Mount Lover

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Tentang Blog Ini

Blog ini merupakan cerita murni dari penulis dari pengalaman yang pernah kami lalui, semoga blog ini bermanfaat buat pembaca dan selalu menerima kritikan yang bersifat membangun. Saya ucapkan terimakasih kepada yang telah mengunjunginya, jika anda terkesan silahkan isikan tulisan anda melalui kolom komentar atau bila membutuhkan jasa guide pendakian gunung, bisa hubungi saya, Mr.Ady, WA/SMS/Telp. 085725247115

Follow Us

Lautan Awan di Puncak Gunung Sindoro

Lautan Awan di Puncak Gunung Sindoro


Gunung Sindoro atau Sundoro merupakan gunung api yang masih aktif dan memiliki ketinggian 3150 MDPL. Gunung Sindoro ini berada di dua kabupaten yakni kabupaten Temanggung dan Kabupaten Wonosobo. Untuk menggapai puncaknya ada beberapa basecamp yang membuka jalur pendakian seperti, basecamp Kledung, Alang-Alang Sewu, Ndoro Arum, Tambi dan Sigedang (Boleh ditambahkan di kolom komentar jika ada yang kurang ya teman-teman).

Sudah Full Parkiran Motornya

Terakhir mendaki gunung Sindoro via Kledung atau Grasindo pada tahun 2018. Basecamp Kledung Grasindo sendiri berada di Jalan Walisongo 1 Rt 08 Rw 03 Keldung, kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Menggugah keinginanku kembali untuk mencoba jalur ini. Setelah fix persiapan dengan segala perlengkapannya,  kami kemas untuk pendakian gunung Sindoro via Grasindo Kledung. Alhamdulillah ada teman-teman lama untuk reunian.

Perjalanan kami mulai pukul 09:30 pagi dan kami sepakat naik ojek. Harga Rp 25.000 bisa memangkas waktu kurang lebih 1,5 jam dan kita diantarkan hingga Pos 1 dan Pos 2. Namun ada juga jasa ojek dengan harga Rp 40.000 dan diantarkan hingga di bawah Pos 2. Kang ojek yang ugal-ugalan menurut saya si hehehe tapi seru juga, mempercepat gerak kami diiringi gelak tawa kami antara takut dan seneng jadi satu. Setelah kami berenam turun dari ojek, berdoa untuk keselamatan kami di pendakian dan tentu cuaca yang cerah yang kami harapkan. Ehh satu lagi doa kami, semoga tidak ada serangan si BAGAS. Sebagai rencana awal akan mendirikan camp di Sun Rise Camp tepatnya di atas Pos 3.

Puncak musim kemarau debu yang tebal menyambut perjalanan kami. Masker atau buff sudah kami kenakan tetap saja tembus apalagi saat ada ojek yang lewat, kami menjauh untuk menghindari serangan debu-debu yang super tebal. Kurang lebih 20 menit kami sampai Pos 2. Cuaca yang panas membuat kami mencari tempat yang teduh untuk beristirahat. Eh di Pos 2 malah ketemu orang-orang Wonogiri dan nawarin melon, wah tanpa malu-malu ambil tuh melon sampai dua sisir hehehe. Seger seperti keluar dari kulkas rasanya jika makan buah di gunung itu, apalagi rasa kari, wah tiada tanding rasanya.

Lanjut menuju pos dua hutan masih rapet, dan jalur yang tentu semakin terjal dan berbatu. Sesekali merangkak dan berpegangan dahan, ranting atau akar pohon di sepanjang jalur. Batu-batu terjal juga tidak luput dari gapaian tangan kami untuk mempercepat menuju ke Pos 3. Beruntungnya menjelang siang itu cuaca mendung dan menjadi sahabat dalam perjalanan kami.

Ketemu beberapa pendaki yang turun dan memberitahukan jika Sun Rise Camp sudah penuh tenda karena memang ada open trip yang cukup ramai. Kami memutuskan untuk mengubah rencana untuk mendirikan di Pos 3. Pukul 12:30 saya bertiga lebih awal untuk sampai di Pos 3, cekrek dulu untuk dokumentasi hehehe. Sementara teman tiga yang lain masih di belakang karena memang membawa bekal di atas rata-rata hehehe. Beruntungnya kami yang membawa tenda dan setelah sedikit rehat kami mendirikan tenda di sebelah kiri jalur pendakian sedikit ke atas dari warung pos 3.

Pos 3, Krupuke gak Nguati

Tidak lama setelah tenda berdiri tiga teman yang lain sudah sampai dan siang itu mulai gerimis rintik-rintik. Kami masuk tenda dan sembari makan siang yang sudah telat hehe, ada pula yang menyeduh kopi asli dari kendal. Ikut nyruput rasa nya memang mantap, tetapi efeknya mata tidak bisa dipejamkan. Gerimis semakin deras saja sore itu, hingga akhirnya kami pasang Fly Sheet untuk memberikan rasa aman dan nyaman jika hujan semakin deras. 

Diantara rehat siang sampai malam tetap kita menjalankan kewajiban kita, juga candaan untuk menghilangkan kegabutan haqiqi saat HP tidak ada sinyal Eh malah ada yang candid juga tuh ciwik ciwik cantik buat perbincangan hangat kami. Hahahaha

Seksi Permasakan dan Perlogistikan

Singkat cerita kami rehat malam itu sangat nyaman, meski dengkuran dari tenda sebelah cukup keras, eh malah kebetulan yakk bisa mengusir si Bagas supaya tidak mengendus tenda-tenda kami.

Pukul 02:30 dini hari kami bangun untuk persiapan summit attack dan pukul 03:00 kami mulai summit ke puncak Sindoro. Melewati Sun Rise Camp ternyata tenda berjejal bahkan jalur pendakian juga sedikit terganggu dengan tali tali tenda. Adzan subuh kami sampai di area Watu Tatah, tidak lupa untuk sholat sebelum melanjutkan perjalanan. Udah ramai di area ini untuk mengabadikan moment menjelang sun rise. Sembari melangkahkan kaki dan dokumentasi tetap jalan hingga sun rise kami sudah berada di atas Watu Tatah.

Di sini kami disuguhkan matahari yang cantik serta awan kinton yang tebal di depan seolah seperti kasur untuk rebahan dikala badan ini lelah. Semakin meninggi mentari semakin memutih pula awan kinton yang menutupi setengah badan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing dan hampir seluruhnya rata dengan awan kinton pagi itu. Gunung-gunung yang biasanya terlihat dari Sindoro, Merbabu, Merapi, Ungaran, Prahu dan Slamet semua hanya nampak sebagian dan nampaklah LAUTAN AWAN pagi itu.

Puncaknya kami sampai di Kawah Sindoro pada pukul 07:00 yang sudah penuh dengan pendaki untuk mengabadikan momen di papan Grasindo. Karena saya sendiri tidak tahan dengan asap belerang akhirnya kami memutar untuk ke Pasir Ombo atau lapangan yang digunakan untuk upacara 17 Agustus dan sebagai puncanya dari Basecamp Ndoroarum. 

Puncak Ndoro Arum

Dokumentasi komplit, pukul 08:20 kami putuskan untuk kembali ke tenda dan mau ambil video dan gambar di Icon Sindoro di Watu Tatah. Namun alangkah sabarnya kami ternyata antrean untuk berpose di watu tatah sudah mengular dan GAGAL TOTAL. Tidak mau ambil pusing area watu tatah yang lain yang di eksplor pun tidak kalah cantiknya kok. Hehehe.

Sampai di tenda kami memasak nasi, oseng pare dan pete, nugget, tempe serta sayur sop untuk makan siang sebelum kami turun. Finish all, kami kemas-kemas dan start perjalan turun pukul 13:00. Sengaja tidak naik ojek hanya untuk foto di Pintu Rimba meskipun berkabut tebal. Pukl 15:00 kami sampai di basecamp dan check out segera. Karena kamar mandi penuh dan kami membersihkan diri di Pom Bensin 

Watu Tatah Area






Pendakian Gunung Sumbing Via Garung (Jalur Terbaru)

Pendakian Gunung Sumbing Via Garung (Jalur Terbaru)

Gunung Sumbing 3371 MDPL
BASECAMP GARUNG WONOSOBO

Kebetulan dapat undangan untuk kondangan di basecamp Banaran Gunung Sindoro jalur barat serta request teman lama untuk merapat ke Gunung Sumbing, kemudian kami memutuskan untuk memilih basecamp Gunung Sumbing via Garung Wonosobo.

Basecamp yang berlokasi di Garung, Butuh, Kalikajar, Wonosobo ini memiliki tempat yang strategis. Posisi berdampingan dengan lapangan sepakbola warga dusun Butuh, membuat basecamp ini semakin banyak diminati para pendaki. Saat cuaca cerah pemandangan juga sangat cantik dan bisa memandang Gunung Sumbing di sebelah kanan dan Gunung Sindoro di sebelah kiri.

Singkat cerita setelah sarapan pagi itu, kami mulai persiapan untuk pendakian dengan diawali registrasi di basecamp. Harga tiket masuk sebesar Rp 25.000. Selain itu harga ojek dari basecamp menuju pos 1 dikenai tarif Rp 25.000, untuk parkir motor Rp 5000 dan mobil Rp 10.000. Mengabadikan momen kebersamaan di depan basecamp kami lakukan sebelum kita memulai pendakian. Cekrek cekrek tetap dengan senyum cerah kami. Setelah check in sudah selesai kami dibagi tiket untuk ojek dengan dibariskan untuk mempermudah penghitungannya.

Cekrek-Cekrek Sebelum Naik Ojek in the Hoi

OJEK IN THE HOIIII

Antrian ojekpun kami memulai, karena saat itu ada hajatan maka jalur ojek di putar melalui kampung bawah yang seharusnya melalui jalur kampung kami dibawa tukang ojeknya melewati pemakaman. Begitu naik ojek, tas kami di gendong tukang ojeknya, sementara salah satu yang unik adalah kita duduk didepan sebagai penyeimbang motor.

Ngeeeeennggg ruunn ruuunnn ruuunnnnn itu adalah blayeran yang super sensasional. Bagaimana tidak kami semua di ajak berimajinasi serasa naik roalcoaster darat. Motor-motor lawas yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa dan saat off roadnya ammmmpuun dah banternya. 

Satu petikan kalimat yang saya ingat "Pegangannya jangan kaku, biar kami luwes memainkan stangnya, "kata abangnya. Sayapun mempersiapkan ponsel untuk mengabadikan momen tersebut. Baru beberapa ratus meter jalan sudah berbatu dan disitulah kecepatan semakin ditambah. Ngeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeengggggggggggggggg.....................

3 menit berlalu dalam off road, saat itu saya di komandoi siap ya mas depan ada jalan bergelombang. Pikir saya adalah kecepatan akan dikurangi, ternyata tidak, justru di gaspol dan saya pun seperti mau terbang diantara pikiran yang kalut dan berteriak sebisanya hahahahaha..

Bersyukur dalam naik cuaca bagus, jadi dokumentasi nampak jelas gunung sumbing di depan. Meskipun goyang-goyang videonya tapi tetap saja in the hoi di atas motor tua napas muda itu hahaha.

Sesampai pos 1 Halim semua tertawa terbahak dan ada yang bilang, nyowoku meh keri ono nggon belokan kono mau (nyawaku hampir ketinggalan di belokan sana tadi) dan alhamdulillah semua rombongan kami ber 16 mandali dalam off road nya. Basecamp ke Pos 1 Halim ini berjarak 2,5 km dengan waktu tempuh 2 jam dengan jalan kaki dan 20 menit menggunakan jasa Ojek in the hoi.

Turun Ojek disuguhkan View seperti ini 

POS 1 HALIM (PANGKALAN OJEK) - POS 2 MBAON (2 KM)

Pos 1 Halim ini aestetik lokasinya, lokasi di perbatasan ladang petani dan bisa memandang gunung Sindoro diantara pepohonan pinus yang melambai-lambai diterpa angin pegunungan. Selain itu di pos 1 Halim ada warung dan shelter untuk berteduh dan rehat saat naik atapun turun. Tempat yang teduh di bawah rimbunnya pohon cemara membuat udara segara berbau kas daun cemara ini terkadang terselip bau tembakau para petani yang menanam di ladang mereka di musim kemarau. Atau asap tembakau dari tukang ojek yang siap mengantarkan turun yang tidak seekstrim saat naiknya hehehe.

Pukul 08:30 WIB setelah berdoa sebelum memulai pendakian, langkah kami disambut dengan sepoi candu gunung sumbing dan kamipun memutuskan untuk melalui jalur baru. Kali pertama melalui jalur ini memang berbeda dengan jalur lama yang dari awal sudah di suguhi jalan yang terjal. Berbeda dengan jalur ini lebih banyak datarnya. Sepanjang jalan yang mendatar terkadang kami menemui jalan yang menurun dan ada satu sungai yang cukup besar. Namun saat itu itu menjelang musim kemarau sehingga airnya sudah mulai mengering meskipun ada genangan-genangan air namun tidak layak juga untuk di konsumsi. 

Jalan sedikit menanjak dan kami bertemu shelter untuk sedikit mengambil nafas-nafas tua kami hehehe. Mendekati pos 2 Mbaon kami melewati hutan pinus yang cukup rapat dan lagi-lagi ini membuat kami sedikit terbantu tidak terkena sengatan matahari yang mulai panas saat itu. Rombongan sudah mulai berpencar ada yang berjalan pelan ada yang berjalan sedang dan ada pula yang berjalan lebih cepat karena memang ada faktor yang mengharuskan seperti saat itu. Selain itu juga sudah menjadi kesepakatan di awal meski terpencar tetap berusaha untuk saling berkomunikasi meskipun dengan sautan suara dari jauh.

Pukul 09:45 WIB kami sampai di Pos 2 Mbaon 15 menit lebih cepat dari waktu tempuh yang rata-rata 1,5 jam.

Pos 1 Malim

POS 2 MBAON - POS 3 SEBOGO (2 KM) "SEMANGKA RASA KARI"

Melihat jalur peta menuju pos 3 kok 2 jam waktu tempuhnya, membuat kami di Pos 2 Mbaon, kami mulai mengeluarkan perbekalan kami untuk mengisi rongga-rongga perut kami yang mulai mengosong. Ah pas bener ada yang menawari semangka warna kuning dan tidak kami sia-siakan Semangka rasa kari ini hehehe.. Rasa Kari alias Kari Mangan hahahaha.

1-2 potong mini rasanya sudah menyegerkan tenggorokan serasa semangka yang baru keluar dari kulkas yang dingin. Perjalanan yang masih panjang membuat kami segera meninggalkan pos dua ini. Jalan beranak tangga menyambut langkah kaki kami namun masih dalam vegetasi yang aman. Sesekali mentari menyapa wajah kami untuk mengharuskan tangan kami menyeka keringat yang keluar dari pori-pori lusuh kami. 

Ahh... lega rasanya saat kami menempatkan posisi duduk kami di bawah rimbunan pohon menuju jalur pos 3 ini yang didominasi pohon Lamtoro yang memiliki bahasa latin (Leucaena Leucocephala) ini. Menapaki jalur ini yang kami inginkan adalah Pengkolan 9 yang katanya ada warungnya. Setiap ketemu pendaki yang turun selalu kami bertanya apakah sudah dekat dengan Pengkolan 9 dan mereka menjawab sebentar lagi bang di atas sana.

Kalimat itu yang membuat kami ayem meskipun kata sebentar lagi itu hanya kiasan dan mendapatkan Pengkolan 9 itu setelah 1,5 jam kami berjalan. Lega rasanya di Pengkolan 9 ini ada warung yang berjualan eh ditraktir pula dengan tempe mendoan yang masih anget rasanya mah beda banget dengan tempe mendoan di bawah. Selain rasanya yang mantap beruntungnya kami bisa mendapatkan view yang cerah pula di depan warung. Tempat ini juga bisa digunakan untuk mendirikan tenda ada beberapa tempat datar yang cukup nyaman cukup untuk 4-5 tenda dengan kapasitas 4 orang.

Tempe mendoan sudah masuk ke dalam perut dan siap memberikan support energi untuk lanjutan perjalanan menuju pos 3. Masih dalam vegetasi Lamtoro kami melanjutkan perjalanan di jalan yang sedikit berdebu. Angin semilir sejuk bercampur teriknya mentari ini seolah menjadi santapan kami di setiap moment. Mendapatkan jalur menurun menuju pos 3 ini menjadi sebuah bonus buat kami bergegas untuk munuju Jembatan 3 Gunung Thukung. Dalam benakku jembatan ini cukup lebar dan panjang nyatanya jembatan ini hanya 2 - 3 meter panjangnya di sebuah tikungan dan anehnya dalam peta dari jembatan ke pos 3 itu cukup panjang jalurnya, namun nyatanya hanya puluhan langkah meski agak menanjak dan tidak kurang dari 3 menit kita sampai di Pos 3 Sebogo. Alaaahhh kena PRANK Juga nih sama basecamp hahahaha.

Pos 2 Mbaon


POS 3 SEBOGO - CAMP AREA 1 (SHELTER MERAH)

Rasa letih itu menggelitiki tulang punggung dan boyok ku untuk segera menaruh ransel gunungku. Sengaja tidak saya lepas memang dan kugunakan untuk menopang badan untuk rebahan. Bertemu dengan pendaki lain yang rehat di pos 3 yang mereka mengeluarkan amunisi untuk mengganjak perut yang sudah menggeliat kembali. Kami pun tidak mau kalah dengan mereka bola nasi maniskupun saya keluarkan. Brondong yang kudapatkan dari kondangan kami bagi-bagi. Rasa renyah dan manis ini sedikit mengisi suara retakan gigi kami saat mengunyah dan diatara candaan teman sebelah yang sama-sama rehat. Ada celetukan begini "Berbagi makanan adalah hal yang biasa namn berbagi cinta cukup satu saja" aahhh masuuuuuuuuuuuuuuuuuuukkk....

Pos 3 Sebogo

Sayup-sayup terdengar adzan Duhur kami pun singgah di Pos 3 ini cukup lama. Saya sendiri sempat tertidur setelah melahap 2 brondong yang manis tadi. kurang lebih 45 menit rasanya dipanggil kaki dekil ini untuk mengajak menapaki menuju Camp Area 1. Sebenarnya dari pos 3 bahkan dari tanjakan setelah Pengkolan 9 Shelter merah itu sudah nampak. Mata kami selalu melihat shelter tersebut untuk menggegaskan langkah kami. Tidak butuh waktu lama untuk sampai hanya kurang lebih 20 menit kami sampai di Camp Area 1 (Shelter Merah).

Meskipun sedikit panas paling tidak pohon lamtoro masih melindungi kami jika terjadi badai dan sebagainya. Camp area satu ini banyak sekali lokasi untuk mendirikan tenda di dataran-dataran yang sudah disiapkan oleh pengelola. Selain itu tidak jauh dari tempat ini ada sumber air yang bisa didapat sehingga tidak takut jika kekurangan air. 

Shelter Merah ini merupakan bangunan berbentuk Limas Segitiga yang digunakan sebagai tempat darurat untuk menangani pendaki yang bermasalah. Ada lampu dengan daya solar, CCTV dan Microphone untuk berkomunikasi dengan pihak pengelola di basecamp. Selain itu Shelter Merah ini menjadi satu spot ciamiiik untuk menikmati sun set di dengan latar belakang gunung Sindoro sebelah kanannya. 

Camp Area 1 Shelter Merah

Pertendaan dan permasakan kami mulai, kerjasama yang baik membuat kami lebih cepat merampungkan kerjaan. Usai makan kami mencoba ke mata air di sebelah timur sherlter. Tidak terlalu jauh ada satu sungai kecil yang mengalir meski kecil tetapi cukup untuk kebutuhan masak memasak kami. Cuci muka dan buang air kecil kami lakukan dan sedikit menjauh dari sumber air. Ternyata jalur mata air ini menjadi akses pedagang untuk berangkat dan pulang dengan lewat jalur lama yang melewati Pestan. 

Sholat ashar dan dzuhur yang kami jamak usai dan kami mulai menikmati senja yang menyapa. Hawa dingin yang menyusup ke pori-pori kami akhirnya mengharuskan kami mengenakan kembali yang sudah kami tanggalkan di bawah tadi. Awan setengah di depan menambah cantiknya Sindoro menjelang sun set. Pose-pose terbaik kami dan menjadi cameramen dadakan yang amatir tapi hasil tidak mengecewakan hahaha. Adapula yang update foto prifile WA nya yang sesekali mendapat signal ah komplit rasanya senja itu. 

Sun Set Moment

Satu rombongan akhirnya datang juga dan segera mengkondisikan tenda dan segalanya yang disambut dengan adzan maghrib. Tidak butuh waktu lama buat kami untuk segera menyiapkan makan malam kami dengan menu yang super mantap. Santapan krupuk menjadi dan beberapa lauk lain menjadi rasa tersendiri tentunya. Ada sambal, ada oseng terong dan telur asin, ada lagi tempe mie dan komplit nya sambel yang uhhh ternyata bukan hanya kami saja yang menikmati namun ada preman Gunung Sumbing mengintai hahahah.

Lagi asik-asiknya makan si bagas nongol dari atas berusaha untuk ikut nimbrung makan malam kami. Dengan sopan kami menolaknya dan si bagas lari entah kemana.

Sholat maghrib yang jamak dengan sholat isyak kami lakukan di dalam tenda dan kami. Udara yang super dingin membuat saya enggan untuk keluar dari tenda meski ada teman-teman di luar yang ngopi. Secara bersahutan kami sepakat untuk bangun pukul 02:30 dini hari untuk persiapan summit attack.

Malam itu tidak terlalu banyak bermimpi dalam tidur kucingku karena sering bangun dengan udara dingin yang sedikit menyiksa. Namun rasa lelah kamilah yang sebagian menyeyakkan di peraduan malam kami. Dengkuran dari tenda sebelah menjadi irama dan nada dering kami untuk menghalau bagas yang mendekati tenda kami. 

CAMP AREA 1 (SHELTER MERAH) - POS 4 KIJANG RANCAK 1 KM (GAK TAU DIMANA)

Tepat pukul 03:00 hari kami memulai summit attack. Dari 16 orang, ada 3 orang yang tidak ikut dan berjaga di shelter 1. Mata yang masih kuyu diantara kantuk kami paksakan. Lampu senter yang kalah dengan purnama malam itu membuat saya tidak banyak kugunakan. Cukup senter dari Allah saja yang menerangi summit attack ku kala itu. 

Camp Area 2 sudah kami lewati dengan medan yang berbatu dan berdebu. Ada beberapa pendaki yang membawa webbing untuk menarik temannya mengingat jalur yang semakin menanjak dengan kemiringan lumayan curam. Adzan subuh berkumandang kami berhenti sejenak namun tidak menemukan tempat yang pas untuk sholat subuh. Hingga akhirnya kami menemukan satu percabangan jalur dan itu sudah hampir pukul 05:00. Tayamum dan jamaah sholat subuh kami lakukan, berdoa terbaik tentu itu yang kami panjatkan. Hingga selesai sholat kami melihat Map pendakian ternyata kami sudah berada di atas Pos 4. Kami saling tanya Pos 4 dimana? Semua menjawab gak tau dimana pos 4!  Lahhhhh ini gimana ceritanya hehehehe

Sindoro Dari Sumbing

POS 4 KIJANG RANCAK - PUNCAK KEKAWAH 1,7 KM ( GAK DAPAT SUNRISE)

Ya sudahlah, kehilangan moment di pos 4 tidak memutuskan semangat kami untuk segera mencapai puncak ke kawah. Di luar ekpektasi jalur yang dibuat memutar membuat waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke pucak Kekawah juga lama. Berharap dapat sun rise dipuncak nyatanya kita masih terjebak di kelokan lembah edelwis yang menggoda. Bukan hanya itu godaan dalam perjalanan, namun gunung Sindoro bersolek dengan sinar mentari pagi membuat kami membidik untuk kami abadikan. 

Sedikit bonus jalan untuk mencicipi terjalnya gunung Sumbing ini kami berhenti sejenak di Batu Belah dan sambil menunggu teman-teman di belakang. Tidak menunggu lama kamipun sepakat untuk kembali menuju ke Puncak Kekawah. 

Pukul 06:20 kami sampai di puncak Kekawah. Di sana sudah banyak pendaki lain yang lebih awal sampai dan ada beberapa yang lanjut ke Puncak Rajawali. Mengisi perut kami sambil menunggu lengkap teman kami yang lain untuk sampai di Puncak Kekawah. Setelahnya kami menawarkan ada yang lanjut dan ada yang tetap di puncak ke Kawah.

Lembah Edelwis

PUNCAK KE KAWAH - PUNCAK RAJAWALI 0,5 KM (JALUR ESKRIM)

Di sini tiga orang tetap di Puncak Kekawah dan lainnya melanjutkan ke Puncak Rajawali. Batu keras dan pemandangan kawah Gunung Sumbing yang menghiasi perjalanan kami. Sesekali kami menyapa pendaki lain yang berpapasan. 

Bertemu berbatu dan jalur yang ekstrim membuat kami pegangan erat-erat webbing yang sudah di pasang untuk memudahkan kami. Dua webbing kami lewati hingga kami mendapati jalur datar sedikti memutar untuk ketemu webbing berikutnya. Tim awal berlima kami sudah menuruni webbing yang lebih ekstirm dibanding sebelumnya. Di sana kami ketemu jalur dari kawah yang bisa menuju basecamp Kaliangkrik, Banaran ataupun Pangukuhan.yang melintasi kawah Sumbing. 

Setengah jam kami menunggu tim belakang kami, akhirnya mereka berbalik arah dan kami melanjutkan perjalanan menuju Puncak Rajawali. 

Lima orang yang sampai di Puncak Rajawali kami saling mengucapkan selamat. Ambil gambar sebagus mungkin dan video semenarik mungkin. Satu dari teman kami tiba-tiba menghilang saat kami ajak untuk foto bersama. 

Kemudian saya menyusul ternyata si anak sendirian menghadap awan yang sangat cantik. Di situ saya lihat matanya sembab menitikkan air mata. Aku menenangkannya dan dia berucap kali pertama muncak dan mendapatkan pemandangan yang bagus hingga tidak berhentinya bersyukur. Tidak sia-sia jauh-jauh ke Sumbing dengan keberkahan ini. 

Selebihnya kami bergegas untuk turun dan tidak ketemu malam lagi saat turun. 

Buat saya Puncak Bukan Bonus tapi Menjadi sebuah Tujuan

CAMP AREA 1 (SHELTER MERAH) - BASECAMP GARUNG (KABUT TEBAL)

Setelah beberes segala perlengkapan, pukul 02:30 bergegas untuk turun dengan sisa-sisa tenaga kami. Kami bergegas untuk menuruni tapak demi tapak jalur yang sudah semakin berdebu. Beban kami berkurang namun pengalaman dan memori otak kami memenuhi otak kami dan mencari cara untuk bercerita nantinya. Sengatan mentari siang itu begitu menyengat untuk kami berlama-lama di perjalanan. Kami semakin mempercepat langkah kami saat mendapatkan datar yang cukup panjang. Sedikit lari kecil terkadang kami lakukan untuk meringankan langkah kami.

Tempat Rahasia untuk spot foto ini hahaha

Beruntung kabut tebal tidak lama kemudian berpihak kepada kami. Mengurangi dehidrasi saat kepanasan dan bisa menanggalkan penutup kepala rasanya menjadi perpisahan yang menyenangkan dengan gunung Sumbing senja itu. 

Di setiap pos selalu kami singgahi meski hanya sebentar untuk menaikkan mood perjalanan kami yang tinggal beberapa jengkal lagi. Saat terdengar suara bising motor itulah menjadi terbahagia kami khususnya saya yang ingin segera menempel di jok kumal para ojeker.

Pukul 15:30 kami sampai di Pos 1 Malim dan rehat sebentar sebelum memesan ojek. Bang ojekpun mempersilahkan ku untuk menaiki kendaraan, kali ini berbeda tas yang di depan dan penumpang dibelakang. Tidak ada keseruan saat turun dan rasanya hanya ingin segera sampai di basecamp.

SAY GOOD BYE

Turun dari ojek bergegas saya mengambil pakaian ganti sabun dan segala macam yang aku butuhkan, perut sudah meronta untuk segera mengeluarkan unek-uneknya. Beruntung hanya aku saja yang mengantri, saat masuk plongggggg rasanya unek-unek yang sudah terpendam beberapa jam dari camp Area 1 tadi.

Aku berharap pukul 19:00 bisa mengegaskan motor untuk kembali ke kota asal. Namun hujan deras malam itu mengirimkanku kembali masuk ke dalam basecamp untuk mengeluarkan SB dan memposisikan di tempat terhangat. Pukul 21:00 cuaca sudah berkabut dalam angan mau segera packing eh malah bertemu orang-orang dari Pati dan akan pulang ke Semarang, Namun karena mereka harus mampir-mampir dulu ke Temanggung akhirnya jalan teraman adalah stay lagi di basecamp sampai pagi harinya.

Pukul 03:00 dini hari aku terbangun dan memaksakan mata untuk kubuka dan segera siapkan raga menuju ke kota ku Demak. Pamit sama teman-teman baru itu rasanya lebih menyayangkan namun apa harus dikata semua akan ada waktunya lagi di kala waktu, tempat yang tepat untuk memulai sebuah perjalanan.

Terimakasih teman-teman dari Sidoarjo Jawa Timur, Karanganyar dan Magelang yang banyak memberikan warna cerita dalam tulisanku. Satu Kalimat Penutup pada perjalanaku adalah 

"Jangan Pernah Lelah Saat Engkau Mencoba, Belajar untuk Bangkit dan Hadapi Setiap Moment dengan Senyuman Insya Allah akan menjadi sebuah Kekuatan"





Amazingnya View Gunung Cilik

Amazingnya View Gunung Cilik

 


Jika perjalanan kalian ke daerah Wonosobo dan sekitarnya, jangan lupa buat singgah di Gunung Cilik yang amazing viewnya. Gunung yang berada di area Gunung Damarkasiyan, kecamatan Kertek, kabupaten Wonosobo ini memiliki ketinggian 1550 MDPL. 

Untuk menuju gunung Cilik juga tidak terlalu sulit, dari arah Temanggung bisa mengambil arah Parakan-Kertek. Setelah sampai di perbatasan Temanggung dan Wonosobo sekitar 2-3 km akan bertemu Pom Bensin di sebelah kiri jalan. Di depan pom bensin ada jalan dengan petunjuk arah ke Telaga Bedakah dan Gunung Cilik. Jalan perkampungan yang sedikit menanjak dan berupa jalan yang di cor sudah sedikit rusak. Kurang lebih 1,5 km akan bertemu dengan jalan beraspal dan belok kiri. Perjalanan akan bertemu dengan truk-truk penambang pasir atau mobil sayur. Jalan menuju ke lokasi cukup lebar dengan view Gunung Sindoro sebelah kanannya.

Kurang lebih 2 km sampai di Telaga Bedakah dan mengambil arah kanan. Dari sini mata akan mulai dimanjakan dengan kebun teh yang menghijau serta petani-petani yang mengambil daun teh. Kurang lebih 2 km lokasi Gunung Cilik berada di sebelah kanan jalan.

Mencapai gunung cilik jalan berbatu yang tertata rapi akan kita lalui. Kondisi motor sebaiknya dalam keadaan sehat karena jalan yang berupa tanjakan yang cukup tinggi. Untuk yang menggunakan mobil bisa parkir di bawah dan menyewa jasa ojek yang tersedia. Kalaupun berani untuk mengendarai sampai basecamp sebenarnya tidak masalah, akan tetapi medan yang cukup sempit buat kendaraan roda empat harus ekstra hati-hati saat berpapasan dengan mobil lain. 

Berkunjung ke Gunung Cilik sebaiknya pada bulan-bulan Mei dan seterusnya. Usahakan pada pagi hari sebelum matahari terbit. Kondisi pagi hari jika tidak berkabut maka pemandangan yang amazing akan pembaca dapatkan. Gunung Kembang dan Gunung Sindoro berdiri gagah di balik hamparan kebun teh yang hijau dan menyejukkan mata. Jika ingin mendirikan tenda dan camping di gunung Cilik sebaiknya di kaki gunung ini tepatnya sebelah timur pintu masuk. Karena cuaca yang tidak bisa ditebak jika beruntung dapat view yang sangat bagus namun yang tidak beruntung akan dapat view kabut yang cukup tebal. 

Saat view sekitar berkabut

Ada dua jalur untuk menuju puncaknya, jalur lama belok kanan dan jalur baru belok. Semuanya akan bertemu di puncak dengan durasi perjalanan kurang lebih 20-30 menit. Harga tiket masuk hanya Rp. 5000 dan parkir Rp 3000 untuk motor dan Rp 5000 untuk kendaraan roda empat. Di tempat parkir juga ada pedagang makanan ringan yang bisa kita beli dengan harga yang cukup untuk kantong para traveler.

Mendaki Gunung Perahu Via Wates dengan si Oik

Mendaki Gunung Perahu Via Wates dengan si Oik

Basecamp Pendakian Gunung Prahu via Wates Temanggung Jawa Tengah

Karena suatu janji yang harus aku tepati, akhirnya sayapun mengajak anak saya dengan berbagai pertimbangan dan permintaan. Pada akhirnya gunung Prahu yang kami pilih untuk mengajak anakku untuk mencoba mendaki yang ke sekian kali pada usia dia yang ke 6 tahun.

Persiapan dan perlengkapan sudah lengkap serta komplit, mulailah perjalanan kami dari kota Demak ke Basecamp Gunung Prahu Via Wates Temanggung. Kami mengendarai motor berdua dengan segala bekal yang saya buat senyaman mungkin dalam perjalanan. Karena anjuran seorang teman kami memilih jalur terdekat dari kota Demak ke basecamp. Demak-Semarang-Boja-Temanggung tepatnya di Pasar Candiroto belok kanan ke arah kecamatan Wonoboyo hingga berujung di Basecamp Gunung Prahu Via Wates. Karena membawa anak kecil yang masih ngantukan jika diperjalanan aku berusaha membuat space di depan untuk bisa buat tidur si Oik. 

Tanpa mengurangi porsinya ada beberapa kali saya istirahat untuk meluruskan kaki di waralaba serta membelikan jajanan kesukaan si Oik supaya semangat lagi dalam perjalanan. Kebetulan hari Jum'at perjalanan waktu itu, sesampai jalur Kendal - Temanggung kami berhenti di sebuah masjid untuk melaksanakan sholat jumat. Di situ banyak yang melihat kami dengan dengan beban di sepeda motor kami. Usai sholat jumat alhamdulillah ada jum'at berkah dan mendapatkan makan siang free sampai akhirnya kami dibekali 2 bungkus untuk perjalanan kami sampai basecamp.

Kamipun menyusuri sepanjang jalan dari pasar Candiroto, jalan beraspal dan sesekali cor-coran namun sangat nyaman buat perjalanan, namun tidak rekomendasi jika perjalanan malam hari. Jalan berkelok kelok dan naik turun bukit, view juga bagus jika tidak berkabut. Ada beberapa air terjun yang terlihat dari jalan sehingga menambah cantik pemandangan sekitar. Akan tetapi akan berbahaya jika turun kabut, karena jalan yang sempit dan banyak turunan dan tikungan tajam sehingga harus mengondisikan motor atau mobil harus dalam keadaan fit. Tidak ada pom bensin kecuali eceran yang dijual penduduk setempat. Lebih baik harus full tank jika melewati jalan tersebut. Jika di total perjalanan kami sampai basecamp hanya butuh waktu 3-4 jam, itupun sudah kepotong istirahat dan sholat jum'at. Dibanding dengan jalur Sumowono yang akan menghabis 5-6 jam an. Tentu ini menjadi sebuah pertimbangan untuk memilih jalan ini. 

Malam harinya kami buat istirahat full dibasecamp, meskipun ramai namun masih tetap nyaman buat istirahat. Kondisi basecamp yang bersih dan fasilitas juga komplit membuat basecamp gunung Prahu via Sawit Temanggung ini semakin banyak diminati oleh para pendaki yang datang dari berbagai daerah bahkan dari luar provinsi Jawa Tengah. 

Kami bangun pagi-pagi dan menunaikan sholat subuh di mushola yang berada di ujung timur basecamp. Cuaca yang sangat dingin membuat kami tetap mengenakan jaket tebal dan bersyukur lagi di depan basecamp disediakan perapian untuk menghangatkan tubuh-tubuh yang menggigil. Kamipun tidak mau berdiam diri, kemudian kami menyusuri ladang petani yang ditanami kentang untuk menunggu sun rise. Sebelah timur terlihat bukit Sikendil dan Gunung Sindoro yang nampak gagah sekali dan ada terlihat asap sulfatara tipis di atasnya. Tidak berselang lama kabut tebalpun turun yang memaksakan kami untuk kembali ke basecamp. Kemudian kami ke warung sebelah dengan menu sarapan paginya, nasi gorenglah pilihan kami untuk mengisi perut kami yang sudah mulai lapar.

Membersihkan diri kemudian kami lakukan dan persiapan untuk pendakian. Packing sudah lengkap, registrasi dengan harga tiket per orang Rp 20.000, Fasilitas Basecamp Rp 10.000, parkir motor Rp. 5000 dan Jasa Ojek Rp 25.000. Rasanya tidak terlalu mahal untuk sebuah pemandangan dan layanan yang disuguhkan. Pukul 09:00 kami mulai pendakian dengan mengojek sampai pos 1. Menggunakan jasa ojek kurang lebih 15-20 menit dengan memangkas waktu kurang lebih 1,5 jam jika ditempuh dengan jalan kaki. 

Si Oik bersama kak Egi

Pos 1 ditandai dengan pintu gerbang selamat datang kepada para pendaki Gunung Prahu Via Wates yang merupakan batas ladang petani dengan vegetasi gunung Prahu. Memasuki vegetasi gunung Prahu ini kami berjalan dengan pelan mengingat dengan si Oik yang sudah mulai kami lepaskan untuk berjalan sendiri. Medan pendakian sangat bersahabat untuk semua kalangan usia. Selain berjalan sendiri saya juga sudah membebani si Oik dengan kebutuhan pribadinya, ponco, jaket, bantal dan sedikit makanan ringan, sehingga tubuhnya seimbang saat berjalan dan untuk menghindari rasa dingin yang berlebihan.

Terik mentari saat itu, membuat perjalanan kami sedikit menguras tenaga untuk sampai di pos 2 kami membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam, jalan yang santai sekali dengan sering bercanda dengan teman-teman dari Bandung, Gresik, Bantul dan Lamongan. Si Oik sendiri sangat menikmati perjalanan dengan tanpa mengeluh, kalaupun minta istirahat sesekali adalah hal yang lumrah, pun toh saya sebagai orang yang dituakan juga ada rasa lelahnya saat berjalan hehehe.

Pos 1, Batas Ladang Penduduk dengan Vegetasi Gunung Prahu

Sesekali dalam perjalanan ada yang memberi jajan kepada si Oik, si anakpun sangat senang dan sesekali isengnya mulai dari ngagetin teteh dari Bandung dengan sembunyi dibalik pohon. (https://www.tiktok.com/t/ZSLLygMrm/?t=1). Bergelendotan dipohon dia bilang seperti monyet yang suka naik pohon hahahaha. Paling senang saat sampai pos tiga dan ketemu dengan sumber air, tanpa di suruh si Oik membuka kran dan minum sepuasnya. Dalam hati saya berkata (Persis sama bapaknya) dan kemudian sayapun juga melakukan hal yang sama, minum sepuasnya sampai dahaga kami hilang. 

Sampai di Bukit Perindu kurang lebih pukul 12:00 kami tetap melanjutkan perjalanan kami untuk sampai Sun Rise Camp atau Pelawangan. Akhirnya 20 menit kemudian kami sampai di sunrise camp dan kami mendirikan tenda diantara tumbuhan cemara yang tumbuh subur. Harapan kami masih dapat penyejuk meski dalam terik matahari. Awalnya hanya ada satu tenda pendaki dari Semarang, datanglah kami bertiga tenda dan jelang malam hari semakin banyak tenda berdiri di tempat kami. Semakin malam semakin rame untuk para pendaki yang rata-rata mendirikan di Cemara Tunggal yang tidak terlalu jauh dari Puncak jalur dari Patak Banteng.

Malam harinya kami beristirahat diantara gemintang malam itu serta angin sepoi sepoi yang merdu. Sesekali saya keluar melihat keindahan malam itu yang penuh bintang. Sementara di sebelah Tenggara dua gunung menyembul diatara bintang-bintang serta lampu penghias malam di kota Temangung, Wonosobo dan sekitarnya. Beruntung sekali malam itu tidak ada kabut, tidak ada hujan dan tidak ada badai. Doa kami terkabul dengan apa yang sudah kami minta.

Usai sholat subuh saya pun membangunkan teman-teman dan si Oik untuk summit. Tidak seluruhnya bangun katanya sih mau nunggu tenda biar aman. Padahal alibi seorang yang sedang mager karena hawa dingin yang sangat menusuk tulang. Tidak lama kamipun sudah sampai di tempat tujuan dan hwaaaaa.... tumpah ruah pendaki yang semua menunggu golden sunrise nya gunung Prahu yang disuguhi view Sindoro Sumbing Kembang yang nampak jelas. 

Disela-sela itu si Oik merengek untuk minta turun sebelum sunrise nya muncul dengan alasan terlalu dingin, akan tetapi tertahan saat ada pendaki cantik yang memberinya roti bakar kesukaannya dan penghangat tangan untuk digenggamnya. Sampai akhirnya the golden sunrisenya muncul saya dan si Oik lebih awal turunnya. Sementara teman saya menemui teman di Puncak untuk diajak ke basecamp Wates. 

Bercengkrama dengan si Oik

Sesampai di tenda saya mulai memasak untuk sarapan teman-teman, sementara si Oik main game di dalam tenda. Singkat cerita kami selesai masak pukul 08:30, dan sarapan bersama. Pukul 09:00 kami mulai berkemas untuk turun. Pukul 09:50 kami start turun dan begitulah diperjalanan sembari bercanda kami tidak merasa capek dan sampai di baseecamp pada pukul 11:30 an. 

Gunung Prahu yang Cantik

Beruntung lagi saya bertemu dengan orang Demak, yang akhirnya kami pulang bersama dan salah satu dari mereka itu saya untuk menjagain si Oik saat pulang, terimakasih sekali atas bantuannya.


Review dari kami Buat Pendakian Gunung Prahu Via Wates adalah, jalur sangat nyaman untuk semua usia, Jalur yang banyak landainya serta tersedia mata air yang cukup itu yang menjadi salah satu kebutuhan utama para pendaki. Basecamp yang ramah dan bersih serta fasilitas yang lengkap menjadi daya tarik tersendiri untuk singgah dan memulai pendakian gunung Prahu Via Wates, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Contact Person Basecamp Wates = 0813-9220-6767 

Jasa Antar Jemput Pick Up Bpk Heru +62 812-1516-4950

Pendakian Gunung Penanggungan 1653 MDPL Via Tamiajeng

Pendakian Gunung Penanggungan 1653 MDPL Via Tamiajeng



Dalam perjalanan kali ini ada unsur yang di sengaja dan juga tidak sengaja, dimintai tolong seseorang di Jawa Timur kemudian langsung saya ia kan dan acc.

Tidak butuh waktu lama hanya 6 jam sudah sampai ke rumah beliau, sekaligus segera menyelesaikan pekerjaan yang beliau minta, al hasil dari kota demak saya sudah sengaja membawa perlengkapan untuk pendakian jika saya berjaga-jaga jika saya di culik ke mana begitu....

Benar saja, usai pekerjaan kami tanpa babibu dan gercep untuk menyiapkan segela kebutuhan. Mulai memilih gunung mana yang akan kami tuju, mengawali keinginan ke Arjuno dan Welirang, akhirnya digagalkan faktor X yang memang harus di patuhi mengingat kondisi cuaca yang belum stabil kedua gunung tersebut ditutup untuk pendakian.

Terpilihlah gunung Penanggungan melewati basecamp Pawitra. Perjalanan dari kota Lamongan memakan waktu kurang lebih 2,5 jam dengan melewati jalan berbukit dan berkelok menjelang sampai di basecamp.

Basecamp & Pos 1

Kesan pertama saat memasuki basecamp adalah kebersihannya, terjaga dan masih asri serta tersedia berbagai fasilitas yang bisa dimanfaatkan para pendaki, seperti mushola, kantin, toilet dan disiapkan trash bag untuk membawa sampah turun setelah pendakian. Lokasi parkir yang menyebar sebenarnya tidak masalah akan tetapi kurang terlihat rapi.

Memiliki tingi 1.653 MDPL saya berfikir ini gunung yang pendek dan bisa dijangkau lebih cepat seperti Gunung Andong di Magelang yang hanya 1 jam pendakian meskipun lebih tinggi dari Penanggungan. Nyatanya sebuah tidak sesuai ekpektasi. Jalan yang datar mengingatkan saya saat mendaki Gunung Gede Pangrango via Cibodas, hampir mirip di jalur pendakian Gunung Pananggungan ini. Hutan masih rapat dari basecamp dan sesekali mencium aroma durian yang sudah masak meskit terlihat wujudnya di atas pohon yang masih menggelantung. Pikirku semoga dapat tiban duren waktu itu tapi jebulnya 0 (nol).

Saya memulai pendakian bersama mas Egy dari basecamp pukul 15:30 dimana kamu sudah sepakat untuk mendirikan tenda di Pos Bayangan untuk beristirahat dan eskonya akan melakukan summit attack. Perjalanan satu jam saya sampai di Pos 2 yang di sana ada beberapa warung yang menjajakan makanan yang cukup lengkap. Tidak heran jadi banyak para pendaki yang singgah baik pada saat naik atau turun untuk beristirahat. Kemudian aku bertanya dengan mas Egi, dimana Pos 1 nya??? Jawabannya cukup mengejutkan saya, di basecamp tadi itu pos 1 pak.... Lahhh ternyata ada ya basecamp menjadi Pos 1 Pendakian hehehehe.

Setelah pos 2 kami melanjutkan perjalanan untuk menyusuri jalan yang mulai menyempit dan setapak. Meski terkadang ada jalur-jalur baru dari para pendaki tetap saja perjalanan kali ini cukup membius saya karena setiap tanjakan ada saja cerita yang unik dan lucu-lucu.

Pos 2 

Cerita unik dan lucu itu saat kami berpapasan dengan pendaki lain dari Mojokerto, Surabaya dan sekitarnya. Saat berpapasan kami saling membagi semangat dalam bentuk support dalam perjalanan yang sudah mendekati titik jenuh. Namun ada saja gurauan yang membuat jalan kami semangat untuk tetap sampai pos bayangan untuk tempat camp kami.

Bertemulah kami dengan calon pak dokter yang masih maba, yang satu aktivis PMI dan yang satu nya sudah bekerja di salah satu perusahaan yang cukup terkenal di wilayah Mojokerto. Spil-spil candaan kami tak terasa mengantarkan kami menyusuri setiap pijakan kami ke arah yang lebih tinggi. 

Lembayung senja sedikit ragu untuk menampakkan diantara kumpulan awan yang bergumpal hitam yang akan mengguyur buminya. Di sebelah sesekali nampak gunung Arjuna dan Welirang yang sesekali tertoleh oleh pandangan kami. 

Pukul 18:00 kami sampai di pos bayangan, dan sesegera kami dirikan tenda, mimilih diantara kasur-kasur empuk dengan rumput yang tebal, rasanya lebih nyaman buat istirahat kami malam itu. Usai tenda satu kami berdiri, rintik hujan mulai membasahi dedaunan dan kamipun menyelematkan perlengkapan kami ke dalam tenda. Tidak lama satu tenda juga terbangun dan kami memasuki tenda masing-masing. Dalam perjalanan kami sudah bercanda tawa, saling meledek dan sebagainya usut punya usut kami belum berkenalan. Disitulah pecah tawa kami, sesaat kami memperkenalkan diri masing-masing. Dilanjut dengan makan malam seadanya dan secangkir teh hangat yang mengintai perut kami, rasanya sedikit menghangatkan suasana. Hujan tidak begitu lama, angin juga bersahabat malam itu. Semenjak itu kami terkulai dalam nyenyak tidur kami buat summit attack di esok hari.

Pos Bayangan sekaligus Camp Area

Usai sholat subuh kemudian saya membangunkan teman-teman untuk melanjutkan perjalanan, ke Puncak Pawitra. Memang tidak terlalu lama kurang lebih satu jam sehingga kami memulai juga pukul 5 dengan harapan dapat sun rise di sepanjang jalan. Namun itu terlalu lama untuk kami tunggu hingga kami acuh saja dengan sun risenya. Sebelum sampai di puncaknya kami mendapatkan spot yang baik untuk mengambil gambar di atas batu yang cukup besar dan kami duduk di situ sembari mengisi perut kami dengan air mineral di pundak kami.

Sesaat di puncak, kamipun berdiri diantara pendaki lain untuk mengantri mengabadikan momen di puncak Pawitra. Kota Surabaya, Sungai Berantas, Lumpur Lapindo dan beberapa kota yang lain menjadikan spot pandangan kami.

Puncak Pawitra

Usai swafoto, kami turun menuju pos bayangan. Dapat pisang untuk kami nikmati dari pedagang dan setelahnya kami membuat nasi goreng dan satu yang tidak pernah ku rasa yaitu membuat Martabak Terang Bulan. Kenyang rasanya pagi itu hingga sisa logistik bisa kami bagi-bagikan dengan pendaki lain.

Akhirnya saya dan mas Egi sampai di basecamp pukul 12 an. Rehat sebentar kami melanjutkan perjalanan ke Lamongan.

Pendakian Gunung Merbabu Via Selo Tahun 2022

Pendakian Gunung Merbabu Via Selo Tahun 2022

 


Mengejarkan kaki yang sudah sekian bulan tidak menapaki tanah pegunungan, akhirnya kesempatan itu datang menghampiriku. Kesempatan yang tepat untuk mengulang kembali pendakian Gunung Merbabu Via Selo yang menjadi jalur favorit bagi para pengelana. Sebelum benar-benar mendaratkan kaki ke sana saya memastikan quota pendakiannya. Pada awalnya mau mengambil weekend days, namun setelah melihat quota penuh dan pindah haluan ke weekday tepatnya hari Jumat minggu terakhir bulan Agustus 2022. Pun waktu kami sampai basecamp quota pendakian juga sudah penuh. 

Ada beberapa regulasi baru pada jalur pendakian Gunung Merbabu via Basecamp Selo setelah pandemi Covid 19. 

1. Sistem pendakian dengan Booking Online

2. Quota pendakian perhari kurang lebih 200 orang

3. Pendakian minimal 3 orang dan jika hanya 1 atau 2 orang wajib menggunakan jasa guide lokal.

4. Tiket masuk lokasi wisata Rp 15.000

5. Tiket pendakian weekday Rp 17.000 dan Tiket Weekend Rp 28.500 dan tiket ranger Rp 15.000/3 org

6. Disediakan trashbag untuk membawa sampah kembali turun.

7. Pendakian di buka pukul 08:00 WIB dan tutup pukul 16:00 WIB

Sebenarnya masih ada beberapa peraturan yang harus di taati selama pendakian. Semua tentu untuk sebuah kenyamanan para pendaki sehingga Gunung Merbabu pada jalur Selo ini tetap terjaga kebersihannya.

Well, awalnya saya mendaftarkan untuk 5 orang dalam pendakian ini, namun karena berbagai hal 3 orang dari pendakian awal mereka skip. Tinggalah kami berdua dalam pendakian ini namun pembayara tetap berlima. Hehehehehe.... its okay buat saya dan teman saya kak Irhas. 

Kami sampai di basecamp pada pukul 15.00 WIB, alhamdulillah kami ditempatkan basecampnya mas Ari yang sekaligus banyak membantu selama pendakian. Kami mengawali dengan registrasi ke kantor TNGM untuk mengisi formulir yang sudah disediakan oleh balai TNGM. Kemudian kami meninggalkan identitas diri sebagai jaminan selama pendakian bila terjadi sesuatu selama pendakian.

Setelahnya kami pun mulai packing barang-barang yang kami perlukan selama pendakian dan yang selebihnya kami titipkan di basecamp supaya tidak memberatkan dalam perjalanan kami. Beruntung kami waktu itu bertemu dengan satu rombongan pendakian dari kota Kudus yang berjumlah 16 orang dari perusahaan BUMN yang memiliki hobi mendaki. Kami mengawali pendakian pada pukul 15:30 dari basecamp.

Perjalanan kami disambut dengan tanaman yang masih menghijau sedikit berkabut. Sejuk terasa udara pegunungan ini menyapa pori-pori kami. Segar juga terasa dalam pernafasan kami yang sebelumnya memang di tautkan dengan jumlah pekerjaan yang menyelimuti kinerja otak kami. Satu dua langkah kami mengayunkan kaki kami untuk memposisikan tubuh kami pada ketinggian. Nafas awal kami agak terengah saat beradaptasi dengan perjalanan, meski tidak terlalu buru-buru kami sedikit merapatkan langkah kami sehingga tidak terlalu kemalaman saat mendirikan tenda di Sabana 1 sebagai rencana awal kami. 

Kebersamaan kami dengan pendaki dari Kudus akhirnya ambyar di tengah perjalanan, dengan mereka kami terpisah dan kami izin untuk berjalan lebih awal. Di Pos 1 hari sudah mulai meredup tertangkap di layar HP kami sudah menunjukkan pukul 17:00 yang menandakan mentari sudah berajak ke peraduannya. Kami istirahat sejenak untuk mengisi kantung perut kami dengan beberapa cemilan dan kami dorong dengan air mineral yang terasa seperti baru keluar dari kulkas. Berrrrrrrrrrrrrrrr.... dingin dan seger banget menyusuri kerongkongan yang sedikit mengering. Oh ya pendakian kali ini saya di sangoni (di bawakan) buah sri kaya yang rasanya sangat manis dan menyegarkan sehingga bisa mengurangi mengonsumsi air mineral. 

Kami melanjutkan perjalanan kami dari pos 1 pada jelang maghrib dan senter sudah mulai kami nyalakan. Langit jingga di ufuk barat membayangi tatapan kami yang menengadah setiap melihat tanjakan-tanjakan yang masih bersahabt untuk menuju pos 2. Sesekali kami menyandarkan badan kami pada bahu-bahu jalan saat rasa pegel yang menyelinap di antara tulang-tulang punggung. Bersosialisai dengan debu-debu kemarau membuat kami sedikit meringankan injakan kaki untuk tidak menerbangkan debu bersama angin malam yang mulai menyapa kami. 

Pukul 18:15 menit kami sampai di pos 2. Saat sampai di pos 2 ekspektasi tidak sesuai dengan yang aku harapkan karena shelter yang sudah menghilang dan kami hanya melintas untuk melanjutkan ke pos 3. Jalur menuju ke pos 3 pun juga berbeda kalau dahulu terakhir pendakian kami pada tahun 2018 an masih di jalur air kini jalur di buat mengarah ke punggungan bukit sehingga jika musim hujan tidak terganggu dengan jalur airnya. 

Beberapa kali break akhirnya kami sampai di Pos 3 Watu Tulis pada pukul 19: 20 menit. Kemudia kami berdiskusi mau lanjut atau mau camp di Pos 3. Dengan berbagai pertimbangan kami memutuskan untuk mendirikan dan istirahat di Pos 3. Pukul 19:40 kami selesai mendirikan tenda dan kami menghangatkan tubuh dengan meneguk susu hangat di temani dengan makanan tradisional yakni LEMPER. Cukup kenyang dengan berbagai cemilan, kami putuskan untuk sholat Maghrib dan Isyak yang kami jamak dengan menyucikan diri secara tayamum. Kami berdiskusi untuk summit pagi harinya dan di putuskan pukul 03:00 untuk mulai summit. Kemudian kami putuskan untuk rehat mengembalikan tenaga yang sudah terkuras selama perjalanan sebelumnya.

Pukul 02:30 alarm sudah berbunyi, namun jika boleh jujur saya kurang bisa begitu nyenyak tidurnya hehehe. Udara yang dingin meski tubuh sudah dibalut dengan SB tebal tetap saja rasa dingin itu menyerang setiap sendi-sendi kami. Ahhh buallll kami terus menyingkirkan kantuk yang masih saja melekat pada mata-mata merah kami. Kami melekatkan jari di ujung mata untuk mengambil kotoran-kotoran kecil dan berusaha untuk menyadarkan otak kami menuju 100% untuk menyiapkan summit kami. 

Bekal untuk summit sudah kami siapkan tinggal melangkah dengan sepatu kusam kami yang terasa beku saat di pakai karena sisa embun semalam. Namun perlahan embun itu menepi dan terserap dengan debu-debu saat kami menaiki tanjakan yang terjal untuk menuju Sabana Satu. Aku hanya ingat pesan Mas Ari pengelola basecamp dan sekaligus ranger gunung Merbabu, jika tiba di tanjakan menuju Sabana 1 silahkan mengambil jalur paling kanan sehingga tidak terjebak dengan jalur yang tidak bersahabat jika mengambil tengah atau paling kiri. Karena memang jalur untuk menuju Sabana 1 sangat banyak. Benar saja kami mengambil jalur tersebut dan memang bersahabat untuk perjalanan. Ditambah lagi kami tidak membawa bekal terlalu banyak sehingga meringankan kaki kami untuk menaiki ke tujuan kami.

Sabana 1 membutuhkan waktu 40 menit saat kami mulai mendengar lantunan Al-Qur'an di kaki gunung Merbabu untuk menyambut subuh hari. Sambil menyapa dan permisi pada penghuni Sabana 1 kami tetap menapakkan kaki kami untuk menuju ke Sabana 2. Gundukan bukit di depan kami terasa menyambut kedatangan kami dengan aroma bunga Edelwis yang sedang mekar-mekarnya. Ingin aku memetiknya namun tetap aku jaga niatku dan cukup menciumnya saja. Pun sudah puas rasanya untuk setiap bertemu dengan bunga abadi gunung Merbabu ini. Tidak membutuhkan waktu yang lama di belakang kami sudah mula terlihat bias-bias senter pagi yang mengikuti summit kami. Seneng rasanya melihat kilauan itu dan aku tuh orang nya sedikit baper jadi kalau ada moment yang sedikit mengena pasti aku terharu hehehehe.


Fajar Menyingsing

Di Sabana 2 tampak sunyi hanya 3 tenda yang berdiri di sana. Ku tautkan kalimat untuk permisi dan ditanggapi oleh penghuninya yang berkata "Summit Bang" kami jawab bersama iyaa bang. Pukul 04:15 kami melalu sabana nya dan mencoba mengingat jalur yang dulu pernah kami lalui saat tahun 2018. Semesta nampaknya menyuruhku untuk melewati jalur lama yang belum pernah aku lalui. Karena waktu yang masih pagi buta dan jalur memang tidak terlihat, jalur ini sebenarnya lebih terjal dan panjang di hingga kami sampai di Puncak Merbabu. Namun di pertengahan jalur ini kami bertemu dengan Watu Lumpang yang mirip di Puncak Kenteng Songo, akan tetapi hanya 1 buah. Di sinipun kami beristirahat sambil makan jajanan kami. Sejenak pendaki yang lain pun datang yang mereka mengaku dari Jakarta dan di temani sama pakde Ranger, beliau menjelaskan tentang keberadaan Watu Lumpang tadi yang saat ini di kelilingi pagar yang berantai agar sedikit lebih aman dari tangan-tangan jail yang tidak terpantau.

Setapak demi setapak kami menaiki tanjakan yang semakin terjal dan di bawah mulai dikumandangkan adzan subuh yang saling bersahutan. Di ufuk timur sudah mulai tampak fajar menyingsing yang lambat laun semakin cerah. Moment-moment krusial yang hanya sesaat kami abadikan dengan ponsel kami tentu kami tidak ingin merugi dengan moment ini hehehe. Sementara kaki kami terus berpijak dan kemudian kami mencari lokasi yang sedikit datar untuk kami menundukkan kepada Yang Maha Kuasa Kami biar komunikasi dan permintaan kami pagi itu terkabulkan. 


Godaan Merapi Untuk Tetap Memandangnya

Usai sholat subuh kami memilih jalan berbeda dengan pendaki di belakang kami, mereka mengambil arah kanan dan kami memilih lurus karena memang tujuan kami adalah Puncak Trianggulasi. Tidak selang lama kami sudah disuguhkan penampakan Gunung Merapi di belakang kami. Pagi itu cuaca sangat cerah sehingga nampak jelas sekali senyuman Gunung Merapi itu kepada kami, kalau boleh saya berkelakar pasti dia kangen sama saya yang sudah 4 tahun tidak mengunjungi nya hehehe. Karena masih erupsi kami hanya bisa menahan untuk bertemu langsung dengan Merapi hanya say hello dari kejauhan rasanya sudah sangat cukup untuk saat ini. 

Pukul 05:30 kami sudah sampai di Puncak sesuai dengan prediksi kami. Seolah puncak Trianggulasi hanya milik kami karena memang belum ada orang sama sekali. Udara yang sangat dingin kami tidak berhenti bergerak untuk menciptakan rasa hangat dalam tubuh kami. Tentu kami mengeluarkan kamera dan hp yang kami bawa untuk mengabadikan moment tersebut. Tidak menunggu waktu lama Sun Rise nya yang kami tunggu-tunggu muncul. Seolah burung-burung yang berkicau di bawah juga bersama menyambut hangatnya sang mentari pagi itu. Setelah rasa hangat kami dapatkan kami putuskan untuk mengisi perut kami yang sudah mulai terusik dengan kata LAPAR dan kata kak Irhas kita KURANG ASUPAN pak hehehehe. Sarapan kami nasi bungkus sama telur ceplok yang super dingin. Akan tetapi tetap habis tersantap tak bersisa. 


Sun Rise Time


Gunung Merapi dari Puncak Trianggulasi

Kemudian di penghujung waktu kami menyempatkan ke jalur pendakian Suwanting untuk mengambil Sabana yang sangat aestetik yang berlatar belakang beberapa gunung di sebelah barat nya. Bertemu dengan pendaki lain terutama dari pekalongan akhirnya kami saling tukar nomor kontak karena ada foto yang saling di titipkan untuk kami kirim saat kami sudah di bawah. Setelah dirasa cukup kami memutuskan untuk kembali ke tempat camp di Pos 3. Pukul 07:30 kami start dari Puncak dan akhirnya kami memilih jalur baru yang menuju ke Sabana 2 yang relatif lebih singkat. Pukul 08:40 kami sudah sampai di Pos 3 dan segera kami berkemas untuk melanjutkan turun ke basecamp. 

Istirahat sambil berkemas barang kami lakukan dan pada pukul 09:15 kami mulai bergerak turun. Dalam perjalanan kami di atara pos 2 dan pos pos 1 kami bertemu dengan penghuni Merbabu yakni Monyet Hitam yang bergelantungan untuk menikmati sarapan mereka. Serta bertemu sepasang Elang Jawa yang terbang dengan kepakan sayap yang cukup lebar terbentang. Mereka berayun menghiasi hutan Merbabu dan memekikkan suaranya yang seolah menjadi kawasannya untuk menatap binatang yang akan di santap buat pengisi perutnya. Perjalanan turun kami di semangati oleh para pendaki lain yang cukup banyak dan datang dari berbagai kota baik Jawa Tengah, Jawa Barat atau Jawa Timur. Sempat bertemu bule juga dari Norwegia hanya dua orang yang tektok Merbabu pagi itu.

Pukul 11:40 kami sampai di basecamp, dan kami menemui petugas sebagai bentuk laporan dan tanggungjawab kami terhadap sampah yang kami bawa. Setelah di teliti kamipun lolos dan tidak di kenakan denda jika melanggar beberapa item yang tidak terbawa. Kemudia kami pamit dan menuju ke basecamp Mas Ari untuk kemudian kami pun pulang ke rumah. Dan alhamdulillah pukul 17:00 sore hari kami sudah sampai di rumah kami masing-masing dengan selamat. Alhamdulillah juga perjalanan sesuai dengan harapan, dapat view cerah, selamat dalam perjalanan dan bisa menambah teman tentunya. Terimakasih kepada seluruh pengelola TNG Merbabu yang telah memfasilitasi kami sehingga pendakian kami berjalan aman, lancar dan tertib.


Jalur Suwanting


Cerita Misteri Ratu Penunggu Gunung Ungaran

Cerita Misteri Ratu Penunggu Gunung Ungaran



Pendakian gunung Ungaran via Gedong Songo terbilang sangat jarang dilakukan oleh para pendaki. Kecuali warga di lereng Gunung Ungaran bagian selatan yang bermukim di daerah Bandungan dan sekitarnya. Mereka adalah warga yang mencari kayu bakar atau mencari rumput buat pakan ternaknya. Dari sisi medan pendakian jalur ini memiliki jalur yang komplit, tanjakan tajam, semak belukar dengan rumput yang setinggi manusia, serta jalan datar di beberapa tempat yang membuat perjalanan menjadi enak, dan satu lagi jalur ini masih asri dan hutan yang lebat jadi sepanjang jalan cukup sejuk.
Disisi lain buat saya pendakian di jalur ini cukup dengan hawa mistisnya. Di mulai dari Pos satu yang cukup datar. Di sini hawa mistis sangat terasa saat saya beristirahat yang berdekatan dengan pohon yang berlubang. Seolah-olah di situ banyak sekali mata-mata berkeliaran yang menatap ke arah kami saat itu. 

Pos 1


Kemudian menyusuri kembali naik kurang lebih 500 meter kembali dipertemukan dengan pohon pintu yang cukup besar. Pohon ini memiliki ketinggian lebih dari 100 meter dengan ukuran yang cukup besar ada salah satu akar pohon tersebut menggelantung dan membentuk seperti pintu. Para pendaki biasanya melewati bawah akar pohon tersebut dan sedikit menunduk bagi mereka yang memiliki badan yang tinggi. Hawa mistis sangat terasa pada malam hari atau jelang maghrib. Dimana pohon ini cukup berdiri tegak diantara perdu yang lain. Selain itu pohon ini memiliki lumut yang sangat tebal. Lumut-lumut itu juga menyuburkan tanaman lain seperti anggrek gunung yang menempel semakin rimbun sehingga menambah angker jika melewati pohon ini. 

Pohon Pintu


Tempat yang lain adalah di pertigaan arah puncak Botak dan ke puncak Benteng Rider. Tempatnya cukup datar dan jika hujan cukup banyak digenangi air sehingga tidak cocok untuk mendirikan tenda. Di sekeliling tempat itu juga pohon-pohon nampak lebat dan dan rumput liar berduri menghalangi jalan buat pendakian. Terlebih jika saat musim hujan tempat ini menjadi licin dan berlumpur.

Seperti kisah mistis yang saya alami saat itu, begini ceritanya:
Sebagai Pembina Pramuka di SMK kami, kami setiap akhir semester mengadakan pengambilan ambalan dan kali itu saya bersama pelatih Pramuka mengadakan pengambilan ambalan LAKSANA khususnya. Kami mengadakan kegiatan bersama guru-guru yang lain termasuk kepala sekolah. 

Perjalanan kami mulai pada siang hari, peserta terbagi menjadi 5 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 6-8 orang putra dan putri. Pada awal pendakian semua aman meskipun tertatih-tatih untuk mencapai puncaknya. Kejadian mistis itu terjadi pada saat siswa kami menuruni jalur pada saat akan kembali ke candi Gedong Songo. Karena faktor lelah, ngantuk salah satu siswa kami kurang konsentrasi dan terkadang melamun. Dia terpeleset dan jatuh, dan saat itu sempat tidak sadarkan diri beberapa saat. Setelah tersadar yang terjadi adalah dia bukan dia yang asli. Sepertinya kesurupan, suaranya yang tadi biasa saat itu berubah menjadi suara wanita tua yang tertawanya terkekeh-kekeh. Kamipun berusaha untuk memberikan pertolongan sebisa kami yang pada akhirnya bisa diajak komunikasi. Saat menjadi perempuan tua itu dia bilang kalau dia penjaga hutan gunung Ungaran, kata dia lagi dia tidak mau di usik dengan kedatangan kami yang tidak sopan dan kami di suruh segera pergi. 

Kami membacakan ayat-ayat al-qur'an waktu itu untuk mengusir si penunggu gunung Ungaran tersebut. Cukup lama kami untuk mencoba menyadarkan murid kami. Hingga akhirnya dia setengah sadar kamipun bergegas untuk mengajak untuk segera turun. Sambil di papah kami menuruni setiap jalan. Terus terang kami juga mengalami kwalahan pada saat itu karena perlengkapan savety yang kurang memadahi. Dengan berjalannya waktu akhirnya kami sampai di candi Gedong Songo sekitar pukul 14:00 dan kamipun segera membersihkan tubuhnya yang dibantu siswa perempuan untuk segera kami bawa pulang ke kota Demak. 

Singkat cerita akhirnya sampai rumah, siswa tersebut kembali tidak sadarkan diri bukan hanya satu jam atau dua jam akan tetapi hampir dua bulan dia mengalami koma. Setelah ditelisik oleh orang pintar ia berkata ini anaknya di singgahi penunggu gunung Ungaran hingga sama sekali tidak sadar. Kemudian anak di bawa ke RSUD Sunan Kalijaga Demak dan langsung masuk ke ruang ICCU. Keluarga kemudian mendatangi sekolah kami khusunya menghadap ke kepala sekolah. Pihak keluarga menceritakan apa yang di dapat dari orang pintar tersebut. Salah satu jalan yang harus ditempuh harus kembali ke gunung Ungaran dimana ia terpeleset untuk mengambil tanah dan sebagai syarat penyembuhan kata orang tersebut. 

Kepala sekolah memanggil saya dengan apa yang disampaikan oleh pihak keluarga tersebut. Sebagai pembina Pramuka akhirnya ditunjukklah saya untuk mengantar kedua orang pintar tersebut ke gunung Ungaran. Saya sendiri minta ditemani salah satu guru untuk mengantarkan mereka naik ke gunung Ungaran. Kami naik sepeda motor berempat. Setelah sampai di Candi Gedong Songo kurang lebih pukul satu siang dan saya menyampaikan kondisi perjalanan yang akan kami tempuh untuk sampai di tempat dimana anak terjatuh. Setelah disepakati, setelah makan siang kami bergerak untuk mendaki gunung Ungaran. 

Hujan rintik menyambut kami saat mulai menapaki jalan setapak yang mulai licin terguyur air hujan. Dalam hati sebenarnya saya tersenyum melihat keinginan kedua orang pintar tersebut karena memang baru kali itu mereka naik gunung dan belum paham medan sama sekali. Berbekal dua botol 1,5 liter air mineral yang ditenteng mereka berjalan cepat di awalnya. Namun seiring berjalannya waktu kondisi sangat sulit buat mereka untuk bergerak saat sudah merasakan hawa dingin gunung Ungaran. Mereka menggigil, selalu menanyakan tempat yang di tuju. Belum sampai pos 1 dia mereka sudah kehabisan tenaga. Kalau dihitung-hitung lebih banyak istirahatnya dibanding berjalannya. Untuk mencapai pos 1 kami berjalan hampir 2 jam lebih yang seharusnya dengan jalan normal biasanya hanya kami tempuh 1 jam an. 

Di pos 1 kami berhenti untuk istirahat, dan disitulah sudah hampir pukul 5 sore suasana gerimis, hutan yang lebat dan kondisi badan sudah mulai kedinginan karena kami hanya pakai mantol plastik untuk melindungi dari hujan. Mereka akhirnya putuskan untuk berkomunikasi dengan penunggu gunung Ungaran dari Pos 1. Mereka duduk bersila menghadap pohon growong sambil komat-kamit membaca doa (Mungkin). Kurang lebih seperempat jam mereka berkomunikasi dengan penunggu gunung Ungaran yang diakhiri dengan mengambil segenggam tanah yang kemudian dimasukkan ke dalam plastik untuk di bawa turun. Saya di belakang hanya mengamati dan tersenyum picik (ih jahat banget kali ya aku, hehehehe). Karena sebesar apapun semangat kita namun kondisi fisik yang terkalahkan dengan keadaan akhirnya menyerah juga. Aku hanya mengiyakan dengan ucapan mereka dan selalu menuruti keinginan beliau karena memang itu menjadi bentuk tanggung jawab saya mewakili sekolah untuk memenuhi permintaannya.


Pos 1 Sisi Pohon Growong


Di warung makan saat sudah kembali di Gedong Songo kami menghangatkan tubuh kami dengan teh panas. Lalu saya mendekati mereka dan segera ingin mengerti hasil pembicaraan mereka. Mereka bercerita di pos 1 tersebut sudah banyak mahluk mahluk halus yang bergentanyangan dari anak kecil klantung, kakek-kakek berjenggot putih, mbak kunti dan penghuni lain. Maaf saya tidak bisa melihat kehadiran mereka penghuni mahluk halus, namun saya bisa merasakan aura mistis suatu tempat yang di diami oleh penghuni tersebut. Lantas salah satu dari mereka bercerita bahwa dia berkomunikasi dengan nenek ratu penghuni Gunung Ungaran. Ratu tersebut memakai pakaian serba putih yang kepalanya bersanggul layaknya ratu dari sebuah kerajaan. Ratu tersebut katanya bilang jika gadis itu ingin sembuh maka di suruh untuk memandikan dengan tanah yang di bawa dari tempat kami, jika tidak maka tidak akan tertolong kata si ratu tersebut.

Saya dan teman hanya bisa manggut-manggut mendengarkan cerita yang panjang dan lebar. Namun di sela-sela itu saya sempat ngguyoni (bercanda) sama mereka, saya sampaikan "Katanya harus di tempat jatuhnya si anak" kenapa hanya sampai pos 1 pak???
Bapaknya menjawab," owalah mas-mas aku yo gak eruh kok awakku kabeh rasane abot lan angel mlakune, padahal soko ngisor awakku biasa wae, lan pas mlebu alase sekabehane kok dadi lemes dumes dengan logat bahasa jawa nya yang medok yang artinya, "Owalah mas-mas aku juga gak tahu kenapa badan tiba-tiba lemes padahal dari bawah sudah semangat. Namun saat masuk hutan gunung Ungaran semua jadi berubah lemas dan tidak kuat untuk berjalan.
Saat itu saya hanya bilang mungkin karena belum terbiasa naik gunung dan tergesa-gesa untuk sampai tujuan mengejar target supaya sebelum malam sudah kembali lagi ke Demak, hehehehe. Merekapun hanya mengiyakan saja.

Sebelum menapaki tanjakan tanpa assalamu'alaikum
yang cukup menguras tenaga

Setelah sampai di kota Demak kemudian tanah itu di bawa ke rumahsakit untuk dilaburkan ke badan siswa tersebut. Dengan cara membasuhkan anggota badan yang terlihat saja tanah itu di lap dengan campuran air sampai beberapa hari. Hasil yang didapat adalah siswa tersebut masih koma untuk sekian lama. Sebagai bentuk tanggungjawab dari sekolahan kamipun membantu untuk kebutuhan setiap hari selama menunggu di rumahsakit. Pada minggu ke 6 akhirnya siswa tersebut mulai merespon setiap gerakan dan mulai sadar dari masa kritisnya. Tidak beberapa lama kemudian dipindah ke bangsal dan pada minggu ke 8 siswa tersebut sudah diperbolehkan untuk pulang. Total biaya yang harus dikeluarkan kuranglebih 60 juta selama dirawat di rumahsakit. Namun semua kami kembalikan kepada Allah SWT yang selalu memberian pertolongan dan kemudahan kepada hambanya yang tidak pernah berhenti berdoa. Semua total biaya akhirnya tercover dari jaminan kesehatan masyarakat yang diusahakan oleh pihak desanya. Namun dari pihak kedokteran menyarankan untuk setiap saat membawa suntik dan obat jika penyakitnya kambuh. Siswa tersebut juga sudah diajari untuk menyuntikkan jarum yang benar, sehingga pada saat kondisi badan yang mulai kambuh kemudian dia menyuntikkan obatnya sendiri.

Siswa tersebut akhirnya bisa kembali ke sekolah bersama teman-temannya sampai lulus dari SMK kami pada jurusan akutansi. Kami selalu bersyukur bahwa setiap perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan pula, dan saat kita berusaha dengan sungguh-sungguh, Allah tidak pernah menutup mata dengan apa yang sudah kita usahakan dan diihtiarkan dalam doa kami.