Mount Lover

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Tentang Blog Ini

Blog ini merupakan cerita murni dari penulis dari pengalaman yang pernah kami lalui, semoga blog ini bermanfaat buat pembaca dan selalu menerima kritikan yang bersifat membangun. Saya ucapkan terimakasih kepada yang telah mengunjunginya, jika anda terkesan silahkan isikan tulisan anda melalui kolom komentar atau bila membutuhkan jasa guide pendakian gunung, bisa hubungi saya, Mr.Ady, WA/SMS/Telp. 085725247115

Follow Us

Mendaki Gunung Perahu Via Wates dengan si Oik

Mendaki Gunung Perahu Via Wates dengan si Oik

Basecamp Pendakian Gunung Prahu via Wates Temanggung Jawa Tengah

Karena suatu janji yang harus aku tepati, akhirnya sayapun mengajak anak saya dengan berbagai pertimbangan dan permintaan. Pada akhirnya gunung Prahu yang kami pilih untuk mengajak anakku untuk mencoba mendaki yang ke sekian kali pada usia dia yang ke 6 tahun.

Persiapan dan perlengkapan sudah lengkap serta komplit, mulailah perjalanan kami dari kota Demak ke Basecamp Gunung Prahu Via Wates Temanggung. Kami mengendarai motor berdua dengan segala bekal yang saya buat senyaman mungkin dalam perjalanan. Karena anjuran seorang teman kami memilih jalur terdekat dari kota Demak ke basecamp. Demak-Semarang-Boja-Temanggung tepatnya di Pasar Candiroto belok kanan ke arah kecamatan Wonoboyo hingga berujung di Basecamp Gunung Prahu Via Wates. Karena membawa anak kecil yang masih ngantukan jika diperjalanan aku berusaha membuat space di depan untuk bisa buat tidur si Oik. 

Tanpa mengurangi porsinya ada beberapa kali saya istirahat untuk meluruskan kaki di waralaba serta membelikan jajanan kesukaan si Oik supaya semangat lagi dalam perjalanan. Kebetulan hari Jum'at perjalanan waktu itu, sesampai jalur Kendal - Temanggung kami berhenti di sebuah masjid untuk melaksanakan sholat jumat. Di situ banyak yang melihat kami dengan dengan beban di sepeda motor kami. Usai sholat jumat alhamdulillah ada jum'at berkah dan mendapatkan makan siang free sampai akhirnya kami dibekali 2 bungkus untuk perjalanan kami sampai basecamp.

Kamipun menyusuri sepanjang jalan dari pasar Candiroto, jalan beraspal dan sesekali cor-coran namun sangat nyaman buat perjalanan, namun tidak rekomendasi jika perjalanan malam hari. Jalan berkelok kelok dan naik turun bukit, view juga bagus jika tidak berkabut. Ada beberapa air terjun yang terlihat dari jalan sehingga menambah cantik pemandangan sekitar. Akan tetapi akan berbahaya jika turun kabut, karena jalan yang sempit dan banyak turunan dan tikungan tajam sehingga harus mengondisikan motor atau mobil harus dalam keadaan fit. Tidak ada pom bensin kecuali eceran yang dijual penduduk setempat. Lebih baik harus full tank jika melewati jalan tersebut. Jika di total perjalanan kami sampai basecamp hanya butuh waktu 3-4 jam, itupun sudah kepotong istirahat dan sholat jum'at. Dibanding dengan jalur Sumowono yang akan menghabis 5-6 jam an. Tentu ini menjadi sebuah pertimbangan untuk memilih jalan ini. 

Malam harinya kami buat istirahat full dibasecamp, meskipun ramai namun masih tetap nyaman buat istirahat. Kondisi basecamp yang bersih dan fasilitas juga komplit membuat basecamp gunung Prahu via Sawit Temanggung ini semakin banyak diminati oleh para pendaki yang datang dari berbagai daerah bahkan dari luar provinsi Jawa Tengah. 

Kami bangun pagi-pagi dan menunaikan sholat subuh di mushola yang berada di ujung timur basecamp. Cuaca yang sangat dingin membuat kami tetap mengenakan jaket tebal dan bersyukur lagi di depan basecamp disediakan perapian untuk menghangatkan tubuh-tubuh yang menggigil. Kamipun tidak mau berdiam diri, kemudian kami menyusuri ladang petani yang ditanami kentang untuk menunggu sun rise. Sebelah timur terlihat bukit Sikendil dan Gunung Sindoro yang nampak gagah sekali dan ada terlihat asap sulfatara tipis di atasnya. Tidak berselang lama kabut tebalpun turun yang memaksakan kami untuk kembali ke basecamp. Kemudian kami ke warung sebelah dengan menu sarapan paginya, nasi gorenglah pilihan kami untuk mengisi perut kami yang sudah mulai lapar.

Membersihkan diri kemudian kami lakukan dan persiapan untuk pendakian. Packing sudah lengkap, registrasi dengan harga tiket per orang Rp 20.000, Fasilitas Basecamp Rp 10.000, parkir motor Rp. 5000 dan Jasa Ojek Rp 25.000. Rasanya tidak terlalu mahal untuk sebuah pemandangan dan layanan yang disuguhkan. Pukul 09:00 kami mulai pendakian dengan mengojek sampai pos 1. Menggunakan jasa ojek kurang lebih 15-20 menit dengan memangkas waktu kurang lebih 1,5 jam jika ditempuh dengan jalan kaki. 

Si Oik bersama kak Egi

Pos 1 ditandai dengan pintu gerbang selamat datang kepada para pendaki Gunung Prahu Via Wates yang merupakan batas ladang petani dengan vegetasi gunung Prahu. Memasuki vegetasi gunung Prahu ini kami berjalan dengan pelan mengingat dengan si Oik yang sudah mulai kami lepaskan untuk berjalan sendiri. Medan pendakian sangat bersahabat untuk semua kalangan usia. Selain berjalan sendiri saya juga sudah membebani si Oik dengan kebutuhan pribadinya, ponco, jaket, bantal dan sedikit makanan ringan, sehingga tubuhnya seimbang saat berjalan dan untuk menghindari rasa dingin yang berlebihan.

Terik mentari saat itu, membuat perjalanan kami sedikit menguras tenaga untuk sampai di pos 2 kami membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam, jalan yang santai sekali dengan sering bercanda dengan teman-teman dari Bandung, Gresik, Bantul dan Lamongan. Si Oik sendiri sangat menikmati perjalanan dengan tanpa mengeluh, kalaupun minta istirahat sesekali adalah hal yang lumrah, pun toh saya sebagai orang yang dituakan juga ada rasa lelahnya saat berjalan hehehe.

Pos 1, Batas Ladang Penduduk dengan Vegetasi Gunung Prahu

Sesekali dalam perjalanan ada yang memberi jajan kepada si Oik, si anakpun sangat senang dan sesekali isengnya mulai dari ngagetin teteh dari Bandung dengan sembunyi dibalik pohon. (https://www.tiktok.com/t/ZSLLygMrm/?t=1). Bergelendotan dipohon dia bilang seperti monyet yang suka naik pohon hahahaha. Paling senang saat sampai pos tiga dan ketemu dengan sumber air, tanpa di suruh si Oik membuka kran dan minum sepuasnya. Dalam hati saya berkata (Persis sama bapaknya) dan kemudian sayapun juga melakukan hal yang sama, minum sepuasnya sampai dahaga kami hilang. 

Sampai di Bukit Perindu kurang lebih pukul 12:00 kami tetap melanjutkan perjalanan kami untuk sampai Sun Rise Camp atau Pelawangan. Akhirnya 20 menit kemudian kami sampai di sunrise camp dan kami mendirikan tenda diantara tumbuhan cemara yang tumbuh subur. Harapan kami masih dapat penyejuk meski dalam terik matahari. Awalnya hanya ada satu tenda pendaki dari Semarang, datanglah kami bertiga tenda dan jelang malam hari semakin banyak tenda berdiri di tempat kami. Semakin malam semakin rame untuk para pendaki yang rata-rata mendirikan di Cemara Tunggal yang tidak terlalu jauh dari Puncak jalur dari Patak Banteng.

Malam harinya kami beristirahat diantara gemintang malam itu serta angin sepoi sepoi yang merdu. Sesekali saya keluar melihat keindahan malam itu yang penuh bintang. Sementara di sebelah Tenggara dua gunung menyembul diatara bintang-bintang serta lampu penghias malam di kota Temangung, Wonosobo dan sekitarnya. Beruntung sekali malam itu tidak ada kabut, tidak ada hujan dan tidak ada badai. Doa kami terkabul dengan apa yang sudah kami minta.

Usai sholat subuh saya pun membangunkan teman-teman dan si Oik untuk summit. Tidak seluruhnya bangun katanya sih mau nunggu tenda biar aman. Padahal alibi seorang yang sedang mager karena hawa dingin yang sangat menusuk tulang. Tidak lama kamipun sudah sampai di tempat tujuan dan hwaaaaa.... tumpah ruah pendaki yang semua menunggu golden sunrise nya gunung Prahu yang disuguhi view Sindoro Sumbing Kembang yang nampak jelas. 

Disela-sela itu si Oik merengek untuk minta turun sebelum sunrise nya muncul dengan alasan terlalu dingin, akan tetapi tertahan saat ada pendaki cantik yang memberinya roti bakar kesukaannya dan penghangat tangan untuk digenggamnya. Sampai akhirnya the golden sunrisenya muncul saya dan si Oik lebih awal turunnya. Sementara teman saya menemui teman di Puncak untuk diajak ke basecamp Wates. 

Bercengkrama dengan si Oik

Sesampai di tenda saya mulai memasak untuk sarapan teman-teman, sementara si Oik main game di dalam tenda. Singkat cerita kami selesai masak pukul 08:30, dan sarapan bersama. Pukul 09:00 kami mulai berkemas untuk turun. Pukul 09:50 kami start turun dan begitulah diperjalanan sembari bercanda kami tidak merasa capek dan sampai di baseecamp pada pukul 11:30 an. 

Gunung Prahu yang Cantik

Beruntung lagi saya bertemu dengan orang Demak, yang akhirnya kami pulang bersama dan salah satu dari mereka itu saya untuk menjagain si Oik saat pulang, terimakasih sekali atas bantuannya.


Review dari kami Buat Pendakian Gunung Prahu Via Wates adalah, jalur sangat nyaman untuk semua usia, Jalur yang banyak landainya serta tersedia mata air yang cukup itu yang menjadi salah satu kebutuhan utama para pendaki. Basecamp yang ramah dan bersih serta fasilitas yang lengkap menjadi daya tarik tersendiri untuk singgah dan memulai pendakian gunung Prahu Via Wates, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Contact Person Basecamp Wates = 0813-9220-6767 

Jasa Antar Jemput Pick Up Bpk Heru +62 812-1516-4950

Pendakian Gunung Penanggungan 1653 MDPL Via Tamiajeng

Pendakian Gunung Penanggungan 1653 MDPL Via Tamiajeng



Dalam perjalanan kali ini ada unsur yang di sengaja dan juga tidak sengaja, dimintai tolong seseorang di Jawa Timur kemudian langsung saya ia kan dan acc.

Tidak butuh waktu lama hanya 6 jam sudah sampai ke rumah beliau, sekaligus segera menyelesaikan pekerjaan yang beliau minta, al hasil dari kota demak saya sudah sengaja membawa perlengkapan untuk pendakian jika saya berjaga-jaga jika saya di culik ke mana begitu....

Benar saja, usai pekerjaan kami tanpa babibu dan gercep untuk menyiapkan segela kebutuhan. Mulai memilih gunung mana yang akan kami tuju, mengawali keinginan ke Arjuno dan Welirang, akhirnya digagalkan faktor X yang memang harus di patuhi mengingat kondisi cuaca yang belum stabil kedua gunung tersebut ditutup untuk pendakian.

Terpilihlah gunung Penanggungan melewati basecamp Pawitra. Perjalanan dari kota Lamongan memakan waktu kurang lebih 2,5 jam dengan melewati jalan berbukit dan berkelok menjelang sampai di basecamp.

Basecamp & Pos 1

Kesan pertama saat memasuki basecamp adalah kebersihannya, terjaga dan masih asri serta tersedia berbagai fasilitas yang bisa dimanfaatkan para pendaki, seperti mushola, kantin, toilet dan disiapkan trash bag untuk membawa sampah turun setelah pendakian. Lokasi parkir yang menyebar sebenarnya tidak masalah akan tetapi kurang terlihat rapi.

Memiliki tingi 1.653 MDPL saya berfikir ini gunung yang pendek dan bisa dijangkau lebih cepat seperti Gunung Andong di Magelang yang hanya 1 jam pendakian meskipun lebih tinggi dari Penanggungan. Nyatanya sebuah tidak sesuai ekpektasi. Jalan yang datar mengingatkan saya saat mendaki Gunung Gede Pangrango via Cibodas, hampir mirip di jalur pendakian Gunung Pananggungan ini. Hutan masih rapat dari basecamp dan sesekali mencium aroma durian yang sudah masak meskit terlihat wujudnya di atas pohon yang masih menggelantung. Pikirku semoga dapat tiban duren waktu itu tapi jebulnya 0 (nol).

Saya memulai pendakian bersama mas Egy dari basecamp pukul 15:30 dimana kamu sudah sepakat untuk mendirikan tenda di Pos Bayangan untuk beristirahat dan eskonya akan melakukan summit attack. Perjalanan satu jam saya sampai di Pos 2 yang di sana ada beberapa warung yang menjajakan makanan yang cukup lengkap. Tidak heran jadi banyak para pendaki yang singgah baik pada saat naik atau turun untuk beristirahat. Kemudian aku bertanya dengan mas Egi, dimana Pos 1 nya??? Jawabannya cukup mengejutkan saya, di basecamp tadi itu pos 1 pak.... Lahhh ternyata ada ya basecamp menjadi Pos 1 Pendakian hehehehe.

Setelah pos 2 kami melanjutkan perjalanan untuk menyusuri jalan yang mulai menyempit dan setapak. Meski terkadang ada jalur-jalur baru dari para pendaki tetap saja perjalanan kali ini cukup membius saya karena setiap tanjakan ada saja cerita yang unik dan lucu-lucu.

Pos 2 

Cerita unik dan lucu itu saat kami berpapasan dengan pendaki lain dari Mojokerto, Surabaya dan sekitarnya. Saat berpapasan kami saling membagi semangat dalam bentuk support dalam perjalanan yang sudah mendekati titik jenuh. Namun ada saja gurauan yang membuat jalan kami semangat untuk tetap sampai pos bayangan untuk tempat camp kami.

Bertemulah kami dengan calon pak dokter yang masih maba, yang satu aktivis PMI dan yang satu nya sudah bekerja di salah satu perusahaan yang cukup terkenal di wilayah Mojokerto. Spil-spil candaan kami tak terasa mengantarkan kami menyusuri setiap pijakan kami ke arah yang lebih tinggi. 

Lembayung senja sedikit ragu untuk menampakkan diantara kumpulan awan yang bergumpal hitam yang akan mengguyur buminya. Di sebelah sesekali nampak gunung Arjuna dan Welirang yang sesekali tertoleh oleh pandangan kami. 

Pukul 18:00 kami sampai di pos bayangan, dan sesegera kami dirikan tenda, mimilih diantara kasur-kasur empuk dengan rumput yang tebal, rasanya lebih nyaman buat istirahat kami malam itu. Usai tenda satu kami berdiri, rintik hujan mulai membasahi dedaunan dan kamipun menyelematkan perlengkapan kami ke dalam tenda. Tidak lama satu tenda juga terbangun dan kami memasuki tenda masing-masing. Dalam perjalanan kami sudah bercanda tawa, saling meledek dan sebagainya usut punya usut kami belum berkenalan. Disitulah pecah tawa kami, sesaat kami memperkenalkan diri masing-masing. Dilanjut dengan makan malam seadanya dan secangkir teh hangat yang mengintai perut kami, rasanya sedikit menghangatkan suasana. Hujan tidak begitu lama, angin juga bersahabat malam itu. Semenjak itu kami terkulai dalam nyenyak tidur kami buat summit attack di esok hari.

Pos Bayangan sekaligus Camp Area

Usai sholat subuh kemudian saya membangunkan teman-teman untuk melanjutkan perjalanan, ke Puncak Pawitra. Memang tidak terlalu lama kurang lebih satu jam sehingga kami memulai juga pukul 5 dengan harapan dapat sun rise di sepanjang jalan. Namun itu terlalu lama untuk kami tunggu hingga kami acuh saja dengan sun risenya. Sebelum sampai di puncaknya kami mendapatkan spot yang baik untuk mengambil gambar di atas batu yang cukup besar dan kami duduk di situ sembari mengisi perut kami dengan air mineral di pundak kami.

Sesaat di puncak, kamipun berdiri diantara pendaki lain untuk mengantri mengabadikan momen di puncak Pawitra. Kota Surabaya, Sungai Berantas, Lumpur Lapindo dan beberapa kota yang lain menjadikan spot pandangan kami.

Puncak Pawitra

Usai swafoto, kami turun menuju pos bayangan. Dapat pisang untuk kami nikmati dari pedagang dan setelahnya kami membuat nasi goreng dan satu yang tidak pernah ku rasa yaitu membuat Martabak Terang Bulan. Kenyang rasanya pagi itu hingga sisa logistik bisa kami bagi-bagikan dengan pendaki lain.

Akhirnya saya dan mas Egi sampai di basecamp pukul 12 an. Rehat sebentar kami melanjutkan perjalanan ke Lamongan.

Pendakian Gunung Merbabu Via Selo Tahun 2022

Pendakian Gunung Merbabu Via Selo Tahun 2022

 


Mengejarkan kaki yang sudah sekian bulan tidak menapaki tanah pegunungan, akhirnya kesempatan itu datang menghampiriku. Kesempatan yang tepat untuk mengulang kembali pendakian Gunung Merbabu Via Selo yang menjadi jalur favorit bagi para pengelana. Sebelum benar-benar mendaratkan kaki ke sana saya memastikan quota pendakiannya. Pada awalnya mau mengambil weekend days, namun setelah melihat quota penuh dan pindah haluan ke weekday tepatnya hari Jumat minggu terakhir bulan Agustus 2022. Pun waktu kami sampai basecamp quota pendakian juga sudah penuh. 

Ada beberapa regulasi baru pada jalur pendakian Gunung Merbabu via Basecamp Selo setelah pandemi Covid 19. 

1. Sistem pendakian dengan Booking Online

2. Quota pendakian perhari kurang lebih 200 orang

3. Pendakian minimal 3 orang dan jika hanya 1 atau 2 orang wajib menggunakan jasa guide lokal.

4. Tiket masuk lokasi wisata Rp 15.000

5. Tiket pendakian weekday Rp 17.000 dan Tiket Weekend Rp 28.500 dan tiket ranger Rp 15.000/3 org

6. Disediakan trashbag untuk membawa sampah kembali turun.

7. Pendakian di buka pukul 08:00 WIB dan tutup pukul 16:00 WIB

Sebenarnya masih ada beberapa peraturan yang harus di taati selama pendakian. Semua tentu untuk sebuah kenyamanan para pendaki sehingga Gunung Merbabu pada jalur Selo ini tetap terjaga kebersihannya.

Well, awalnya saya mendaftarkan untuk 5 orang dalam pendakian ini, namun karena berbagai hal 3 orang dari pendakian awal mereka skip. Tinggalah kami berdua dalam pendakian ini namun pembayara tetap berlima. Hehehehehe.... its okay buat saya dan teman saya kak Irhas. 

Kami sampai di basecamp pada pukul 15.00 WIB, alhamdulillah kami ditempatkan basecampnya mas Ari yang sekaligus banyak membantu selama pendakian. Kami mengawali dengan registrasi ke kantor TNGM untuk mengisi formulir yang sudah disediakan oleh balai TNGM. Kemudian kami meninggalkan identitas diri sebagai jaminan selama pendakian bila terjadi sesuatu selama pendakian.

Setelahnya kami pun mulai packing barang-barang yang kami perlukan selama pendakian dan yang selebihnya kami titipkan di basecamp supaya tidak memberatkan dalam perjalanan kami. Beruntung kami waktu itu bertemu dengan satu rombongan pendakian dari kota Kudus yang berjumlah 16 orang dari perusahaan BUMN yang memiliki hobi mendaki. Kami mengawali pendakian pada pukul 15:30 dari basecamp.

Perjalanan kami disambut dengan tanaman yang masih menghijau sedikit berkabut. Sejuk terasa udara pegunungan ini menyapa pori-pori kami. Segar juga terasa dalam pernafasan kami yang sebelumnya memang di tautkan dengan jumlah pekerjaan yang menyelimuti kinerja otak kami. Satu dua langkah kami mengayunkan kaki kami untuk memposisikan tubuh kami pada ketinggian. Nafas awal kami agak terengah saat beradaptasi dengan perjalanan, meski tidak terlalu buru-buru kami sedikit merapatkan langkah kami sehingga tidak terlalu kemalaman saat mendirikan tenda di Sabana 1 sebagai rencana awal kami. 

Kebersamaan kami dengan pendaki dari Kudus akhirnya ambyar di tengah perjalanan, dengan mereka kami terpisah dan kami izin untuk berjalan lebih awal. Di Pos 1 hari sudah mulai meredup tertangkap di layar HP kami sudah menunjukkan pukul 17:00 yang menandakan mentari sudah berajak ke peraduannya. Kami istirahat sejenak untuk mengisi kantung perut kami dengan beberapa cemilan dan kami dorong dengan air mineral yang terasa seperti baru keluar dari kulkas. Berrrrrrrrrrrrrrrr.... dingin dan seger banget menyusuri kerongkongan yang sedikit mengering. Oh ya pendakian kali ini saya di sangoni (di bawakan) buah sri kaya yang rasanya sangat manis dan menyegarkan sehingga bisa mengurangi mengonsumsi air mineral. 

Kami melanjutkan perjalanan kami dari pos 1 pada jelang maghrib dan senter sudah mulai kami nyalakan. Langit jingga di ufuk barat membayangi tatapan kami yang menengadah setiap melihat tanjakan-tanjakan yang masih bersahabt untuk menuju pos 2. Sesekali kami menyandarkan badan kami pada bahu-bahu jalan saat rasa pegel yang menyelinap di antara tulang-tulang punggung. Bersosialisai dengan debu-debu kemarau membuat kami sedikit meringankan injakan kaki untuk tidak menerbangkan debu bersama angin malam yang mulai menyapa kami. 

Pukul 18:15 menit kami sampai di pos 2. Saat sampai di pos 2 ekspektasi tidak sesuai dengan yang aku harapkan karena shelter yang sudah menghilang dan kami hanya melintas untuk melanjutkan ke pos 3. Jalur menuju ke pos 3 pun juga berbeda kalau dahulu terakhir pendakian kami pada tahun 2018 an masih di jalur air kini jalur di buat mengarah ke punggungan bukit sehingga jika musim hujan tidak terganggu dengan jalur airnya. 

Beberapa kali break akhirnya kami sampai di Pos 3 Watu Tulis pada pukul 19: 20 menit. Kemudia kami berdiskusi mau lanjut atau mau camp di Pos 3. Dengan berbagai pertimbangan kami memutuskan untuk mendirikan dan istirahat di Pos 3. Pukul 19:40 kami selesai mendirikan tenda dan kami menghangatkan tubuh dengan meneguk susu hangat di temani dengan makanan tradisional yakni LEMPER. Cukup kenyang dengan berbagai cemilan, kami putuskan untuk sholat Maghrib dan Isyak yang kami jamak dengan menyucikan diri secara tayamum. Kami berdiskusi untuk summit pagi harinya dan di putuskan pukul 03:00 untuk mulai summit. Kemudian kami putuskan untuk rehat mengembalikan tenaga yang sudah terkuras selama perjalanan sebelumnya.

Pukul 02:30 alarm sudah berbunyi, namun jika boleh jujur saya kurang bisa begitu nyenyak tidurnya hehehe. Udara yang dingin meski tubuh sudah dibalut dengan SB tebal tetap saja rasa dingin itu menyerang setiap sendi-sendi kami. Ahhh buallll kami terus menyingkirkan kantuk yang masih saja melekat pada mata-mata merah kami. Kami melekatkan jari di ujung mata untuk mengambil kotoran-kotoran kecil dan berusaha untuk menyadarkan otak kami menuju 100% untuk menyiapkan summit kami. 

Bekal untuk summit sudah kami siapkan tinggal melangkah dengan sepatu kusam kami yang terasa beku saat di pakai karena sisa embun semalam. Namun perlahan embun itu menepi dan terserap dengan debu-debu saat kami menaiki tanjakan yang terjal untuk menuju Sabana Satu. Aku hanya ingat pesan Mas Ari pengelola basecamp dan sekaligus ranger gunung Merbabu, jika tiba di tanjakan menuju Sabana 1 silahkan mengambil jalur paling kanan sehingga tidak terjebak dengan jalur yang tidak bersahabat jika mengambil tengah atau paling kiri. Karena memang jalur untuk menuju Sabana 1 sangat banyak. Benar saja kami mengambil jalur tersebut dan memang bersahabat untuk perjalanan. Ditambah lagi kami tidak membawa bekal terlalu banyak sehingga meringankan kaki kami untuk menaiki ke tujuan kami.

Sabana 1 membutuhkan waktu 40 menit saat kami mulai mendengar lantunan Al-Qur'an di kaki gunung Merbabu untuk menyambut subuh hari. Sambil menyapa dan permisi pada penghuni Sabana 1 kami tetap menapakkan kaki kami untuk menuju ke Sabana 2. Gundukan bukit di depan kami terasa menyambut kedatangan kami dengan aroma bunga Edelwis yang sedang mekar-mekarnya. Ingin aku memetiknya namun tetap aku jaga niatku dan cukup menciumnya saja. Pun sudah puas rasanya untuk setiap bertemu dengan bunga abadi gunung Merbabu ini. Tidak membutuhkan waktu yang lama di belakang kami sudah mula terlihat bias-bias senter pagi yang mengikuti summit kami. Seneng rasanya melihat kilauan itu dan aku tuh orang nya sedikit baper jadi kalau ada moment yang sedikit mengena pasti aku terharu hehehehe.


Fajar Menyingsing

Di Sabana 2 tampak sunyi hanya 3 tenda yang berdiri di sana. Ku tautkan kalimat untuk permisi dan ditanggapi oleh penghuninya yang berkata "Summit Bang" kami jawab bersama iyaa bang. Pukul 04:15 kami melalu sabana nya dan mencoba mengingat jalur yang dulu pernah kami lalui saat tahun 2018. Semesta nampaknya menyuruhku untuk melewati jalur lama yang belum pernah aku lalui. Karena waktu yang masih pagi buta dan jalur memang tidak terlihat, jalur ini sebenarnya lebih terjal dan panjang di hingga kami sampai di Puncak Merbabu. Namun di pertengahan jalur ini kami bertemu dengan Watu Lumpang yang mirip di Puncak Kenteng Songo, akan tetapi hanya 1 buah. Di sinipun kami beristirahat sambil makan jajanan kami. Sejenak pendaki yang lain pun datang yang mereka mengaku dari Jakarta dan di temani sama pakde Ranger, beliau menjelaskan tentang keberadaan Watu Lumpang tadi yang saat ini di kelilingi pagar yang berantai agar sedikit lebih aman dari tangan-tangan jail yang tidak terpantau.

Setapak demi setapak kami menaiki tanjakan yang semakin terjal dan di bawah mulai dikumandangkan adzan subuh yang saling bersahutan. Di ufuk timur sudah mulai tampak fajar menyingsing yang lambat laun semakin cerah. Moment-moment krusial yang hanya sesaat kami abadikan dengan ponsel kami tentu kami tidak ingin merugi dengan moment ini hehehe. Sementara kaki kami terus berpijak dan kemudian kami mencari lokasi yang sedikit datar untuk kami menundukkan kepada Yang Maha Kuasa Kami biar komunikasi dan permintaan kami pagi itu terkabulkan. 


Godaan Merapi Untuk Tetap Memandangnya

Usai sholat subuh kami memilih jalan berbeda dengan pendaki di belakang kami, mereka mengambil arah kanan dan kami memilih lurus karena memang tujuan kami adalah Puncak Trianggulasi. Tidak selang lama kami sudah disuguhkan penampakan Gunung Merapi di belakang kami. Pagi itu cuaca sangat cerah sehingga nampak jelas sekali senyuman Gunung Merapi itu kepada kami, kalau boleh saya berkelakar pasti dia kangen sama saya yang sudah 4 tahun tidak mengunjungi nya hehehe. Karena masih erupsi kami hanya bisa menahan untuk bertemu langsung dengan Merapi hanya say hello dari kejauhan rasanya sudah sangat cukup untuk saat ini. 

Pukul 05:30 kami sudah sampai di Puncak sesuai dengan prediksi kami. Seolah puncak Trianggulasi hanya milik kami karena memang belum ada orang sama sekali. Udara yang sangat dingin kami tidak berhenti bergerak untuk menciptakan rasa hangat dalam tubuh kami. Tentu kami mengeluarkan kamera dan hp yang kami bawa untuk mengabadikan moment tersebut. Tidak menunggu waktu lama Sun Rise nya yang kami tunggu-tunggu muncul. Seolah burung-burung yang berkicau di bawah juga bersama menyambut hangatnya sang mentari pagi itu. Setelah rasa hangat kami dapatkan kami putuskan untuk mengisi perut kami yang sudah mulai terusik dengan kata LAPAR dan kata kak Irhas kita KURANG ASUPAN pak hehehehe. Sarapan kami nasi bungkus sama telur ceplok yang super dingin. Akan tetapi tetap habis tersantap tak bersisa. 


Sun Rise Time


Gunung Merapi dari Puncak Trianggulasi

Kemudian di penghujung waktu kami menyempatkan ke jalur pendakian Suwanting untuk mengambil Sabana yang sangat aestetik yang berlatar belakang beberapa gunung di sebelah barat nya. Bertemu dengan pendaki lain terutama dari pekalongan akhirnya kami saling tukar nomor kontak karena ada foto yang saling di titipkan untuk kami kirim saat kami sudah di bawah. Setelah dirasa cukup kami memutuskan untuk kembali ke tempat camp di Pos 3. Pukul 07:30 kami start dari Puncak dan akhirnya kami memilih jalur baru yang menuju ke Sabana 2 yang relatif lebih singkat. Pukul 08:40 kami sudah sampai di Pos 3 dan segera kami berkemas untuk melanjutkan turun ke basecamp. 

Istirahat sambil berkemas barang kami lakukan dan pada pukul 09:15 kami mulai bergerak turun. Dalam perjalanan kami di atara pos 2 dan pos pos 1 kami bertemu dengan penghuni Merbabu yakni Monyet Hitam yang bergelantungan untuk menikmati sarapan mereka. Serta bertemu sepasang Elang Jawa yang terbang dengan kepakan sayap yang cukup lebar terbentang. Mereka berayun menghiasi hutan Merbabu dan memekikkan suaranya yang seolah menjadi kawasannya untuk menatap binatang yang akan di santap buat pengisi perutnya. Perjalanan turun kami di semangati oleh para pendaki lain yang cukup banyak dan datang dari berbagai kota baik Jawa Tengah, Jawa Barat atau Jawa Timur. Sempat bertemu bule juga dari Norwegia hanya dua orang yang tektok Merbabu pagi itu.

Pukul 11:40 kami sampai di basecamp, dan kami menemui petugas sebagai bentuk laporan dan tanggungjawab kami terhadap sampah yang kami bawa. Setelah di teliti kamipun lolos dan tidak di kenakan denda jika melanggar beberapa item yang tidak terbawa. Kemudia kami pamit dan menuju ke basecamp Mas Ari untuk kemudian kami pun pulang ke rumah. Dan alhamdulillah pukul 17:00 sore hari kami sudah sampai di rumah kami masing-masing dengan selamat. Alhamdulillah juga perjalanan sesuai dengan harapan, dapat view cerah, selamat dalam perjalanan dan bisa menambah teman tentunya. Terimakasih kepada seluruh pengelola TNG Merbabu yang telah memfasilitasi kami sehingga pendakian kami berjalan aman, lancar dan tertib.


Jalur Suwanting


Cerita Misteri Ratu Penunggu Gunung Ungaran

Cerita Misteri Ratu Penunggu Gunung Ungaran



Pendakian gunung Ungaran via Gedong Songo terbilang sangat jarang dilakukan oleh para pendaki. Kecuali warga di lereng Gunung Ungaran bagian selatan yang bermukim di daerah Bandungan dan sekitarnya. Mereka adalah warga yang mencari kayu bakar atau mencari rumput buat pakan ternaknya. Dari sisi medan pendakian jalur ini memiliki jalur yang komplit, tanjakan tajam, semak belukar dengan rumput yang setinggi manusia, serta jalan datar di beberapa tempat yang membuat perjalanan menjadi enak, dan satu lagi jalur ini masih asri dan hutan yang lebat jadi sepanjang jalan cukup sejuk.
Disisi lain buat saya pendakian di jalur ini cukup dengan hawa mistisnya. Di mulai dari Pos satu yang cukup datar. Di sini hawa mistis sangat terasa saat saya beristirahat yang berdekatan dengan pohon yang berlubang. Seolah-olah di situ banyak sekali mata-mata berkeliaran yang menatap ke arah kami saat itu. 

Pos 1


Kemudian menyusuri kembali naik kurang lebih 500 meter kembali dipertemukan dengan pohon pintu yang cukup besar. Pohon ini memiliki ketinggian lebih dari 100 meter dengan ukuran yang cukup besar ada salah satu akar pohon tersebut menggelantung dan membentuk seperti pintu. Para pendaki biasanya melewati bawah akar pohon tersebut dan sedikit menunduk bagi mereka yang memiliki badan yang tinggi. Hawa mistis sangat terasa pada malam hari atau jelang maghrib. Dimana pohon ini cukup berdiri tegak diantara perdu yang lain. Selain itu pohon ini memiliki lumut yang sangat tebal. Lumut-lumut itu juga menyuburkan tanaman lain seperti anggrek gunung yang menempel semakin rimbun sehingga menambah angker jika melewati pohon ini. 

Pohon Pintu


Tempat yang lain adalah di pertigaan arah puncak Botak dan ke puncak Benteng Rider. Tempatnya cukup datar dan jika hujan cukup banyak digenangi air sehingga tidak cocok untuk mendirikan tenda. Di sekeliling tempat itu juga pohon-pohon nampak lebat dan dan rumput liar berduri menghalangi jalan buat pendakian. Terlebih jika saat musim hujan tempat ini menjadi licin dan berlumpur.

Seperti kisah mistis yang saya alami saat itu, begini ceritanya:
Sebagai Pembina Pramuka di SMK kami, kami setiap akhir semester mengadakan pengambilan ambalan dan kali itu saya bersama pelatih Pramuka mengadakan pengambilan ambalan LAKSANA khususnya. Kami mengadakan kegiatan bersama guru-guru yang lain termasuk kepala sekolah. 

Perjalanan kami mulai pada siang hari, peserta terbagi menjadi 5 kelompok dan masing-masing kelompok terdiri dari 6-8 orang putra dan putri. Pada awal pendakian semua aman meskipun tertatih-tatih untuk mencapai puncaknya. Kejadian mistis itu terjadi pada saat siswa kami menuruni jalur pada saat akan kembali ke candi Gedong Songo. Karena faktor lelah, ngantuk salah satu siswa kami kurang konsentrasi dan terkadang melamun. Dia terpeleset dan jatuh, dan saat itu sempat tidak sadarkan diri beberapa saat. Setelah tersadar yang terjadi adalah dia bukan dia yang asli. Sepertinya kesurupan, suaranya yang tadi biasa saat itu berubah menjadi suara wanita tua yang tertawanya terkekeh-kekeh. Kamipun berusaha untuk memberikan pertolongan sebisa kami yang pada akhirnya bisa diajak komunikasi. Saat menjadi perempuan tua itu dia bilang kalau dia penjaga hutan gunung Ungaran, kata dia lagi dia tidak mau di usik dengan kedatangan kami yang tidak sopan dan kami di suruh segera pergi. 

Kami membacakan ayat-ayat al-qur'an waktu itu untuk mengusir si penunggu gunung Ungaran tersebut. Cukup lama kami untuk mencoba menyadarkan murid kami. Hingga akhirnya dia setengah sadar kamipun bergegas untuk mengajak untuk segera turun. Sambil di papah kami menuruni setiap jalan. Terus terang kami juga mengalami kwalahan pada saat itu karena perlengkapan savety yang kurang memadahi. Dengan berjalannya waktu akhirnya kami sampai di candi Gedong Songo sekitar pukul 14:00 dan kamipun segera membersihkan tubuhnya yang dibantu siswa perempuan untuk segera kami bawa pulang ke kota Demak. 

Singkat cerita akhirnya sampai rumah, siswa tersebut kembali tidak sadarkan diri bukan hanya satu jam atau dua jam akan tetapi hampir dua bulan dia mengalami koma. Setelah ditelisik oleh orang pintar ia berkata ini anaknya di singgahi penunggu gunung Ungaran hingga sama sekali tidak sadar. Kemudian anak di bawa ke RSUD Sunan Kalijaga Demak dan langsung masuk ke ruang ICCU. Keluarga kemudian mendatangi sekolah kami khusunya menghadap ke kepala sekolah. Pihak keluarga menceritakan apa yang di dapat dari orang pintar tersebut. Salah satu jalan yang harus ditempuh harus kembali ke gunung Ungaran dimana ia terpeleset untuk mengambil tanah dan sebagai syarat penyembuhan kata orang tersebut. 

Kepala sekolah memanggil saya dengan apa yang disampaikan oleh pihak keluarga tersebut. Sebagai pembina Pramuka akhirnya ditunjukklah saya untuk mengantar kedua orang pintar tersebut ke gunung Ungaran. Saya sendiri minta ditemani salah satu guru untuk mengantarkan mereka naik ke gunung Ungaran. Kami naik sepeda motor berempat. Setelah sampai di Candi Gedong Songo kurang lebih pukul satu siang dan saya menyampaikan kondisi perjalanan yang akan kami tempuh untuk sampai di tempat dimana anak terjatuh. Setelah disepakati, setelah makan siang kami bergerak untuk mendaki gunung Ungaran. 

Hujan rintik menyambut kami saat mulai menapaki jalan setapak yang mulai licin terguyur air hujan. Dalam hati sebenarnya saya tersenyum melihat keinginan kedua orang pintar tersebut karena memang baru kali itu mereka naik gunung dan belum paham medan sama sekali. Berbekal dua botol 1,5 liter air mineral yang ditenteng mereka berjalan cepat di awalnya. Namun seiring berjalannya waktu kondisi sangat sulit buat mereka untuk bergerak saat sudah merasakan hawa dingin gunung Ungaran. Mereka menggigil, selalu menanyakan tempat yang di tuju. Belum sampai pos 1 dia mereka sudah kehabisan tenaga. Kalau dihitung-hitung lebih banyak istirahatnya dibanding berjalannya. Untuk mencapai pos 1 kami berjalan hampir 2 jam lebih yang seharusnya dengan jalan normal biasanya hanya kami tempuh 1 jam an. 

Di pos 1 kami berhenti untuk istirahat, dan disitulah sudah hampir pukul 5 sore suasana gerimis, hutan yang lebat dan kondisi badan sudah mulai kedinginan karena kami hanya pakai mantol plastik untuk melindungi dari hujan. Mereka akhirnya putuskan untuk berkomunikasi dengan penunggu gunung Ungaran dari Pos 1. Mereka duduk bersila menghadap pohon growong sambil komat-kamit membaca doa (Mungkin). Kurang lebih seperempat jam mereka berkomunikasi dengan penunggu gunung Ungaran yang diakhiri dengan mengambil segenggam tanah yang kemudian dimasukkan ke dalam plastik untuk di bawa turun. Saya di belakang hanya mengamati dan tersenyum picik (ih jahat banget kali ya aku, hehehehe). Karena sebesar apapun semangat kita namun kondisi fisik yang terkalahkan dengan keadaan akhirnya menyerah juga. Aku hanya mengiyakan dengan ucapan mereka dan selalu menuruti keinginan beliau karena memang itu menjadi bentuk tanggung jawab saya mewakili sekolah untuk memenuhi permintaannya.


Pos 1 Sisi Pohon Growong


Di warung makan saat sudah kembali di Gedong Songo kami menghangatkan tubuh kami dengan teh panas. Lalu saya mendekati mereka dan segera ingin mengerti hasil pembicaraan mereka. Mereka bercerita di pos 1 tersebut sudah banyak mahluk mahluk halus yang bergentanyangan dari anak kecil klantung, kakek-kakek berjenggot putih, mbak kunti dan penghuni lain. Maaf saya tidak bisa melihat kehadiran mereka penghuni mahluk halus, namun saya bisa merasakan aura mistis suatu tempat yang di diami oleh penghuni tersebut. Lantas salah satu dari mereka bercerita bahwa dia berkomunikasi dengan nenek ratu penghuni Gunung Ungaran. Ratu tersebut memakai pakaian serba putih yang kepalanya bersanggul layaknya ratu dari sebuah kerajaan. Ratu tersebut katanya bilang jika gadis itu ingin sembuh maka di suruh untuk memandikan dengan tanah yang di bawa dari tempat kami, jika tidak maka tidak akan tertolong kata si ratu tersebut.

Saya dan teman hanya bisa manggut-manggut mendengarkan cerita yang panjang dan lebar. Namun di sela-sela itu saya sempat ngguyoni (bercanda) sama mereka, saya sampaikan "Katanya harus di tempat jatuhnya si anak" kenapa hanya sampai pos 1 pak???
Bapaknya menjawab," owalah mas-mas aku yo gak eruh kok awakku kabeh rasane abot lan angel mlakune, padahal soko ngisor awakku biasa wae, lan pas mlebu alase sekabehane kok dadi lemes dumes dengan logat bahasa jawa nya yang medok yang artinya, "Owalah mas-mas aku juga gak tahu kenapa badan tiba-tiba lemes padahal dari bawah sudah semangat. Namun saat masuk hutan gunung Ungaran semua jadi berubah lemas dan tidak kuat untuk berjalan.
Saat itu saya hanya bilang mungkin karena belum terbiasa naik gunung dan tergesa-gesa untuk sampai tujuan mengejar target supaya sebelum malam sudah kembali lagi ke Demak, hehehehe. Merekapun hanya mengiyakan saja.

Sebelum menapaki tanjakan tanpa assalamu'alaikum
yang cukup menguras tenaga

Setelah sampai di kota Demak kemudian tanah itu di bawa ke rumahsakit untuk dilaburkan ke badan siswa tersebut. Dengan cara membasuhkan anggota badan yang terlihat saja tanah itu di lap dengan campuran air sampai beberapa hari. Hasil yang didapat adalah siswa tersebut masih koma untuk sekian lama. Sebagai bentuk tanggungjawab dari sekolahan kamipun membantu untuk kebutuhan setiap hari selama menunggu di rumahsakit. Pada minggu ke 6 akhirnya siswa tersebut mulai merespon setiap gerakan dan mulai sadar dari masa kritisnya. Tidak beberapa lama kemudian dipindah ke bangsal dan pada minggu ke 8 siswa tersebut sudah diperbolehkan untuk pulang. Total biaya yang harus dikeluarkan kuranglebih 60 juta selama dirawat di rumahsakit. Namun semua kami kembalikan kepada Allah SWT yang selalu memberian pertolongan dan kemudahan kepada hambanya yang tidak pernah berhenti berdoa. Semua total biaya akhirnya tercover dari jaminan kesehatan masyarakat yang diusahakan oleh pihak desanya. Namun dari pihak kedokteran menyarankan untuk setiap saat membawa suntik dan obat jika penyakitnya kambuh. Siswa tersebut juga sudah diajari untuk menyuntikkan jarum yang benar, sehingga pada saat kondisi badan yang mulai kambuh kemudian dia menyuntikkan obatnya sendiri.

Siswa tersebut akhirnya bisa kembali ke sekolah bersama teman-temannya sampai lulus dari SMK kami pada jurusan akutansi. Kami selalu bersyukur bahwa setiap perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan pula, dan saat kita berusaha dengan sungguh-sungguh, Allah tidak pernah menutup mata dengan apa yang sudah kita usahakan dan diihtiarkan dalam doa kami.



Pendakian Gunung Sumbing Via Dukuh Seman Temanggung

Pendakian Gunung Sumbing Via Dukuh Seman Temanggung

 

Basecamp Dukuh Seman


Mendengar kata Dukuh Seman Temanggung adalah asing bagi saya, apalagi untuk sebuah pendakian gunung Sumbing karena sejauh ini yang saya tahu jalur-jalur seperti Garung, Kaliangkrik, Banaran dan Bowongso. Bermula dari sinilah rasa penasaran untuk mencoba jalur pendakian Gunung Sumbing via Dukuh Seman Temanggun. 

Merencakan untuk pergi ke sana akhirnya saya mendapatkan seorang teman yang memang tinggal di Temanggung dan mengetahui basecampnya. Namanya adalah Alfandi yang masih berstatus sebagai seorang pelajar SMK Negeri di Kota Temanggung. Diawali kami berkomunikasi di WhatsApp kemudian pada hari H nya kami bertemu di Masjid Agung Temanggung di dekat Alun-Alun kota Temanggung. Setelah sholat Duhur yang kami jamak dengan sholat Ashar kami mencari toko buat membeli logistik sebagai keperluan pendakian.  

Jarak dari kota Temanggung ke Dukuh Seman cukup jauh kurang lebih 15 km bisa ditempuh dari pertigaan sebelum Parakan belok kiri. Jalan sudah halus dan beraspal namun ada beberapa bagian yang mulai rusak. Namun tidak menyurutkan niat kami untuk mencoba jalur pendakian tersebut. Sesampai di Basecamp Bimawari yang beralamat Dukuh Seman, Wonosari, Kecamatan Bulu Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah ini memiliki ketinggian kurang lebih 1386 MDPL. Basecamp ini merupakan sebuah balai desa yang dimanfaatkan untuk kepentingan berpariwisata. Di sekitar basecamp pemandangan juga bagus sehingga tidak jarang pula banyak wisatawan yang datang dari luar kota mengunjungi tempat ini. Tersedia sebuah cafe di sebelah kirinya dan menyajikan masakan dan minuman khas Temanggung. Tersedia pula satu kamar untuk menginap jika dalam kondisi mendesak karena alasan tertentu. Kamar mandi dan toilet cukup bersih dan tersedia masjid untuk untuk umat muslim yang hendak bersholat. 

Setelah selesai berkemas kemudian kami memutuskan untuk mengojek untuk sampai pintu gerbang pendakian. Menggunakan jasa ojek dengan harga 25K sangat pas untuk bisa memangkas waktu kurang lebih 1 - 2 jam jika kita berjalan. Jalan yang sudah berbeton membuat laju ojek cukup cepat dan sekitar beberapa ratus meter jalan mulai berbatu dan cukup tinggi tanjakannya membuat laju motor melambat. Di sepanjang jalur ini adalah ladang para petani sayur mayur yang sangat subur namun sudah minim dengan pohon-pohon peneduh yang artinya tingkat kekuatan tanah juga bisa labil jika tidak dicakar oleh akar-akar tumbuhan besar dan bisa saja rentan dengan longsor yang mengintai warganya.

Kurang lebih 15 menit kami sampai di pintu gerbang dan perjalanan mendakipun siap di mulai. Berdoa sebelum perjalanan kami lantunkan untuk kemudian mulai menyapa tumbuhan di sepanjang jalur pendakian dengan langkah kami. Tujuan pertama kami adalah menuju Pos 1 yang bisa kami tempuh kurang lebih 5 menit. Jalur menuju ke pos 1 ini masih nyaman dan landai. Di bawah rumbunnya hutan cemara membuat nafas kita lebih segar dengan bau aromatik dari daun cemara. Kami memutuskan untuk tidak beristirahat hanya sekedar melintas dan melanjutkan pejalanan menuju ke Rest Area Sicindai. 

Rest Area Sicindai ini berada pada ketinggian 1.646 MDPL yang bisa ditempuh dengan jarak waktu 40 menit. Keluar dari hutan cemara kami mulai disambut perdu-perdu yang tinggi dan kokoh di sepanjang jalur sesekali jalan dibuat zigzag untuk membuat pendaki mudah untuk melangkahkan kakinya. Terkadang dalam perjalanan juga menemui penghuni hutan yang menyapa dari kejauhan dengan suara-suara khasnya. Jalan terasa menyenangkan saat oksigen hutan ini bersahabat pada siang hari, tentu akan berbeda pula jika pendakian malam hari tentu nafas akan terasa sesak karena harus berbagi oksigen dengan lebatnya hutan gunung Sumbing ini.

Menuju Pos 2 dibutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dengan medan yang mulai menyapa dengan terjalnya dan itu akan membutuhkan tenaga yang sangat extra di setiap tanjakannya. Pos 2 ini berada pada elevasi 1.800 MDPL. Dari Pos 2 ke Pos Simpang Curug kurang lebih 15 menit, dan di sini para pendaki bisa berhenti sejenak dan bisa mengisi air untuk bekal selanjutnya. Medan masih sama dengan sebelumnya menanjak.



Pos Simpang Curug dilanjutkan ke Pos 3 dengan ketinggal 1943 MDPL dengan waktu yang cukup lama kurang lebih 90 menit. Ada shelter yang dibangun di Pos 3 ini dan di sebelahnya terdapat tandan air jika dalam keadaan darurat bisa dimanfaatkan. Karena airnya tidak terlalu bersih dan bercampur dengan daun-daun kering yang berjatuhan. Di sekitar area ini hanya tidak lebar berada di kemiringan jadi tidak disaranakan untuk membangun tenda di sekitar ini. Akan lebih aman jika mendirikan tenda di camp Anggrek

Singkat cerita akhirnya kami pun sampai di camp Anggrek. Cukup luas tempat camp ini sebelum Pos 3, selain masih ada vegetasi tempat ini juga terlindung dari tebing yang cukup tinggi, sehingga jika ada badai tidak terlalu terasa.

Pagi harinya pukul 4 dini hari kami summit dengan bekal yang kami punya, hingga sebelum pos 4 kami di suguhkan pemandangan yang sangat menakjubkan kota temanggung dan sekitarnya. Kami sempatkan untuk sholat subuh sebelum akhirnya kami lanjutkan perjalanan. Pagi itu udara cukup dingin dan angin kencang yang menerpa kami seolah menemani perjalanan kami menuju puncak gunung Sumbing. 

Di sabana yang sangat luas mentari pagi itu enggan muncul karena di selimuti kabut yang cukup tebal di setengah nya gunung Sumbing. Namun kami tetap lakukan perjalanan itu hingga akhirnya kami sampai di pasir putih kawah gunung Sumbing pukul 07:00. Saya sendiri memutuskan untuk berhenti di situ dan tidak melanjutkannya ke puncak, mengingat puncak Rajawali masih terlalu jauh dan saya sendiri pernah menjangkaunya. 



Setelah istirahat sejenak dan sarapan akhirnya kamipun pulang ke tenda , siangnya kami melanjutkan perjalanan turun dan kami sampai basecamp pada pukul 2 siangnya. Perjalanan yang mengesankan meski sesaat namun kenangan itu akan tetap menjadi sebuah pengalaman untuk bisa di ceritakan ke teman atau ke keluarga dan anak di suatu saat nanti.

Update Pendakian Gunung Ungaran Via Mawar

Update Pendakian Gunung Ungaran Via Mawar

Disaat kerja sudah menemui titik rasa jenuh, buat pelarian yang terbaik adalah ke alam. Dimana di sana kita akan mendapatkan suguhan yang tak ternilai keindahannya selama alam tersebut dikelola dengan baik dengan mempertimbangkan segala kebutuhan masyarakat di sekitarnya. 

Kali ini adalah yang kami tuju Gunung Ungaran dengan basecamp Mawar yang berada dalam kawasan wisata Umbul Sidomukti, Desa Jimbaran, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Terakhir saya melewati basecamp ini 4 tahun yang lalu dengan jalur barunya.

Kami mendaki bertiga yang dengan meeting point di jalan Solo- Semarang tepatnya jalur ke arah Bandungan di depan pom bensin Lemah Abang Ungaran. Kemudian kami menuju basecamp dengan kendaran bermotor. Seperti biasa saya melalui rute desa untuk menuju basecamp. Saya berfikir lebih cepat sampainya dan jujur saja menghindari retribusi di Umbul Sidomukit, karena menurut saya kami tidak berwisata di tempat tersebut. Mendekati basecamp Mawar yang tinggal 500 meter lagi akhirnya kami bertemu dengan pak satpam yang menghadang kami. Kemudian beliau berkata dengan alasan ini-itulah kami diminta putar balik dan lewat Umbul Sidomukti. Dengan perasaan kesal kamipun berputar balik dan di area Umbul Sidomukti kami membayar masuk area wisata dengan permotor Rp. 5K.

Setelah sampai di basecamp kamipun segera berkemas untuk pendakian kami. Registrasi per orang 15K dan parkir motor 5K. Harga yang cukup terjangkau buat kantong para pengunjung gunung Ungaran. Sore itu udara cukup dingin menyambut kedatangan kami. Bergegas kami berdo'a dan memulai perjalanan kami. 

Hal yang baru dari rute jalur pendakian Gunung Ungaran adalah jalur lama digunakan untuk camp paralayang dan sebelah kirinya adalah jalur baru untuk para pendaki menuju pos 1 (Bedengan). Kami disambut dengan ladang rumput para petani yang tumbuh subur dijalur pendakian ini. Jarak menuju pos 1 pun juga lebih dekat dibanding dengan jalur lama, tidak kurang dari 20 menit kami sudah sampai pos 1 ini. Berupa shelter yang digunakan untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Tidak ada area untuk mendirikan tenda juga di sekitar shelter.

Pos 1

Kamipun melanjutkan perjalanan menuju pos 2 (Kinatar), jalan yang datar membuat langkah kami bisa lebih cepat. Tidak banyak berubah di jalur ini namun pada saat sampai di mata air yang berupa sungai kecil dengan aliran mata air yang bersih ini sekarang sepenuhnya mata air ini dialirkan ke basecamp mawar atau lokasi wisata Umbul Sidomukti. Menurut saya adalah cara yang kurang pantas dalam pengelolaan ini karena saya yakin aliran mata air ini tidak hanya dibutuhkan oleh satu sektor saja, di sana di bawah kaki gunung Ungaran juga banyak yang membutuhkan terlebih lagi pada musim kemarau. Semoga kepada pemangku kebijakan ini membaca tulisan saya ini, aamiin.

Pos 2

Setelah mengambil keperluan air untuk memasak kamipun bergegas dan tidak jauh dari lokasi kami sampai di Pos 2. Sekedar mengabadikan shelter kami melanjutkan perjalanan kembali menuju Pos 3 dengan jalur barunya gunung Ungaran, dahulu kami melewati kebun Kopi yang saat ini jika ingin melalui jalur tersebut harus membayar kembali 5K di dekat kolam renang dan sebagai penampungan air. Tidak terlalu lama kamipun sampai di Pos 3 (Pronojiwo)

Pos 3

Pos 3 (Pronojiwo) sangat teduh lokasinya karena dikelilingi pohon-pohon besar sehingga sinar matahari tidak terlalu banyak. Lokasi buat mendirikan tenda juga cukup luas bisa mencapai 6-10 tenda berukuran sedang. Kami berhenti sejenak di pos 3 ini setelah melewati tanjakan yang lumayan terjal, dan minum secukupnya. Melanjutkan perjalanan kami ke Pos 4 (Bukaan) jalan datar kami temui dan lagi-lagi langkah kami percepat supaya tidak bertemu dengan malam sebelum mendirikan tenda. Namun apa daya di tengah perjalanan menuju pos 4 usus dalam perut saya berontak untuk minta diisi asupan dan dikeluarkanlah Brondong Bulat Manis yang terbuat dari beras. Kurasa cukup untuk mengganjal perut kami. Ini adalah jarak terpanjang di jalur pendakian. Pos 4 ini juga bertemu dengan Pos 4 dari jalur Peromasan.

Pos 4

Selebihnya jalur menuju camp area sampai puncak masih tidak jauh berbeda, hanya saja lebih rimbun karena saat ini jalur Mawar kalah ramai dengan jalur sebelah yang lebih nyaman bagi kantong para pendaki. Oh ya satu lagi sebelum puncak Batu sangat disayangkan pohon-pohon besar yang kini sudah meranggas karena faktor alam sehingga peneduh dikala terkena sinaar matahari hilang sudah. Selain itu view di Puncak Benteng Rider sebelah barat ketutup hutan gunung Ungaran yang lebat sehingga pemandangan gunung Sindoro Sumbing tidak begitu jelas. 

Harapan saya semoga pendakian Gunung Ungaran Via Mawar akan kembali ramai dengan manajemen yang bersahabat dengan kantong para pendaki. Ammiin.


Batu Anakonda Tahun 2013


Batu Anakonda Tahun 2022

Pendakian Gunung Gede Pangrango Via Cibodas (Mie Instan Rasa Kari)

Pendakian Gunung Gede Pangrango Via Cibodas (Mie Instan Rasa Kari)


Hari ke dua selama kami menghabiskan liburan di Gunung Gede Pangrango, sudah terencana untuk summit pada pukul 03:30 dini hari. Namun wacana itu harus mundur hampir dua jam karena memang faktor capeknya pendakian tektok kemarin serta udara dingin yang memaksakan kami untuk betah-betah di dalam sleeping bag kami. Namun kekuatan niatlah yang membangunkan semangat kami untuk segera berkemas dan memulai menyiapkan segera keperluan untuk summit pagi ini. Namun sebelumnya tetap kami menunaikan sholat subuh terlebih dahulu dengan bertayamum di dalam tenda mengingat udara pagi itu sangat tidak bersahabat bagi kulit saya terutama karena cukup menusuk sampai ke tulang.

Uniknya persiapan pagi ini ketika menyiapkan segalanya ternyata logistik yang siap dimakan sudah menipis sehingga ala kadarnya yang kita bawa. Mengandalkan air mineral beberapa botol, mie instan, kopi, susu, kompor, gas dan beberapa camilan yang lain untuk kami berdelapan. Saya sendiri masih punya sisa madu satu sachet untuk mengurangi rasa haus di perjalanan nanti. Pukul 05:00 WIB kami berkumpul dan berdoa untuk yang terbaik dan diberikan kemudahan selama perjalanan. Sesaat kami mulai bergerak dengan sisa tenaga yang sudah terkuras kemarin. Meskipun hanya sedikit beban dalam pundak kami tetap saja langkah kami tidak secepat saat kita masih fit, hehehehheeee.....

Senter kami masih menyala saat kami sampai di pertigaan dan mulai belok kanan mengarah ke tujuan. Diawali jalan yang datar sedikit membuat lebih cepat langkah kami. Beberapa pohon yang tumbang juga membuat jalur ini menjadi daya tarik tersendiri untuk segera melintasi karena di sela-selanya pasti kami taruh pantat kami untuk beristirahat dan bercanda supaya menghilangkan rasa lelah, lapar dan haus kami. 

Setengah jam kami berjalan, senter kami sudah dimatikan karena mentari sudah mulai menerangi jalur-jalur pendakian. Lambat laun dingin dalam tubuh mulai sirna seiring sinar matahari yang menerobos lebatnya hutan di sepanjang jalur ke puncak Pangrango ini. Kicauan burung seakan menyambut kedatangan kami dan memberikan semangat tersendiri. Beberapa burung Jalak Gunung yang sesekali lewat dan menjadi petunjuk jalan buat kami mana jalur yang paling baik untuk dilaluinya.

Gunung Gede dari Pangrango

Mentari pagi ini memang suguh menawan yang terangkap melalui celah celah dedaunan serta semilir anginnya menambahkan sejuk suasana selama perjalanan kami. Jujur saja untuk menuju ke puncaknya jalan yang terkadang memang harus bergelayutan di antara akar-akar pohon yang kuat, namun terkadang harus mlipir di tepianya dengan sedikit basah tanahnya. Hutan di gunung Pangrango ini tidak beda jauh dengan gunung Gede bahkan cenderung lebih lebat. Perjalanan kamipun terasa sejuk karena hutan yang lebat ini. 

Sesekali kami berhenti untuk mengisi perut kami dengan berbagi super irit mengingat bekal yang kami bawa memang tak terlalu banyak. Beruntung madu yang saya miliki tetap menempel di mulut saya hingga rasa dahaga itu sedikut berkurang. 

Menuju puncak hampir tidak ada papanisasi yang mengarahkan, hanya berbekal mengikuti jejaklah kami menyusurinya hingga kami sampai pada dataran panjang yang hutannya semakin lebat dan pohon-pohon yang berumur tua meski begitu tetap rimbun dan terjaga kelestariannya. Beberapa menit kemudia sampailah kami di Tugu Gunung Pangrango pada pukul 08:00. Bersyukur kami sampai dengan selamat di puncaknya serta melihat puncak Gunung Gede yang cerah rasanya sesuatu banget dan hanya membayangkan coba saja kami kemarin mendapat view yang cerah seperti pasti akan berbeda lagi ceritanya hehehehehe.

Di puncak Gunung Pangrango kami bertemu pendaki lain yang lebih awal datangnya. Mereka sedang menikmati view dan menikmati kopi dan mie instan yang mereka buat. Mereka menawarkan kepada kami untuk menikmati hidangan tersebut. Tentu tanpa merasa malu kami menerima tawaran tersebut serta tanpa basa basi kami ikut menyruput kopi serta mie istan yang rasa kari..... KARI MAKAN maksudnya hehehehehe....ups.

Puncak Gunung Pangrango Berlatar Belakang Gunung Gede

Tim Mie Instan Rasa Kari

Tibalah sesi berfoto sebagai kenangan yang khususnya buat saya mungkin atau entah kapan akan terulang lagi, karena memang jaraklah yang membuat saya sendiri dengan kedua gunung ini. Di Puncak Pangrango ini sebenarnya minim view hanya Gunung Gede saja yang terlihat karena memang selebihya hutan belantara yang lebat. Beruntung buat kami di suguhi cuaca cerah sesuai ekspektasi, coba kalau berkabut pasti akan berbeda lagi ceritanya. Untuk mendirikan tenda juga lumayan banyak tempat yang nyaman namun ternyata para pendaki sangat jarang sekali mendirikan tenda di puncak ini. Rata-rata para pendaki lebih memilih turun ke ladang edelwisnya Mandalwangi. 

Ladang edelwis Mandalwangi hampir mirip dengan Surya Kencana hanya ini lebih kecil akan tetapi edelwis yang tumbuh subur membuat semakin cantik tempat ini. Gunung Salak terlihat di ujung saat kita menuruni menuju mata air yang super jernih di lokasi ini. Sehingga menjadi tempat camp yang pas untuk mendirikan tenda, selain pemandangan juga bagus, air bersihpun juga tersedia. Namun jangan di bawa pulang bunga edelwisnya ya teman-teman.

Kami cukup lama berada di sini namun waktu jugalah yang membatasi kami hingga kami memutuskan untuk turun ke Kandang Badak kembali. Pukul 10:00 kami mulai bergerak untuk menuju kandang Badak dengan sejuta kenangan yang tak akan pernah terlupakan. 

Lembah Mandalwangi

Pukul 12:00 kami sampai di Kandang Badak dan segera kami merebahkan badan kami untuk sesaat sebelum melaksanakan sholat duhur yang kami jamak dengan ashar. Usai mencemili bekal tersisa tiba saat buat kami masak-masak untuk makan siang kami. Menu siang ini adalah nasi putih, sarden, bakwan, tempe, telor dadar, sosis juga ada dan semua bekal memang kami habiskan untuk mengurangi beban kami saat pulang. Makan siang kami gelar dengan seadanya namun penuh dengan keakraban bersama kelakar-kelakar sisa perjalanan tadi.

Kamipun berkemas untuk segera packing sesuai anjuran dari basecamp. Pukul 15:00 kami mulai meninggalkan Kandang Badak dengan kenangan manis kami. Semoga suatu saat buat saya sendiri bisa kembali ke gunung ini doa saya dalam hati. Perlahan namun pasti kami menyusuri jalur pendakian dan ada beberapa pendaki yang kami temui sepanjang perjalanan kami turun. Sampai di Sumber Air Panas kami sempatkan istirahat sejenak untuk memulihkan stamina yang mulai menurun dan beberapa teman sudah terlebih dahulu meninggalkan kami. Sempat kami mecuci muka untuk menambah segar tentunya. 

Pukul 16:45 kami sampai di pertigaan yang mengarah ke Curug Cibeureum, di sana sudah ditunggu teman-teman yang lebih dulu sampai di lokasi sekalian mereka beristirahat. Kemudian kami berenam  menuju ke curug yang tidak terlalu jauh dari lokasi kami beristirahat. 10 menit kami sampai meski langkah kami agak tergesa karena takut ke sorean dengan melintasi jembatan yang super panjang tertata dengan rapinya. 

Sesampai di Curug Cibeureum aku hanya berdecak kagum dengan keindahan air terjun ini. Air terjun dengan air yang super jernih. Seketika aku mencari tempat yang datar untuk segera mencuci muka dan merasakan air nya yang cukup manis menurut saya seperti iklan salah satu air mineral. Bukan hanya satu air terjun akan tetapi ada dua air terjuan yang membuat lokasi ini menjadi tempat favorit untuk menghabiskan liburan meskipun memang harus di tempuh cukup jauh dari basecamp Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Namun saya rasa itu tidak akan merugi selama pemandanga cantik ini tetap terjaga ke asliannya dan tidak ada tangan-tangan jahil yang berusaha untuk mengeksplorasinya. 

Curug Cibeureum

Nuansa senja kali itu memang melekat sekali dengan rimbunnya hutan di sekitar air terjun, bergegaslah kami untuk mengambil langkah dimana teman masih menunggu dengan sabarnya. Sesampai di pertigaan kami lanjutkan perjalanan kami turun. Sesaat kami melintasi jembatan dimana tempat kami melaksanakan sholat subuh kemarin lusa. Gunung dibelakang nampak cerah sekali sehingga kami manfaatkan kesempatan tersebut untuk mengabadikan moment dan foto bersama untuk kenangan kebersamaan kami. Usai berswa foto langkah kembali kami ayunkan untuk menuju basecamp dan melewati telaga sunyi kembali hawa mistis ini begidik di punggungku. Aku mencoba menatap ke shelter yang dibangun di sekitar telaga sunyi. Sepi, gelap, angker dan cukup menakutkan senja itu. Tetapi saya berusaha untuk menguasai rasa takut itu dengan mulai menyalakan senterku yang mulai meredup setelah digunakan dua malam sebelumnya. 

Jembatan Unik Sebelum berpisah

Akhirnya kami sampai di basecamp pukul 20:00 malam hari. Es teh manis dan es susu manis yang menyegarkan tenggorokan ku. Tidak berlama-lama beberapa teman sudah mulai mengemas untuk segera beranjak pulang ke rumah masing-masing namun beberapa teman juga masih beristirahat di sana karena memang jaraknya lebih dekat. Pukul 21:00 saya dan mas Zikril berpamitan untuk lebih awal pulang. Namun sebelumnya saya sempatkan untuk beli cendera mata berupa stiker dan gantungan kunci untuk menjadi kenangan saya sendiri dan buat oleh-oleh anak-anak dan teman dekat. 

Terimakasih Gunung Gede dan Gunung Pangrango, semoga suatu saat nanti saya bisa kembali kesana dengan kesan yang berbeda lagi. Aamiin