Mount Lover

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Tentang Blog Ini

Blog ini merupakan cerita murni dari penulis dari pengalaman yang pernah kami lalui, semoga blog ini bermanfaat buat pembaca dan selalu menerima kritikan yang bersifat membangun. Saya ucapkan terimakasih kepada yang telah mengunjunginya, jika anda terkesan silahkan isikan tulisan anda melalui kolom komentar atau bila membutuhkan jasa guide pendakian gunung, bisa hubungi saya, Mr.Ady, WA/SMS/Telp. 085725247115

Follow Us

Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo Part III - Jurang Mele, Nguras Air Mata

Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo Part III - Jurang Mele, Nguras Air Mata


Dari pos I Wukir Bayi, kembali kaki kami melangkah untuk menyusuri jalan setapak yang kanan kirinya ditumbuhi ilalang-ilalang liar. Sesekali tangan kami berpegangan untuk menguatkan pijakan kaki agar tidak terperosok ke semak-semak yang tidak landai lagi. Seperempat jam kemudiian kami menemui aliran sungai yang sangat jernih. Gemericik di sela - sela bebatuan yang sedikit berlumut karena seringnya dialiri air dan tidak dijamah oleh manusia. Terkesan asri dan menyejukkan mata manakala mata kami memandang di sekitar dengan perdu-perdu yang menghijau. Sejenak kami mulai mengisi botol kosong yang sudah kami habiskan di Pos 1 tadi. Buat saya sendiri bukan hanya mengisi botol akan tetapi orang Jawa bilang NGOKOP hehehehe. Bukan hanya menghilangkan tenggorokan tetapi buat bekal perjalanan menuju ke Pos 2.

Menuju Pos 2 yang dikenal dengan nama NGUDAL ini tanaman yang tinggi-tinggi dan berukuran besar sering kita jumpai di jalur ini. Karena memang jalur yang memang jarang dilewati, jalur ini memang sedikit tertutup dengan rumput-rumput hijau yang tebal. Medan yang sudah mulai menguras tenaga membuat perjalanan kami sedikit terhambat pada saat itu. Matahari mengiri perjalanan semakin terik dan setiap kalinya ketemu dengan perdu yang rimbun kami singgahkan pantat kami untuk mengambil nafas dan mendapatkan asupan oksigen dari perdu-perdu yang rimbun. 

Menuju Pos 2 kita melwati Jurang Mele. Selain teduh juga di sini sinyal hape daru semua jaringan sangat bagus untuk bisa berkomunikasi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.  Jurang Mele ini merupakan dataran yang cukup nyaman untuk beristirahat, dan di sebelah kirinya terdapat jurang yang cukup terjal yang agak panjang, mungkin ini mengapa disebut dengan Jurang Mele. Perjalanan kami tempuh tanpa terburu-buru sehingga perjalanan kami memang cukup lama dengan durasi yang seharusnya bisa di tempuh 1,5 jam kami menempuhnya kurang lebih 2 jam. 

Pos 2 Ngudal ini ada Shelter yang cukup sejuk untuk kita singgahi. Sementara itu di sisi lain shelter ini juga dekat dengan mata air dan jika kehabisan bekal air kita cukup berjalan ke arah sebelah kiri kurang lebih 5 menit kita akan ketemu aliran sungai yang sama dengan saat kita ketemu di setelah Pos 1. Sesaat kami singgah akhirnya perjalanan kami lanjutkan kembali untuk menuju ke Pos 3 yang di sebut dengan WATU KLOSO yang jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh dari Pos 2. Namun karena medan yang cukup menanjak dan cukup panjang akhir nya perjalanan kami juga tersendat, akan tetapi kami tetap enjoy menikmati setiap langkah kami.

POS 2 NGUDAL

Dari basecamp kami sudah di wanti-wanti untuk sampai di Pos 3 Watu Kloso sebelum jan 12 siang, dan puji syukur kami sampai di Pos 3 pukul 11:00 WIB. Kami pun bergegas menuruni jalur menuju sungai yang berair jernih dan sudah mulai terdengar dari beberapa ratus meter dari jarak kami. Air yang jernih, dan sejuk kita dapati di sungai tersebut. Tanpa segan-segan saya sendiri langsung meminum air yang jernih dan segar serta lebih dingin dari kulkas di rumah rasanya. Kami serombongan mulai membuat masakan untuk makan siang kami dengan menu sarden, orek tempe dan beberapa lauk lain. Cukup lama kami berada di Watu Kloso dan kami sempatkan untuk sholat Dzuhur dan dijamak dengan Sholat Ashar. Hingga akhirnya kami pukul 13:30 keluar dari sungai dan beranjak ke Pos 3 sesungguhnya yang berada di bawah Tanjakan Ondo Rante. Salah satu temen kami tiba-tiba sandal japit nya putus dan diapun memutuskan untuk tidak memakai alas apapun.

Jujur saja di Pos 3 ini saya sebenarnya sudah penasaran dengan Tanjakan Ondo Rante yang katanya super kejam, dan teman saya bilang, jika di tanjakan ini lolos, maka gunung yang lain pun akan lebih mudah. Kepoku bertambah saat kami sebelum naik tanjakan berisitirahat sesaat untuk mengumpulkan tenaga sebelum melangkahkan kaki kami.

Pos 3 Wotu Kloso

Pukul 15:00 tepat kami beranjak dari Pos 3 Watu Kloso menuju ke Pos 4 KUPATAN. Baru beberapa langkah dari tempat kami beristirahat, benar saja kami sudah disambut dengan batuan-batuan yang cukup besar sebagai pijakan kaki kami dan betul juga tanjakan ini selain kemiringan yang cukup sadis dan panjang betuuuuullll sangat menguras tenaga dengan beban di tas yang kami bawa. Sudah berjalan seharian dengan medan yang panjang dan di tiga per empat  dari perjalanan disuguhkan medan yang super duper. Ini membuat saya hanya berharap untuk segera sampai Pos 4 Kupatan. 

Waktu itu sudah 3 jam kami berjalan menyusuri Ondo Rante ini namun belum juga nongol itu papan Pos 4 Kupatan. Kurang ajarnya teman saya yang sudah tahu Pos 4 itu diam saja dan memang tidak berpapan hanya berupa dataran sempit untuk beristirahat sesaat. Sialnya lagi itu sudah lewat di beberapa tanjakan sebelum aku tanyakan. Dalam hati aku hanya bilang.... Kurang ajar ini teman njaluk di kepruki tenan iki. hahahahahaha........

Menjelang maghrib kami sampai di dataran yang cukup syahdu untuk rebahan sesaat sambil melihat rona-rona awan merah yang menandakan matahari akan tenggelam. Pohon-pohon pinus besar yang bekas kebakaran beberapa tahun silam yang memerahkan lereng lawu ini nampak berbeda dan ada kesan unik tersendiri. Di sisi lain saya dan teman-teman sudah mendambakan untuk segera mendirikan tenda untuk segera merebahkan badan kami yang sudah sangat kepayahan meskipun di sela-sela perjalanan kami sempilkan candaan untuk menghibur paras-paras wajah yang bermuka capek. 

Di Atas Pos 4 Kupatan

Pohon Pinus sisa-sisa kebakaran

Hingga suatu ketika saya sendiri sudah benar-benar di ujung kesabaran untuk berjalan dan rasanya saat itu aku mau nyerah saja dengan keadaan karena jujur saja saat itu aku lapppaaarrr sangat serta kondisi usus-usus yang tidak terkendali lagi untuk menahan rasa lapar. Sayapun akhir nya bilang sama salah satu temen yang orangnya memang wak-wakan tapi menyenangkan.

Aku: Mas aku lapar aku tak mangan disek yoo...

Aldi : Lah ngarep kui loh wes dataran penak sedelok engkas teko nggon gawe ngedekke tendo

Aku: emoh-emohh aku ngeleh tenan re mas.

Aldi: yo wes mandek sek nak anu.

Akhirnya akupun mengganjal perutku dengan beberapa roti coklat yang aku bawa, kurang lebih setengah jam aku beristirahat di situ sambil mengumpulkan tenaga sebelum kami lanjutkan ke Pos 5 CEMORO LAWANG. Dalam perjalanan saya pun bilang sama temenku

Aku: Iki Pos 5 Cemoro Lawang masih jauh toh kak aldi

Aldi ; Ngarep kui loh mas wes dataran

Aku: tenan ora kui ora sah ngasih PHP

Aldi: tenanan mas nggon Dataran Tinggi.

Aku : ASUUUUU .... tenan kowe ki

Aldi ; Hahahahahaha.......

Itulah spontanitas ucapan yang memang jarang sekali aku ucapkan, namun semua memang berupa candaan dan akhirnya kami tertawa ngakak bersama. Dengan langkah yang masih gontai, akhirnya saya lah yang terkahir sampai di Cemoro Lawang pada pukul 19:30 an. Sementara teman-teman sudah membangun tenda dan hampir jadi, saya baru unthuk-unthuk di hajar tanjakan asuuuuu nya Ondo Rante Jogorogo. Tapi kami tetap hepppier kawan hehehehehehe.

Pukul 20:00 tenda saya sudah berdiri, aku sudah merasa bodo amat dengan teman yang di luar masak-masak menawarkan jajanan satu sama lain. Aku ambil SB dan kukenakan karena kabut malam itu juga cukup tebal dan mulai menusuk tulang-tulangku. Akupun ambil tayamum dan melaksankan sholat maghrib dan isyak yang aku jamak sekalian sebelum saya benar-benar terlelap dalam buaian SB yang cukup menghangatkanku. 

Malam itu turun gerimis yang semakin membuat kami betah dalam tenda, dan dipertengahan malam akhirnya ada anak-anak mapala yang datang dan ikut bergabung dengan kami untuk camp di Pos 5 Cemoro Lawang. Oh ya Cemoro Lawang ini juga memiliki tempat yang luas untuk mendirikan tenda dengan teduhya pohon-pohon cemara yang besar dan tinggi membuat hunian kami terlindung dari rintikan hujan secara langsung serta sinar matahari di siang harinya.

Rencana kami akan summit pada pukul 04:00 WIB untuk mencari sun rise di puncaknya. Tetapi apa hendak dikata, ternyata kami bangun pukul 05:30 yang artinya sunrise pun sudah hampir menampakan wajahnya dengan kehangatan yang khas. Akupun bergegas untuk segera sholat subuh yang hampir habis waktunya. Benar saja saat keluar tenda di sebelah timur sudah ada rona-rona merah yang menyisip diatara ranting-ranting cemara. 

Pos 5 Cemoro Lawang

Pukul 06:00 kami melanjutkan perjalan tanpa beban karena tas dan tenda kami tinggal di Pos 5 dan hanya beberapa orang yang membawa day pack dan keril untuk membawa perbekalan untuk sepanjang perjalanan sebelum kami akan sarapan di warung Legenda Gunung Lawu di Mbok Yem. Kurang lebih seperempat jam kami sampai di Bulak Peperangan dan melihat banyak tenda para pendaki yang lewat jalur Candi Cetho. Ada beberapa yang melihat kami keluar dari balik bukit dan ada beberapa yang bertanya, dari jalur mana mas kalian naik. Kami hanya menjawab dari Ngawi bang. 

Disambut jalur yang landai membuat langkah kami sedikit di percepat untuk sampai di Gupakan Menjangan yang saya idam-idamkan. Saya berharap full dengan air sehingga kami bisa minum dan menambahkan air dari sana untuk bekal sampai mbok yem nanti. Cekrak-cekrek di sepanjang jalur tidak lupa kami lakukan sebagai mengabadikan moment kami yang tentu tidak akan terlupakan. Tidak lama kemudian kami sampai di Gupakan Menjangan, dan benar saja Ranukumbolo mini ini penuh dengan air. Tidak jarang para pendaki untuk berpose di telaga yang jarang penuh dengan air ini. 

Angin semilir mengiringi langkah kami untuk segera bergegas menuju persinggahan Mbok Yem untuk mengisi perut kami yang semakin keroncongan. Namun itu tertunda saat kami berada di Pasar Dieng karena saya sendiri mengingat tempat ini menjadi mula seseorang pendaki yang hilang di gunung Lawu dan hingga kini belum diketemukan. Beliau hilang dan tidur dalam hangat dekapan gunung Lawu yang entah sampai kapan akan dipertemukan. Semoga arwah beliau akan di abadi dikenang oleh para pendaki gunung Lawu untuk selalu berhati-hati dalam segala kondisi, apapun itu. Kami menyempatkan foto bersama dengan jejak si gundul dari Lamongan yang menjadi icon pendakian kami saat itu. Hehehehe.....

Pasar Dieng

Pukul 08:30 kami sampai di Warung Mbok Yem dan segera kami memesan sebanyak 13 porsi nasi pecel dan susu putih anget. Makan di depan warung mbok yem rasanya memang sangat beda ditemani dengan pemandangan yang super duper cantik dilapisi awan-awan serta kabut tipis yang semaki mempesonakan mata. Pukul 09:00 kami mulai naik ke puncak Hargo Dumilah dan setibanya di sana kami pun bersama-sama mencari spot yang cantik untuk di abadikan. Tidak lupa kami foto bersama di tugu Kiky Hargo Dumilah.

Antri Makan

Si Gundul dan Si Gondrong

Pukul 11:00 kami pun memutuskan untuk turun dan kembali ke Pos 5 di Cemoro Lawang, pukul 13:00 kami sampai dan bergegas untuk segera turun ke basecamp di Jogorogo. Pukul 13:30 kami bertiga belas mulai menuruni tanjakan asssuuuuudahlah di Ondo Rante. Tetap dengan berbagai cerita guyon dan yang laiinya kami bersama sama untuk menghibur diri dari rasa letih kami. 
Tugu Kiky, Hargo Dumilah

Pukul 17:00 WIB kami sampai di basecamp disambut dengan gerimis yang cukup menghilangkan rasa panas sepanjang perjalanan. Dan alhamdulillah ibu yang baik hati kami disambut pula dengan teh serta kopi panas untuk menghangatkan udara yang mendinginkan kami waktu itu. Sejenak rehat sambil cekrak-cekrek kami lanjutkan turun untuk ke rumah teman sebagai persinggahan terkahir kami. Sama-sama kami memutuskan untuk segera lanjut pulang ke daerah kami masing-masing karena besoknya sama-sama kerja. Pukul 20:00 we have to say good bye to each other and has planning to meet in another time. 

Rumah salah satu Teman, See You Next Time


Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo Part II - Ketemu Ciwik-Ciwik Cantik

Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo Part II - Ketemu Ciwik-Ciwik Cantik

Pos I Wukir Bayi

Kamipun bertemu dengan rombongan lain yang berasal dari Kabupaten Semarang, tepatnya anak Mapala dari Polines Semarang, yang sedang menguji juniornya dalam perjalanan lintas dari Jogorogo dan akan turun di Cemoro Kandang, Karanganyar sisi selatan yang berbatasan dengan Magetan Jawa Timur. Tim saya sendiri ada saya (Mr. Adi) dari Demak, Mas Dwi dari Ungaran, Egi Alfiansyah dan Sherif Juniar dari Lamongan, Tawon dan Rois dari Jombang, Ipunk, Aldi, Yogi dan Roni dari Jogorogo yang akan mendampingi kami sepanjang perjalanan. Dari Polines berkenalan dengan nama lapangan antara lain Ting-Ting, Genjeh, Pacet, Giri dan Aziz dan memang rencananya akan naik bersama sampai Pos I (Wukir Bayi).

Pukul 08:05 waktu itu kami mulai perjalanan kami dari basecamp naik sedikit ketemu dengan lapangan Voly. Kami di brefing sama kak Irvan Handri untuk teknis perjalanan kami dengan satu pesan yang selalu saya ingat, "Kalau Bisa Pukul 12:00 sudah sampai di Watu Kloso, jadi ke atasnya akan aman". Sesaat kami berdoa untuk keselamatan, kelancaran dan kekuatan selama perjalanan kami.

Hutan cemara menyambut kami dengan semilir anginnya yang menerpa kulit kami. Terasa sejuk dan segar untuk sebuah perjalanan di jalanan berbatu kerikil merah yang sesekali menyandung kaki jika tidak hati hati. Kabut tipis pagi itu pun cukup memberikan rasa sendiri yang mungkin tidak pernah kami rasakan di dataran rendah. Beberapa menit kemudian kami kami mendapati pohon-pohon pinus itu di kelupas kulitnya untuk diambil getahnya oleh penduduk dengan dikasih tandan dari batok kelapa atau dari bekas botol minuman.

Sesekali kami menyeka keringat kami yang mulai keluar di raut wajah kami, meskipun berudara sejuk tetap saja beban di badan kami yang membuat kami harus berkeringat juga. Tidak lupa canda demi canda yang keluar dari mulut kami yang selalu menyemangati satu sama lain. Tidak jarang kami bertemu dengan warga yang turun dari merumput untuk ternak mereka dengan beban yang mungkin dua kali lipatnya dari beban tas saya hehehe. Salut buat warga yang sudah berusia namun tenaga yang dimiliki masih di atas rata-rata. Tanaman lain yang bisa kami temukan adalah ladang kopi yang sudah berbuah, meski masih hijau-hijau namun dalam beberapa bulan ke depan akan di panen dengan kwalitas yang pasti bagus. Jalan masih banyak bonus yang datar saat kami bertemu dengan pertigaan dan kebetualan saat itu kami bertemu dengan dua pemuda yang mencari daun pisang yang akan digunakan untuk bungkus makanan dan ternyata bisa diakses dengan sepeda motor.

Tak ada dalam lintasan saya saat ketemu jalan yang sangat lebar untuk menuju pos 1, bahkan untuk sebuah truk pun bisa melaluinya. Akan tetapi karena sebuah keadaan alam dan faktor yang lain dan tidak memungkinkan kendaraan melaluinya kecuali motor trail. Semoga kedepannya lebih bisa dikelola lebih baik lagi. 

Langkah semakin kami percepat, mengingat jalan yang enak dan bersahabat. Bayangan saya adalah Pos 1 segera kami dapati, mengingat perjalanan kami sudah hampir 1, 5 jam, pun belum tampak yang namanya Pos 1. Jalan yang masih berbatu dan tertata cukup rapi membawa kami ke sebuah belokan dan terdapatlah shelter yang cukup luas dan memang Pos 1 sudah terlihat. Pos 1 ini kondisinya cukup luas dan cocok untuk kegiatan out bond, selain teduh dan sumber mata air juga dekat dan tempat ini cukup terjangkau. Untuk tenda bisa memuat kurang lebih 40-60 tenda yang berkapasitas 4 orang.

Pos 1 yang diberikan nama WUKIR BAYI. Tempat ini masih berada di ketinggian kurang lebih 900 MDPL. Kata Wukir Bayi yang diambil dari kata, Pawukir Bayi. Tempat memandikan Bayi jaman dahulu kala. Selain itu Wukir Bayi juga memiliki filosofi yang tinggi yang mana para peziarah tidak terlalu paham nama desa Kletekan, tidak terlalu peduli dengan nama Randu Kuning tetapi mereka akan sangat familiar dengan nama Wukir Bayi. Di Pos I Wukir Bayi ini sampai saat ini juga masih sangat menghormati kepada para leluhur sebagai bentuk kearifan lokal yang harus dihormati untuk para penerusnya. Setiap tahun sekali Perum Perhutani melakukan tradisi Wedus Kendhit yaitu acara penyembelihan kambing dan masak-masak secara mendadak. Kegiatan ini dilakukan oleh Perum Perhutani bersama Penyadap pinus sebagai bentuk rasa syukur mereka kepada Allah SWT atas rezeki yang telah diberikan. Makan bersama dan turut mengundang warga untuk makan bersama menjadikan warga guyub dan tanggap disetiap melakukan aktivitas. Menurut mereka rasa syukur itu adalah yang utama jika kita pandai mensyukuri apa yang Allah berikan maka senantiasa guyup masyarakat itu akan selalu berkesinambungan.

Apa Bedanya dengan foto yang di atas hayooooo

Di Wukir Bayi inilah kami beristirahat cukup lama di shelter yang terlihat asri diantara pepohonan rimbun yang menjadikan tempat ini sejuk. Setelah melewati jalan yang cukup panjang menuju lokasi ini kami minum dan makan camilah yang sudah kami bawa satu persatu kami keluarkan dan kita menikmati bersama sambil sesekali menikmati pemandangan di sekitar yang masih rimbun dan asri.

Lokasi ini menjadi tempat buat makrab kami dengan mahasiswa dari Polines yang sedang mengadakan Diklatsar anggota Mapala nya yang sudah berangkat terlebih dahulu dengan jalur yang memutar. Kami kenalan satu persatu dan uniknya team mapala mereka memiliki nama lapangan yang lucu-lucu. Ada yang namanya Gajeh, Pacet, Ting-Ting, Amsyong dan Dugong temen saya sendiri ada yang namanya Twon dan dari nama itu memiliki cerita tersendiri buat mereka. Karena mereka kebanyakan cewek-cewek yang enak buat dilihat ehhh..keceplosan jadi memberikan semangat tersendiri buat kami para cowok cowok bang jon kecuali aku yang sudah tuwir sendiri hehehehe. Sudahlah lupakan saja hanya sebatas guyonan hehehehe.

Sesi cekrek-cekrekpun kami lakukan sebelum kami melanjutkan perjalanan kami menuju pos 2.

Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo - Part I ( Pengobat Kecewa)

Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo - Part I ( Pengobat Kecewa)

Gunung Lawu

Perencanaan yang gagal akhirnya saya mengalihkan tujuan untuk tetap berjalan di sebuah pegunungan bersama teman saya mas Dwi dari Ungaran. Awalnya kami akan pergi ke Gunung Gede Pangrango bertepatan dengan pelaksanaan pernikahan keponakan saya yang di Jakarta yang terjadwal tanggal 9 April 2021. Berkoordinasi teman-teman yang di Jakarta dan Bogor sudah saya lakukan, namun akhirnya semua ditunda karena akad nikah yang ditunda menjadi tanggal 31 Juli 2021 nantinya. Untuk mengobati rasa kecewa akhirnya kami alihkan tanggal tersebut ke Gunung Lawu yang tidak seperti biasanya.

Kami mengambil jalur yang jauh dari keramaian dan sangat jarang di lewati oleh pendaki kecuali penduduk lokal yaitu Gunung Lawu dengan jalur pendakian Jogorogo Ngawi, Jawa Timur. Jalur ini merupakan jalur terpanjang di Gunung Lawu yang dimulai pendakian dari ketinggian 500 an MDPL. Sementara yang lain jalur pendakian sudah dimulai di atas 1200 an MDPL.

Singkat cerita kami mulai perjalanan kami dari tanggal 8 April 2021 yang saat itu memang sudah terjadi grup mini di WA dengan teman-teman dari Lamongan dan Jombang yang ingin bergabung dengan kami untuk mencoba jalur Gunung Lawu Via Jogorogo. Ada Egi Firmansyah dan Sherif dari Lamongan serta Mas Tawon dan Rois dari Jombang, ditemani relawan basecamp mas Aldi dan mas Ipung. Akan tetapi pada prakteknya masih ada dua orang lagi yang mbarengi kami yaitu mas Yogi dan satu lagi saya lupa namanya. Saya sendiri berangkat dari Demak pukul 14:00 siang dengan mengendarai motor matik saya dan janjian sama mas Dwi di terminak Tingkir pukul 18:00 sore karena mas Dwi nya baru keluar dari pekerjaan pukul 16:00 nya. Saya sampai di terminal tingkir pada pukul 4 sore dan langsung ke mushola untuk menunaikan sholat ashar.

Usai Sholat ashar saya langsung berbaur dengan anak-anak bus mania di terminal Tingkir yang sore itu cukup ramai. Setiap bus yang jadi pelari kami foto satu-satu apalagi kalau yang datang bus Haryanto dan STJ, auto penggemarnya merapat semua termasuk saya hehehehehe....

Bersama temen-temen bus mania dan Mas Rehan Pedagang Cilok yang super koca

Momen-momen itu saya abadikan dengan kameraku yang sudah menua, hingga akhirnya ada kebersamaan berfoto dengan anak-anak bus mania yang salah satunya pedagang cilok yang sangat ramah dan baik hati minta di foto bareng dengan latar belakang bus Haryanto. Kamipun sambil bercerita dan bercanda hingga adzan maghrib berkumandang. Sejenak temanku yang dari Ungaranpun juga sudah sampai. Bergegas kami segera laksanakan sholat Maghrib dan di jamak dengan Sholat Isyak sebelum kami bertolak menuju ke kota Ngawi. 

Sebelum perjalanan kami mulai, saya menitipkan motor saya di parkiran belakang terminal dan akan saya ambil hari Minggunya. Pukul 6:30 malam itu kami mulai perjalanan dari Salatiga dan awalnya aku yang berada di depan untuk mengendarai motornya mas Dwi. Sementara dari Jombang juga sudah mulai bergerak untuk meninggalkan kotanya dengan tujuan yang sama yaitu Kota Ngawi dan ke basecamp Jogorogo. Malam itu kami sampai di kota Solo sekitar pukul 19:30 yang akhirnya Mas Dwi lah yang mengendarai sepeda motor karena harus menggunakan Google map untuk mempermudah perjalanan kami. Kota Sragen kami lalui pukul 20:00 an sementara yang dari Jombang sudah sampai di Ngawi dan mendekati Jogorogo. Sementara yang dari Lamongan belum bergerak sama sekali dari kota nya karena masih menunggu mas Sherif yang baru keluar dari tempat kerjanya pukul 18:00. Alhasil kami segera menuju ke Ngawi dan sekitar pukul 21:00 kami sudah berada di Ngawi menuju segera munuju ke Pasar Jogorogo yang menjadi tempat bertemu kami. 

Pukul 21:30 kami sampai di Pasar Jogorogo dan yang dari Jombang sudah berada di tempat mas Irvan Handri yang beralamat Dukuh Pocol Ds Kletekan RT 05 RW 04, Jogorogo, Ngawi. Kami dijemput mas Irvan di pasar yang sebelumnya kami sudah keblabasan menuju kota Ngawi sekitar 6 km hahahaha. Gagal fokus karena perut mulai laperrrrrrrrrrrrrrrrrr. Namun karena sudah ada janji yang membawakan nasi Boran khas Lamongan akhirnya kami memutuskan untuk tidak makan di perjalanan melainkan menunggu yang dari Lamongan. Tapi eh tapi.... ternyata aku salah sangka, yang sudah sampai di tempat mas Irvan itu adalah teman yang dari Jombang dan nothing nasi Boran. Saking lapernya aku tidak malu-malu untuk menembung ke mas Irvan buat makan malam, memang sudah di siapkan sebenarnya hahahaha. Wahh lauknya ampuuun dahhh kesukaan saya semua, Sayur Gori Kemarin, Tuntuman dan ikan asinn... auto nambah pokoke apalagi temenku yang sudah kelaparan mas Dwi, awale malu-malu tapi akhire nambah juga hahahahahha.... gak usah isin-isin pokoke.

Karena lelah dalam perjalanan kamipun terkantuk dan tertidur lelap hingga akhirnya terbangun karena yang dari Lamongan datang pada pukul 01:00 dini hari. Pun temen saya tetap terlelap tuh tanpa harus terganggu sedikitpun. Nah disitulah akhirnya nasi boran nya sudah tercium bau nya dan saya pun sempat mencicipi meskipun sedikit karena memang cukup pedas buat saya hehehehe... maaf ya mas Sherif. Namun rasa penasaran itu kan sudah tidak lagi seperti apa rasa nasi Boran itu ???

Nasi Boran Khas Lamongan

Tak seberapa lama kamipun semua putuskan buat rehat sampai subuh hari, meski sebentar kamipu cukup nyenyak. Sebenarnya dalam jadwal kami berangkat pukul 06:00 pagi start dari basecamp untuk perjalanan kali ini, akan tetapi semua tidak bisa dipaksakan untuk sesuai dengan jadwal karena berbenturan dengan perjalanan yang jauh dan kondisional sebuah pekerjaan itu lebih penting dibanding sebuah hiburan perjalanan. Usai sarapan dengan nasi Boran dan ada menu-menu lain yang sudah di depan mata kami menyantap dengan lahab tanpa basa basi sedikitpun. Kami berangkat ke basecamp Jogorogo sekitar pukul 07:30 dari rumah mas Irvan Handri. Karena masih ada beberapa bekal yang kami beli di jalan serta jas hujan yang kelupaan membawa, kami singgah di warung sesaat untuk melengkapinya. 

Perjalanan ke basecamp Jogorogo cukup bagus juga viewnya dan kami melewati beberapa perkampungan yang kanan kirinya terbentang sawah yang teras iring di latarbelakangi dengan bukit-bukit di kaki Gunung Lawu. Kata satu temen saya mas Sherif, "Aku tidak pernah menyangka jika kota Ngawi itu punya gunung yang sebesar ini dan berhawa sejuk". Nyatanya tetap nyegerin tanpa harus minum Sprite hehehehhe. Karena udara yang sejuk dan air yang masih bersih semuapun terlihat bersih di perkampungan menuju basecamp ini. Jalan yang sudah beraspal dan betonisasi yang mempermudah kami sampai di basecamp yang berujung batu yang tertata rapi pun kami tidak kesulitan untuk sampai di basecamp.' Dengan nomor kontak person Basecamp Pendakian Lawu via Jogorogo 0857-3552-9131 (Irvan Handri)

https://maps.app.goo.gl/UKn6P4CmRiM8F5bd6

Basecamp & Lapangan Voly yang menjadi start Pendakian

Sesampai di basecamp kamipun sudah ditunggu oleh rekan-rekan yang sekaligus relawan yang akan mengantar kami. Nah disitulah buly demi bulyan dimulai dari jam yang molor serta ada saja yang di buat ngebanyol yang terkadang nganyelake tapi seru. Namun di sisi lain adapula peserta lain yang akan naik gunung Lawu yaitu anak-anak Mapala dari POLINES Semarang yang sedang memantau adik-adiknya yang sudah naik duluan. Akhirnya kami berlima belas (15) naik bersama sesuai arahan Kak Irvan Handri sampai pos 1, karena jalur menuju pos 1 memang banyak cabangnya yang ditakutkan kesasar tentunya. Kalau setelah Pos 1 terserah saja kata beliau (kak Irvan Handri).

Akses Menuju Jogorogo jika naik transportasi umum, baik naik bus dari arah timur atau barat lebih baik turun di kota Ngawi, dari sana biasanya sudah ada travel yang siap mengantar untuk sampai ke basecamp dengan harga juga masih relatif murah lah untuk kantong para traveler. Jika naik motor atau mobil pribadi tinggal klik link di atas, insya allah sudah teraksesable di google map, jadi jangan khawatir kesasar hehehehehe...................

Cerita Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo Part II judul (Jalur Jogorogo Menyapa) will be coming soon




Piknik di Gunung Andong Bersama SMA Muhammadiyah I Demak

Piknik di Gunung Andong Bersama SMA Muhammadiyah I Demak

Tidak terlintas sebelumnya dalam benak saya dan teman-teman saat sekolah kami memiliki kesempatan untuk mengadakan kegiatan rutin dua tahunan sekali. Biasanya sekolah kami mengadakan piknik di tempat wahana permainan selera anak-anak muda jaman sekarang dan diakhiri dengan belanja kesukaan anak muda di tempat-tempat yang menjajakan makanan khas suatu daerah saat pulang dari tempat wisata tersebut. 

Namun kali ini tiba-tiba kepala sekolah memanggil saya untuk menghadap di ruang kerja beliau. Saya hanya mengira urusan kegiatan PPDB di sekolah kami. Namun ternyata jauh diluar perkiraan saya yang ditanyakan kepada saya. Beliau bilang kepada saya, Mr jika kegiatan rutin dua tahun sekali sekolah kita diadakan tazabur alam bagaimana??

Tapppppp... pikiran saya seperti gayung bersambut saja hehehe. Mungkin juga karena kepala sekolah kami, melihat saya suka mbolang dan akhirnya meminta saya untuk mengurus segala keperluan tersebut. Dipilihlah Gunung Andong yang sangat ramah untuk mereka para pemula dengan medan yang tidak begitu terjal serta jarak tempuh yang tidak terlalu lama.

Setelah fix dengan hari yang ditentukan, saya awali dengan survei lokasi tempat yang pas untuk dijadikan tempat mendirikan tenda nantinya. Terpilihlah puncak makam Joko Pekik yang sedikit berlembah dan lebih nyaman dan aman jika terjadi badai saat sudah mendirikan tenda. Singkat cerita di lokasi tersebut sudah tersedia toilet dan ada lapangan yang cukup luas untuk sekedar dibuat arena bermain. Lokasi yang dibuat berundak untuk mendirikan tenda membuat view yang cantik dengan latar belakang Puncak Alap-Alap yang terlihat pula Gunung Telomoyo di baliknya. Selain itu saya pun berkoordinasi dengan pihak basecamp Andong (Bapak Aji) di basecamp bambu yang berdekatan dengan masjid serta memiliki halaman parkir yang cukup luas.

Di hari H keberangkatan perjalanan kami mulai dari kota Demak pukul 08:00 dan sampai di basecamp pada pukul 10:30 dengan mengendarai bus mini dua buah. Sesampai di lokasi kami istirahat sebentar dan beberapa menit kemudian kami melakukan kegiatan Pelantikan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan pelantikan Hisbul Wathan (HW) di halaman basecamp. Hanya 45 menit kegiatan itu akhirnya diakhiri dengan doa penutup dan setelahnya bergegas sholat dhuhur yang dijamak dengan sholat ashar berjamaah di masjid. Makan siang sudah disiapkan dari Demak oleh panitia dan dibagikan kepada murid-murid dan kitapun makan siang bersama. Dari raut wajah anak-anak sebenarnya sudah tidak sabar untuk segera naik dengan mereka yang sering keluar masuk dan memandang Gunung Andong di belakang basecamp Bambu mas Aji. 

Pelantikan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM)

Pelantikan Hisbul Wathan (HW)

Sebelum keberangkatan naik tetaplah koordinasi dengan basecamp serta membayar tiket dan menyewa beberapa perlengkapan yang dibutuhkan oleh siswa dan guru pendamping yang terdiri dari 20 siswa serta 9 guru pendamping dan 4 anak kecil yang ikut perjalanan kami. Dalam kegiatan awal adalah kami meminta pihak basecamp untuk memberikan pengarahan kepada siswa-siswi kami serta pembagian jatah masing-masing untuk makan malam, snack, perlengkapan untuk camp yang dibawa masing sehingga semua merasakan termasuk bapak ibu guru pendamping juga mendapat jatah yang sama.

Pukul 14:00 perjalanan kami mulai dari basecamp. Untuk saya sendiri alhamdulillah anak kecilku sudah tidur siang, jadi saya rasa aman dan tidak akan rewel di perjalanan. Semangat yang menggebeu untuk merasakan sensasi anak tangga menuju pos satu akan mereka rasakan. Saya sendiri karena harus mengurus beberapa administrasi akhirnya saya berangkat paling belakang. Kami pun menyusul dan saya sendiri membiarkan anakku yang berusia 4 tahun juga jalan sendiri, untuk dia adalah yang kedua kalinya naik gunung Andong.

Perjalanan kami disambut dengan kabut tipis yang menerpa dingin di kulit kami yang membuat kami meskipun berkeringat terasa dingin. Semilir angin yang sejuk yang mungkin bagi anak-anak kami jarang dirasakan di kota panas seperti lokasi sekolah kami, seakan membuat mereka tetap bersemangat untuk tetap melanjutkan perjalanan. Terutama anak-anak laki-laki yang seakan berlomba untuk segera sampai di puncaknya. Namun karena kebersamaanlah yang membuat kami tidak serta merta bergegas untuk siapa yang paling dulu sampai di lokasi. 

Setelah pos 2 dengan medan yang cukup menguras energi, beberapa siswa terutama yang perempuan sudah mulai goyah dengan setiap bawaannya yang akhirnya tetap teman-teman dan guru pendamping yang memback up mereka. Jujur saja hampir semua siswa ini adalah kali pertamanya naik gunung dan termasuk beberapa guru putri, meskipun mereka terbiasa ngecamp tetaplah berbeda dengan naik gunung yang memang membutuhkan tenaga ekstra terutama yang membawa anak kecil seperti saya dan bu Ria yang memang anak kami seusia. 

Satu demi satu pos kami lalui hingga kami sampai di Pos 3 Watu Wayang, di sana kami istirahat cukup lama, dan sambil menikmati jajanan yang dibelikan pak ustad tadi hehehe. Semilir angin dingin dan kabut tipis membuat anak-anak kami semakin betah dan sesekali memandang Gunung Merbabu dan Merapi di sebelah Selatan serta Gunung Sumbing Sindoro di sebelah Barat. Tidak lupa cekrak cekrek untuk mengabadikan momen yang sangat berharga buat mereka. Ada pula yang merekam yang nantinya akan menjadikan kenangan tersendiri buat mereka.

Pos III Watu Wayang Dengan Latar Belakang Gunung Merbabu Merapi

Tidak lama kemudian kamipun melanjutkan perjalan menuju lokasi yang sudah saya tentukan untuk mendirikan tenda. Kurang lebih seperempat jam, akhirnya kami sampai di tempat tujuan tepatnya pukul 15:30 WIB. Berteriak dengan keras adalah cara mengekspresikan luapan bahagia mereka ketika sampai di lokasi. Tidak berhenti begitu saja, pada saat itu anak laki-laki yang sudah terkelompok dan sebelumnya sudah saya ajarkan untuk membangun tenda, dengan sigap mereka langsung mendirikan tenda dengan tetap jaga jarak sebagai penerapan protokol kesehatan di musim pandemi ini. 

Ada kejadian lucu yang menurut saya, dengan pembagian tenda kepada anak-anak dan salah satunya ada tenda saya yang biasa kami gunakan tidur di rumah malam minggu bersama anak kecilku yang akan di pakai ustad Firqi akhirnya dilihat anakku. Sementara saya sendiri sudah mendirikan tenda yang memang anakku belum pernah lihat sebelumnya. Al hasil anakku nangis dan nangis tendanya tidak boleh dipakai orang lain dan dia ingin tidurnya pakai tenda itu. Beberapa kali aku membujuk dan memberikan pengertian kepadanya, tetaplah pendirian yang kuat untuk si oik. Kekeh untuk memakai tenda tersebut. Mengalahlah aku akhirnya daripada nanti dia tetap ngambeg. Kemudian tenda aku pindah sejajar dengan tenda yang aku bangun sebelumnya. Demi kenyamanan dan tidak bocor jika terjadi hujan aku pasang flysheet yang cukup lebar dan cukup nyaman. Baru diam anakku hehehehe....

Sementara yang perempuan sambil menunggu tenda terbangun mereka asik mengabadikan moment, yang mana pada sore itu cuaca sangat cerah. Kabut tipis yang tadi berhembus sirna membuat mereka berlomba-lomba untuk mengabadikan momen yang tepat. Anak-anak kecil juga berlarian kesana kemari tanpa rasa takut sedikitpun. Saya sendiri juga tidak terlalu khawatir terhadap anak saya yang naik turun dan terpantau dari jarak pandang saya. 

Menjelang sholat Maghrib dari masing-masing guru pendamping mendampingi anak-anak untuk melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan Roundown acara yaitu sholat jamaah dan dilanjutkan baca al qur'an bersama untuk surat-surat pendek. Adapun yang laki-laki di dampingi Ustad Firqi dan yang perempuan mereka mandiri dan didampingi guru-guru karena yang awalnya ustazah akan ikut namun berhalangan dengan kegiatan kampusnya. Selepas kegiatan selesai mereka makan malam dan mereka dengan kegiatan masing-masing. 

Puncak Makam Joko Pekik, Lokasi Tempat Mendirikan Tenda

Untuk saya sendiri karena capek ternyata anakku tidur lebih awal, aku hanya berjalan di sekitar tenda sambil mengawasi anak-anak. Ada yang naik ke puncak Jiwo dengan alasan sambil mengecas HP lah atau apalah, yang kami ia kan saja. Kami percaya mereka tidak akan macam-macam di sana. Pun di sana ada mas Adi (Dobleh) yang sengaja diutus basecamp untuk ikut mengawasi anak-anak kami. Pada akhirnya kamipun asik dan menikmati malam itu dengan kegiatan kami masing-masing. Kira-kira pukul 10 malam hujan rintik mulai turun dan kamipun memasuki tenda kami masing-masing untuk. 

Subuh hari kami dibangunkan oleh alarm yang berbunyi yang sudah di setting sebelumnya. Sholat shubuh berjamaah oleh santri santri. Karena saya antri dan saya sholat sendirian. Diakhir salam terdengarlah anakku menangis, usai salam saya lari menuju tenda dan mendapati anakku sudah terbangun sambil sesenggukan yang saya tinggal sendirian. Hehehehe. Aku dekap dan kuusap air matanya untuk memberikan rasa aman dan nyaman. Tidak beberapa lama kemudian kamipun keluar tenda untuk menikmati udara pagi itu yang masih tetap berkabut sisa badai semalam. 

Menjelang Sun Rise kamipun bergegas ke puncak gunung Andong yang biasa disebut dengan Andong Peak dan menikmati pemandangan yang di sekitar gunung Andong. Ladang yang berkelok-kelok menambah cantik dengan kabut tipisnya. Meski mentari pagi itu tidak nampak tetaplah kami senang bisa menapakkan kaki-kaki kami di puncak tertinggi gunung Andong ini. Mentari yang tak kunjung nampak membuat kami kembali camp area.

Makan pagi dengan menu alakadarnya yang dibawa anak-anak, mereka mencoba dan memasak sendiri. Ada yang bawa mie instan, energen, minuman penghangat dan lain sebagainya. Saya sendiri membuat nasi goreng ala-ala yang dicampur dengan daging burung yang cukup mantap rasanya. Karena membuat porsi banyak , aku bagi-bagikan ke guru lain dan siswa yang rata-rata sedang semego (sedang lahab-lahabnya makan) jadi keingat masa muda dulu ya hehehehe.

Sarapan usai, untuk menghilangkan rasa dingin kamipun diajak guru olah raga untuk bermain di depan warung air dengan beberapa permainan antaralain, menyanyikan lagu "Sedang Apa" saling bersahutan dengan tim laki-laki dan perempuan dan yang kalah adalah skotjam lima kali. Kedudukan seimbang antara mereka dan sama-sama mendapatkan hukuman sekali. Kemudian dilanjtukan permainan ambil botol yang start awalnya lari dengan berjongkok baik putra ataupun putri. Permainan terkahir adalah permainan tradisional Ulo-Ulo Cabe. Saya merasa ini menjadikan pengalaman yang tak terlupakan buat mereka dan alhasil dari permainan itu adalah tetap kami merasakan sebuah kehangatan diantara perdu-perdu kecil yang terambing oleh angin sepoi-sepoi gunung Andong. 

Suasana Pagi Hari di Camp Area

Anak-Anak Kecil Tangguh

Berkemas kurang lebih setengah jam, pukul 09:00 kami berpamitan sama simbah Tumar sang Penunggu Gunung Andong yang ternyata beliau sudah berusia 80 tahun dan beliaulah yang membuat jalan pendakian dari tahun 1980 an lalu. Tidak lupa sampah-sampah kami bersihkan untuk dibawa turun supaya kebersihan tetap terjaga. Ingat pepatah gunung yang banyak sekali di ucapkan oleh mereka para pecinta alam yakni

"Janganlah kau bunuh sesuatu kecuali Waktu"
"Janganlah kau tinggalkan sesuatu kecuali Jejakmu"

"dan janganlah kau petik sesuatu kecuali Gambar dengan kameramu"

Simbah Tumar

Keceriaan yang terpancar pagi itu dan sampailah kami sampai di basecamp pukul 10:20. Belum juga menempatkan pantat kami, tiba-tiba salah satu anak kelas 12 mendekati saya mengusulkan nanti perpisahan anak kelas 12 di gunung saja ya mister. Ampunnnn ampuuun... akhirnya terkontaminasi juga itu bocah yang awalnya berfikir negatif untuk sebuah pendakian. Heheheheee..... semoga keinginannya tersapaikan nanti, aamiiin.

Tips Sederhana Mengenalkan Anak Dengan Alam

Tips Sederhana Mengenalkan Anak Dengan Alam

Mengenalkan anak anak saya kepada alam sebenarnya sudah menjadi keinginan lama sekali. Namun karena berbagai pertimbangan akhirnya mendapatkan momen yang pas untuk mengenalkan anak-anakku ke alam. Sebenarnya setiap saya mudik ke tempat mbah kakung saya selalu menyempatkan untuk pergi ke sawah atau ladang, tujuan saya agar mereka terbiasa di alam yang jauh dari keramaian kota yang isinya dengan bangunan-bangunan dan tumbuh-tubuhan yang mulai jarang. 

Sebelum saya mengenalkan anak-anak ke alam, khususnya ke dunia pendakian gunung saya selalu membawa boneka yang saya jadikan mimpi untuk suatu saat nanti bisa membawanya untuk menikmati dan mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kami.

Kesempatan itu akhirnya datang juga untuk anak ke dua ku. Namanya Ahmad Thoriq Arridwan yang saat ini berusia mau empat tahun. Sebelum keberangkatan terlebih dahulu saya terlebih dulu bercerita tentang rencana untuk nai gunung kepada si Oik. Dari ekpresinya memang semangat sekali, selain itu saya sendiri selalu mengajak si Oik nonton beberapa video tentang pendakian. 

Kesempatan itu saya dapatkan saya keponakan saya dari Jakarta pulang kampung untuk mengadakan penelitian di tempat alumni sekolah SMA nya dulu. Selain itu dia juga mengerjakan ujian TOEIC untuk keperluan kelulusan di Kampusnya. Dalam hati saya bilang kurang ajjaar ini bocah, giliran ada test bahasa Inggris selalu mendakati omnya untuk bantu mengerjakan. Aku sihhh enjoy enjoy saja sebenarnya, itung-itung aku sendiri juga mengetes kemampuan saya juga hehehe. Alhasil score dari TOEIC keponakan saya memang di atas rata-rata karena standar yang harus didapat scorenya minimal 200 baru bisa mencetak sertifikat, namun ini melebihi apa yang di standarkan. Senengnya yaaa bukan main meskipun hasil dari omnya hehehee. Akhirnya saya ditanya mau minta hadiah apa om, hwaduh ditanya seperti itu, wahhh kesempatan ini aku minta naik gunung saja yang pas dan tidak tinggi-tinggi buat anakku. Gunung Andong jawabku seketika itu, sekalian dia juga belum pernah naik ke sana juga. 

Tepat hari Minggu pagi, perjalanan kamipun dimulai berangkat dari rumah pukul 07:30, dengan semangat pagi yang cukup cerah saya melajukan motor ke arah Salatiga. Namun baru beberapa kilometer anakku sudah terpulaskan oleh hawa semilir di atas motor hingga menjelang kota Salatiga, tepatnya di kota Bawen. Kami mampir ke Indomaret untuk membeli keperluan pendakian sekaligus minum untuk menyeka tenggorokan yang mulai kehausan. Beberapa menit kemudian kami lanjutkan perjalanan kami menuju ke Gunung Andong dan kami memilih basecamp Sawit yang jalurnya memang ramah dan tidak terlalu terjal. 

Oh ya tidak lupa dalam perjalanan kali ini saya bawakan mainan kesukaan anakku yaitu Helikopter mini putih yang aku beli saat dia umur 2 tahunan. Singkat cerita setelah registrasi dengan membayar Rp 40.000 untuk dua orang kamipun memulai perjalanan kami pada pukul 09:30. Si Oik pun berjalan dengan semangatnya. Karena hari Minggu pada saat naik kamipun berpapasan dengan para pendaki lain yang sedang turun. Melihat semangatnya anak saya yang berjalan sendiri tidak jarang banyak yang memberi semangat dan TOS persahabatan dan itu membuat si Oik semakin semangat untuk berjalan. 

Menuju Pos I 

Pos satu Watu Pocong pun dilewati dan beberapa kali kami istirahat untuk minum dan mengabadikan momen tersebut. Mendekati Pos dua, karena banyak yang istirahat kamipun melanjutkan perjalanan ditengah-tengah rimbunnya perdu-perdu di sepanjang jalur pendakian. Sesekali istirahat dan memandang gunung Merbabu yang menjulang tinggi di belakang kami. Sawah yang berkelok-kelok di bawah juga menambah asri pemandangan di sekitar Gunung Andong yang memiliki ketinggian 1726 ini. Pada jalan berikutnya sudah terlihat kecapekan dan akupun menggendong si Oik hingga Pos 3 Wayangan. Cukup lama kami istirahat di pos ini, selain menjadi spot yang bagus tempat ini juga ada shelter untuk rebahan yang sangat nyaman sambil menikmati cemilan yang kami bawa.

 
Pos III Wayangan

Melanjutkan perjalanan selanjutnya, si Oik masih minta gendong dan karena memang masih anak-anak hehehe. Jalan datar yang kemudian kami dapati akhirnya saya berikan pengertian ke anakku untuk berjalan sendir. Sembari saya gandeng dan berjalan pelan-pelan anakkupun mulai melangkahkan kakinya lagi. Sampai di pertigaan puncak Makam ki Joko Pekik, kami bertemu dengan keluarga yang juga membawa anak kecil yang seusia hanya terpaut beberapa bulan. Ehh lucunya si anak pengen ngajak naik lagi bareng sama anakku sampai mau menangis hehehe. 

Kamipun bergegas setengah lari untuk menuju ke Puncak Jiwo yang mulai sepi dari para pendaki, hanya beberapa orang yang masih bertahan dengan tendanya, itupun mereka sudah siap siap untuk turun. Kamipun singgah di warung yang berada di Puncak Jiwo dan memesan minuman untuk menemani camilan roti yang kami bawa. Si Oik asik dengan mainan serta makan coklat kinderjoy yang dibelinya di Indomaret tadi. Rasa penasaran dengan isinya kemudian di bukalah coklat dan mainannya, setelah rasa penasaran hilang dan rasa yang kurang cocok akhirnya sayalah yang menghabiskannya.

Seperempat jam kami berada di warung dan kami melanjutkan ke puncak Andong Peak dan mengabadikan momen. Kabut tipis yang sejuk seakan menyambut kami di Andong Peak dengan latar belakang gunung Merbabu yang gagah, gunung Ungaran yang terlihat malu-malu serta samar-samar gunung Sindoro dan Sumbing. Di sebelah timur Gunung Telomoyo sudah mulai tertutup kabut saat itu. 

Andong Peak 1726 MDPL, Anaknya tau mau di foto hahahah


Giliran ini di curi-curi untuk di foto bersama mainannya

Kami memutuskan untuk mengambil lintas dengan turun di Basecamp Pendem yang memang saya sendiri belum pernah melewatinya. Naik ke Puncak Alap-Alap terlihat mata anakku sudah redup yang bertanda dia sudah mulai mengantuk, karena memang sudah mendekati pukul 12:00 siang saat jam tidurnya. Dan sejurus kemudian pundakulah yang menjadi taruhannya sepanjang turun di jalur Pendem ini. Lebih terjal dibanding dengan jalur Sawit dan sedikit memutar yang menuruni bukit dan hutan pinus. Sampai di Pos 1 Pendem mendung mulai menggelantung dan kamipun mempercepat langkah kami agar segera sampai di basecamp Pendem. 

Watu Topo jika tidak salah namanya

Sampai Bawah Minta Gendong Terusss

Mendekati pintu gerbang Basecamp Pendempun gerimis sudah turun, namun kami sempat mengabadikan momen di sini sebelum kami singgah di warung. Beruntung ada tukang ojek yang akhirnya mengantarkan kami ke basecamp Sawit, namun karena uang kami yang waktu itu tidak ada kembalian akhirnya beliau mengkikhlaskan dan gratis untuk kami. 

Aku sudah bawa Anak, jadi aman untuk foto disini hehehehehe

Sesampai di basecamp saya pun memesan makanan buat makan siang kami bertiga, setelah makan dan sholat saya bermaksud untuk menidurkan anakku, namun tidak bisa tidur mungkin karena belum terbiasa dan akhirnya kami putuskan untuk segera pulang. Pukul 14:00 kami menuju kembali ke kota Demak dan baru beberapa meter dari basecamp anakku sudah terlelap hingga sampai di Semarang. Alhamdulillah perjalanan kami diberikan keselamatan dan cuaca yang cerah meskipun pada saat itu bulan yang lagi deras-derasnya hujan. Begitu sampai rumah anakku cerita sama kakak dan ibunya kalau habis naik gunung, dan ada cirikas baru saat TOS dengan tinju yang selalu dipraktekkan kepada saya sampai saat ini. Kesan yang melekat Tos Tinju adalah saat ketemu pendaki lain yang mengajak Tos di perjalanan seakan membuat anakku memiliki rasa tersendiri meskipun hanya sepintas di jalur pendakian.

Pintu Gerbang Basecamp Pendem

Tips mengajak dan mengenalkan kepada anak-anak naik gunung:

1. Carilah gunung yang tidak terlalu tinggi.

2. Bawalah teman atau keluarga lain untuk memback up membawakan barang-barang keperluan kita

3. Bawalah makanan kesukaan anak kita.

4. Bawakan mainan kesukaannya sehingga anak tidak segera bosan.

5. Jika harus camp, lengkapilan peralatan senyaman mungkin, dan untuk saya sendiri terkadang di rumah kami juga tidur di tenda untuk membiasakan anak merasakannya sebelum benar-benar merasakan di alam sesungguhnya.





Pendakian Gunung Sumbing Via Basecamp Adipuro, Kaliangkrik, Magelang

Pendakian Gunung Sumbing Via Basecamp Adipuro, Kaliangkrik, Magelang


Perjalanan kami untuk kembali mengajakkan kaki ini melangkah di Gunung Sumbing ini sudah terencana saat salah satu grup WhatsApp Puisi Para Pendaki yang kala itu berkeinginan mau mencoba naik gunung Sumbing. Dari sinilah akhirnya kami berkoordinasi untuk merencanakan hari, tanggal dan waktu. Akhirnya kami memilih pada tanggal tiga belas dan empat belas Februari dua ribu dua puluh satu. Kebetulan tanggal tiga belasnya merupakan Tahun Baru Imlex jadi ada libur yang cukup panjang selama tiga hari. Rencana awal kami akan naik gunung Sumbing via Bowongso, namun karena masih pandemi dan musim hujan yang intensnya masih tinggi jalur ini masih ditutup untuk pendakian. Option ke dua akhirnya kami mencoba menghubungi basecamp Kaliangkrik sekalian ingin melihat Nepal Van Java kata teman-teman. Terpilihlah basecamp Adipuro Kaliangkrik yang berada di sebelah Timur basecamp Butuh.

Tanggal dua belas Februari teman yang di Lampung mulai bergerak untuk menuju ke Magelang. Sementara saya sendiri baru berangkat hari Jumat tanggal tiga belasnya dan akhirnya kami bertemu di Alun-alun Magelang. Dengan baik hati dari pihak basecamp yang tidak ribet menawarkan tumpangan mobil pickup hingga sampai basecamp. Hujan rintik sepanjang jalan waktu itu membuat rasa dingin dalam tubuh kami dan bergegas kami bungkus dengan jaket tebal kami. Jalan menuju ke basecamp yang berkabut menambah perjalanan kami berjalan pelan-pelan. Sekitar pukul 21:30 kami sampai di basecamp dan malam itu memang udara cukup bersahabat. Selepas hujan yang cukup lebat kaki gunung Sumbing ini diberikan cuaca yang cerah. Lampu lampu rumah penduduk di lereng gunung Sumbing ini menjadi semakin menarik untuk dinikmati. Setelah bergulat dengan rasa kantuk akhirnya kamipun beristirahat malam itu dengan harapan pagi-pagi bisa bangun dan melanjutkan perjalanan sesuai dengan jadwal.

Subuh hari kami bangun untuk melaksanakan sholat di masjid dekat basecamp. Udara yang dingin tidak mengurangi rasa ingin segera berkomunikasi dengan sang Khaliq. Dan apa yang kami dapat, setelah sholat subuh kami disuguhkan pemandangan yang sangat spektakuler menurutku. Pagi yang cerah dengan matahari yang terbit diantara gunung Merbabu dan Merapi sangat ciamiiiikkkk untuk dinikmati sembari minum kopi tubruk dari Lampung. 

Sun Rise di Basecamp Adipuro Kaliangkrik, Magelang


Basecamp Adipuro dengan via Gunung Sumbing di belakangnya

Ternyata pada pukul 06:00 teman yang kami tunggu (bang Wanto) sudah sampai dan akhirnya kami berkemas-kemas untuk segera berangkat. Mandi dan sarapan dengan menu yang mantap dari simbok yang masakin di basecamp wah semakin nikmat rasanya. Namun perjalanan kami molor setengah jam dari yang kami jadwalkan karena di basecamp juga cukup ramai kala itu dengan bersamaan orang Cilacap. Karena kami datang lebih awal kamipun dipersilahkan untuk berangkat lebih awal dengan naik ojek dengan harga 25K, menurutku itupun sangat murah dengan medan yang ditempuh. saat awal kami kira hanya sekitar 15 sampai 20 menit sampai di tujuan ternyata hampir 45 menit kami naik ojek dengan pemandangan yang super keren dengan gagahnya gunung Sumbing. Para petani yang ramah selalu tersenyum saat kami berpapasan meskipun kami di motor.

Pukul 07:30 kami semua sudah turun dari ojek semua dengan berkelakar dengan masing masing kejadian yang dialaminya selama mengojek ekstrim. Aku sendiri saat melintasi tebing yang longsor aku tutup mataku karena takut hehehehehe. Sejenak kami istirahat dan kemudian kami berdoa untuk memohon keselamatan, cuaca yang cerah serta kekuatan selama pendakian. Saat itu saya hanya menyampaikan kepada teman-teman (syarif, azmi, bang wanto dan reski) bahwasannya saya bilang jadikanlah pendakian kali ini menjadi IBADAH Kalian. Karena ibadah itu bukan hanya melaksanakan kewajiban kita sebagai muslim saja, namun kita harus bersyukur dan karena bersyukur itulah kita akan diberikan nikmat yang lain tentunya. 

Perjalanan kami disambut dengan gemericiknya air terjun yang sangat jernih dan kami melintasi jembatan kecil di atasnya. Air yang jernih ingin segera menyebur rasa hehehehehe. Sesaat kami mulai disambut dengan sejuknya kabut tipis dan rimbunya hutan di lereng Gunung Sumbing ini. Anak tangga yang tidak berjalan ini menuntun kami menuju pos dua. Karena efek lama tidak berjalan di pegunungan saya sendiri sempat mengalami mabuk gunung dengan keluar keringat dingin dan kepala muter muter dan berkunang-kunang. Namun alhamdulillah kondisi ini tidak terlalu lama dan bisa kembali kondusif dengan konsumsi kurma yang syarat dengan manfaat kala itu. 

Akhirnya kami sampai pos 2 lebih cepat dari yang diperkirakan kurang lebih 30 menit dari pangkalan ojek dimana kami diturunkan. Pos 2 ini berupa lahan yang sangat teduh di bawah rindangnya pohon-pohon cemara dan perdu lain yang tumbuh subur. Cukup lebar dan bisa menampung tenda kurang lebih 100 an. Istirahat kami kurang lebih 10 menit dengan menyamil bekal yang kami bawa. Tidak lama kemudia kami berjalan di jalan yang cukup datar hingga kami bertemu medan yang cukup menanjak dan sudah bervegetasi yang rendah. Sinar matahari waktu itu cukup menyengat dan semakin banyak menguras tenaga kami. Sejenak kami berisitirahat di bawah pohon cemara dan kebetulan muncul gunung Merapi dan Merbabu. Cekrek sebentar mumpung pas evennya dan kebetulan dari kejauhan merapi nampak kelihatan asap erupsinya meskipun tipis.

Gunung Merbabu dan Merapi yang cantik
Sabana Mini Pedas jalur Adipuro Kaliangkrik

Sesaat kemudian kami lanjutkan perjalanan di sabana mini pedas ini, tanjakan ini cukup menemukan dengkul dengan muka kami sesekali dalam perjalanan. Kamipun melewati hutan lamtoro yang sangat membantu untuk berpegangan serta sedikit mengurangi rasa panas sengatan matahari saat itu. Kurang lebih satu jam akhirnya kami bertemu dengan jalur pendakian yang dari Butuh Kaliangkrik. Saya merasa lega sekali karena jalur ini sudah menjadi bayangan buat saya sendiri, dengan medan yang datar dan bonus sungai serta dengan air yang mengalir jernih. Ketemu dengan sungai kedua rasa haus kerongkongan ini tidak bisa dipungkiri lagi, dengan serta merta saya merunduk untuk meminum langsung dari kubangan kecil. Segar rasanya dan lebih segar dibanding dengan air kemasan menurut saya. hehehehe

Tidak lama kemudian kami bertemu sungai lagi untuk ke sekian kalinya dan jumlah sungai yang bisa kita temui dari jalur Adipuro Kaliangkrik sebanyak 11 sungai dan cukup membantu para pejalan yang membutuhkannya. Kami tiba di pos 3 kurang lebih 1,5 jam dari pos 2. Melihat pos 3 tiga pertama sudah penuh dengan tenda akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan kami. Tidak jauh dari pos tiga, ada pos 3 lagi yang ke dua yang cukup lebar juga dan dibuat di tengah-tengah mata air yang sudah dibuat dengan pipa sehingga memudahkan para pendaki untuk kegiatan masak dan tidak terlalu jauh mengambil air. Dengan alasan masih bisa diajak kompromi tenaga kami, kamipun lanjutkan perjalanan dengan mlipir di bibir tebing sebelah kanan yang saya lihat lebih dekat jika dibanding dengan naik bukit sebelah kirinya. Akan tetapi hasilnya lebih lama karena teman-teman pada merasa takut ketinggian jika melihat tebing itu, meskipun sudah dikasih webbing. Dengan sabar dan hati-hati kami menuruni lereng ini dan seteleh semua terkondisikan kami lanjutkan perjalanan kami.

Ini yang lucu suka naik gunung tapi takut ketinggian

Lewat sini yang aman, gak usah grogi... kataku

Kurang lebih seperempat jam dari pos tiga yang kedua, kami sampai di Camp Area yang dibuat oleh basecamp Adipuro yang memliki ketinggian 2.467 MDPL. Tempat yang cukup terbuka buat mendirikan tenda dan bisa memuat hampir 100 an tenda. Akan tetapi tempat ini juga minim vegetasi sehingga jika pada saat terik matahari akan menyengat sekali panasnya. Lagi-lagi kami tetap semangat untuk melanjutkan perjalanan ke Pos 4 untuk destinasi mendirikan tenda kami. Trek yang berkelok dan diputar membuat perjalanan kami melambat. Pada sungai terakhir kami sempatkan mengisi botol-botol kami yang kosong untuk kebutuhan masak kami di atas nantinya. Karena sudah pukul 13 lebih kala itu kami putuskan untuk istirahat dan sholat dzuhur dan bisa memanfaatkan air untuk berwudlu yang sekaligus saya bisa menjamak sholat dzuhur dan ashar. Lagi-lagi buah kurma andalan kami untuk memulihkan stamina yang sudah mulai terkuras di sisa-sisa perjalan kami menuju pos 4. 

Beruntung kabut dan mendung sepanjang perjalanan kami sangat membantu mengurangi dehidrasi dalam perjalanan kami. Kata pendaki yang sudah turun hanya tinggal 45 menitan lah untuk sampai di pos 4, membuat semangat kami bangkit dan melanjutkan jalan kami meniti kelokan bukit di depan kami. Dari kelokan itu sudah terlihat pos 4 dan terdengar ramai suara pendaki lain yang berada di pos 4. Sampai di pos 4 kami pukul 13:50 menit dan kami merebahkan badan sesaat sebelum kami mendirikan tenda. Sambil memilih tempat yang pas buat dua tenda kami, kami menikmati siang setengah sore itu dengan pemandangan yang menyejukkan mata. Puncak sejati yang terlihat gagah di atas semakin menambah pesona gunung Sumbing ini dengan seribu aura menawannya. 

Tenda sudah berdiri dan kami putuskan untuk makan siang dengan menu nasi goreng yang nasinya sudah beli di tempat simbok basecamp. Minum kopi hangat dan jahe hangat cukup menghangatkan senja itu. Tak lama kemudian gerimispun datang, beruntung kami sudah siapkan flysheet untuk melindungi hunian kami. Gerimis berubah menjadi hujan yang cukup deras senja itu dan flysheet kamipun menjadi tampungan air hujan dan mau tidak mau harus mengubahnya supaya tidak mematahkan frame kami. Setelah selesai kami bisa rehat dengan nyaman meskipun dibelakang kami terdengar suara banjir kiriman dari atas.Akan tetapi namanya air pada akhirnya tembus juga di tenda kami meski hanya tampyas saja dan kami mengubah posisi kami sehingga tetap kering.

Tidak lama kemudian hujanpun reda dan sore itu kembali lagi disuguhkan cuaca yang cerah meskipun di atas ada awan yang menghitam dikala senja itu. Kamipun menggelar flysheet untuk duduk-duduk di sebelah tenda dan memanaskan air untuk menghangatkan kopi tubruk khas lampung dan saya sendiri memilih wedang jahe. Minum kopi takutnya malah tidak bisa tidur. Maghribpun menjelang dan kami sepakat untuk sholat berjamaah dan kami qodlo dengan sholat isya dan membersihkan diri dengan tayamum. 

Pos 4 Pohon Tunggal

Suasana malam hari di Pos 4

Usai sholat maghrib kamipun masuk tenda dan kamipun menyiapkan makan malam dengan bekal kami, saya sendiri memilih makan roti tawar dengan balutan susu coklat dan seresnya beberapa lipat sudah mengenyangkan perut kami. Selain itu cemilan cemilan yang kami dapat dari sepasang pendaki yang menghibahkan kami sosis, mie, abon, rempeyek kacang hijau serta kue kering. Wah baik banget mbaknya dan menjadi santapan saya rempeyeknya sambil menikmati malam itu. Sebelum kami ke peraduan malam kami sempatkan masak nasi terlebih dahulu untuk besok harinya supaya usai summit kami tidak repot memasak dan bisa memangkas waktu lebih cepat. 

Kamipun masuk ke tenda dan istirahat malam itu dan sesekali ditemani gerimis dan satu kali suara Geluduk yang sangat kenceng sekali membuat saya kaget dan terbangun sesaat. Namun tak lama sudah mabok lagi dengan hawa dingin dan kami bungkus tubuh kami dengan SB. Pukul 02:30 dini hari saya bangun dan membangunkan teman-teman untuk siap-siap untuk summit ke puncak Rajawali. Pukul tiga dini hari tepat kami mulai summit. Karena tidak bawa jaket tebal, akhrinya saya memakai kaos panjang rangkap tiga dan sarung untuk mengkondisikan tubuh biar tetap hangat.

Pukul 04:00 kami sampai dibawah batu pelawangan dan mencari jalan menuju ke kawah untuk ke Puncak Rajawali. Sempat kami menuruni tebing namun karena kami merasa ragu, akhirnya kami batalkan untuk ke puncak Rajawali dan berbalik dan ke puncak Sejati. Sampai puncak Sejati kami pukul 04:30 dan cuaca kala itu sangat cerah sekali. Diantara rasa dingin kami laksanakan kewajiban kami untuk sholat subuh dan menunggu sun rise time kami sempatkan membuat minuman hangat dan menikmati bekal kami. Alhamdulillah kami diberikan sunrise yang indah dan lautan awan yang mantap pula yang mengelilingi puncak gunung Sumbing ini. Tidak lupa kami mengabadikan setiap momen dengan kamera kami. Sesaat kami melihat Puncak Rajawali yang tertutup awan kala itu, dan itu mungkin cara Tuhan untuk kami tidak jadi ke Puncak Rajawali sehingga kami dapati view yang tidak bisa orang lain rasakan.

Sunrise di Puncak Sejati

Pukul 06:00 pendaki yang lainpun mulai sampai di puncak Sejati dan kamipun bergegas untuk memberikan kesempatan kepada mereka. Kamipun turun perlahan-lahan menuju ke tenda kami sambil menikmati pemandangan di jalur pendakian. Pukul 07:00 kami sampai di tenda dan akupun langsung tidur lagi sebentar sebelum akhirnya teman-teman sudah memasak lauk pauk buat sarapan kami pagi itu. Ikan asin, sayur sop dan sosis kala itu menjadi menu kami untuk sarapan. Pukul 08:00 kami mulai berkemas untuk turun dan satu jam kemudian kamipun berdoa untuk mulai perjalan turun ke basecamp.

Sesampai di sungai ke 11 kami istirahat sejenak untuk mencuci peralatan masak kami yang masih kotor serta mengambil air untuk perjalanan kami turun yang benar-benar habis kala itu. Kurang lebih pukul 10:30 kami sampai di pos 2, dan karena sudah ada sinyal kami mencoba menghubungi basecamp untuk pesan ojek dengan handy talky yang di kasihkan ke kami sebagai alat komunikasi kami. Namun karena tidak ada respon akhirnya salah satu teman kami menghubungi ke nomor pengelola basecamp. Alhamdulillah di pos dua ini kami break sesaat dan menikmati jeruk yang segerrr sekali seperti baru keluar dari kulkas dinginnya. 

Seperempat jam kemudian kami sampai di pangkalan ojek dan tidak lama kemudian bang ojekpun datang, namun hanya empat ojek saja yang tersedia. Mau tidak mau yang berbadan kecil kami cenglu dengan rasa was-was aku dan kak reski naik dan alhamdulillah kami selamat sampai di basecamp pukul 11:30.

Dengan mengucap puji syukur Alhamdulillah doa kami terkabulkan dengan moment moment yang mungkin tidak akan terlupakan. Dimasa hujan lagi ekstrim kami naik Sumbing akan tetapi di perjalanan kami diberikan cuaca yang cerah dan sangat bersahabat. Sedikit kendala dalam perjalanan adalah hal yang lumrah dan bisa dijadikan buat pengalaman kami untuk bisa lebih baik lagi. Terimakasih kepada pengelola basecamp Gunung Sumbing Via Adipuro yang telah mensupport kami hingga perjalanan kami berkesan dan tak terlupakan. Terimakasih kepada teman-teman dari Lampung yang jauh-jauh datang dan selalu ngebanyol untuk sebuah perjalanan, saya paham itu adalah cara kalian untuk tidak segera menyerah dengan sebuah keadaan dan saling menyemangati satu sama lain. Terimakasih bang wanto yang bekalnya super duper banyak. Terimakasih pula kepada teman-teman yang sudah saya tawari untuk bergabung namun belum bisa dan akhirnya memberikan doa untuk perjalanan kami. Berkat doa kalian juga akhirnya kami diberikan kesempatan yang baik untuk bertazabur alam dan mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada kami sebagai salah satu ibadah dari kami. Akhrinya kami putuskan untuk bertemu kembali dengan team Lampung untuk naik Gunung Merbabu selepas lebaran yang akan datang. 

Sampai jumpa dan semoga diberikan kesempatan yang baik pula, Aamiin.

Jalur Pendakian dan Nomor telepon basecamp (Bang Ridlo)

Estimasi Perjalanan

Ojek - dibawah pos 2 = 45 menit

Pangkalan ojek - Pos 2 = 30 menit

Pos 2 - Pos 3 pertama= 2 jam

Pos 3 Pertama- Camp Area Adipuro = 30 menit

Camp Area Adipuro - Pos 4 = 2 jam

Pos 4 - Puncak Sejati = 1,5 jam