Mount Lover

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Tentang Blog Ini

Blog ini merupakan cerita murni dari penulis dari pengalaman yang pernah kami lalui, semoga blog ini bermanfaat buat pembaca dan selalu menerima kritikan yang bersifat membangun. Saya ucapkan terimakasih kepada yang telah mengunjunginya, jika anda terkesan silahkan isikan tulisan anda melalui kolom komentar atau bila membutuhkan jasa guide pendakian gunung, bisa hubungi saya, Mr.Ady, WA/SMS/Telp. 085725247115

Follow Us

Piknik di Gunung Andong Bersama SMA Muhammadiyah I Demak

Piknik di Gunung Andong Bersama SMA Muhammadiyah I Demak

Tidak terlintas sebelumnya dalam benak saya dan teman-teman saat sekolah kami memiliki kesempatan untuk mengadakan kegiatan rutin dua tahunan sekali. Biasanya sekolah kami mengadakan piknik di tempat wahana permainan selera anak-anak muda jaman sekarang dan diakhiri dengan belanja kesukaan anak muda di tempat-tempat yang menjajakan makanan khas suatu daerah saat pulang dari tempat wisata tersebut. 

Namun kali ini tiba-tiba kepala sekolah memanggil saya untuk menghadap di ruang kerja beliau. Saya hanya mengira urusan kegiatan PPDB di sekolah kami. Namun ternyata jauh diluar perkiraan saya yang ditanyakan kepada saya. Beliau bilang kepada saya, Mr jika kegiatan rutin dua tahun sekali sekolah kita diadakan tazabur alam bagaimana??

Tapppppp... pikiran saya seperti gayung bersambut saja hehehe. Mungkin juga karena kepala sekolah kami, melihat saya suka mbolang dan akhirnya meminta saya untuk mengurus segala keperluan tersebut. Dipilihlah Gunung Andong yang sangat ramah untuk mereka para pemula dengan medan yang tidak begitu terjal serta jarak tempuh yang tidak terlalu lama.

Setelah fix dengan hari yang ditentukan, saya awali dengan survei lokasi tempat yang pas untuk dijadikan tempat mendirikan tenda nantinya. Terpilihlah puncak makam Joko Pekik yang sedikit berlembah dan lebih nyaman dan aman jika terjadi badai saat sudah mendirikan tenda. Singkat cerita di lokasi tersebut sudah tersedia toilet dan ada lapangan yang cukup luas untuk sekedar dibuat arena bermain. Lokasi yang dibuat berundak untuk mendirikan tenda membuat view yang cantik dengan latar belakang Puncak Alap-Alap yang terlihat pula Gunung Telomoyo di baliknya. Selain itu saya pun berkoordinasi dengan pihak basecamp Andong (Bapak Aji) di basecamp bambu yang berdekatan dengan masjid serta memiliki halaman parkir yang cukup luas.

Di hari H keberangkatan perjalanan kami mulai dari kota Demak pukul 08:00 dan sampai di basecamp pada pukul 10:30 dengan mengendarai bus mini dua buah. Sesampai di lokasi kami istirahat sebentar dan beberapa menit kemudian kami melakukan kegiatan Pelantikan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan pelantikan Hisbul Wathan (HW) di halaman basecamp. Hanya 45 menit kegiatan itu akhirnya diakhiri dengan doa penutup dan setelahnya bergegas sholat dhuhur yang dijamak dengan sholat ashar berjamaah di masjid. Makan siang sudah disiapkan dari Demak oleh panitia dan dibagikan kepada murid-murid dan kitapun makan siang bersama. Dari raut wajah anak-anak sebenarnya sudah tidak sabar untuk segera naik dengan mereka yang sering keluar masuk dan memandang Gunung Andong di belakang basecamp Bambu mas Aji. 

Pelantikan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM)

Pelantikan Hisbul Wathan (HW)

Sebelum keberangkatan naik tetaplah koordinasi dengan basecamp serta membayar tiket dan menyewa beberapa perlengkapan yang dibutuhkan oleh siswa dan guru pendamping yang terdiri dari 20 siswa serta 9 guru pendamping dan 4 anak kecil yang ikut perjalanan kami. Dalam kegiatan awal adalah kami meminta pihak basecamp untuk memberikan pengarahan kepada siswa-siswi kami serta pembagian jatah masing-masing untuk makan malam, snack, perlengkapan untuk camp yang dibawa masing sehingga semua merasakan termasuk bapak ibu guru pendamping juga mendapat jatah yang sama.

Pukul 14:00 perjalanan kami mulai dari basecamp. Untuk saya sendiri alhamdulillah anak kecilku sudah tidur siang, jadi saya rasa aman dan tidak akan rewel di perjalanan. Semangat yang menggebeu untuk merasakan sensasi anak tangga menuju pos satu akan mereka rasakan. Saya sendiri karena harus mengurus beberapa administrasi akhirnya saya berangkat paling belakang. Kami pun menyusul dan saya sendiri membiarkan anakku yang berusia 4 tahun juga jalan sendiri, untuk dia adalah yang kedua kalinya naik gunung Andong.

Perjalanan kami disambut dengan kabut tipis yang menerpa dingin di kulit kami yang membuat kami meskipun berkeringat terasa dingin. Semilir angin yang sejuk yang mungkin bagi anak-anak kami jarang dirasakan di kota panas seperti lokasi sekolah kami, seakan membuat mereka tetap bersemangat untuk tetap melanjutkan perjalanan. Terutama anak-anak laki-laki yang seakan berlomba untuk segera sampai di puncaknya. Namun karena kebersamaanlah yang membuat kami tidak serta merta bergegas untuk siapa yang paling dulu sampai di lokasi. 

Setelah pos 2 dengan medan yang cukup menguras energi, beberapa siswa terutama yang perempuan sudah mulai goyah dengan setiap bawaannya yang akhirnya tetap teman-teman dan guru pendamping yang memback up mereka. Jujur saja hampir semua siswa ini adalah kali pertamanya naik gunung dan termasuk beberapa guru putri, meskipun mereka terbiasa ngecamp tetaplah berbeda dengan naik gunung yang memang membutuhkan tenaga ekstra terutama yang membawa anak kecil seperti saya dan bu Ria yang memang anak kami seusia. 

Satu demi satu pos kami lalui hingga kami sampai di Pos 3 Watu Wayang, di sana kami istirahat cukup lama, dan sambil menikmati jajanan yang dibelikan pak ustad tadi hehehe. Semilir angin dingin dan kabut tipis membuat anak-anak kami semakin betah dan sesekali memandang Gunung Merbabu dan Merapi di sebelah Selatan serta Gunung Sumbing Sindoro di sebelah Barat. Tidak lupa cekrak cekrek untuk mengabadikan momen yang sangat berharga buat mereka. Ada pula yang merekam yang nantinya akan menjadikan kenangan tersendiri buat mereka.

Pos III Watu Wayang Dengan Latar Belakang Gunung Merbabu Merapi

Tidak lama kemudian kamipun melanjutkan perjalan menuju lokasi yang sudah saya tentukan untuk mendirikan tenda. Kurang lebih seperempat jam, akhirnya kami sampai di tempat tujuan tepatnya pukul 15:30 WIB. Berteriak dengan keras adalah cara mengekspresikan luapan bahagia mereka ketika sampai di lokasi. Tidak berhenti begitu saja, pada saat itu anak laki-laki yang sudah terkelompok dan sebelumnya sudah saya ajarkan untuk membangun tenda, dengan sigap mereka langsung mendirikan tenda dengan tetap jaga jarak sebagai penerapan protokol kesehatan di musim pandemi ini. 

Ada kejadian lucu yang menurut saya, dengan pembagian tenda kepada anak-anak dan salah satunya ada tenda saya yang biasa kami gunakan tidur di rumah malam minggu bersama anak kecilku yang akan di pakai ustad Firqi akhirnya dilihat anakku. Sementara saya sendiri sudah mendirikan tenda yang memang anakku belum pernah lihat sebelumnya. Al hasil anakku nangis dan nangis tendanya tidak boleh dipakai orang lain dan dia ingin tidurnya pakai tenda itu. Beberapa kali aku membujuk dan memberikan pengertian kepadanya, tetaplah pendirian yang kuat untuk si oik. Kekeh untuk memakai tenda tersebut. Mengalahlah aku akhirnya daripada nanti dia tetap ngambeg. Kemudian tenda aku pindah sejajar dengan tenda yang aku bangun sebelumnya. Demi kenyamanan dan tidak bocor jika terjadi hujan aku pasang flysheet yang cukup lebar dan cukup nyaman. Baru diam anakku hehehehe....

Sementara yang perempuan sambil menunggu tenda terbangun mereka asik mengabadikan moment, yang mana pada sore itu cuaca sangat cerah. Kabut tipis yang tadi berhembus sirna membuat mereka berlomba-lomba untuk mengabadikan momen yang tepat. Anak-anak kecil juga berlarian kesana kemari tanpa rasa takut sedikitpun. Saya sendiri juga tidak terlalu khawatir terhadap anak saya yang naik turun dan terpantau dari jarak pandang saya. 

Menjelang sholat Maghrib dari masing-masing guru pendamping mendampingi anak-anak untuk melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan Roundown acara yaitu sholat jamaah dan dilanjutkan baca al qur'an bersama untuk surat-surat pendek. Adapun yang laki-laki di dampingi Ustad Firqi dan yang perempuan mereka mandiri dan didampingi guru-guru karena yang awalnya ustazah akan ikut namun berhalangan dengan kegiatan kampusnya. Selepas kegiatan selesai mereka makan malam dan mereka dengan kegiatan masing-masing. 

Puncak Makam Joko Pekik, Lokasi Tempat Mendirikan Tenda

Untuk saya sendiri karena capek ternyata anakku tidur lebih awal, aku hanya berjalan di sekitar tenda sambil mengawasi anak-anak. Ada yang naik ke puncak Jiwo dengan alasan sambil mengecas HP lah atau apalah, yang kami ia kan saja. Kami percaya mereka tidak akan macam-macam di sana. Pun di sana ada mas Adi (Dobleh) yang sengaja diutus basecamp untuk ikut mengawasi anak-anak kami. Pada akhirnya kamipun asik dan menikmati malam itu dengan kegiatan kami masing-masing. Kira-kira pukul 10 malam hujan rintik mulai turun dan kamipun memasuki tenda kami masing-masing untuk. 

Subuh hari kami dibangunkan oleh alarm yang berbunyi yang sudah di setting sebelumnya. Sholat shubuh berjamaah oleh santri santri. Karena saya antri dan saya sholat sendirian. Diakhir salam terdengarlah anakku menangis, usai salam saya lari menuju tenda dan mendapati anakku sudah terbangun sambil sesenggukan yang saya tinggal sendirian. Hehehehe. Aku dekap dan kuusap air matanya untuk memberikan rasa aman dan nyaman. Tidak beberapa lama kemudian kamipun keluar tenda untuk menikmati udara pagi itu yang masih tetap berkabut sisa badai semalam. 

Menjelang Sun Rise kamipun bergegas ke puncak gunung Andong yang biasa disebut dengan Andong Peak dan menikmati pemandangan yang di sekitar gunung Andong. Ladang yang berkelok-kelok menambah cantik dengan kabut tipisnya. Meski mentari pagi itu tidak nampak tetaplah kami senang bisa menapakkan kaki-kaki kami di puncak tertinggi gunung Andong ini. Mentari yang tak kunjung nampak membuat kami kembali camp area.

Makan pagi dengan menu alakadarnya yang dibawa anak-anak, mereka mencoba dan memasak sendiri. Ada yang bawa mie instan, energen, minuman penghangat dan lain sebagainya. Saya sendiri membuat nasi goreng ala-ala yang dicampur dengan daging burung yang cukup mantap rasanya. Karena membuat porsi banyak , aku bagi-bagikan ke guru lain dan siswa yang rata-rata sedang semego (sedang lahab-lahabnya makan) jadi keingat masa muda dulu ya hehehehe.

Sarapan usai, untuk menghilangkan rasa dingin kamipun diajak guru olah raga untuk bermain di depan warung air dengan beberapa permainan antaralain, menyanyikan lagu "Sedang Apa" saling bersahutan dengan tim laki-laki dan perempuan dan yang kalah adalah skotjam lima kali. Kedudukan seimbang antara mereka dan sama-sama mendapatkan hukuman sekali. Kemudian dilanjtukan permainan ambil botol yang start awalnya lari dengan berjongkok baik putra ataupun putri. Permainan terkahir adalah permainan tradisional Ulo-Ulo Cabe. Saya merasa ini menjadikan pengalaman yang tak terlupakan buat mereka dan alhasil dari permainan itu adalah tetap kami merasakan sebuah kehangatan diantara perdu-perdu kecil yang terambing oleh angin sepoi-sepoi gunung Andong. 

Suasana Pagi Hari di Camp Area

Anak-Anak Kecil Tangguh

Berkemas kurang lebih setengah jam, pukul 09:00 kami berpamitan sama simbah Tumar sang Penunggu Gunung Andong yang ternyata beliau sudah berusia 80 tahun dan beliaulah yang membuat jalan pendakian dari tahun 1980 an lalu. Tidak lupa sampah-sampah kami bersihkan untuk dibawa turun supaya kebersihan tetap terjaga. Ingat pepatah gunung yang banyak sekali di ucapkan oleh mereka para pecinta alam yakni

"Janganlah kau bunuh sesuatu kecuali Waktu"
"Janganlah kau tinggalkan sesuatu kecuali Jejakmu"

"dan janganlah kau petik sesuatu kecuali Gambar dengan kameramu"

Simbah Tumar

Keceriaan yang terpancar pagi itu dan sampailah kami sampai di basecamp pukul 10:20. Belum juga menempatkan pantat kami, tiba-tiba salah satu anak kelas 12 mendekati saya mengusulkan nanti perpisahan anak kelas 12 di gunung saja ya mister. Ampunnnn ampuuun... akhirnya terkontaminasi juga itu bocah yang awalnya berfikir negatif untuk sebuah pendakian. Heheheheee..... semoga keinginannya tersapaikan nanti, aamiiin.

Tips Sederhana Mengenalkan Anak Dengan Alam

Tips Sederhana Mengenalkan Anak Dengan Alam

Mengenalkan anak anak saya kepada alam sebenarnya sudah menjadi keinginan lama sekali. Namun karena berbagai pertimbangan akhirnya mendapatkan momen yang pas untuk mengenalkan anak-anakku ke alam. Sebenarnya setiap saya mudik ke tempat mbah kakung saya selalu menyempatkan untuk pergi ke sawah atau ladang, tujuan saya agar mereka terbiasa di alam yang jauh dari keramaian kota yang isinya dengan bangunan-bangunan dan tumbuh-tubuhan yang mulai jarang. 

Sebelum saya mengenalkan anak-anak ke alam, khususnya ke dunia pendakian gunung saya selalu membawa boneka yang saya jadikan mimpi untuk suatu saat nanti bisa membawanya untuk menikmati dan mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kami.

Kesempatan itu akhirnya datang juga untuk anak ke dua ku. Namanya Ahmad Thoriq Arridwan yang saat ini berusia mau empat tahun. Sebelum keberangkatan terlebih dahulu saya terlebih dulu bercerita tentang rencana untuk nai gunung kepada si Oik. Dari ekpresinya memang semangat sekali, selain itu saya sendiri selalu mengajak si Oik nonton beberapa video tentang pendakian. 

Kesempatan itu saya dapatkan saya keponakan saya dari Jakarta pulang kampung untuk mengadakan penelitian di tempat alumni sekolah SMA nya dulu. Selain itu dia juga mengerjakan ujian TOEIC untuk keperluan kelulusan di Kampusnya. Dalam hati saya bilang kurang ajjaar ini bocah, giliran ada test bahasa Inggris selalu mendakati omnya untuk bantu mengerjakan. Aku sihhh enjoy enjoy saja sebenarnya, itung-itung aku sendiri juga mengetes kemampuan saya juga hehehe. Alhasil score dari TOEIC keponakan saya memang di atas rata-rata karena standar yang harus didapat scorenya minimal 200 baru bisa mencetak sertifikat, namun ini melebihi apa yang di standarkan. Senengnya yaaa bukan main meskipun hasil dari omnya hehehee. Akhirnya saya ditanya mau minta hadiah apa om, hwaduh ditanya seperti itu, wahhh kesempatan ini aku minta naik gunung saja yang pas dan tidak tinggi-tinggi buat anakku. Gunung Andong jawabku seketika itu, sekalian dia juga belum pernah naik ke sana juga. 

Tepat hari Minggu pagi, perjalanan kamipun dimulai berangkat dari rumah pukul 07:30, dengan semangat pagi yang cukup cerah saya melajukan motor ke arah Salatiga. Namun baru beberapa kilometer anakku sudah terpulaskan oleh hawa semilir di atas motor hingga menjelang kota Salatiga, tepatnya di kota Bawen. Kami mampir ke Indomaret untuk membeli keperluan pendakian sekaligus minum untuk menyeka tenggorokan yang mulai kehausan. Beberapa menit kemudian kami lanjutkan perjalanan kami menuju ke Gunung Andong dan kami memilih basecamp Sawit yang jalurnya memang ramah dan tidak terlalu terjal. 

Oh ya tidak lupa dalam perjalanan kali ini saya bawakan mainan kesukaan anakku yaitu Helikopter mini putih yang aku beli saat dia umur 2 tahunan. Singkat cerita setelah registrasi dengan membayar Rp 40.000 untuk dua orang kamipun memulai perjalanan kami pada pukul 09:30. Si Oik pun berjalan dengan semangatnya. Karena hari Minggu pada saat naik kamipun berpapasan dengan para pendaki lain yang sedang turun. Melihat semangatnya anak saya yang berjalan sendiri tidak jarang banyak yang memberi semangat dan TOS persahabatan dan itu membuat si Oik semakin semangat untuk berjalan. 

Menuju Pos I 

Pos satu Watu Pocong pun dilewati dan beberapa kali kami istirahat untuk minum dan mengabadikan momen tersebut. Mendekati Pos dua, karena banyak yang istirahat kamipun melanjutkan perjalanan ditengah-tengah rimbunnya perdu-perdu di sepanjang jalur pendakian. Sesekali istirahat dan memandang gunung Merbabu yang menjulang tinggi di belakang kami. Sawah yang berkelok-kelok di bawah juga menambah asri pemandangan di sekitar Gunung Andong yang memiliki ketinggian 1726 ini. Pada jalan berikutnya sudah terlihat kecapekan dan akupun menggendong si Oik hingga Pos 3 Wayangan. Cukup lama kami istirahat di pos ini, selain menjadi spot yang bagus tempat ini juga ada shelter untuk rebahan yang sangat nyaman sambil menikmati cemilan yang kami bawa.

 
Pos III Wayangan

Melanjutkan perjalanan selanjutnya, si Oik masih minta gendong dan karena memang masih anak-anak hehehe. Jalan datar yang kemudian kami dapati akhirnya saya berikan pengertian ke anakku untuk berjalan sendir. Sembari saya gandeng dan berjalan pelan-pelan anakkupun mulai melangkahkan kakinya lagi. Sampai di pertigaan puncak Makam ki Joko Pekik, kami bertemu dengan keluarga yang juga membawa anak kecil yang seusia hanya terpaut beberapa bulan. Ehh lucunya si anak pengen ngajak naik lagi bareng sama anakku sampai mau menangis hehehe. 

Kamipun bergegas setengah lari untuk menuju ke Puncak Jiwo yang mulai sepi dari para pendaki, hanya beberapa orang yang masih bertahan dengan tendanya, itupun mereka sudah siap siap untuk turun. Kamipun singgah di warung yang berada di Puncak Jiwo dan memesan minuman untuk menemani camilan roti yang kami bawa. Si Oik asik dengan mainan serta makan coklat kinderjoy yang dibelinya di Indomaret tadi. Rasa penasaran dengan isinya kemudian di bukalah coklat dan mainannya, setelah rasa penasaran hilang dan rasa yang kurang cocok akhirnya sayalah yang menghabiskannya.

Seperempat jam kami berada di warung dan kami melanjutkan ke puncak Andong Peak dan mengabadikan momen. Kabut tipis yang sejuk seakan menyambut kami di Andong Peak dengan latar belakang gunung Merbabu yang gagah, gunung Ungaran yang terlihat malu-malu serta samar-samar gunung Sindoro dan Sumbing. Di sebelah timur Gunung Telomoyo sudah mulai tertutup kabut saat itu. 

Andong Peak 1726 MDPL, Anaknya tau mau di foto hahahah


Giliran ini di curi-curi untuk di foto bersama mainannya

Kami memutuskan untuk mengambil lintas dengan turun di Basecamp Pendem yang memang saya sendiri belum pernah melewatinya. Naik ke Puncak Alap-Alap terlihat mata anakku sudah redup yang bertanda dia sudah mulai mengantuk, karena memang sudah mendekati pukul 12:00 siang saat jam tidurnya. Dan sejurus kemudian pundakulah yang menjadi taruhannya sepanjang turun di jalur Pendem ini. Lebih terjal dibanding dengan jalur Sawit dan sedikit memutar yang menuruni bukit dan hutan pinus. Sampai di Pos 1 Pendem mendung mulai menggelantung dan kamipun mempercepat langkah kami agar segera sampai di basecamp Pendem. 

Watu Topo jika tidak salah namanya

Sampai Bawah Minta Gendong Terusss

Mendekati pintu gerbang Basecamp Pendempun gerimis sudah turun, namun kami sempat mengabadikan momen di sini sebelum kami singgah di warung. Beruntung ada tukang ojek yang akhirnya mengantarkan kami ke basecamp Sawit, namun karena uang kami yang waktu itu tidak ada kembalian akhirnya beliau mengkikhlaskan dan gratis untuk kami. 

Aku sudah bawa Anak, jadi aman untuk foto disini hehehehehe

Sesampai di basecamp saya pun memesan makanan buat makan siang kami bertiga, setelah makan dan sholat saya bermaksud untuk menidurkan anakku, namun tidak bisa tidur mungkin karena belum terbiasa dan akhirnya kami putuskan untuk segera pulang. Pukul 14:00 kami menuju kembali ke kota Demak dan baru beberapa meter dari basecamp anakku sudah terlelap hingga sampai di Semarang. Alhamdulillah perjalanan kami diberikan keselamatan dan cuaca yang cerah meskipun pada saat itu bulan yang lagi deras-derasnya hujan. Begitu sampai rumah anakku cerita sama kakak dan ibunya kalau habis naik gunung, dan ada cirikas baru saat TOS dengan tinju yang selalu dipraktekkan kepada saya sampai saat ini. Kesan yang melekat Tos Tinju adalah saat ketemu pendaki lain yang mengajak Tos di perjalanan seakan membuat anakku memiliki rasa tersendiri meskipun hanya sepintas di jalur pendakian.

Pintu Gerbang Basecamp Pendem

Tips mengajak dan mengenalkan kepada anak-anak naik gunung:

1. Carilah gunung yang tidak terlalu tinggi.

2. Bawalah teman atau keluarga lain untuk memback up membawakan barang-barang keperluan kita

3. Bawalah makanan kesukaan anak kita.

4. Bawakan mainan kesukaannya sehingga anak tidak segera bosan.

5. Jika harus camp, lengkapilan peralatan senyaman mungkin, dan untuk saya sendiri terkadang di rumah kami juga tidur di tenda untuk membiasakan anak merasakannya sebelum benar-benar merasakan di alam sesungguhnya.





Pendakian Gunung Sumbing Via Basecamp Adipuro, Kaliangkrik, Magelang

Pendakian Gunung Sumbing Via Basecamp Adipuro, Kaliangkrik, Magelang


Perjalanan kami untuk kembali mengajakkan kaki ini melangkah di Gunung Sumbing ini sudah terencana saat salah satu grup WhatsApp Puisi Para Pendaki yang kala itu berkeinginan mau mencoba naik gunung Sumbing. Dari sinilah akhirnya kami berkoordinasi untuk merencanakan hari, tanggal dan waktu. Akhirnya kami memilih pada tanggal tiga belas dan empat belas Februari dua ribu dua puluh satu. Kebetulan tanggal tiga belasnya merupakan Tahun Baru Imlex jadi ada libur yang cukup panjang selama tiga hari. Rencana awal kami akan naik gunung Sumbing via Bowongso, namun karena masih pandemi dan musim hujan yang intensnya masih tinggi jalur ini masih ditutup untuk pendakian. Option ke dua akhirnya kami mencoba menghubungi basecamp Kaliangkrik sekalian ingin melihat Nepal Van Java kata teman-teman. Terpilihlah basecamp Adipuro Kaliangkrik yang berada di sebelah Timur basecamp Butuh.

Tanggal dua belas Februari teman yang di Lampung mulai bergerak untuk menuju ke Magelang. Sementara saya sendiri baru berangkat hari Jumat tanggal tiga belasnya dan akhirnya kami bertemu di Alun-alun Magelang. Dengan baik hati dari pihak basecamp yang tidak ribet menawarkan tumpangan mobil pickup hingga sampai basecamp. Hujan rintik sepanjang jalan waktu itu membuat rasa dingin dalam tubuh kami dan bergegas kami bungkus dengan jaket tebal kami. Jalan menuju ke basecamp yang berkabut menambah perjalanan kami berjalan pelan-pelan. Sekitar pukul 21:30 kami sampai di basecamp dan malam itu memang udara cukup bersahabat. Selepas hujan yang cukup lebat kaki gunung Sumbing ini diberikan cuaca yang cerah. Lampu lampu rumah penduduk di lereng gunung Sumbing ini menjadi semakin menarik untuk dinikmati. Setelah bergulat dengan rasa kantuk akhirnya kamipun beristirahat malam itu dengan harapan pagi-pagi bisa bangun dan melanjutkan perjalanan sesuai dengan jadwal.

Subuh hari kami bangun untuk melaksanakan sholat di masjid dekat basecamp. Udara yang dingin tidak mengurangi rasa ingin segera berkomunikasi dengan sang Khaliq. Dan apa yang kami dapat, setelah sholat subuh kami disuguhkan pemandangan yang sangat spektakuler menurutku. Pagi yang cerah dengan matahari yang terbit diantara gunung Merbabu dan Merapi sangat ciamiiiikkkk untuk dinikmati sembari minum kopi tubruk dari Lampung. 

Sun Rise di Basecamp Adipuro Kaliangkrik, Magelang


Basecamp Adipuro dengan via Gunung Sumbing di belakangnya

Ternyata pada pukul 06:00 teman yang kami tunggu (bang Wanto) sudah sampai dan akhirnya kami berkemas-kemas untuk segera berangkat. Mandi dan sarapan dengan menu yang mantap dari simbok yang masakin di basecamp wah semakin nikmat rasanya. Namun perjalanan kami molor setengah jam dari yang kami jadwalkan karena di basecamp juga cukup ramai kala itu dengan bersamaan orang Cilacap. Karena kami datang lebih awal kamipun dipersilahkan untuk berangkat lebih awal dengan naik ojek dengan harga 25K, menurutku itupun sangat murah dengan medan yang ditempuh. saat awal kami kira hanya sekitar 15 sampai 20 menit sampai di tujuan ternyata hampir 45 menit kami naik ojek dengan pemandangan yang super keren dengan gagahnya gunung Sumbing. Para petani yang ramah selalu tersenyum saat kami berpapasan meskipun kami di motor.

Pukul 07:30 kami semua sudah turun dari ojek semua dengan berkelakar dengan masing masing kejadian yang dialaminya selama mengojek ekstrim. Aku sendiri saat melintasi tebing yang longsor aku tutup mataku karena takut hehehehehe. Sejenak kami istirahat dan kemudian kami berdoa untuk memohon keselamatan, cuaca yang cerah serta kekuatan selama pendakian. Saat itu saya hanya menyampaikan kepada teman-teman (syarif, azmi, bang wanto dan reski) bahwasannya saya bilang jadikanlah pendakian kali ini menjadi IBADAH Kalian. Karena ibadah itu bukan hanya melaksanakan kewajiban kita sebagai muslim saja, namun kita harus bersyukur dan karena bersyukur itulah kita akan diberikan nikmat yang lain tentunya. 

Perjalanan kami disambut dengan gemericiknya air terjun yang sangat jernih dan kami melintasi jembatan kecil di atasnya. Air yang jernih ingin segera menyebur rasa hehehehehe. Sesaat kami mulai disambut dengan sejuknya kabut tipis dan rimbunya hutan di lereng Gunung Sumbing ini. Anak tangga yang tidak berjalan ini menuntun kami menuju pos dua. Karena efek lama tidak berjalan di pegunungan saya sendiri sempat mengalami mabuk gunung dengan keluar keringat dingin dan kepala muter muter dan berkunang-kunang. Namun alhamdulillah kondisi ini tidak terlalu lama dan bisa kembali kondusif dengan konsumsi kurma yang syarat dengan manfaat kala itu. 

Akhirnya kami sampai pos 2 lebih cepat dari yang diperkirakan kurang lebih 30 menit dari pangkalan ojek dimana kami diturunkan. Pos 2 ini berupa lahan yang sangat teduh di bawah rindangnya pohon-pohon cemara dan perdu lain yang tumbuh subur. Cukup lebar dan bisa menampung tenda kurang lebih 100 an. Istirahat kami kurang lebih 10 menit dengan menyamil bekal yang kami bawa. Tidak lama kemudia kami berjalan di jalan yang cukup datar hingga kami bertemu medan yang cukup menanjak dan sudah bervegetasi yang rendah. Sinar matahari waktu itu cukup menyengat dan semakin banyak menguras tenaga kami. Sejenak kami berisitirahat di bawah pohon cemara dan kebetulan muncul gunung Merapi dan Merbabu. Cekrek sebentar mumpung pas evennya dan kebetulan dari kejauhan merapi nampak kelihatan asap erupsinya meskipun tipis.

Gunung Merbabu dan Merapi yang cantik
Sabana Mini Pedas jalur Adipuro Kaliangkrik

Sesaat kemudian kami lanjutkan perjalanan di sabana mini pedas ini, tanjakan ini cukup menemukan dengkul dengan muka kami sesekali dalam perjalanan. Kamipun melewati hutan lamtoro yang sangat membantu untuk berpegangan serta sedikit mengurangi rasa panas sengatan matahari saat itu. Kurang lebih satu jam akhirnya kami bertemu dengan jalur pendakian yang dari Butuh Kaliangkrik. Saya merasa lega sekali karena jalur ini sudah menjadi bayangan buat saya sendiri, dengan medan yang datar dan bonus sungai serta dengan air yang mengalir jernih. Ketemu dengan sungai kedua rasa haus kerongkongan ini tidak bisa dipungkiri lagi, dengan serta merta saya merunduk untuk meminum langsung dari kubangan kecil. Segar rasanya dan lebih segar dibanding dengan air kemasan menurut saya. hehehehe

Tidak lama kemudian kami bertemu sungai lagi untuk ke sekian kalinya dan jumlah sungai yang bisa kita temui dari jalur Adipuro Kaliangkrik sebanyak 11 sungai dan cukup membantu para pejalan yang membutuhkannya. Kami tiba di pos 3 kurang lebih 1,5 jam dari pos 2. Melihat pos 3 tiga pertama sudah penuh dengan tenda akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan kami. Tidak jauh dari pos tiga, ada pos 3 lagi yang ke dua yang cukup lebar juga dan dibuat di tengah-tengah mata air yang sudah dibuat dengan pipa sehingga memudahkan para pendaki untuk kegiatan masak dan tidak terlalu jauh mengambil air. Dengan alasan masih bisa diajak kompromi tenaga kami, kamipun lanjutkan perjalanan dengan mlipir di bibir tebing sebelah kanan yang saya lihat lebih dekat jika dibanding dengan naik bukit sebelah kirinya. Akan tetapi hasilnya lebih lama karena teman-teman pada merasa takut ketinggian jika melihat tebing itu, meskipun sudah dikasih webbing. Dengan sabar dan hati-hati kami menuruni lereng ini dan seteleh semua terkondisikan kami lanjutkan perjalanan kami.

Ini yang lucu suka naik gunung tapi takut ketinggian

Lewat sini yang aman, gak usah grogi... kataku

Kurang lebih seperempat jam dari pos tiga yang kedua, kami sampai di Camp Area yang dibuat oleh basecamp Adipuro yang memliki ketinggian 2.467 MDPL. Tempat yang cukup terbuka buat mendirikan tenda dan bisa memuat hampir 100 an tenda. Akan tetapi tempat ini juga minim vegetasi sehingga jika pada saat terik matahari akan menyengat sekali panasnya. Lagi-lagi kami tetap semangat untuk melanjutkan perjalanan ke Pos 4 untuk destinasi mendirikan tenda kami. Trek yang berkelok dan diputar membuat perjalanan kami melambat. Pada sungai terakhir kami sempatkan mengisi botol-botol kami yang kosong untuk kebutuhan masak kami di atas nantinya. Karena sudah pukul 13 lebih kala itu kami putuskan untuk istirahat dan sholat dzuhur dan bisa memanfaatkan air untuk berwudlu yang sekaligus saya bisa menjamak sholat dzuhur dan ashar. Lagi-lagi buah kurma andalan kami untuk memulihkan stamina yang sudah mulai terkuras di sisa-sisa perjalan kami menuju pos 4. 

Beruntung kabut dan mendung sepanjang perjalanan kami sangat membantu mengurangi dehidrasi dalam perjalanan kami. Kata pendaki yang sudah turun hanya tinggal 45 menitan lah untuk sampai di pos 4, membuat semangat kami bangkit dan melanjutkan jalan kami meniti kelokan bukit di depan kami. Dari kelokan itu sudah terlihat pos 4 dan terdengar ramai suara pendaki lain yang berada di pos 4. Sampai di pos 4 kami pukul 13:50 menit dan kami merebahkan badan sesaat sebelum kami mendirikan tenda. Sambil memilih tempat yang pas buat dua tenda kami, kami menikmati siang setengah sore itu dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Puncak sejati yang terlihat gagah di atas semakin menambah pesona gunung Sumbing ini dengan seribu aura menawannya. 

Tenda sudah berdiri dan kami putuskan untuk makan siang dengan menu nasi goreng yang nasinya sudah beli di tempat simbok basecamp. Minum kopi hangat dan jahe hangat cukup menghangatkan senja itu. Tak lama kemudian gerimispun datang, beruntung kami sudah siapkan flysheet untuk melindungi hunian kami. Gerimis berubah menjadi hujan yang cukup deras senja itu dan flysheet kamipun menjadi tampungan air hujan dan mau tidak mau harus mengubahnya supaya tidak mematahkan frame kami. Setelah selesai kami bisa rehat dengan nyaman meskipun dibelakang kami terdengar suara banjir kiriman dari atas.Akan tetapi namanya air pada akhirnya tembus juga di tenda kami meski hanya tampyas saja dan kami mengubah posisi kami sehingga tetap kering.

Tidak lama kemudian hujanpun reda dan sore itu kembali lagi disuguhkan cuaca yang cerah meskipun di atas ada awan yang menghitam dikala senja itu. Kamipun menggelar flysheet untuk duduk-duduk di sebelah tenda dan memanaskan air untuk menghangatkan kopi tubruk khas lampung dan saya sendiri memilih wedang jahe. Minum kopi takutnya malah tidak bisa tidur. Maghribpun menjelang dan kami sepakat untuk sholat berjamaah dan kami qodlo dengan sholat isya dan membersihkan diri dengan tayamum. 

Pos 4 Pohon Tunggal

Suasana malam hari di Pos 4

Usai sholat maghrib kamipun masuk tenda dan kamipun menyiapkan makan malam dengan bekal kami, saya sendiri memilih makan roti tawar dengan balutan susu coklat dan seresnya beberapa lipat sudah mengenyangkan perut kami. Selain itu cemilan cemilan yang kami dapat dari sepasang pendaki yang menghibahkan kami sosis, mie, abon, rempeyek kacang hijau serta kue kering. Wah baik banget mbaknya dan menjadi santapan saya rempeyeknya sambil menikmati malam itu. Sebelum kami ke peraduan malam kami sempatkan masak nasi terlebih dahulu untuk besok harinya supaya usai summit kami tidak repot memasak dan bisa memangkas waktu lebih cepat. 

Kamipun masuk ke tenda dan istirahat malam itu dan sesekali ditemani gerimis dan satu kali suara Geluduk yang sangat kenceng sekali membuat saya kaget dan terbangun sesaat. Namun tak lama sudah mabok lagi dengan hawa dingin dan kami bungkus tubuh kami dengan SB. Pukul 02:30 dini hari saya bangun dan membangunkan teman-teman untuk siap-siap untuk summit ke puncak Rajawali. Pukul tiga dini hari tepat kami mulai summit. Karena tidak bawa jaket tebal, akhrinya saya memakai kaos panjang rangkap tiga dan sarung untuk mengkondisikan tubuh biar tetap hangat.

Pukul 04:00 kami sampai dibawah batu pelawangan dan mencari jalan menuju ke kawah untuk ke Puncak Rajawali. Sempat kami menuruni tebing namun karena kami merasa ragu, akhirnya kami batalkan untuk ke puncak Rajawali dan berbalik dan ke puncak Sejati. Sampai puncak Sejati kami pukul 04:30 dan cuaca kala itu sangat cerah sekali. Diantara rasa dingin kami laksanakan kewajiban kami untuk sholat subuh dan menunggu sun rise time kami sempatkan membuat minuman hangat dan menikmati bekal kami. Alhamdulillah kami diberikan sunrise yang indah dan lautan awan yang mantap pula yang mengelilingi puncak gunung Sumbing ini. Tidak lupa kami mengabadikan setiap momen dengan kamera kami. Sesaat kami melihat Puncak Rajawali yang tertutup awan kala itu, dan itu mungkin cara Tuhan untuk kami tidak jadi ke Puncak Rajawali sehingga kami dapati view yang tidak bisa orang lain rasakan.

Sunrise di Puncak Sejati

Pukul 06:00 pendaki yang lainpun mulai sampai di puncak Sejati dan kamipun bergegas untuk memberikan kesempatan kepada mereka. Kamipun turun perlahan-lahan menuju ke tenda kami sambil menikmati pemandangan di jalur pendakian. Pukul 07:00 kami sampai di tenda dan akupun langsung tidur lagi sebentar sebelum akhirnya teman-teman sudah memasak lauk pauk buat sarapan kami pagi itu. Ikan asin, sayur sop dan sosis kala itu menjadi menu kami untuk sarapan. Pukul 08:00 kami mulai berkemas untuk turun dan satu jam kemudian kamipun berdoa untuk mulai perjalan turun ke basecamp.

Sesampai di sungai ke 11 kami istirahat sejenak untuk mencuci peralatan masak kami yang masih kotor serta mengambil air untuk perjalanan kami turun yang benar-benar habis kala itu. Kurang lebih pukul 10:30 kami sampai di pos 2, dan karena sudah ada sinyal kami mencoba menghubungi basecamp untuk pesan ojek dengan handy talky yang di kasihkan ke kami sebagai alat komunikasi kami. Namun karena tidak ada respon akhirnya salah satu teman kami menghubungi ke nomor pengelola basecamp. Alhamdulillah di pos dua ini kami break sesaat dan menikmati jeruk yang segerrr sekali seperti baru keluar dari kulkas dinginnya. 

Seperempat jam kemudian kami sampai di pangkalan ojek dan tidak lama kemudian bang ojekpun datang, namun hanya empat ojek saja yang tersedia. Mau tidak mau yang berbadan kecil kami cenglu dengan rasa was-was aku dan kak reski naik dan alhamdulillah kami selamat sampai di basecamp pukul 11:30.

Dengan mengucap puji syukur Alhamdulillah doa kami terkabulkan dengan moment moment yang mungkin tidak akan terlupakan. Dimasa hujan lagi ekstrim kami naik Sumbing akan tetapi di perjalanan kami diberikan cuaca yang cerah dan sangat bersahabat. Sedikit kendala dalam perjalanan adalah hal yang lumrah dan bisa dijadikan buat pengalaman kami untuk bisa lebih baik lagi. Terimakasih kepada pengelola basecamp Gunung Sumbing Via Adipuro yang telah mensupport kami hingga perjalanan kami berkesan dan tak terlupakan. Terimakasih kepada teman-teman dari Lampung yang jauh-jauh datang dan selalu ngebanyol untuk sebuah perjalanan, saya paham itu adalah cara kalian untuk tidak segera menyerah dengan sebuah keadaan dan saling menyemangati satu sama lain. Terimakasih bang wanto yang bekalnya super duper banyak. Terimakasih pula kepada teman-teman yang sudah saya tawari untuk bergabung namun belum bisa dan akhirnya memberikan doa untuk perjalanan kami. Berkat doa kalian juga akhirnya kami diberikan kesempatan yang baik untuk bertazabur alam dan mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kami sebagai salah satu ibadah dari kami. Akhrinya kami putuskan untuk bertemu kembali dengan team Lampung untuk naik Gunung Merbabu selepas lebaran yang akan datang. 

Sampai jumpa dan semoga diberikan kesempatan yang baik pula, Aamiin.

Jalur Pendakian dan Nomor telepon basecamp (Bang Ridlo)

Estimasi Perjalanan

Ojek - dibawah pos 2 = 45 menit

Pangkalan ojek - Pos 2 = 30 menit

Pos 2 - Pos 3 pertama= 2 jam

Pos 3 Pertama- Camp Area Adipuro = 30 menit

Camp Area Adipuro - Pos 4 = 2 jam

Pos 4 - Puncak Sejati = 1,5 jam

Tips Jika Kita Tersesat di Hutan

Tips Jika Kita Tersesat di Hutan


Inilah hal-hal yang harus dilakukan ketika kita tersesat di hutan ataupun di gunung. Langkah-langkah yang efisien serta dapat menghemat energi adalah sebagai berikut:

STOP

Bukan berarti kita berhenti untuk melakukan sesuatu akan tetapi lebih mengarah kepada apa yang harus kita lakukan. STOP berarti Stop (berhenti), Think (berfikir), Observe (amanti), Plan (Rencana). Tersesat di hutan atau di gunung memang menjadi momok tersendiri kepada merekan yang menyukai kegiatan outdoor, sehingga sudah sepantasnya dan seharusnya sebagai seorang yang menyukai kegiatan tersebut haruslah bisa berfikir tenang dan mengambil sebuah keputusan dengan pertimbangan.

Buat Keputusan-Keputusan Pertama yang Tepat

Anda boleh mulai bergerak jika anda sudah menunggu dan yakin tidak ada seseorang yang akan datang untuk melakukan penyelamatan. Apabila anda berjalan kaki dan mengetahui bahwa posisi anda tidak jauh dari pemukiman, cobalah untuk mencari tahu dari mana anda berangkat dan kembali pada titik yang anda kenali.

Orientasi Hutan

Jika anda tidak memiliki petunjuk apapun, maka anda perlu memilih arah secaa konsisten mengikuti arah tersebut. Jika memungkinkan, tinggalkan catatan berisi arah kemana anda akan pergi dan pukul berapa anda berada di titik tersebut dengan harapan keberuntungan, tim penyelamat akan mengikuti catatan yang anda tinggalkan dan menemukan anda dalam waktu yang tidak terlalu lama. 

Ikuti Jejak Binatang

Jejak binatang bisa saja menuntun anda pada sumber air atau area terbuka yang membuat anda lebih mudah terlihat oleh tim penyelamat.

Tetapkan Prioritas untuk bertahan hidup

Ada beberapa hal yang harus anda prioritaskan untuk dapat bertahan hidup di hutan. Diantaranya adalah menemukan sumber air untuk diminum, menemukan atau membuat tempat tidur sebelum malam tiba, dan mencari sumber makanan. http://www.mountlover.com/2020/02/7-buah-dan-tanaman-yang-enak-dikonsumsi.html 

Buatlah Signal Keberadaan Terkini

Jika memungkinkan buatlah tanda-tanda keberadaan anda dengan sinyal S.O.S, sehingga para relawan mudah untuk menemukan titik keberadaan anda. http://www.mountlover.com/2020/02/5-tanda-sos-saat-tersesat-digunung.html

Semoga bermanfaat

Mendaki Gunung Lawu Part I (Ketemu Bule Lagi)

Mendaki Gunung Lawu Part I (Ketemu Bule Lagi)

Bule Oh Bule

Perjalanan kali ini kami mulai dari Kota Salatiga tepatnya waktu itu dengan berjanjian dengan Kak Ardhi yang kala itu mengantar barang ke Semarang. Janjian awal adalah mau silaturrohiim ke tempat beliau dan paginya akan ke Gerojogan Sewu Tawangmangu. Namun setelah dipikir-pikir karena lokasi tersebut ada di kaki Gunung Lawu, akhirnya kami memutuskan untuk naik Gunung Lawu lewat basecamp Cemoro Sewu.

Sesampai di tempat kak Ardhi saya dipersilahkan istirahat sementara beliau pergi ke kantornya kembali untuk laporan dari tugas-tugasnya. Sementara saya berkomunikasi dengan bang Mbegog Soak Solo untuk diajak gabung naik ke Gunung Lawu dan beliaupun menyanggupinya.

Perjalanan dari Karanganyar kami mulai pada sore hari pukul 5 yang kala itu diiringi dengan hujan rintik-rintik. Dengan motor kami pacu perjalanan kami ke basecamp Cemoro Sewu. Karena tidak tau jalan saya hanya nebeng di belakang dan pada pukul 18:30 kami sudah sampai di basecamp Cemoro Sewu dan menunggu kedatangan bang Mbegog yang kala itu baru sampai pada pukul 20:00 bersama dengan kedua temannya. Kami mengisi perut kami di sebuah warung makan pinggir jalan raya dengan menu yang sederhana namun sangat nikmat dengan harga yang terjangkau. Usai makan malam kami mendaftarkan diri untuk masuk dan naik gunung Lawu pada pukul 21:00 dan bang Mbegog yang mengurus semua.

Makan Malam di Warung

Perjalanan saya rasakan sangat enak malam itu karena baru kali pertama dan belum tahu medan saya fikir jalannya yang landai dan lebar itu pikiran yang pertama. Semakin ke atas jalan semakin mengecil dan tinggallah jalan setapak yang sudah mulai beranak tangga dengan batu-batu gunung yang tersusun rapi. Sampai di pos 1 kami butuhkan waktu satu jam kala itu. Istirahat sebentar kami melanjutkan ke pos 2 yang akhirnya kami tempuh tidak kuranglebih 2 jam karena memang ini jarak pos yang terjauh diantara pos yang lain di jalur Cemoro Sewu. 

Menuju ke pos 3 rasa kantukpun sudah mulai menyerang saya. Maklum di tempat kak Ardhi tidak digunakan istirahat tapi malah jalan-jalan dan nonton sepak bola di dekat kos-kosannya. Perjalanan mulai mengendor dan sesekali teman-teman menyemangatiku untuk diajak jalan lagi. Ini pos tiganya mana kok tidak sampai sampai gumamku saat itu. Alhasil beberapa kali aku harus terkantuk-kantuk saat istirahat sambil sesekali minum air mineral yang kami bawa untuk melepaskan dahaga. Pukul 01:00 pun kami baru sampai pos 3 dan kamipun beristirahat sejenak dan mengeluarkan bekal kami untuk dimakan malam itu.

Seperempat jam kemudian kami lanjutkan lagi menuju pos 4. Jalan masih berbatu dan sedikit beranak tangga namun tidak separah dari pos 2 ke pos 3. Dengan langkah kecilku aku tetap disemangati untuk segera sampai ke pos 4 yang akhirnya kami tempuh kurang dari satu jam. Kami hanya rehat sejenak di pos 4 dan bergegas menuju ke Pos 5. Kebetulan malam itu bulan sangat bersahabat dan angin yang tidak bertiup terlalu kencang yang sedikit memudahkan perjalanan kami. Meskipun begitu kami tetap hati-hati dalam perjalanan kami. Kurang lebih pukul 02:00 kami sampai di pos 5.

Jalan semakin bersahabat dengan jalanan yang tertata batu rapi. Menuju ke puncak kami melewati beberapa jalan landai dengan vebetasi yang mulai berkurang, dan tampaklah malam itu lampu-lampu di sekitar kota Karanganyar, Magetan dan sekitarnya yang memanjakan mata. Tidak terasa akhirnya kami sampai di Sendang Drajat pada pukul 03:00 dini hari.

Kami beristirahat di samping makam dengan menggelar matras seadanya. Mengingat kami tidak membawa tenda kami istirahat sambil mengeluarkan bekal kami. Bang Mbegog mulai menyalakan kompor untuk memasak air hangat biar bisa menghangatkan tubuh kami. Karena kami ingin masak mie instan kala itu, bang Mbegog mengajakku untuk mengambil air di Sendang Drajat. Kata bang Mbegog kalau orang yang pertama kali ke Sendan Derajat itu harus minum airnya dengan tangan tidak boleh dikokop. Aku berfikir ini sungguhan apa ngerjain saya ya, sudah gitu udara sangat dingin lagi mungkin bisa 10 derajat kala itu suhunya. Akupun manut saja waktu itu dan yapppp aku minum cukup banyak waktu itu. Apa yang terjadi selanjutnya.....

Kak Ardhi yang masih imut

Tanganku mati rasa karena dinginnya air Sendang Drajat, disisi lain bang Mbegog tertawa dengan riangnya yang berhasil mengerjai saya. Suntukku Kurang ajar ini bocah sama orang tua, awas suatu ketika aku balasss pokonya. Aku segera lari menuju kompor yang sudah menyala dengan maksimal, kutempelkan rapat-rapat tanganku ke kompor yang nesting yang sudah mulai panas. Lama-lama rasa dingin itu hilang dan mereka tertawa puas sepuas-puasnya dengan lugunya saya kala itu. Minum hangat, makan mie dan kenyang waktu itu sembari nunggu waktu subuh lagi-lagi aku harus berwudlu ke sendang drajat lagi namun karena ini adalah kewajiban ya mau tidak mau rasa dingin tadi harus ku lawan.

Usai sholat subuh kami mengemas barang-barang kami kembali untuk dibawa dan tak lupa kami singgah sesaat ke warung Mbok Nah yang berada di dekat Sendang Drajat. Tidak terlalu lebar kala itu warung mbok Nah, namun cukup lengkap juga sajian jajannya. Bergegas kami naik ke puncak Gunung Lawu, lagi-lagi saya dikerjai oleh saudara bang Mbegog ini, katanya puncak masih 1 jam lagi. Pikirku wah tidak dapat sun rise dong kalau begitu dipuncak nanti. Padahal waktu itu waktu sudah menunjukkan pukul 05:15. 

Mendekati puncak yang tidak saya sadari kala itu sun rise menunjukkan wajahnya yang malu-malu. Sedikit tertutup awan hitam, namun tetap saja cantik untuk dinikmatinya. Kami diajak rehat sebentar untuk mengabadikan momen kala itu. Usai itu bang mbegog tiba-tiba lari meninggaklan kami dan menghilang dan nggak taunya we ladalah sampai puncak juga ternyata hanya sekian detik kami sudah sampai puncak. 

Dengan Bule di Depan Warung Mbok Nah

Kurang Ajjjar aku bilang, lagi lagi aku dikerjain si Mbegog itu. Puas di puncak akhirnya kami di ajak menuju ke Kawah Mati yang kebetulan masih berair sedikit kala itu. Wah kesempatan nihh bisikku untuk segera minum dan hemmmm lebih segar dibanding dengan minuman kemasan. Kami sempatkan istirahat di kawah mati cukup lama dan Kak Ardhi mengeluarkan kering tempe untuk sarapan pagi kami. Mengukir nama kami di Kawah Mati, kemudian kami bergegas untuk turun melewati jalur nai sebelah timur dan langsung ketemu dengan warung Mbok Nah.

Mak bedunduk eehh ada bule nyasar di dekat warung Mbok Nah, talking - talking akhirnya kami bisa mengajak bule tersebut buat foto bareng hehehehe. Senang rasanya bisa foto bareng dengan mereka bisa menjadi kenangan tersendiri buat saya, kami dan kawan-kawan.

Merapi Part II (Ada Bule di Merapi)

Merapi Part II (Ada Bule di Merapi)


Merbabu dari Merapi

Pengalaman menapakkan kakiku yang pertama membuat saya benar-benar ketagihan untuk kembali ke Merapi. Selain itu aktivitas di media sosial yang akhirnya menambah bnnyak teman-teman yang memiliki keinginan yang sama untuk menghabiskan sebuah liburan di sebuah gunung yang kemudian mengagendakan untuk janji bertemu di Merapi bersama. Shelter Penggiat Alam merupakan kelompok pecinta alam yang diadministrasi oleh beliau Kang Musvero (Pemalang) menjadikan grup pertama di media sosial yang merencakan tanggal 23 dan 24 Maret untuk bertemu di Pasar Bubrah gunung Merapi. 
Berkoordinasi dengan telepon seadanya waktu itu dengan memanfaatkan bonusan menelpon pada sesama kartu GSM, selama H minus seminggu. Ada yang dari Surabaya (Nico), Jakarta (Hery), Bandung, Pemalang (Musvero), Demak (Mr. Adi), Semarang, Cirebon (Afirman K), Wonogiri (Ardi), Solo (Belind Ard), dan beberapa kota lainnya yang jumlahnya waktu itu ada kurang lebih 55 orang, 
Depan Basecamp Barameru


Pada hari H saya sendiri bersama rombongan dari Demak dan tergabung dengan Semarang berangkat bersama dan bertemu di Undip. Konvoi dengan sepeda motor kami sampai di Basecamp Barameru pada senja hari menjelang waktu maghrib. Indah sangat pemandangan senja kala itu. Di depan nampak Gunung Merbabu yang sangat menawan pemandangan untuk diabadikan. Namun sesampai kami di basecamp ada beberapa teman yang sudah naik terlebih dahulu karena mereka membawa perlengkapan yang cukup memadahi untuk bisa mendirikan tenda di Pasar Bubrah. Sementara kami memutuskan untuk memulai pendakian di pertengahan malam kala itu. Kami tunaikan kewajiban kami untuk sholat maghrib dan isyak sekaligus memohon untuk keselamatan dan cuaca cerah saat pendakian. Dan satu lagi yang tidak lupa adalah semoga ketemu BULE di puncak Merapi nantinya.


Waktu selebihnya sebelum sampai pertengahan malam kami gunakan untuk istirahat, ada yang tiduran, ada yang ngopi, ada yang ngobrol dengan teman-teman baru, dan saya sendiri memilih di dapur menemani simbok yang sedang masak pesanan para pengunjung. Alih-alih bisa mendapatkan api di dapur untuk menghangatkan badan juga hehehehe. Namun akhirnya kantukpun menyerang yang membuat kepalaku tergeletak di dekat dapur. Rasa bodoamat dengan orang lalu lalang tidak membuat kantukku goyah hingga pertengahan malam tiba. 

Pukul 00:00 kami bangun dan persiapan untuk naik pada malam itu. Setelah semuanya siap kami berkumpul di depan basecamp untuk berdoa bersama memohon keselamatan sepanjang perjalanan nanti. Dalam rombongan saya ada anak SMP kelas VII (Danar Didik K) dan anak Papua (Yahzu Keizi), Anak SMA (Agus Supratman) yang mereka adalah murid-murid di Bimbel saya kala itu. Perjalanan malam itu terasa berbeda dengan perjalan pertama saat saya ke Merapi. Jumlah yang banyak dengan berbagai tipe orang-orang yang berbeda membuat perjalanan tidak sesuai dengan harapan. Akupun terpisah dari kedua muridku Danar Didik dan Yahzu, mereka beristirahat di Pos 2 di dalam Goa, sementara saya dan Agus melanjutkan perjalanan hingga sampai pasar bubrah pada pukul 04:30 an di dalam Goa yang berkapasitas 6 orang di bawah Watu Gajah. Kamipun masuk dan menunggu hingga menjelang matahari terbit dengan suhu yang cukup dingin pada waktu itu.
Narsis dulu sebelum naik di depan Basecamp Barameru

Pukul 05:00 an setelah sholat subuh, kami menuju ke Pasar Bubrah untuk bertemu dengan teman-teman dari Shelter Penggiat Alam sambil menunggu sun rise. Sayangnya saat matahari terbit kabutpun turun sehingga tidak bisa mendapat gambar matahari terbit sempurna waktu itu. Kamipun bertemu dengan orang - orang yang kusebutkan di atas dan mengabadikan momen kebersamaan waktu itu yang kemudian kami lanjutkan naik ke Puncak Merapi. Kurang lebih 40 menit kamipun sampai di Puncak dan tidak berlama-lama kamipun turun mengingat asap sulfatara yang cukup tebal kala itu.

Bang Orton

Perjalanan turun sesaat kami masih di pasir yang cukup tebal, kamipun bertemu BULE yang kami harap-harapkan, dengan modal bahasa Inggris secukupnya sayapun beranikan diri untuk berkenalan dan akhirnya minta untuk foto bersama, doaku terkabul kataku dalam hati. Usai itu kamipun kembali ke Pasar Bubrah dan di sana kami akhirnya bertemu dengan ke dua murid Danar Didik dan Yahzu Kaezi yang semalaman aku tunggu-tunggu. Bersyukur mereka berada di sekitar orang-orang yang sangat peduli, saya ucapkan terimakasih sekali dan mohon maaf tidak bisa mendampingi mereka selama perjalanan naik.

Yahzu Keizi bersama bang Ipan

Kamipun turun ke basecamp sesaat setelah mengisi perut kami dengan bekal yang kami bawa dengan menyusuri terjalnya batu-batu merapi yang siap melukai pejalan kaki jika tidak hati-hati. Sampai di Basecamp pukul 1 siang hari dan bergegas kami rapi dan bersihkan tubuh kami dan say good bye dengan teman-teman shelter penggiat alam. Karena faktor lelah saya memboncengkan yahzu keizi di Salatiga karena ngantuk akupun oleng dan jatuh motor kami di tepi jalan, beruntung tidak masuk ke halaman orang waktu itu yang cukup tinggi juga sebenarnya. Alhamdulillah kami tidak apa-apa dan motor tetap on meski akhirnya harus tambal ban pula hahahahaha sebuah kelucuan yang serius menurutku kala itu. 
Semangatnya yang luar biasa buat Yahzu Kaezi

Akhirnya hanya ucap syukurlah yang kami panjatkan hingga perjalanan kami selamat dan terjadi kendala dalam perjalanan buat kami adalah hal yang wajar, karena itu adalah cara kita untuk menjadi lebih dewasa yang akhirnya menambahkan banyak pengalaman.Terima kasih juga Shelter Penggiat Alam Bebas yang kala itu menjadi wadah kami buat menyambung tali silaturohiim hingga sekarang. Semoga kelak menjadi cerita buat anak dan cucuk kita nanti, aamiin.
Bule Cantik

Sampai ketemu kembali di Merapi Part 3

Mendaki Gunung Ungaran Part II

Mendaki Gunung Ungaran Part II

Di Puncak Bersama Danar Didik

Akhir tahun 2011 kala itu adalah menjadi tahun kebangkitan saya untuk mendaki gunung, diawali mendaki Gunung Muria pada malam 1 Syuro waktu itu, dan dilanjutkan dengan pendakian Gunung Ungaran pada malam tahun baru 2012. Kami satu rombongan dari berbagai kelompok kala itu antara lain, Kelompok Pengajian Rutin, Kelompok Bimbel serta beberapa rekan teman-teman dari Pemuda Muhammadiyah yang menjadi petunjuk jalan waktu itu. Saya sendiri sudah pernah naik Gunung Ungaran pertama pada tahun 2009 nan dan kami lewat Gedong Songo, namun karena belum tahu jalur akhirnya kamipun hanya sampai di pertengahan jalan, dan paginya kami kembali lagi ke Candi Gedong Songo.

Singkat cerita kami mengemas segala perbekalan kami dan pendakian kali itu adalah pendakian yang sebenarnya menguntungkan karena segala bentuk pendakian adalah mendapat sponsor dari beberapa AUM dengan misi mengibarkan benderan Pemuda Muhammadiyah di Gunung Ungaran serta giat bersih-bersih di jalur pendakian. Kami berangkat dengan menyewa mobil dan kami merencakan naik Gunung Ungaran melalui basecamp Mawar dan turun di Candi Gedong Songo. Kami diturunkan di gang masuk Umbul Sidomukti, kemudian kami berjalan menuju Basecamp Mawar dengan berjalan kurang lebih 2 km. Kami akhirnya memulai pendakian setelah sholat duhur dimana kala itu hujan gerimis mulai mengguyur, maklum bulan Desember dan malam tahun baru, pasti identik dengan hujan. 

Karena yang pengalaman mendaki hanya beberapa orang saja, akhirnya rombongan dibagi menjadi beberapa kelompok, kelompok pertama mereka-mereka yang membawa tenda (pramuka) untuk bisa bergerak lebih cepat dan berencana mendirikan di puncak kala itu. Dari beberapa kelompok kelompok saya ada satu anak kelas 2 SMP yang baru kali pertama naik gunung, karena mabuk gunung, akhirnya kami harus menunggu anak itu benar-benar pulih kekuatannya dan menumpang berteduh di rumah penjaga kebun kopi di dekat kolam renang. Danar Didik namanya dengan sisa-sisa tenaga kami berusaha untuk melangkahkan kaki dengan beban tasnya dibawakan oleh temen rombongan kami.

Rasanya ini adalah perjalanan yang sangat melelahkan buat saya dan rombongan yang benar-benar belum tahu jalur pendakian Gunung Ungaran seperti apa meski beberapa kali mendapat bonus setelah kebun kopi dan perkebunan teh yang membuat sangat kagum waktu itu. Karena dibalik rimbanya hutan sepanjang jalan ada kebun teh yang terhampar hijau yang sangat menyejukkan mata.

Perjalanan kami lanjutkan dan sesekali berhenti untuk istirahat dimana jalur kala itu masih sangat rimbun dengan alang-alang yang tinggi dan perdu-perdu lain yang bisa dibuat untuk pegangan. Akhirnya kami sampai di puncak setelah adzan maghrib dan bisa dibayangkan untuk naik gunung Ungaran kami membutuhkan waktu hampir 7 jam, buat saya itu adalah rekor terlama kala itu. Kami mendirikan tenda kami sebelah timur sebelum puncak dimana dari sisi timur itu kami bisa melihat indahnya Rawapening dan kota Ungaran sekitarnya. Di sebelah utara kami bisa menikmati pemadangan kebun teh yang terhampar hijau dan itu sangat amazing. Oh ya satu-satunya pendaki wanita dirombongan kami adalah bernama Yahzu Keizi, merupakan siswa bimbel kami di GO yang berasal dari Papua Irian Jaya. Meskipun terlihat wanita berbobot namun dia tangguh untuk mencapai di puncak Gunung Ungaran.

Dari Kiri, Pak Slamet Supriyadi, Yahzu Keizi, yang merah lupa namanya

Dipuncak inilah akhirnya kami berkenalan dengan pendaki lain yaitu Rohyadi dan Ling-Ling (Linggar) yang kala itu mereka masih duduk di bangku SMK kelas sebelas. Saya sendiri banyak sekali belajar dari mereka yang sudah beberapa kali naik gunung Ungaran. Kami menghabiskan malam tahun baru kala itu dengan membakar jagung serta membuat api unggun untuk menghilangkan rasa dingin kala itu. Sampai akhirnya pagi menjelang kami mengabadikan momen-momen untuk kenang-kenangan dan saling tukar nomor HP mungkin suatu saat akan bisa naik gunung bersama.

Pukul 08:00 kamipun berkemas dan memutuskan untuk turun lewat Candi Gedong Songo dan say good bye dengan Rohyadi dan Linggar dengah harapan akan bertemu dilain waktu nanti. Perjalanan turun tak seindah yang kami bayangkan ternyata jalannya tidak jauh berbeda dengan saat pendakian sampai sampai tenda yang kami bawa karena saking beratnya terkena air hujan sering kami glundungkan yang akhirnya karena semakin kotor kena tanah semakin berat pula untuk dibawa.

Sesampai di Gedong Songo banyak sekali para pengunjung yang melihat kami dengan tatapan yang sedikit sadis, mungkin karena melihat kami yang tergopoh-gopoh dan kotor sekali seperti pulang dari sawah, tapi buat saya NONSENSE yang penting buat kami adalah selamat semuanya.

Bergegas kami membersihkan diri dan segera memesan makan untuk makan siang pada waktu itu. Setelah selesai makan siang kami pun bergegas untuk pulang dan bus kamipun sudah menunggu, bersama turunnya hujan yang lebat kala itu, kami mengucapkan syukur semua terbayar meski dengan kelelahan kami. Terimkasih kepada komandan kami saat itu yaitu Pak Slamet Supriyadi, Mas Nugroho dan rekan-rekan lain yang tergabung dan bisa menjadi cerita untuk kita kenang bersama.

Gunung Ungaran 01-01-2012