Mount Lover

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Tentang Blog Ini

Blog ini merupakan cerita murni dari penulis dari pengalaman yang pernah kami lalui, semoga blog ini bermanfaat buat pembaca dan selalu menerima kritikan yang bersifat membangun. Saya ucapkan terimakasih kepada yang telah mengunjunginya, jika anda terkesan silahkan isikan tulisan anda melalui kolom komentar atau bila membutuhkan jasa guide pendakian gunung, bisa hubungi saya, Mr.Ady, WA/SMS/Telp. 085725247115

Follow Us

Cerita Misteri Ratu Penunggu Gunung Ungaran

Cerita Misteri Ratu Penunggu Gunung Ungaran



Pendakian gunung Ungaran via Gedong Songo terbilang sangat jarang dilakukan oleh para pendaki. Kecuali warga di lereng Gunung Ungaran bagian selatan yang bermukim di daerah Bandungan dan sekitarnya. Mereka adalah warga yang mencari kayu bakar atau mencari rumput buat pakan ternaknya. Dari sisi medan pendakian jalur ini memiliki jalur yang komplit, tanjakan tajam, semak belukar dengan rumput yang setinggi manusia, serta jalan datar di beberapa tempat yang membuat perjalanan menjadi enak, dan satu lagi jalur ini masih asri dan hutan yang lebat jadi sepanjang jalan cukup sejuk.
Disisi lain buat saya pendakian di jalur ini cukup dengan hawa mistisnya. Di mulai dari Pos satu yang cukup datar. Di sini hawa mistis sangat terasa saat saya beristirahat yang berdekatan dengan pohon yang berlubang. Seolah-olah di situ banyak sekali mata-mata berkeliaran yang menatap ke arah kami saat itu. 

Pos 1


Kemudian menyusuri kembali naik kurang lebih 500 meter kembali dipertemukan dengan pohon pintu yang cukup besar. Pohon ini memiliki ketinggian lebih dari 100 meter dengan ukuran yang cukup besar ada salah satu akar pohon tersebut menggelantung dan membentuk seperti pintu. Para pendaki biasanya melewati bawah akar pohon tersebut dan sedikit menunduk bagi mereka yang memiliki badan yang tinggi. Hawa mistis sangat terasa pada malam hari atau jelang maghrib. Dimana pohon ini cukup berdiri tegak diantara perdu yang lain. Selain itu pohon ini memiliki lumut yang sangat tebal. Lumut-lumut itu juga menyuburkan tanaman lain seperti anggrek gunung yang menempel semakin rimbun sehingga menambah angker jika melewati pohon ini. 

Pohon Pintu


Tempat yang lain adalah di pertigaan arah puncak Botak dan ke puncak Benteng Rider. Tempatnya cukup datar dan jika hujan cukup banyak digenangi air sehingga tidak cocok untuk mendirikan tenda. Di sekeliling tempat itu juga pohon-pohon nampak lebat dan dan rumput liar berduri menghalangi jalan buat pendakian. Terlebih jika saat musim hujan tempat ini menjadi licin dan berlumpur.

Seperti kisah mistis yang saya alami saat itu, begini ceritanya:
Sebagai Pembina Pramuka di SMK kami, kami setiap akhir semester mengadakan pengambilan ambalan dan kali itu saya bersama pelatih Pramuka mengadakan pengambilan ambalan LAKSANA khususnya. Kami mengadakan kegiatan bersama guru-guru yang lain termasuk kepala sekolah. 

Perjalanan kami mulai pada siang hari, peserta terbagi menjadi 5 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 6-8 orang putra dan putri. Pada awal pendakian semua aman meskipun tertatih-tatih untuk mencapai puncaknya. Kejadian mistis itu terjadi pada saat siswa kami menuruni jalur pada saat akan kembali ke candi Gedong Songo. Karena faktor lelah, ngantuk salah satu siswa kami kurang konsentrasi dan terkadang melamun. Dia terpeleset dan jatuh, dan saat itu sempat tidak sadarkan diri beberapa saat. Setelah tersadar yang terjadi adalah dia bukan dia yang asli. Sepertinya kesurupan, suaranya yang tadi biasa saat itu berubah menjadi suara wanita tua yang tertawanya terkekeh-kekeh. Kamipun berusaha untuk memberikan pertolongan sebisa kami yang pada akhirnya bisa diajak komunikasi. Saat menjadi perempuan tua itu dia bilang kalau dia penjaga hutan gunung Ungaran, kata dia lagi dia tidak mau di usik dengan kedatangan kami yang tidak sopan dan kami di suruh segera pergi. 

Kami membacakan ayat-ayat al-qur'an waktu itu untuk mengusir si penunggu gunung Ungaran tersebut. Cukup lama kami untuk mencoba menyadarkan murid kami. Hingga akhirnya dia setengah sadar kamipun bergegas untuk mengajak untuk segera turun. Sambil di papah kami menuruni setiap jalan. Terus terang kami juga mengalami kwalahan pada saat itu karena perlengkapan savety yang kurang memadahi. Dengan berjalannya waktu akhirnya kami sampai di candi Gedong Songo sekitar pukul 14:00 dan kamipun segera membersihkan tubuhnya yang dibantu siswa perempuan untuk segera kami bawa pulang ke kota Demak. 

Singkat cerita akhirnya sampai rumah, siswa tersebut kembali tidak sadarkan diri bukan hanya satu jam atau dua jam akan tetapi hampir dua bulan dia mengalami koma. Setelah ditelisik oleh orang pintar ia berkata ini anaknya di singgahi penunggu gunung Ungaran hingga sama sekali tidak sadar. Kemudian anak di bawa ke RSUD Sunan Kalijaga Demak dan langsung masuk ke ruang ICCU. Keluarga kemudian mendatangi sekolah kami khusunya menghadap ke kepala sekolah. Pihak keluarga menceritakan apa yang di dapat dari orang pintar tersebut. Salah satu jalan yang harus ditempuh harus kembali ke gunung Ungaran dimana ia terpeleset untuk mengambil tanah dan sebagai syarat penyembuhan kata orang tersebut. 

Kepala sekolah memanggil saya dengan apa yang disampaikan oleh pihak keluarga tersebut. Sebagai pembina Pramuka akhirnya ditunjukklah saya untuk mengantar kedua orang pintar tersebut ke gunung Ungaran. Saya sendiri minta ditemani salah satu guru untuk mengantarkan mereka naik ke gunung Ungaran. Kami naik sepeda motor berempat. Setelah sampai di Candi Gedong Songo kurang lebih pukul satu siang dan saya menyampaikan kondisi perjalanan yang akan kami tempuh untuk sampai di tempat dimana anak terjatuh. Setelah disepakati, setelah makan siang kami bergerak untuk mendaki gunung Ungaran. 

Hujan rintik menyambut kami saat mulai menapaki jalan setapak yang mulai licin terguyur air hujan. Dalam hati sebenarnya saya tersenyum melihat keinginan kedua orang pintar tersebut karena memang baru kali itu mereka naik gunung dan belum paham medan sama sekali. Berbekal dua botol 1,5 liter air mineral yang ditenteng mereka berjalan cepat di awalnya. Namun seiring berjalannya waktu kondisi sangat sulit buat mereka untuk bergerak saat sudah merasakan hawa dingin gunung Ungaran. Mereka menggigil, selalu menanyakan tempat yang di tuju. Belum sampai pos 1 dia mereka sudah kehabisan tenaga. Kalau dihitung-hitung lebih banyak istirahatnya dibanding berjalannya. Untuk mencapai pos 1 kami berjalan hampir 2 jam lebih yang seharusnya dengan jalan normal biasanya hanya kami tempuh 1 jam an. 

Di pos 1 kami berhenti untuk istirahat, dan disitulah sudah hampir pukul 5 sore suasana gerimis, hutan yang lebat dan kondisi badan sudah mulai kedinginan karena kami hanya pakai mantol plastik untuk melindungi dari hujan. Mereka akhirnya putuskan untuk berkomunikasi dengan penunggu gunung Ungaran dari Pos 1. Mereka duduk bersila menghadap pohon growong sambil komat-kamit membaca doa (Mungkin). Kurang lebih seperempat jam mereka berkomunikasi dengan penunggu gunung Ungaran yang diakhiri dengan mengambil segenggam tanah yang kemudian dimasukkan ke dalam plastik untuk di bawa turun. Saya di belakang hanya mengamati dan tersenyum picik (ih jahat banget kali ya aku, hehehehe). Karena sebesar apapun semangat kita namun kondisi fisik yang terkalahkan dengan keadaan akhirnya menyerah juga. Aku hanya mengiyakan dengan ucapan mereka dan selalu menuruti keinginan beliau karena memang itu menjadi bentuk tanggung jawab saya mewakili sekolah untuk memenuhi permintaannya.


Pos 1 Sisi Pohon Growong


Di warung makan saat sudah kembali di Gedong Songo kami menghangatkan tubuh kami dengan teh panas. Lalu saya mendekati mereka dan segera ingin mengerti hasil pembicaraan mereka. Mereka bercerita di pos 1 tersebut sudah banyak mahluk mahluk halus yang bergentanyangan dari anak kecil klantung, kakek-kakek berjenggot putih, mbak kunti dan penghuni lain. Maaf saya tidak bisa melihat kehadiran mereka penghuni mahluk halus, namun saya bisa merasakan aura mistis suatu tempat yang di diami oleh penghuni tersebut. Lantas salah satu dari mereka bercerita bahwa dia berkomunikasi dengan nenek ratu penghuni Gunung Ungaran. Ratu tersebut memakai pakaian serba putih yang kepalanya bersanggul layaknya ratu dari sebuah kerajaan. Ratu tersebut katanya bilang jika gadis itu ingin sembuh maka di suruh untuk memandikan dengan tanah yang di bawa dari tempat kami, jika tidak maka tidak akan tertolong kata si ratu tersebut.

Saya dan teman hanya bisa manggut-manggut mendengarkan cerita yang panjang dan lebar. Namun di sela-sela itu saya sempat ngguyoni (bercanda) sama mereka, saya sampaikan "Katanya harus di tempat jatuhnya si anak" kenapa hanya sampai pos 1 pak???
Bapaknya menjawab," owalah mas-mas aku yo gak eruh kok awakku kabeh rasane abot lan angel mlakune, padahal soko ngisor awakku biasa wae, lan pas mlebu alase sekabehane kok dadi lemes dumes dengan logat bahasa jawa nya yang medok yang artinya, "Owalah mas-mas aku juga gak tahu kenapa badan tiba-tiba lemes padahal dari bawah sudah semangat. Namun saat masuk hutan gunung Ungaran semua jadi berubah lemas dan tidak kuat untuk berjalan.
Saat itu saya hanya bilang mungkin karena belum terbiasa naik gunung dan tergesa-gesa untuk sampai tujuan mengejar target supaya sebelum malam sudah kembali lagi ke Demak, hehehehe. Merekapun hanya mengiyakan saja.

Sebelum menapaki tanjakan tanpa assalamu'alaikum
yang cukup menguras tenaga

Setelah sampai di kota Demak kemudian tanah itu di bawa ke rumahsakit untuk dilaburkan ke badan siswa tersebut. Dengan cara membasuhkan anggota badan yang terlihat saja tanah itu di lap dengan campuran air sampai beberapa hari. Hasil yang didapat adalah siswa tersebut masih koma untuk sekian lama. Sebagai bentuk tanggungjawab dari sekolahan kamipun membantu untuk kebutuhan setiap hari selama menunggu di rumahsakit. Pada minggu ke 6 akhirnya siswa tersebut mulai merespon setiap gerakan dan mulai sadar dari masa kritisnya. Tidak beberapa lama kemudian dipindah ke bangsal dan pada minggu ke 8 siswa tersebut sudah diperbolehkan untuk pulang. Total biaya yang harus dikeluarkan kuranglebih 60 juta selama dirawat di rumahsakit. Namun semua kami kembalikan kepada Allah SWT yang selalu memberian pertolongan dan kemudahan kepada hambanya yang tidak pernah berhenti berdoa. Semua total biaya akhirnya tercover dari jaminan kesehatan masyarakat yang diusahakan oleh pihak desanya. Namun dari pihak kedokteran menyarankan untuk setiap saat membawa suntik dan obat jika penyakitnya kambuh. Siswa tersebut juga sudah diajari untuk menyuntikkan jarum yang benar, sehingga pada saat kondisi badan yang mulai kambuh kemudian dia menyuntikkan obatnya sendiri.

Siswa tersebut akhirnya bisa kembali ke sekolah bersama teman-temannya sampai lulus dari SMK kami pada jurusan akutansi. Kami selalu bersyukur bahwa setiap perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan pula, dan saat kita berusaha dengan sungguh-sungguh, Allah tidak pernah menutup mata dengan apa yang sudah kita usahakan dan diihtiarkan dalam doa kami.



Pendakian Gunung Sumbing Via Dukuh Seman Temanggung

Pendakian Gunung Sumbing Via Dukuh Seman Temanggung

 

Basecamp Dukuh Seman


Mendengar kata Dukuh Seman Temanggung adalah asing bagi saya, apalagi untuk sebuah pendakian gunung Sumbing karena sejauh ini yang saya tahu jalur-jalur seperti Garung, Kaliangkrik, Banaran dan Bowongso. Bermula dari sinilah rasa penasaran untuk mencoba jalur pendakian Gunung Sumbing via Dukuh Seman Temanggun. 

Merencakan untuk pergi ke sana akhirnya saya mendapatkan seorang teman yang memang tinggal di Temanggung dan mengetahui basecampnya. Namanya adalah Alfandi yang masih berstatus sebagai seorang pelajar SMK Negeri di Kota Temanggung. Diawali kami berkomunikasi di WhatsApp kemudian pada hari H nya kami bertemu di Masjid Agung Temanggung di dekat Alun-Alun kota Temanggung. Setelah sholat Duhur yang kami jamak dengan sholat Ashar kami mencari toko buat membeli logistik sebagai keperluan pendakian.  

Jarak dari kota Temanggung ke Dukuh Seman cukup jauh kurang lebih 15 km bisa ditempuh dari pertigaan sebelum Parakan belok kiri. Jalan sudah halus dan beraspal namun ada beberapa bagian yang mulai rusak. Namun tidak menyurutkan niat kami untuk mencoba jalur pendakian tersebut. Sesampai di Basecamp Bimawari yang beralamat Dukuh Seman, Wonosari, Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah ini memiliki ketinggian kurang lebih 1386 MDPL. Basecamp ini merupakan sebuah balai desa yang dimanfaatkan untuk kepentingan berpariwisata. Di sekitar basecamp pemandangan juga bagus sehingga tidak jarang pula banyak wisatawan yang datang dari luar kota mengunjungi tempat ini. Tersedia sebuah cafe di sebelah kirinya dan menyajikan masakan dan minuman khas Temanggung. Tersedia pula satu kamar untuk menginap jika dalam kondisi mendesak karena alasan tertentu. Kamar mandi dan toilet cukup bersih dan tersedia masjid untuk untuk umat muslim yang hendak bersholat. 

Setelah selesai berkemas kemudian kami memutuskan untuk mengojek untuk sampai pintu gerbang pendakian. Menggunakan jasa ojek dengan harga 25K sangat pas untuk bisa memangkas waktu kurang lebih 1 - 2 jam jika kita berjalan. Jalan yang sudah berbeton membuat laju ojek cukup cepat dan sekitar beberapa ratus meter jalan mulai berbatu dan cukup tinggi tanjakannya membuat laju motor melambat. Di sepanjang jalur ini adalah ladang para petani sayur mayur yang sangat subur namun sudah minim dengan pohon-pohon peneduh yang artinya tingkat kekuatan tanah juga bisa labil jika tidak dicakar oleh akar-akar tumbuhan besar dan bisa saja rentan dengan longsor yang mengintai warganya.

Kurang lebih 15 menit kami sampai di pintu gerbang dan perjalanan mendakipun siap di mulai. Berdoa sebelum perjalanan kami lantunkan untuk kemudian mulai menyapa tumbuhan di sepanjang jalur pendakian dengan langkah kami. Tujuan pertama kami adalah menuju Pos 1 yang bisa kami tempuh kurang lebih 5 menit. Jalur menuju ke pos 1 ini masih nyaman dan landai. Di bawah rumbunnya hutan cemara membuat nafas kita lebih segar dengan bau aromatik dari daun cemara. Kami memutuskan untuk tidak beristirahat hanya sekedar melintas dan melanjutkan pejalanan menuju ke Rest Area Sicindai. 

Rest Area Sicindai ini berada pada ketinggian 1.646 MDPL yang bisa ditempuh dengan jarak waktu 40 menit. Keluar dari hutan cemara kami mulai disambut perdu-perdu yang tinggi dan kokoh di sepanjang jalur sesekali jalan dibuat zigzag untuk membuat pendaki mudah untuk melangkahkan kakinya. Terkadang dalam perjalanan juga menemui penghuni hutan yang menyapa dari kejauhan dengan suara-suara khasnya. Jalan terasa menyenangkan saat oksigen hutan ini bersahabat pada siang hari, tentu akan berbeda pula jika pendakian malam hari tentu nafas akan terasa sesak karena harus berbagi oksigen dengan lebatnya hutan gunung Sumbing ini.

Menuju Pos 2 dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dengan medan yang mulai menyapa dengan terjalnya dan itu akan membutuhkan tenaga yang sangat extra di setiap tanjakannya. Pos 2 ini berada pada elevasi 1.800 MDPL. Dari Pos 2 ke Pos Simpang Curug kurang lebih 15 menit, dan di sini para pendaki bisa berhenti sejenak dan bisa mengisi air untuk bekal selanjutnya. Medan masih sama dengan sebelumnya menanjak.



Pos Simpang Curug dilanjutkan ke Pos 3 dengan ketinggal 1943 MDPL dengan waktu yang cukup lama kurang lebih 90 menit. Ada shelter yang dibangun di Pos 3 ini dan di sebelahnya terdapat tandan air jika dalam keadaan darurat bisa dimanfaatkan. Karena airnya tidak terlalu bersih dan bercampur dengan daun-daun kering yang berjatuhan. Di sekitar area ini hanya tidak lebar berada di kemiringan jadi tidak disaranakan untuk membangun tenda di sekitar ini. Akan lebih aman jika mendirikan tenda di camp Anggrek

Singkat cerita akhirnya kami pun sampai di camp Anggrek. Cukup luas tempat camp ini sebelum Pos 3, selain masih ada vegetasi tempat ini juga terlindung dari tebing yang cukup tinggi, sehingga jika ada badai tidak terlalu terasa.

Pagi harinya pukul 4 dini hari kami summit dengan bekal yang kami punya, hingga sebelum pos 4 kami di suguhkan pemandangan yang sangat menakjubkan kota temanggung dan sekitarnya. Kami sempatkan untuk sholat subuh sebelum akhirnya kami lanjutkan perjalanan. Pagi itu udara cukup dingin dan angin kencang yang menerpa kami seolah menemani perjalanan kami menuju puncak gunung Sumbing. 

Di sabana yang sangat luas mentari pagi itu enggan muncul karena di selimuti kabut yang cukup tebal di setengah nya gunung Sumbing. Namun kami tetap lakukan perjalanan itu hingga akhirnya kami sampai di pasir putih kawah gunung Sumbing pukul 07:00. Saya sendiri memutuskan untuk berhenti di situ dan tidak melanjutkannya ke puncak, mengingat puncak Rajawali masih terlalu jauh dan saya sendiri pernah menjangkaunya. 



Setelah istirahat sejenak dan sarapan akhirnya kamipun pulang ke tenda , siangnya kami melanjutkan perjalanan turun dan kami sampai basecamp pada pukul 2 siangnya. Perjalanan yang mengesankan meski sesaat namun kenangan itu akan tetap menjadi sebuah pengalaman untuk bisa di ceritakan ke teman atau ke keluarga dan anak di suatu saat nanti.

Update Pendakian Gunung Ungaran Via Mawar

Update Pendakian Gunung Ungaran Via Mawar

Disaat kerja sudah menemui titik rasa jenuh, buat pelarian yang terbaik adalah ke alam. Dimana di sana kita akan mendapatkan suguhan yang tak ternilai keindahannya selama alam tersebut dikelola dengan baik dengan mempertimbangkan segala kebutuhan masyarakat di sekitarnya. 

Kali ini adalah yang kami tuju Gunung Ungaran dengan basecamp Mawar yang berada dalam kawasan wisata Umbul Sidomukti, Desa Jimbaran, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Terakhir saya melewati basecamp ini 4 tahun yang lalu dengan jalur barunya.

Kami mendaki bertiga yang dengan meeting point di jalan Solo- Semarang tepatnya jalur ke arah Bandungan di depan pom bensin Lemah Abang Ungaran. Kemudian kami menuju basecamp dengan kendaran bermotor. Seperti biasa saya melalui rute desa untuk menuju basecamp. Saya berfikir lebih cepat sampainya dan jujur saja menghindari retribusi di Umbul Sidomukit, karena menurut saya kami tidak berwisata di tempat tersebut. Mendekati basecamp Mawar yang tinggal 500 meter lagi akhirnya kami bertemu dengan pak satpam yang menghadang kami. Kemudian beliau berkata dengan alasan ini-itulah kami diminta putar balik dan lewat Umbul Sidomukti. Dengan perasaan kesal kamipun berputar balik dan di area Umbul Sidomukti kami membayar masuk area wisata dengan permotor Rp. 5K.

Setelah sampai di basecamp kamipun segera berkemas untuk pendakian kami. Registrasi per orang 15K dan parkir motor 5K. Harga yang cukup terjangkau buat kantong para pengunjung gunung Ungaran. Sore itu udara cukup dingin menyambut kedatangan kami. Bergegas kami berdo'a dan memulai perjalanan kami. 

Hal yang baru dari rute jalur pendakian Gunung Ungaran adalah jalur lama digunakan untuk camp paralayang dan sebelah kirinya adalah jalur baru untuk para pendaki menuju pos 1 (Bedengan). Kami disambut dengan ladang rumput para petani yang tumbuh subur dijalur pendakian ini. Jarak menuju pos 1 pun juga lebih dekat dibanding dengan jalur lama, tidak kurang dari 20 menit kami sudah sampai pos 1 ini. Berupa shelter yang digunakan untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Tidak ada area untuk mendirikan tenda juga di sekitar shelter.

Pos 1

Kamipun melanjutkan perjalanan menuju pos 2 (Kinatar), jalan yang datar membuat langkah kami bisa lebih cepat. Tidak banyak berubah di jalur ini namun pada saat sampai di mata air yang berupa sungai kecil dengan aliran mata air yang bersih ini sekarang sepenuhnya mata air ini dialirkan ke basecamp mawar atau lokasi wisata Umbul Sidomukti. Menurut saya adalah cara yang kurang pantas dalam pengelolaan ini karena saya yakin aliran mata air ini tidak hanya dibutuhkan oleh satu sektor saja, di sana di bawah kaki gunung Ungaran juga banyak yang membutuhkan terlebih lagi pada musim kemarau. Semoga kepada pemangku kebijakan ini membaca tulisan saya ini, aamiin.

Pos 2

Setelah mengambil keperluan air untuk memasak kamipun bergegas dan tidak jauh dari lokasi kami sampai di Pos 2. Sekedar mengabadikan shelter kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Pos 3 dengan jalur barunya gunung Ungaran, dahulu kami melewati kebun Kopi yang saat ini jika ingin melalui jalur tersebut harus membayar kembali 5K di dekat kolam renang dan sebagai penampungan air. Tidak terlalu lama kamipun sampai di Pos 3 (Pronojiwo)

Pos 3

Pos 3 (Pronojiwo) sangat teduh lokasinya karena dikelilingi pohon-pohon besar sehingga sinar matahari tidak terlalu banyak. Lokasi buat mendirikan tenda juga cukup luas bisa mencapai 6-10 tenda berukuran sedang. Kami berhenti sejenak di pos 3 ini setelah melewati tanjakan yang lumayan terjal, dan minum secukupnya. Melanjutkan perjalanan kami ke Pos 4 (Bukaan) jalan datar kami temui dan lagi-lagi langkah kami percepat supaya tidak bertemu dengan malam sebelum mendirikan tenda. Namun apa daya di tengah perjalanan menuju pos 4 usus dalam perut saya berontak untuk minta diisi asupan dan dikeluarkanlah Brondong Bulat Manis yang terbuat dari beras. Kurasa cukup untuk mengganjal perut kami. Ini adalah jarak terpanjang di jalur pendakian. Pos 4 ini juga bertemu dengan Pos 4 dari jalur Peromasan.

Pos 4

Selebihnya jalur menuju camp area sampai puncak masih tidak jauh berbeda, hanya saja lebih rimbun karena saat ini jalur Mawar kalah ramai dengan jalur sebelah yang lebih nyaman bagi kantong para pendaki. Oh ya satu lagi sebelum puncak Batu sangat disayangkan pohon-pohon besar yang kini sudah meranggas karena faktor alam sehingga peneduh dikala terkena sinaar matahari hilang sudah. Selain itu view di Puncak Benteng Rider sebelah barat ketutup hutan gunung Ungaran yang lebat sehingga pemandangan gunung Sindoro Sumbing tidak begitu jelas. 

Harapan saya semoga pendakian Gunung Ungaran Via Mawar akan kembali ramai dengan manajemen yang bersahabat dengan kantong para pendaki. Ammiin.


Batu Anakonda Tahun 2013


Batu Anakonda Tahun 2022

Pendakian Gunung Gede Pangrango Via Cibodas (Mie Instan Rasa Kari)

Pendakian Gunung Gede Pangrango Via Cibodas (Mie Instan Rasa Kari)


Hari ke dua selama kami menghabiskan liburan di Gunung Gede Pangrango, sudah terencana untuk summit pada pukul 03:30 dini hari. Namun wacana itu harus mundur hampir dua jam karena memang faktor capeknya pendakian tektok kemarin serta udara dingin yang memaksakan kami untuk betah-betah di dalam sleeping bag kami. Namun kekuatan niatlah yang membangunkan semangat kami untuk segera berkemas dan memulai menyiapkan segera keperluan untuk summit pagi ini. Namun sebelumnya tetap kami menunaikan sholat subuh terlebih dahulu dengan bertayamum di dalam tenda mengingat udara pagi itu sangat tidak bersahabat bagi kulit saya terutama karena cukup menusuk sampai ke tulang.

Uniknya persiapan pagi ini ketika menyiapkan segalanya ternyata logistik yang siap dimakan sudah menipis sehingga ala kadarnya yang kita bawa. Mengandalkan air mineral beberapa botol, mie instan, kopi, susu, kompor, gas dan beberapa camilan yang lain untuk kami berdelapan. Saya sendiri masih punya sisa madu satu sachet untuk mengurangi rasa haus di perjalanan nanti. Pukul 05:00 WIB kami berkumpul dan berdoa untuk yang terbaik dan diberikan kemudahan selama perjalanan. Sesaat kami mulai bergerak dengan sisa tenaga yang sudah terkuras kemarin. Meskipun hanya sedikit beban dalam pundak kami tetap saja langkah kami tidak secepat saat kita masih fit, hehehehheeee.....

Senter kami masih menyala saat kami sampai di pertigaan dan mulai belok kanan mengarah ke tujuan. Diawali jalan yang datar sedikit membuat lebih cepat langkah kami. Beberapa pohon yang tumbang juga membuat jalur ini menjadi daya tarik tersendiri untuk segera melintasi karena di sela-selanya pasti kami taruh pantat kami untuk beristirahat dan bercanda supaya menghilangkan rasa lelah, lapar dan haus kami. 

Setengah jam kami berjalan, senter kami sudah dimatikan karena mentari sudah mulai menerangi jalur-jalur pendakian. Lambat laun dingin dalam tubuh mulai sirna seiring sinar matahari yang menerobos lebatnya hutan di sepanjang jalur ke puncak Pangrango ini. Kicauan burung seakan menyambut kedatangan kami dan memberikan semangat tersendiri. Beberapa burung Jalak Gunung yang sesekali lewat dan menjadi petunjuk jalan buat kami mana jalur yang paling baik untuk dilaluinya.

Gunung Gede dari Pangrango

Mentari pagi ini memang suguh menawan yang terangkap melalui celah celah dedaunan serta semilir anginnya menambahkan sejuk suasana selama perjalanan kami. Jujur saja untuk menuju ke puncaknya jalan yang terkadang memang harus bergelayutan di antara akar-akar pohon yang kuat, namun terkadang harus mlipir di tepianya dengan sedikit basah tanahnya. Hutan di gunung Pangrango ini tidak beda jauh dengan gunung Gede bahkan cenderung lebih lebat. Perjalanan kamipun terasa sejuk karena hutan yang lebat ini. 

Sesekali kami berhenti untuk mengisi perut kami dengan berbagi super irit mengingat bekal yang kami bawa memang tak terlalu banyak. Beruntung madu yang saya miliki tetap menempel di mulut saya hingga rasa dahaga itu sedikut berkurang. 

Menuju puncak hampir tidak ada papanisasi yang mengarahkan, hanya berbekal mengikuti jejaklah kami menyusurinya hingga kami sampai pada dataran panjang yang hutannya semakin lebat dan pohon-pohon yang berumur tua meski begitu tetap rimbun dan terjaga kelestariannya. Beberapa menit kemudia sampailah kami di Tugu Gunung Pangrango pada pukul 08:00. Bersyukur kami sampai dengan selamat di puncaknya serta melihat puncak Gunung Gede yang cerah rasanya sesuatu banget dan hanya membayangkan coba saja kami kemarin mendapat view yang cerah seperti pasti akan berbeda lagi ceritanya hehehehehe.

Di puncak Gunung Pangrango kami bertemu pendaki lain yang lebih awal datangnya. Mereka sedang menikmati view dan menikmati kopi dan mie instan yang mereka buat. Mereka menawarkan kepada kami untuk menikmati hidangan tersebut. Tentu tanpa merasa malu kami menerima tawaran tersebut serta tanpa basa basi kami ikut menyruput kopi serta mie istan yang rasa kari..... KARI MAKAN maksudnya hehehehehe....ups.

Puncak Gunung Pangrango Berlatar Belakang Gunung Gede

Tim Mie Instan Rasa Kari

Tibalah sesi berfoto sebagai kenangan yang khususnya buat saya mungkin atau entah kapan akan terulang lagi, karena memang jaraklah yang membuat saya sendiri dengan kedua gunung ini. Di Puncak Pangrango ini sebenarnya minim view hanya Gunung Gede saja yang terlihat karena memang selebihya hutan belantara yang lebat. Beruntung buat kami di suguhi cuaca cerah sesuai ekspektasi, coba kalau berkabut pasti akan berbeda lagi ceritanya. Untuk mendirikan tenda juga lumayan banyak tempat yang nyaman namun ternyata para pendaki sangat jarang sekali mendirikan tenda di puncak ini. Rata-rata para pendaki lebih memilih turun ke ladang edelwisnya Mandalwangi. 

Ladang edelwis Mandalwangi hampir mirip dengan Surya Kencana hanya ini lebih kecil akan tetapi edelwis yang tumbuh subur membuat semakin cantik tempat ini. Gunung Salak terlihat di ujung saat kita menuruni menuju mata air yang super jernih di lokasi ini. Sehingga menjadi tempat camp yang pas untuk mendirikan tenda, selain pemandangan juga bagus, air bersihpun juga tersedia. Namun jangan di bawa pulang bunga edelwisnya ya teman-teman.

Kami cukup lama berada di sini namun waktu jugalah yang membatasi kami hingga kami memutuskan untuk turun ke Kandang Badak kembali. Pukul 10:00 kami mulai bergerak untuk menuju kandang Badak dengan sejuta kenangan yang tak akan pernah terlupakan. 

Lembah Mandalwangi

Pukul 12:00 kami sampai di Kandang Badak dan segera kami merebahkan badan kami untuk sesaat sebelum melaksanakan sholat duhur yang kami jamak dengan ashar. Usai mencemili bekal tersisa tiba saat buat kami masak-masak untuk makan siang kami. Menu siang ini adalah nasi putih, sarden, bakwan, tempe, telor dadar, sosis juga ada dan semua bekal memang kami habiskan untuk mengurangi beban kami saat pulang. Makan siang kami gelar dengan seadanya namun penuh dengan keakraban bersama kelakar-kelakar sisa perjalanan tadi.

Kamipun berkemas untuk segera packing sesuai anjuran dari basecamp. Pukul 15:00 kami mulai meninggalkan Kandang Badak dengan kenangan manis kami. Semoga suatu saat buat saya sendiri bisa kembali ke gunung ini doa saya dalam hati. Perlahan namun pasti kami menyusuri jalur pendakian dan ada beberapa pendaki yang kami temui sepanjang perjalanan kami turun. Sampai di Sumber Air Panas kami sempatkan istirahat sejenak untuk memulihkan stamina yang mulai menurun dan beberapa teman sudah terlebih dahulu meninggalkan kami. Sempat kami mecuci muka untuk menambah segar tentunya. 

Pukul 16:45 kami sampai di pertigaan yang mengarah ke Curug Cibeureum, di sana sudah ditunggu teman-teman yang lebih dulu sampai di lokasi sekalian mereka beristirahat. Kemudian kami berenam  menuju ke curug yang tidak terlalu jauh dari lokasi kami beristirahat. 10 menit kami sampai meski langkah kami agak tergesa karena takut ke sorean dengan melintasi jembatan yang super panjang tertata dengan rapinya. 

Sesampai di Curug Cibeureum aku hanya berdecak kagum dengan keindahan air terjun ini. Air terjun dengan air yang super jernih. Seketika aku mencari tempat yang datar untuk segera mencuci muka dan merasakan air nya yang cukup manis menurut saya seperti iklan salah satu air mineral. Bukan hanya satu air terjun akan tetapi ada dua air terjuan yang membuat lokasi ini menjadi tempat favorit untuk menghabiskan liburan meskipun memang harus di tempuh cukup jauh dari basecamp Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Namun saya rasa itu tidak akan merugi selama pemandanga cantik ini tetap terjaga ke asliannya dan tidak ada tangan-tangan jahil yang berusaha untuk mengeksplorasinya. 

Curug Cibeureum

Nuansa senja kali itu memang melekat sekali dengan rimbunnya hutan di sekitar air terjun, bergegaslah kami untuk mengambil langkah dimana teman masih menunggu dengan sabarnya. Sesampai di pertigaan kami lanjutkan perjalanan kami turun. Sesaat kami melintasi jembatan dimana tempat kami melaksanakan sholat subuh kemarin lusa. Gunung dibelakang nampak cerah sekali sehingga kami manfaatkan kesempatan tersebut untuk mengabadikan moment dan foto bersama untuk kenangan kebersamaan kami. Usai berswa foto langkah kembali kami ayunkan untuk menuju basecamp dan melewati telaga sunyi kembali hawa mistis ini begidik di punggungku. Aku mencoba menatap ke shelter yang dibangun di sekitar telaga sunyi. Sepi, gelap, angker dan cukup menakutkan senja itu. Tetapi saya berusaha untuk menguasai rasa takut itu dengan mulai menyalakan senterku yang mulai meredup setelah digunakan dua malam sebelumnya. 

Jembatan Unik Sebelum berpisah

Akhirnya kami sampai di basecamp pukul 20:00 malam hari. Es teh manis dan es susu manis yang menyegarkan tenggorokan ku. Tidak berlama-lama beberapa teman sudah mulai mengemas untuk segera beranjak pulang ke rumah masing-masing namun beberapa teman juga masih beristirahat di sana karena memang jaraknya lebih dekat. Pukul 21:00 saya dan mas Zikril berpamitan untuk lebih awal pulang. Namun sebelumnya saya sempatkan untuk beli cendera mata berupa stiker dan gantungan kunci untuk menjadi kenangan saya sendiri dan buat oleh-oleh anak-anak dan teman dekat. 

Terimakasih Gunung Gede dan Gunung Pangrango, semoga suatu saat nanti saya bisa kembali kesana dengan kesan yang berbeda lagi. Aamiin

Pendakian Gunung Gede Pangrango ( Cerita Horor Di Mushola Kandang Badak)

Pendakian Gunung Gede Pangrango ( Cerita Horor Di Mushola Kandang Badak)

Puncak Gunung Gede

Setelah Gunung Cikuray beberapa tahun lalu saya menyinggahinya, akhirnya tahun ini saya memiliki kesempatan untuk menyinggahi gunung Gede dan Pangrango yang berlokasi bersebelahan seperti di Jawa Tengah ada gunung Merbabu dan Merapi dan di Jawa Timur ada gunung Arjuno dan Welirang. Nah gunung Gede dan Pangrango saya rasa sudah tidak asing lagi bagi para petualang dengan keindahan pesona gunung ini. 

Gunung Gede yang memiliki ketinggia 2958 MDPL dan Gunung Pangrango yang memiliki ketinggian 3019 MDPL berada di kawasan Puncak Bogor, sehingga setiap perjalan ke arah puncak atau belibur di kota Bogor akan melihat dua gunung ini. Adapula juga Gunung Salak yang terkenal dengan keangkerannya yang bisa kita lihat di kota hujan ini. Kedua gunung ini memiliki dua basecamp yang memiliki spot-spot menarik. Basecacmp Putri yang menawarkan lokasi camp yang cukup fenomenal yaitu Surken atau Surya Kencana yang memiliki ladang bunga edelwis yang sangat luas serta mata air yang cukup melimpah apalagi jika pada musim hujan. Sementara satu jalur lain yang terkenal adalah jalur Cibodas yang menjadi icon Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang ditunjang dengan relatif jalan yang enak untuk dilalui oleh seorang pendaki.

Perjalanan ku kali ini adalah yang pertama kalinya ke Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang sebenarnya misi tambahan dari misi utama yakni saat saya di minta untuk menjadi wali nikah keponakan di Jakarta akhirnya aku sisipkan untuk mlipir di kedua gunung Gede dan Pangrango sekalian. Bersyukur saat itu adikku merekomendasi teman dari Jakarta untuk menemaniku ke tempat tujuan. Dari sanalah terbentuklah grup whatsApp se saat dan memulai menginvite teman yang berada di sekitar kota Bogor dan sekaligus pengelola basecamp di Cibodas untuk mempermulus jalannya rencana kami. 

Singkat saja setelah pagi hari menghadiri pernikahan keponakan di Duren Tiga segera saya berkemas untuk keberangkatan ku dan kamipun memutuskan untuk ke Bogor dengan mengendarai motor biar simpel dan ngirit tentunya. Pukul 16:30 saya berangkat dengan dibekali makanan yang super banyak dari kakakku di tas ranselku kami menuju Kota Hujannya Jawa Barat. Di sana sudah janjian untuk bertemu di Jembatan Gadog pukul 20:00. Kami berdua sampai di Bogor sekitar pukul 19:00 an dan langsung menuju Ciawi dan berhenti di Jembatan Gadok. 

Disambut dengan hawa dingin kota ini kemudian saya menuju warung jamu yang tidak terlalu jauh dari jalan raya sambil menunggu teman-teman datang. Tidak lama kemudian teman-teman sudah berkumpul dan kami melanjutkan perjalanan ke puncak untuk menuju basecamp Cibodas. Akan tetapi teman yang satu masih harus ditunggu karena baru bisa keluar dari kerjaan sekitar pukul 17:00 sore dan akhirnya bisa berkumpul semua pada pukul 23:00 malam hari. Pihak basecamp menyarankan kami untuk istirahat dan memulai pendakian pada dini hari. 

Pukul 03:00 saya sendiri sudah bangun kemudian membangunkan teman-teman untuk mempersiapkan segala pendakian kami. Pukul 03:30 kamipun mulai perjalanan kami menyusuri jalan yang masih sangat nyaman untuk sebuah perjalanan. Hawa dingin yang menyusup di sela-sela baju dan ransel kami lambat laun menghilang saat kami sudah memulai perjalanan. Sayup-sayup  terdengar ayam berkokok untuk menyambut datangnya sang mentari. Kami sudah sampai pada Telaga Sunyi di samping Rumah atau shelter yang cukup seram menurut saya. Bersamaan dengan adzan subuh berkumandang teman-teman mengambil air untuk kami gunakan berwudlu nantinya. 

Pukul 04:45 sampailah kami di jembatan yang sangat panjang dan menjadi spot foto yang sinematik jika gugusan gunung yang kita tuju terlihat dengan jelas. Kemudian kami menunaikan sholat subuh berjamaah di lokasi jembatan dengan aliran air yang jernih di bawahnya serta gemericiknya semakin membuat nuansa yang sangat alami. Doa kami adalah semoga perjalanan kami dipermudah dan diberikan cuaca yang bersahabat. Selepas doa kami, kamipun bergegas untuk melanjutkan perjalanan kami. 

Burung-burung mulai berkicau dan keluar dari sarang tidurnya semalam untuk menyambut hangatnya sang mentari pagi. Kami melewatinya tanpa permisi begitu saja hingga perjalanan kami sampai di pertigaan yang mengarah ke air terjun Curug Cibeureum. Kami berhenti sesaat karena ada beberapa teman request untuk pergi air terjun tersebut. Akan tetapi kami memutuskan untuk ke air terjun sepulangnya dari mendaki kedua gunung tersebut. Langkah kami lanjutkan untuk menyusuri jalan berbatu yang sudah mulai terasa tanjakannya. Meskipun tidak terlalu tinggi tanjakannya namun karena perjalanan yang cukup panjang akhirnya rasa lelah dan laparlah yang memberhentikan kami di Shelter Denok 1. Kami mengisi perut kami dengan nasi yang kami beli di basecamp tadi beserta lauk yang sederhana. Rasa lapar jugalah yang membuat kami semangat untuk menghabiskan makanan tadi. 

Sarapan Seru Seadanya

Kurang lebih pukul 08:00 kami sampai di sumber mata air panas yang menjadi idaman saya untuk merasakan kehangatan airnya. Benar saja baru beberapa meter menjelang ke sumber mata air ini sudah terlihat uap mengepul di sela-sela gemericik airnya. Satu per satu kami melewatinya, karena ada beberapa batu yang berlumut kami pun cukup hati hati untuk melangkah karena di sebelahnya memang jurang yang cukup dalam meskipun sudah ada kawat pegangan. Satu yang ku rasakan adalah seperti mandi saona di jalur itu meski hanya sesaat dan memegang airnya pun hanya secukupnya karena memang terasa panas untuk dibuat mainan. Mungkin bagi teman-teman yang mau merebus telur juga bisa tinggal menunggui sekitar 5-10 menit akan masak telurnya.

Di atasnya ternyata juga masih ada satu lagi aliran sungai yang cukup deras dan airnya juga cukup hangat hingga kami menyeburkan diri meskipun tidak seluruh badan kami hanya kaki-kaki kami yang bermainan air dan sekaligus mengabadikan moment ke sekian kalinya. Ngemil beberapa makanan untuk menumbuhkan stamina kami lagi sebelum kami melanjutkan perjalanan kami.

Sungai Air Hangat 

Air Terjuan Super Hot

Pos demi pos kami lewati hingga kami sampailah di Pos Kandang Badak pada pukul 11:30. Perjalanan yang cukup melelahkan memang buat kami kurang lebih berjalan 7 jam untuk sampai di tempat camp terkahir. Tempat ini sangat luas dan super teduh karena tempat camp yang datar serta ditumbuhi pohon-pohon yang tumbuh dengan subur serta rindang hingga sinar matahari tidak bisa menembus di tempat area ini. Selain itu pos Kandang Badak terdapat mata air yang melimpah sehingga untuk kebutuhan air sangat tercukupi. Selain itu toilet dan mushola juga tersedia dan tidak perlu susah lagi jika ingin beribadah ataupun buang hajat. Karena waktu itu termasuk hari kerja sehingga suasana sepi yang membuat kami tidak antri di tempat ini. Tentunya akan berbeda dengan weekend days akan sedikit memberikan kesabaran kepada kita untuk mengantri.

Selesai Ishoma, kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Gede yang katanya temanku medan nya lumayan enak untuk di naiki dengan kondisi fisik yang memang sudah terkuras selama perjalanan tadi. Selain itu juga ketinggiannya juga lebih rendah dibanding dengan Gunung Pangrango. Baru berjalan beberapa menit kami bertemu dengan pertigaan jika belok ke kanan kita akan mengarah Pangrango dan kamipun mengambil arah lurus untuk menuju puncaknya gunung Gede. Jalanan mulai merambat dari akar ke akar atau dari batu ke batu hingga akhirnya kami sampai di Tanjakan Setan. Meski tidak terlalu tinggi namun kemiringan ini memang menjadi tantangan tersendiri. Dengan dipasang webbing memang terasa lebih mudah untuk melewatinya. Namun ada sebagian teman kami yang memang agak takut sehingga terkesan lebih lambat dalam melewati tanjakan dengan kemiringan 80 derajat ini. Sebenarnya di sebelah kiri ada jalur yang tidak menanjak namun agak memanjang. 

Tanjakan Setan

Selepas dari tanjakan setan ini kami masih bergelut dengan hutan cantigi yang tumbuh subur bersamaan dengan kabut yang sore itu mulai turun dan mendinginkan tubuh kami. Beruntung kami sudah menyiapkan jaket sehingga rasa dingin itu bisa kami nikmati dengan nyaman. Sempat turun gerimis kecil sepanjang perjalanan, namun kami merasa itu adalah gerimis dari kabut itu sendiri. Benar saja menjelang sampai ke puncak Gunung Gede gerimis itu menghilang meskipun masih berkabut. Dataran pertama kami temui saya berharap sudah sampai puncaknya, ternyata memang masih harus meniti pagar dan menuntun kami hingga ke Tugu Gunung Gede yang kami tempuh sekitar 20 menit dengan medan yang sedikit berpasir dan berkerikil cukup tajam-tajam.

Swa Foto yang tidak antri hehehehe....

Sampai di Tugu Gunung Gede alhamdulillah tidak sesuai ekpektasi mendapat sun set, tembok putih pun kami tetap bersyukur karena tidak berebut juga untuk berswafoto di tugu Gunung Gedenya. Tidak telalu lama kami di Puncak Gunung Gede kurang lebih dua puluh menit dengan mengembalikan stamina kami dan perut kami isi dengan perbekalan seadanya. Pukul 16:30 kami beranjak turun dengan sedikit rasa kecewa tidak bisa melihat cerahnya di puncak tadi. Menelusuri jalur-jalur sempit menuju turun membuat kami berhati-hati. Memang cukup bersahabat namun banyak sekali jalur-jalur ke bawah yang membuat kami harus memilih jalur yang lebih banyak dilalui oleh pendaki lain dengan harapan kita tetap selamat sampai di tempat camp kami Kandang Badak. 

Semakin turun suasana semakin sore saat kami kembali dipertemukan Tanjakan Setan, dengan kesabaran kami turun satu persatu dan memastikan kami semua selamat. Pukul 17:30 kami sudah sampai di pertigaan yang mengarah ke Gunung Pangrango yang akan kami lalui besok pagi hari. Jelang maghrib kamipun sampai di tempat camp Kandang Badak, sesaat kami beristirahat ternyata tempat camp sudah mulai ramai dengan pendaki-pendaki lain yang berdatangan meski tidak terlalu padat namun cukup ramai. Bersamaan dengan itu lampu bertenaga surya pun mulai menyala yang berarti kamipun juga sudah menggunakan senter kami untuk penerangan dalam tenda. 

Kami menunaikan sholat maghrib meskipun tidak berjamaah semuanya, dan ada kesan tersendiri selama di mushola Kandang Badak ini.

Cerita Horor di Mushola Kandang Badak

Saya sendiri termasuk orang yang masih percaya dengan mahluk-mahluk cipataan Allah SWT yang berbeda tempat. Di tempat camp ini saat saya memasuki area memang belum terasa apa-apa akan tetapi saat senja menjelang hawa mistis itu sudah mulau terasa pada saat saya mengambil air wudlu untuk sholat maghrib saya menuju ke tempat penampungan air kotak karena saat itu tempat wudlu yang di sediakan ada antrian. Hawa mistis itu terasa saat saya mulai membasahi tangan ku dan berbeda sekali dengan hawa sebelumnya. Tangan saya terasa berat untuk saya gerakkan seolah ada yang memegangnya. Sementara mata saya seakan bertatapan dengan mahluk asing yang berada di sekitar itu tampungan air yang menunggui dan duduk di atasnya. Orang yang sudah tua dan berjenggot putih itu seolah terus menatapku meski tidak seram namun tetap saja bulu kuduk ku juga berdiri dan sembari menyelesaikan air wudlu aku berdoa yang terbaik agar semua terkondisikan. Sayapun tidak langsung balik kanan namun saya berjalan mundur dan sambil menghormati kepada yang punya tempat. Saya pun tidak bercerita kepada teman-teman sesampai di mushola dan saya membiarkan mereka untuk mengambil wudlu. Saya menunggu di mushola untuk sholat berjamaah dan saya menjadi imam buat teman-teman saya yang selanjutnya sholat maghrib kami jamak dengan sholat isya'. 

Sekitar Mushola Angker itu hehehe


Tempat Camp yang Super nyaman

Sesampai di tenda saya pun ceritakan apa yang saya alami saat berwudlu tadi, lantas di sambung beberapa teman yang mengalami hal yang sama. Satu teman saya juga melihat di pojok sebelah kanan ada mbak kunti yang berdiri sambil memperhatikan kami sholat dan yang satu lagi juga melihat di belakang ada mahluk besar hitam entah apa yang dia lakukan. Saya sendiri hanya merasa ada sedikit hawa seram dan tidak bisa melihatnya saat itu karena memang saya tidak bercerita supaya teman-teman tidak merasa ketakutan. Namun ternyata teman-teman juga merasakan sendiri hehehehhehe......

Sudahlah cerita horor itu kemudian kami ganti dengan candaan kami saat kami masak buat makan malam. Cukup simple masak untuk makan malam karena masih melekat rasa lelah kami sepulang naik dan turun Gunung Gede. Pukul 20:00 selepas makan malam sudah mulai terdengar teman yang mengorok karena lelapnya tidur, selepas itu semua sepi hingga akhirnya akupun juga ikut merebahkan tubuh ku untuk segera masuk ke SB.

Pendakian Gunung Sumbing 3371 MDPL, Via Bowongso, Wonosoba, Jawa Tengah

Pendakian Gunung Sumbing 3371 MDPL, Via Bowongso, Wonosoba, Jawa Tengah

Puncak Rajawali

Pertama kali mendengar di Gunung Sumbing terdapat miniaturnya sabananya Sembalun Gunung Rinjani, saya menjadi penasaran seperti apa sabananya tersebut. Keinginan itu akhirnya baru terealisasikan setelah beberapa kali mencoba jalur pendakian Gunung Sumbing Via Bowongso, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia. Desa Bowongso sendiri berada di kecamatan Kalijajar, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia. Rata-rata penduduknya sebagian besar bercocok tanam dengan menanam tanaman khas pegunungan seperti kentang, kol, tomat, seledri dan lain sebagainya. Karena berada di ketinggian atau perbukitan, rumah-rumah penduduk dibuat berundak dan tersusun rapi. Yang menjadi icon desa ini adalah memliki lapangan sepakbola yang bersebelahan dengan basecamp pendakian Gunung Sumbing yang berada berdampingan di sebelah Sekolah Dasar. Untuk menuju desa Kalijajar ini dari arah Wonosobo ke arah selatan setelah pertigaan Kertek. Kurang lebih 2 km kita akan bertemu dengan perempatan dan kita belok kiri. Akses menuju kesana sebagaian besar sudah bagus namun ada beberapa titik yang aspalnya mengelupas sehingga perlu pembenahan dari pihak pemerintah setempat. 

Berada di ketinggian kurang lebih 500 MDPL, desa ini terletak di sisi barat Gunung Sumbing, memiliki panorama yang menakjubkan dengan berlatar belakang Gunung Sumbing yang sangat menawan. Di senja hari juga akan tersaji matahari tenggelam atau sunset yang didampingi gunung Sindoro di sebelah utara di desa ini.

Sabana yang terlihat cantik

Untuk saat ini pendakian gunung Sumbing via Bowongso masih dengan sistem manual. Namun juga bisa melalui pesan whatsApp untuk booking jika nantinya terjadi sistem quota pembatasan dalam pendakian. Untuk tiket masuknya adalah Rp. 15.000 dengan parkir motor Rp. 5000 dan mobil Rp.10.000. Kondisi basecamp cukup luas, parkir yang memadahi dan tempat makan dan warung-warung juga sudah tersedia rapi. Tempat ibadah seperti mushola kecil yang unik juga tersedia di basecamp Bowongso ini, hanya saja untuk toilet memang masih kurang memadahi jika pengunjungnya di akhir pekan yang banyak. Namun sebagai alternatif bisa ke masjid yang berada tidak jauh dari basecamp untuk sekedar mandi, cuci muka dan buang air kecil. 

Kali itu kami hanya berdua saat mencoba jalur pendakian ini bersama murid di SMA kami yang sedang liburan setelah pelaksanaan Ujian Akhir Semester. Pukul 17:00 WIB kami sampai di basecamp setelah perjalanan sempat di guyur hujan meski tidak terlalu deras, namun rasa dingin itu yang semakin membuat kami merasa dingin dan jas hujan yang bisa mengcovernya. Sembari menunggu adzan maghrib kamipun menyiapkan segala keperluannya dan mengatur ulang packing tas kami. Adzan berkumandang kami bergegas untuk menunaikan kewajiban kami untuk sholat maghrib yang sekalian di jamak dengan sholat isyak. 

Sejenak kemudian kami menghubungi tukang ojek untuk mengantarkan kami pintu gerbang pendakian yang masih berjarak kurang lebih 2 km dari basecamp dan bisa ditempuh kurang lebih hampir satu jam dengan jalan kaki. Dengan ojek bisa memangkas waktu menjadi seperempat jam saja dengan harga ojek Rp. 25.000,-. Jalan yang masih berbatu yang rapi terkadang cukup licin jika setelah diguyur hujan. Kamipun berdoa sebelum memulai perjalanan kami.

Setelah memasuki pintu gerbang pendakian atau Parkiran Swadas, jalanan masih tertata rapi dan terkadang jika cuaca tidak hujan sepeda motor bisa sampai di Gardu Pandang yang berada tidak jauh dari pintu gerbang. Hanya membutuhkan waktu 10 menit jalan kaki kita akan bertemu dengan gardu pandang yang asri dengan view pedesaan Kalijajar dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip di malam hari serta beberapa spot kota Wonosobo. Di gardu pandang ini juga ada beberapa warung yang menjajakan makanannya serta ada yang jual souvenir untuk para pengunjung membelinya. Karena kami sampai di lokasi sudah malam hari maka suasana berbeda dan yang ada hanya sepi dan semilir angin dan suara daun pinus membuat semakin terasa benar alami ini. Sesaat setelah kami beristirahat kami mulai mendapati jalur yang mulai menanjak. Jalan yang sudah mulai terlihat membuat kami mudah untuk menapakinya, namun terkadang kontur tanah liat juga membuat jalan menjadi licin manakala ada sisa-sisa air hujan.

Menuju ke Pos 1 (Taman Asmara) dari Gardu Pandang ini bisa ditempuh kurang lebih 20 menit dengan medan yang masih bersahabat. Akan tetapi jalur ini sudah memasuki kawasan hutan, meskipun tidak begitu lebat namun kalau perjalanan dilakukan di malam hari tentunya diawali dengan sesak nafas karena harus beradapatasi dengan lingkungan sekitar dan harus berebut oksigen dengan perdu-perdu di sepanjanga jalur pendakian. Taman Asmara ini berupa lahan datar yang tidak terlalu lebar hanya muat sekitar 3-4 tenda dan ada beberapa spot khusus untuk berfoto dan uniknya tempat ini di halangi pohon besar yang tumbang dan dijadikan tempat untuk menyandarkan badan-badan berkeringat setelah beberapa jam melakukan perjalanan. 

Menuju ke tempat camp selanjutnya yaitu Camp Plalangan, menurut saya ini adalah pos bayangan yang bisa ditempuh kurang lebih 30 menit. Perjalanan cukup menguras tenaga dengan medan yang tidak terlalu lebar dan sesekali harus rambatan akar-akar pohon di beberapa spot. Ini yang menjadi rasa tersendiri dimana ada beberapa titik yang mengharuskan dengkul ketemu hidung. Namun itulah sebuah pendakian yang sudah wajar untuk kita hadapi.

Camp Gajahan dengan Background Sabana dan Puncak Gunung Sumbing

Menuju Pos 2 Bogel, jalan tidak lagi berbonus, dengan kemiringan sekian derajat rasanya setiap melangkah adanya tanjakan dan tanjakan meski tidak tajam namun terasa panjang. Untuk mencapai tempat ini memakan waktu kurang lebih satu jam dengan perjalanan yang normal. Setibanya pos 2 ada dua tempat yang bisa kita buat mendirikan tenda, yang pertama adalah di sekitar hutan yang bisa memuat kurang lebih 15-20 tenda sementara yang satunya di area terbuka yang luas dan bisa mencapai 50 tenda dengan latar belakang sabana gunung Sumbing yang sangat luas. Diantara sabana itu terlihat dua jalur yang berbeda di sebelah kanan dan kiri. Yang membedakan adalah kalau jalur sebelah kiri penuh dengan tanjakan dan lurus sementara yang sebelah kanan jalur full dengan sabana dengan dibuat zig zag sehingga membuat jaraknya pendakian semakin jauh dan membutuhkan waktu yang lama. Kurang lebih hampir satu jam akan bertemu dengan Pos 3 Zorro.

Pos 3 Zorro ini ditandai dengan pohon lamtoro tunggal yang cukup besar, cukup teduh saat digunakan untuk berteduh sebentar. Berlokasi di dataran yang miring sehingga jarang atau bahkan tidak ada yang mendirikan tenda di sekitar Pos 3 Zorro ini. Dari pos 3 Zorro ini kita bisa melihat sabananya yang dimulai dari Camp Gajahan yang terbentang luas serta berlatar belakang Gunung Sindoro dan Gunung Kembang di sebelah barat. Melanjutkan perjalanan ke Puncak Gunung sumbing dari Pos 3 medan sudah mulai berbatu dan rasanya lebih diperlama lagi untuk mencapai puncaknya. Selain berbatu juga di sebelah kanan jalur pendakian ada tebing-tebing terjal yang cukup tinggi yang ditumbuhi perdu-perdu liar yang semakin sinematik untuk di abadikan dengan kamera.

Pos 3 Zorro

Kurang lebih 1 jam dari pos 3 Zorro kita akan sampai di Puncak Bowongso yang jika ke arah kiri kita akan ketemu dengan Puncak Buntu yang jalurnya cenderung datar dengan pemandangan full Gunung Sindoro. Jika kata belok kanan ke arah Puncak Rajawali kita akan menaiki punggukan bukit cadas yang terjal. Bersyukur di sana sudah terpasang tali webbing untuk mempermudah pendakian. Bukan hanya itu saja, untuk mencapai puncak Rajawali kita harus menuruni batu vertikal yang di selanya tumbuh pohon cantigi yang bisa digunakan untuk berpegangan dan memasang webbing untuk ke amanan. Tidak terlalu tinggi memang kurang lebih 4-5 meter namun di bawahnya ada jurang menganga jika tidak hati hati juga akan risiko yang lebih berat akan kita dapatkan. 

Tebing-Tebing di Puncak Rajawali

Sesudahnya kita bertemu dengan pertigaan jalur pendakian dari Banaran dan Kaliangkrik yang jalurnya menyusuri kawah gunung Sumbing terlebih dahulu untuk mencapai Puncak Sejati. Dari sini sudah tidak jauh lagi kurang lebih 15 menit. Dengan jalur yang sedikit diputar dan zig zag rasanya bisa mempermudah para pendaki untuk segera sampai di Puncak Rajawali sebagai puncak tertingginya Gunung Sumbing yaknni 3371 MDPL. Dari sinilah kita bisa melihat keindahan kota-kota di kaki gunung Sumbing jika cuaca cerah. Luasnya kawah gunung Sumbing juga membuat semakin apik view gunung tertinggi ke dua di Jawa Tengah ini. Sekilas meski tipis juga terlihat asap sulfatara yang keluar dari celah-celah batu yang berwarna ke kuningan karena terkandung belerangnya. Di pojok utara terlihat pula segara wedi yang terlihat memutih jika dilihat dari puncak Rajawali.  Sungguh pesona gunung Sumbing ini memberikan kesan tersendiri untuk tidak menolak jika untuk kembali ke sana. 

Kawah Aktif Gunung Sumbing


Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo Part III - Jurang Mele, Nguras Air Mata

Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo Part III - Jurang Mele, Nguras Air Mata


Dari pos I Wukir Bayi, kembali kaki kami melangkah untuk menyusuri jalan setapak yang kanan kirinya ditumbuhi ilalang-ilalang liar. Sesekali tangan kami berpegangan untuk menguatkan pijakan kaki agar tidak terperosok ke semak-semak yang tidak landai lagi. Seperempat jam kemudiian kami menemui aliran sungai yang sangat jernih. Gemericik di sela - sela bebatuan yang sedikit berlumut karena seringnya dialiri air dan tidak dijamah oleh manusia. Terkesan asri dan menyejukkan mata manakala mata kami memandang di sekitar dengan perdu-perdu yang menghijau. Sejenak kami mulai mengisi botol kosong yang sudah kami habiskan di Pos 1 tadi. Buat saya sendiri bukan hanya mengisi botol akan tetapi orang Jawa bilang NGOKOP hehehehe. Bukan hanya menghilangkan tenggorokan tetapi buat bekal perjalanan menuju ke Pos 2.

Menuju Pos 2 yang dikenal dengan nama NGUDAL ini tanaman yang tinggi-tinggi dan berukuran besar sering kita jumpai di jalur ini. Karena memang jalur yang memang jarang dilewati, jalur ini memang sedikit tertutup dengan rumput-rumput hijau yang tebal. Medan yang sudah mulai menguras tenaga membuat perjalanan kami sedikit terhambat pada saat itu. Matahari mengiri perjalanan semakin terik dan setiap kalinya ketemu dengan perdu yang rimbun kami singgahkan pantat kami untuk mengambil nafas dan mendapatkan asupan oksigen dari perdu-perdu yang rimbun. 

Menuju Pos 2 kita melwati Jurang Mele. Selain teduh juga di sini sinyal hape daru semua jaringan sangat bagus untuk bisa berkomunikasi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.  Jurang Mele ini merupakan dataran yang cukup nyaman untuk beristirahat, dan di sebelah kirinya terdapat jurang yang cukup terjal yang agak panjang, mungkin ini mengapa disebut dengan Jurang Mele. Perjalanan kami tempuh tanpa terburu-buru sehingga perjalanan kami memang cukup lama dengan durasi yang seharusnya bisa di tempuh 1,5 jam kami menempuhnya kurang lebih 2 jam. 

Pos 2 Ngudal ini ada Shelter yang cukup sejuk untuk kita singgahi. Sementara itu di sisi lain shelter ini juga dekat dengan mata air dan jika kehabisan bekal air kita cukup berjalan ke arah sebelah kiri kurang lebih 5 menit kita akan ketemu aliran sungai yang sama dengan saat kita ketemu di setelah Pos 1. Sesaat kami singgah akhirnya perjalanan kami lanjutkan kembali untuk menuju ke Pos 3 yang di sebut dengan WATU KLOSO yang jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh dari Pos 2. Namun karena medan yang cukup menanjak dan cukup panjang akhir nya perjalanan kami juga tersendat, akan tetapi kami tetap enjoy menikmati setiap langkah kami.

POS 2 NGUDAL

Dari basecamp kami sudah di wanti-wanti untuk sampai di Pos 3 Watu Kloso sebelum jan 12 siang, dan puji syukur kami sampai di Pos 3 pukul 11:00 WIB. Kami pun bergegas menuruni jalur menuju sungai yang berair jernih dan sudah mulai terdengar dari beberapa ratus meter dari jarak kami. Air yang jernih, dan sejuk kita dapati di sungai tersebut. Tanpa segan-segan saya sendiri langsung meminum air yang jernih dan segar serta lebih dingin dari kulkas di rumah rasanya. Kami serombongan mulai membuat masakan untuk makan siang kami dengan menu sarden, orek tempe dan beberapa lauk lain. Cukup lama kami berada di Watu Kloso dan kami sempatkan untuk sholat Dzuhur dan dijamak dengan Sholat Ashar. Hingga akhirnya kami pukul 13:30 keluar dari sungai dan beranjak ke Pos 3 sesungguhnya yang berada di bawah Tanjakan Ondo Rante. Salah satu temen kami tiba-tiba sandal japit nya putus dan diapun memutuskan untuk tidak memakai alas apapun.

Jujur saja di Pos 3 ini saya sebenarnya sudah penasaran dengan Tanjakan Ondo Rante yang katanya super kejam, dan teman saya bilang, jika di tanjakan ini lolos, maka gunung yang lain pun akan lebih mudah. Kepoku bertambah saat kami sebelum naik tanjakan berisitirahat sesaat untuk mengumpulkan tenaga sebelum melangkahkan kaki kami.

Pos 3 Wotu Kloso

Pukul 15:00 tepat kami beranjak dari Pos 3 Watu Kloso menuju ke Pos 4 KUPATAN. Baru beberapa langkah dari tempat kami beristirahat, benar saja kami sudah disambut dengan batuan-batuan yang cukup besar sebagai pijakan kaki kami dan betul juga tanjakan ini selain kemiringan yang cukup sadis dan panjang betuuuuullll sangat menguras tenaga dengan beban di tas yang kami bawa. Sudah berjalan seharian dengan medan yang panjang dan di tiga per empat  dari perjalanan disuguhkan medan yang super duper. Ini membuat saya hanya berharap untuk segera sampai Pos 4 Kupatan. 

Waktu itu sudah 3 jam kami berjalan menyusuri Ondo Rante ini namun belum juga nongol itu papan Pos 4 Kupatan. Kurang ajarnya teman saya yang sudah tahu Pos 4 itu diam saja dan memang tidak berpapan hanya berupa dataran sempit untuk beristirahat sesaat. Sialnya lagi itu sudah lewat di beberapa tanjakan sebelum aku tanyakan. Dalam hati aku hanya bilang.... Kurang ajar ini teman njaluk di kepruki tenan iki. hahahahahaha........

Menjelang maghrib kami sampai di dataran yang cukup syahdu untuk rebahan sesaat sambil melihat rona-rona awan merah yang menandakan matahari akan tenggelam. Pohon-pohon pinus besar yang bekas kebakaran beberapa tahun silam yang memerahkan lereng lawu ini nampak berbeda dan ada kesan unik tersendiri. Di sisi lain saya dan teman-teman sudah mendambakan untuk segera mendirikan tenda untuk segera merebahkan badan kami yang sudah sangat kepayahan meskipun di sela-sela perjalanan kami sempilkan candaan untuk menghibur paras-paras wajah yang bermuka capek. 

Di Atas Pos 4 Kupatan

Pohon Pinus sisa-sisa kebakaran

Hingga suatu ketika saya sendiri sudah benar-benar di ujung kesabaran untuk berjalan dan rasanya saat itu aku mau nyerah saja dengan keadaan karena jujur saja saat itu aku lapppaaarrr sangat serta kondisi usus-usus yang tidak terkendali lagi untuk menahan rasa lapar. Sayapun akhir nya bilang sama salah satu temen yang orangnya memang wak-wakan tapi menyenangkan.

Aku: Mas aku lapar aku tak mangan disek yoo...

Aldi : Lah ngarep kui loh wes dataran penak sedelok engkas teko nggon gawe ngedekke tendo

Aku: emoh-emohh aku ngeleh tenan re mas.

Aldi: yo wes mandek sek nak anu.

Akhirnya akupun mengganjal perutku dengan beberapa roti coklat yang aku bawa, kurang lebih setengah jam aku beristirahat di situ sambil mengumpulkan tenaga sebelum kami lanjutkan ke Pos 5 CEMORO LAWANG. Dalam perjalanan saya pun bilang sama temenku

Aku: Iki Pos 5 Cemoro Lawang masih jauh toh kak aldi

Aldi ; Ngarep kui loh mas wes dataran

Aku: tenan ora kui ora sah ngasih PHP

Aldi: tenanan mas nggon Dataran Tinggi.

Aku : ASUUUUU .... tenan kowe ki

Aldi ; Hahahahahaha.......

Itulah spontanitas ucapan yang memang jarang sekali aku ucapkan, namun semua memang berupa candaan dan akhirnya kami tertawa ngakak bersama. Dengan langkah yang masih gontai, akhirnya saya lah yang terkahir sampai di Cemoro Lawang pada pukul 19:30 an. Sementara teman-teman sudah membangun tenda dan hampir jadi, saya baru unthuk-unthuk di hajar tanjakan asuuuuu nya Ondo Rante Jogorogo. Tapi kami tetap hepppier kawan hehehehehehe.

Pukul 20:00 tenda saya sudah berdiri, aku sudah merasa bodo amat dengan teman yang di luar masak-masak menawarkan jajanan satu sama lain. Aku ambil SB dan kukenakan karena kabut malam itu juga cukup tebal dan mulai menusuk tulang-tulangku. Akupun ambil tayamum dan melaksankan sholat maghrib dan isyak yang aku jamak sekalian sebelum saya benar-benar terlelap dalam buaian SB yang cukup menghangatkanku. 

Malam itu turun gerimis yang semakin membuat kami betah dalam tenda, dan dipertengahan malam akhirnya ada anak-anak mapala yang datang dan ikut bergabung dengan kami untuk camp di Pos 5 Cemoro Lawang. Oh ya Cemoro Lawang ini juga memiliki tempat yang luas untuk mendirikan tenda dengan teduhya pohon-pohon cemara yang besar dan tinggi membuat hunian kami terlindung dari rintikan hujan secara langsung serta sinar matahari di siang harinya.

Rencana kami akan summit pada pukul 04:00 WIB untuk mencari sun rise di puncaknya. Tetapi apa hendak dikata, ternyata kami bangun pukul 05:30 yang artinya sunrise pun sudah hampir menampakan wajahnya dengan kehangatan yang khas. Akupun bergegas untuk segera sholat subuh yang hampir habis waktunya. Benar saja saat keluar tenda di sebelah timur sudah ada rona-rona merah yang menyisip diatara ranting-ranting cemara. 

Pos 5 Cemoro Lawang

Pukul 06:00 kami melanjutkan perjalan tanpa beban karena tas dan tenda kami tinggal di Pos 5 dan hanya beberapa orang yang membawa day pack dan keril untuk membawa perbekalan untuk sepanjang perjalanan sebelum kami akan sarapan di warung Legenda Gunung Lawu di Mbok Yem. Kurang lebih seperempat jam kami sampai di Bulak Peperangan dan melihat banyak tenda para pendaki yang lewat jalur Candi Cetho. Ada beberapa yang melihat kami keluar dari balik bukit dan ada beberapa yang bertanya, dari jalur mana mas kalian naik. Kami hanya menjawab dari Ngawi bang. 

Disambut jalur yang landai membuat langkah kami sedikit di percepat untuk sampai di Gupakan Menjangan yang saya idam-idamkan. Saya berharap full dengan air sehingga kami bisa minum dan menambahkan air dari sana untuk bekal sampai mbok yem nanti. Cekrak-cekrek di sepanjang jalur tidak lupa kami lakukan sebagai mengabadikan moment kami yang tentu tidak akan terlupakan. Tidak lama kemudian kami sampai di Gupakan Menjangan, dan benar saja Ranukumbolo mini ini penuh dengan air. Tidak jarang para pendaki untuk berpose di telaga yang jarang penuh dengan air ini. 

Angin semilir mengiringi langkah kami untuk segera bergegas menuju persinggahan Mbok Yem untuk mengisi perut kami yang semakin keroncongan. Namun itu tertunda saat kami berada di Pasar Dieng karena saya sendiri mengingat tempat ini menjadi mula seseorang pendaki yang hilang di gunung Lawu dan hingga kini belum diketemukan. Beliau hilang dan tidur dalam hangat dekapan gunung Lawu yang entah sampai kapan akan dipertemukan. Semoga arwah beliau akan di abadi dikenang oleh para pendaki gunung Lawu untuk selalu berhati-hati dalam segala kondisi, apapun itu. Kami menyempatkan foto bersama dengan jejak si gundul dari Lamongan yang menjadi icon pendakian kami saat itu. Hehehehe.....

Pasar Dieng

Pukul 08:30 kami sampai di Warung Mbok Yem dan segera kami memesan sebanyak 13 porsi nasi pecel dan susu putih anget. Makan di depan warung mbok yem rasanya memang sangat beda ditemani dengan pemandangan yang super duper cantik dilapisi awan-awan serta kabut tipis yang semaki mempesonakan mata. Pukul 09:00 kami mulai naik ke puncak Hargo Dumilah dan setibanya di sana kami pun bersama-sama mencari spot yang cantik untuk di abadikan. Tidak lupa kami foto bersama di tugu Kiky Hargo Dumilah.

Antri Makan

Si Gundul dan Si Gondrong

Pukul 11:00 kami pun memutuskan untuk turun dan kembali ke Pos 5 di Cemoro Lawang, pukul 13:00 kami sampai dan bergegas untuk segera turun ke basecamp di Jogorogo. Pukul 13:30 kami bertiga belas mulai menuruni tanjakan asssuuuuudahlah di Ondo Rante. Tetap dengan berbagai cerita guyon dan yang laiinya kami bersama sama untuk menghibur diri dari rasa letih kami. 
Tugu Kiky, Hargo Dumilah

Pukul 17:00 WIB kami sampai di basecamp disambut dengan gerimis yang cukup menghilangkan rasa panas sepanjang perjalanan. Dan alhamdulillah ibu yang baik hati kami disambut pula dengan teh serta kopi panas untuk menghangatkan udara yang mendinginkan kami waktu itu. Sejenak rehat sambil cekrak-cekrek kami lanjutkan turun untuk ke rumah teman sebagai persinggahan terkahir kami. Sama-sama kami memutuskan untuk segera lanjut pulang ke daerah kami masing-masing karena besoknya sama-sama kerja. Pukul 20:00 we have to say good bye to each other and has planning to meet in another time. 

Rumah salah satu Teman, See You Next Time