.

Bang Orton

Perjalanan turun sesaat kami masih di pasir yang cukup tebal, kamipun bertemu BULE yang kami harap-harapkan, dengan modal bahasa Inggris secukupnya sayapun beranikan diri untuk berkenalan dan akhirnya minta untuk foto bersama, doaku terkabul kataku dalam hati. Usai itu kamipun kembali ke Pasar Bubrah dan di sana kami akhirnya bertemu dengan ke dua murid Danar Didik dan Yahzu Kaezi yang semalaman aku tunggu-tunggu. Bersyukur mereka berada di sekitar orang-orang yang sangat peduli, saya ucapkan terimakasih sekali dan mohon maaf tidak bisa mendampingi mereka selama perjalanan naik.

Yahzu Keizi bersama bang Ipan

Kamipun turun ke basecamp sesaat setelah mengisi perut kami dengan bekal yang kami bawa dengan menyusuri terjalnya batu-batu merapi yang siap melukai pejalan kaki jika tidak hati-hati. Sampai di Basecamp pukul 1 siang hari dan bergegas kami rapi dan bersihkan tubuh kami dan say good bye dengan teman-teman shelter penggiat alam. Karena faktor lelah saya memboncengkan yahzu keizi di Salatiga karena ngantuk akupun oleng dan jatuh motor kami di tepi jalan, beruntung tidak masuk ke halaman orang waktu itu yang cukup tinggi juga sebenarnya. Alhamdulillah kami tidak apa-apa dan motor tetap on meski akhirnya harus tambal ban pula hahahahaha sebuah kelucuan yang serius menurutku kala itu. 
Semangatnya yang luar biasa buat Yahzu Kaezi

Akhirnya hanya ucap syukurlah yang kami panjatkan hingga perjalanan kami selamat dan terjadi kendala dalam perjalanan buat kami adalah hal yang wajar, karena itu adalah cara kita untuk menjadi lebih dewasa yang akhirnya menambahkan banyak pengalaman.Terima kasih juga Shelter Penggiat Alam Bebas yang kala itu menjadi wadah kami buat menyambung tali silaturohiim hingga sekarang. Semoga kelak menjadi cerita buat anak dan cucuk kita nanti, aamiin.
Bule Cantik

Sampai ketemu kembali di Merapi Part 3

Mendaki Gunung Ungaran Part II

Mendaki Gunung Ungaran Part II

Di Puncak Bersama Danar Didik

Akhir tahun 2011 kala itu adalah menjadi tahun kebangkitan saya untuk mendaki gunung, diawali mendaki Gunung Muria pada malam 1 Syuro waktu itu, dan dilanjutkan dengan pendakian Gunung Ungaran pada malam tahun baru 2012. Kami satu rombongan dari berbagai kelompok kala itu antara lain, Kelompok Pengajian Rutin, Kelompok Bimbel serta beberapa rekan teman-teman dari Pemuda Muhammadiyah yang menjadi petunjuk jalan waktu itu. Saya sendiri sudah pernah naik Gunung Ungaran pertama pada tahun 2009 nan dan kami lewat Gedong Songo, namun karena belum tahu jalur akhirnya kamipun hanya sampai di pertengahan jalan, dan paginya kami kembali lagi ke Candi Gedong Songo.

Singkat cerita kami mengemas segala perbekalan kami dan pendakian kali itu adalah pendakian yang sebenarnya menguntungkan karena segala bentuk pendakian adalah mendapat sponsor dari beberapa AUM dengan misi mengibarkan benderan Pemuda Muhammadiyah di Gunung Ungaran serta giat bersih-bersih di jalur pendakian. Kami berangkat dengan menyewa mobil dan kami merencakan naik Gunung Ungaran melalui basecamp Mawar dan turun di Candi Gedong Songo. Kami diturunkan di gang masuk Umbul Sidomukti, kemudian kami berjalan menuju Basecamp Mawar dengan berjalan kurang lebih 2 km. Kami akhirnya memulai pendakian setelah sholat duhur dimana kala itu hujan gerimis mulai mengguyur, maklum bulan Desember dan malam tahun baru, pasti identik dengan hujan. 

Karena yang pengalaman mendaki hanya beberapa orang saja, akhirnya rombongan dibagi menjadi beberapa kelompok, kelompok pertama mereka-mereka yang membawa tenda (pramuka) untuk bisa bergerak lebih cepat dan berencana mendirikan di puncak kala itu. Dari beberapa kelompok kelompok saya ada satu anak kelas 2 SMP yang baru kali pertama naik gunung, karena mabuk gunung, akhirnya kami harus menunggu anak itu benar-benar pulih kekuatannya dan menumpang berteduh di rumah penjaga kebun kopi di dekat kolam renang. Danar Didik namanya dengan sisa-sisa tenaga kami berusaha untuk melangkahkan kaki dengan beban tasnya dibawakan oleh temen rombongan kami.

Rasanya ini adalah perjalanan yang sangat melelahkan buat saya dan rombongan yang benar-benar belum tahu jalur pendakian Gunung Ungaran seperti apa meski beberapa kali mendapat bonus setelah kebun kopi dan perkebunan teh yang membuat sangat kagum waktu itu. Karena dibalik rimbanya hutan sepanjang jalan ada kebun teh yang terhampar hijau yang sangat menyejukkan mata.

Perjalanan kami lanjutkan dan sesekali berhenti untuk istirahat dimana jalur kala itu masih sangat rimbun dengan alang-alang yang tinggi dan perdu-perdu lain yang bisa dibuat untuk pegangan. Akhirnya kami sampai di puncak setelah adzan maghrib dan bisa dibayangkan untuk naik gunung Ungaran kami membutuhkan waktu hampir 7 jam, buat saya itu adalah rekor terlama kala itu. Kami mendirikan tenda kami sebelah timur sebelum puncak dimana dari sisi timur itu kami bisa melihat indahnya Rawapening dan kota Ungaran sekitarnya. Di sebelah utara kami bisa menikmati pemadangan kebun teh yang terhampar hijau dan itu sangat amazing. Oh ya satu-satunya pendaki wanita dirombongan kami adalah bernama Yahzu Keizi, merupakan siswa bimbel kami di GO yang berasal dari Papua Irian Jaya. Meskipun terlihat wanita berbobot namun dia tangguh untuk mencapai di puncak Gunung Ungaran.

Dari Kiri, Pak Slamet Supriyadi, Yahzu Keizi, yang merah lupa namanya

Dipuncak inilah akhirnya kami berkenalan dengan pendaki lain yaitu Rohyadi dan Ling-Ling (Linggar) yang kala itu mereka masih duduk di bangku SMK kelas sebelas. Saya sendiri banyak sekali belajar dari mereka yang sudah beberapa kali naik gunung Ungaran. Kami menghabiskan malam tahun baru kala itu dengan membakar jagung serta membuat api unggun untuk menghilangkan rasa dingin kala itu. Sampai akhirnya pagi menjelang kami mengabadikan momen-momen untuk kenang-kenangan dan saling tukar nomor HP mungkin suatu saat akan bisa naik gunung bersama.

Pukul 08:00 kamipun berkemas dan memutuskan untuk turun lewat Candi Gedong Songo dan say good bye dengan Rohyadi dan Linggar dengah harapan akan bertemu dilain waktu nanti. Perjalanan turun tak seindah yang kami bayangkan ternyata jalannya tidak jauh berbeda dengan saat pendakian sampai sampai tenda yang kami bawa karena saking beratnya terkena air hujan sering kami glundungkan yang akhirnya karena semakin kotor kena tanah semakin berat pula untuk dibawa.

Sesampai di Gedong Songo banyak sekali para pengunjung yang melihat kami dengan tatapan yang sedikit sadis, mungkin karena melihat kami yang tergopoh-gopoh dan kotor sekali seperti pulang dari sawah, tapi buat saya NONSENSE yang penting buat kami adalah selamat semuanya.

Bergegas kami membersihkan diri dan segera memesan makan untuk makan siang pada waktu itu. Setelah selesai makan siang kami pun bergegas untuk pulang dan bus kamipun sudah menunggu, bersama turunnya hujan yang lebat kala itu, kami mengucapkan syukur semua terbayar meski dengan kelelahan kami. Terimkasih kepada komandan kami saat itu yaitu Pak Slamet Supriyadi, Mas Nugroho dan rekan-rekan lain yang tergabung dan bisa menjadi cerita untuk kita kenang bersama.

Gunung Ungaran 01-01-2012

Merapi Part I

Merapi Part I

Besama Bule Norwegia di Puncak Merapi

Kisah pertamaku ke Gunung Merapi di awali pada tahun 2012. Saya diajak seorang teman media sosial kala itu, beliau tinggal di Bawen. Kemudian kami sepakat untuk bertemu di Kebun Kopi Bawen. Singkat cerita kami bertemu pada pukul 3 sore dan karena cuaca yang sedang gerimis kami langsung menuju basecamp gunung Merapi di Selo Boyolali.

Pertama menginjakkan kaki di basecamp, rasanya sore itu sangat dingin sekali, selain diguyur sepanjang jalan, namun udara gunung yang cenderung mendung menambah dinginnya sore itu. Akhirnya kami berdua sepakat untuk mendaki Gunung Merapi pada tengah malam. Sebelumnya kami registrasi pendakian dan pada saat itu harga tiket masuk merapi masih Rp. 3000 dan parkir motor masih Rp. 2000.

Barameru basecamp, akhirnya memberikan kami secarik tiket dan denah perjalanan untuk menuju ke puncak. Di sanalah akhirnya saya kenal dengan beberapa pendaki lain dan saling tukar nomor hp untuk saling berbagi informasi tentang pendakian. 

Saat Mahrib tiba, kamipun menunaikan sholat yang kami jamak dengan sholat isyak pada waktu itu. Diteruskan makan malam dan pukul 8 malam kamipun beranjak masuk ke basecamp Barameru untuk istirahat dan tak lamapun kami terlelap dengan tidak lupa pasang alarm untuk bangun pukul 00:00 dan persiapan pendakian.

Namun karena baru perdana untuk mendaki gunung Merapi, perasaan saya waktu sedikit tidak tenang dan jujur sebenarnya ingin segera naik, akan tetapi saran dari basecamp tetap kami patuhi. Pukul 00:00 kamipun mempersiapkan perjalanan kami, dengan senter seadanya dan bekal makanan untuk perjalanan. Kami tidak membawa tenda dan yang lain-lain, kami hanya modal dengkul kuat saat itu tanpa pernah memikirkan faktor yang lain.

Kami berdoa, dan tepat pukul 00:30, kami mulai pendakian ke gunung Merapi. Nafas yang terengah-engah dan medan yang masih sangat alami, saat itu kami bersama beberapa teman baru untuk bergabung. Menyusuri jalan-jalan setapak merapi dini hari itu ditemani dengan badai yang cukup besar suara-suara pohon yang terkena angin tidak menyurutkan keinginan kami untuk menapaki setiap pos yang ada. Pos pertama kami lewati pada pukul 2 dini hari, istirahat sebentar dan kami lanjutkan menuju pos selanjutnya. 

Saya tidak pernah membayangkan perjalanan di depan saya seperti apa, hingga saya benar-benar diuji dengan medan yang terjal dan berbatu, sementara saya hanya pakai sandal sponge yang sangat ringan dan sangat licin jika dipakai. Setengah jam kemudian kami sampai di Pos 2 dan kami hanya berhenti sebentar. Kemudian kami menuju ke Pasar Bubrah. Pukul 3 dini hari kami sampai di Pasar Bubrah, kami mengeluarkan bekal kami untuk dinikmati sambil menunggu subuh tiba. Masih pada suasana badai yang cukup besar, saya laksanakan sholat subuh. Diantara tubuh yang menggigil saya pakai jaket dan sarung untuk menghangatkan badan ku. 

Pukul 04:30 kami menuju puncak Merapi dan waktu itu perjalanan sangat berat buat saya, karena belum tahu medan akhirnya saya mengikuti teman-teman dari belakang menyusuri tebalnya pasir Merapi setengah lutut pada waktu itu. Naik dua turun satu itu yang kami rasakan hingga sampai dibibir tebing sebelah kiri. Disitulah sandal saya sponge saya terbang terkena badai di jurang sebelah kiri. Mau diambil terlalu jauh dan terjal, akhirnya sandal yang satupun saya lempar ke lembah sekalian tidak pakai sandal sampai di puncaknya.

Dingin, kaku dan perih-perih terkena kerikil-kerikil tajam merapi akhirnya sampai puncak juga dan bisa melihat kawah merapi dan bisa melihat lava yang berwarna kemerahan di kawah merapi pagi itu. Mengabadikan momen sudah tentu dan tidak lama kemudian kami turun ke Pasar Bubrah, dan alangkah senangnya waktu itu karena bisa bertemu pendaki luar negeri dan mau di ajak foto bareng. Itu yang menjadikan ketagihan untuk mendaki Merapi untuk mencari bule sekedar untuk melanyahkan bahasa Inggris saya serta diajak foto bersama.

Perjalanan kami sangat mengesankan meskipun terlihat letih namun rasa puas itu ada pada pikiran kami, dan terutama saya yang tidak pernah terpikirkan bisa mencapai puncak sebuah gunung pada waktu itu.

Sunset di Gunung Kelir Tapak, Jambu, Ambarwa

Sunset di Gunung Kelir Tapak, Jambu, Ambarwa


Perjalanan kami berawal dari kota Salatiga saat bertemu teman dan hendak mencari sunset di Bukit Kelir. Mendengar kata bukit Kelir yang terlintas adalah pemikiran tentang arti dari kata Kelir yang berarti WARNA. Sehingga bukit Kelir sendiri merupakan bukit yang penuh dengan warna artinya memiliki pemandangan yang tidak kalah cantik dengan tempat-tempat lain. 

Menggunakan sepeda motor kami berboncengan melewati jalan lingkar Ambarawa dan melintasi desa Jambu. Menuju arah ke Magelang kita akan bertemu dengan Desa Tapak yang dilintasi rel kereta api wisata dari stasiun Tuntang - Ambarawa dan menuju tujuan terakhir di Bedono dan kembali lagi ke Ambarawa. Dari desa Tapak kita belok kiri dan menuju ke arah basecamp bukit kelir yang terletak 1 km dari arah jalan raya. Sesampai basecamp kami registrasi dengan membayar harga tiket masuk sebesar Rp. 5000 per orang dan parkir motor Rp. 3000. Tidak lupa kami membeli bekal makanan untuk perjalanan. Setelah selesai registrasi dan sholat ashar, kami mulai perjalanan pukul 16:30. 

Rumah Panggung Sekaligus Gapuro

Perjalanan menuju bukit Kelir cukup enak melewat jalan yang cukup lebar dan bisa dilalui sepeda motor para petani atau pencari rumput yang sudah tertata rapi dengan batuannya. Dalam perjalanan kami dipertemukan dengan Rumah Panggung yang berdiri di tengah-tengah Jalan seperti Gapuro. Kami memasuki rumah tersebut sekedar untuk mengabadikan momen pada sore itu. Kemudian kami berjalan kembali menyusuri jalan yang semakin sempit setelah bertemu pertigaan dan kami kembali menapaki jalan terjal yang sudah tidak berbatu lagi. Tidak sampai jam kami bertemu dengan papan nama BUKIT KELIR yang dipasang di samping kiri jalan. Tulisan ini juga bisa terlihat dari jalan raya Ambarawa-Magelang. 

Dari tempat ini kita bisa melihat desa-desa sekitar Ambarawa serta gunung Ungaran dan di sebelah barat nampak gunung kembar Sindoro Sumbing. Sesaat kami kembali mengabadikan moment di tulisan ini. Setelahnya kami melanjutkan perjalanan menuju ke puncak Bukit Kelir yang menjadi tempat hunting sunset sangat cantik menurut saya. Di puncaknya sudah dibangun beberapa gasebo untuk istirahat dan beberapa bangunan dari bambu untuk swafoto yang cocok bagi para anak-anak muda jaman sekarang.

Hanya Caption Saja Tidak Minum Sungguhan

Dari bukit ini kita bisa melihat keindahan kota Ambarawa serta luasnya Rawapening. Sebelah selatan bisa kita lihat pula gunung telomoyo yang terlihat gagah yang dibawahnya terdapat gunung Kendil. Kamipun menikmati senja bersama tenggelamnya matahari diantara gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. 

Kisah Mistis Gunung Merbabu Part I (Penunggu Jalur Pendakian Basecamp Thekelan)

Kisah Mistis Gunung Merbabu Part I (Penunggu Jalur Pendakian Basecamp Thekelan)

Gagahnya Puncak-Puncak Merbabu Dari Pucak Tower

                     Perjalanan waktu itu kami mulai dari percakapan kami di media sosial, yang akhirnya                             kami dipertemukan di kota D. Mereka berempat dari kota Jawa Timur dengan naik                                  kendaraan umum dan mereka singgah sesaat di kota D sebelum melanjutkan perjalanan                          menuju Gunung Merbabu.

Singkat cerita, siang itu kami berangkat berdelapan dengan mengendarai motor. Kurang lebih 3 jam sampailah kami di Kopeng dan kami memutuskan untuk naik Gunung Merbabu melalui Basecamp Thekelan. Sebelum sampai ke basecamp kami sempat mampir ke waralaba untuk berbelanja keperluan di pendakian nanti. Selain itu kami juga menunggu teman yang dari Magelang yang ingin ikut gabung dalam pendakian kali ini. Setelah bertemu dengan teman dan semua keperluan sudah terbeli dan meluncurlah kami menuju basecamp Thekelan. 

Kami disambut dengan ramah oleh crew basecamp, saat itu menunjukkan pukul 15:30. Sembari beristirahat kami mulai mengemas barang-barang yang kita perlukan daat pendakian dan menitipkan barang di basecamp yang sekiranya untuk keperluan setelah pendakian esoknya. Beberapa teman keluar dari basecamp untuk sekedar menikmati cuaca sore itu yang cukup cerah dimana senja datang dan lampu-lampu kota Salatiga sudah mulai menampkan cahayanya. 

Sesaat kami mulai memesan makanan untuk makan malam kami, serta sholat Maghrib dan Isya' yang kami jamak sudah kami lakukan. Bergegas, kami mengemas barang kami kembali untuk segera melakukan pendakian malam itu. Tepat pukul 18:30, kami mulai pendakian dan sebelumnya kami berdoa terlebih dahulu supaya perjalanan kami diberikan kelancaran dan tidak ada halangan dalam pendakian. Akhirnya kami mendaki bersebelas orang diantaranya 9 orang laki - laki dan 2 orang perempuan. Perlu diketahui bahwa salah satu dari teman perempuan kami memang sedang udzur, sehingga kami perlu berjaga-jaga supaya dalam perjalanan dia tetap kuat dan tidak mudah lelah.

Perjalan kami lalui dengan santai, dengan harapan bisa menikmati setiap langkah kami di setiap posnya. Cukup cepat kami juga berjalan karena pada saat itu pukul 19.40 kami sudah sampai Pos 1. Sembari mencuci muka dan mengisi air di botol, kami mencairkan suasana lelah kami dengan mengemil jajanan yang kami bawa. Saya juga melakukan hal yang sama dan minum air kran yang sangat segar dan lebih segar dibanding dengan air kemasan yang dibeli di toko waralaba. 

 

Sabana-Sabana di sepanjang jalur

Perjalanan kami lanjutkan kembali dengan formasi seperti awalnya untuk yang perempuan selalu berada di tengah-tengah supaya tidak tertinggal terlalu jauh. Baru beberapa langkah dari pos 1, salah satu teman kami yang perempuan yang sedang udzur tiba-tiba merasakan perutnya sakit. Selain sakit perutnya dia sedikit lemas. Kami berhenti sejenak sebelum mendekati sungai dan teman perempuan yang satu memberikan minyak kayu putih untuk dioleskan ke bagian-bagian yang terasa sakit. Sejak saat itu dia menjadi pendiam dan sering melamun dalam perjalanan. Perjalanan kami lanjutkan dan saat melintasi sungai kami berhenti sejenak lagi untuk sekedar membasuh muka untuk menyeka keringat kami. Termasuk teman yang sedang sakit tadi, dia agak tertegun lama di sungai itu, dengan tatapan yang sedikit kosong. Kemudia kami mengajaknya untuk segera beranjak dari sungai itu, akan tetapi dia selalu bilang sebentar, sebentar dan sebentar. Sampai akhirnya diapun mengiyakan untuk melanjutkan perjalanan masih dengan rasa lemas kakinya. 

Dalam perjalanan dia mulai lemas, dan kami berupaya untuk menyemangatinya dan memang dia berfikir pada dua sisi yang berbeda. Satu sisi dia sangat semangat untuk segera mencapai tempat untuk mendirikan tenda di Watu Gubug. Dissatu sisi keadaan yang membuat di lemas dan sempat mabuk gunung sehingga makanan yang dimakan sebelumnya keluar dan dimutahkan. Tidak berhenti begitu saja, kami menyemangati dan dengan sabar kami mendampingi setiap langkahnya. Cukup lama perjalanan kami dari pos 1 ke pos 2, karena banyak berhenti dan selalu memberi semangat kepada dia tadi. Pukul 21:30 kami sampai pos 2 dan kamipun beristirahat sejenak. Dalam istirahat saya melihat dia masih saja duduk melamun dan dalam gandengan tangan dengan teman sesama perempuannya. Wajahnya terlihat pucat dan banyak keringat yang keluar dari tubuhnya. Dia mencoba tetap untuk bertahan dan tegar untuk tetap melanjutkan perjalanan kali ini. 

Sempat merasa sesak nafas juga di Pos 2, kemudian dengan minyak kayu putihlah yang menjadi senjata kami untuk melegakan pernafasannya. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan akan mendirikan tenda di Pos 3 Gumuk Mentul setelah Pereng Putih. Ada satu keanehan terjadi pada saat saya mengajak teman-teman untuk melanjutkan perjalanan. Dia tiba-tiba sangat semangat untuk berjalan, setengah lari jalannya pada malam itu yang akhirnya kami mengejarnya agar tetap terkendali dalam perjalanannya.

Menuju pos 3 Gumuk Mentul juga bukan hal yang mudah saat itu, medan yang cukup nanjak membuat kami menyemangati satu sama lain dengan sedikit gurauan untuk menghilangkan rasa letih kami. Akhirnya kami pun sampai di Pos 3 pada pukul 23:00 dan kamipun segera berbagi kerja untuk mendirikan tenda. Dua puluh menit kemudian tenda sudah berdiri dan semua memasuki tenda masing-masing. Dari sinilah akhirnya kami tahu apa yang terjadi pada temanku yang sedang udzur tadi.

Pada saat di pos 1 dia sudah mulai diganggu semacam tuyul yang selalu merengek untuk mengajak main di sungai. Dia di bergelayutan di kakinya sehingga dia juga susah berjalan. Itu berlangsung hingga pertengahan antara pos 1 dan pos 2. Sebenarnya setelah pertengahan menuju pos 2 dia sudah enak dan bisa diajak komunikasi lebih baik. Namun pada saat sampai pos 2, dia kembali di temui kakek-kakek besar yang berjenggot sangat panjang dan berdiri di belakangnya. Sehingga memang pada saat di pos 2 kami melihat wajahnya sangat pucat dan merasa sangat ketakutan tidak berani memandang di sekitarnya kecuali merunduk dan merunduk. Dan saat kami ajak melanjutkan perjalanan dia sangat ingin buru-buru untuk segera beranjak dari pos 2. 

Akhirnya malam itu kami bisa beristirahat dengan nyaman meski sesekali kami mengontrol keadaan teman perempuan kami. Usai sholat subuh yang sudah aga kesiangan kami berkemas untuk melakukan pendakian kembali menuju ke puncaknya. Semua terasa fresh dan semangat setelah istirahat kami yang cukup nyaman. Perjalanan kami lalui dan pada pukul 08:30 kami sampai di Pos 4 Pemancar. Kami menyempatkan istirahat dan makan perbekalan kami. Di sini kamipun memutuskan untuk lanjut perjalanan kami menuju ke puncak trianggulasi. Akan tetapi teman perempuan yang satu memilih di Pos Pemancar dan ditemani salah satu teman kami yang laki-laki.

Akhirnya kami sampai di Puncak Trianggulasi pada pukul 11 dan sesuai dengan keinginan kami untuk mengibarkan bendera HW di Puncak Gunung Merbabu dengan selamat, meskipun sempat terjadi hal-hal yang mistis, namun kami tetap berusaha untuk tetap tenang. Karena kami yakin setiap permasalahan ada jalan keluarnya selama kita masih bisa berfikir dengan tenang.

Bendera HW yang Kami Kibarkan

Kami kembali ke Pos 3 Gumuk Mentul dan setelah makan dengan cukup dan berkemas untuk turun kami agak mempercepat tempo kami saat turun. Waktu sudah menunjukkan pukul 15:30 saat itu. Kami hanya berusaha sebelum waktu mahgrib sudah melewati pos 1 dan alhamdulillah kami sampai di Pos 1 sesaat sebelum adzan maghrib berkumandang. Kami merasa lega setelah semua kondisi tidak terjadi apa - apa khususnya teman yang satu tadi. Menuju basecamp akhirnya malah menjadi bahan bercanda dalam cerita tersebut hingga akhirnya kami tidak merasakan lagi sebuah kebosanan dalam perjalanan meski rasa letih ini tetap menempel di badan kami. Pukul 18:45 kami sampai di basecamp dan langsung order makanan untuk mengembalikan stamina kami.

Pukul 19:30 akhirnya kami pamit dari basecamp dan menuju kota Salatiga untuk mencari angkutan umum ke Jawa Timur dan dapatlah Bus Eka malam itu. Perjalanan yang cukup mengesankan dengan sedikit berbau horor. Dari sini saya bisa menyimpulkan bahwasannya khususnya untuk perempuan, jika sedang datang bulan sebaiknya jangan dipaksakan untuk mendaki gunung, akan tetapi jika memang mau mendaki bekalilah dengan keyakinan yang kuat sehingga tidak terjadi apa yang tidak diinginkan, karena orang sedang udzur memang banyak titik lemahnya, baik tenaga, emosional dan spiritualnya.