Mount Lover

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Tentang Blog Ini

Blog ini merupakan cerita murni dari penulis dari pengalaman yang pernah kami lalui, semoga blog ini bermanfaat buat pembaca dan selalu menerima kritikan yang bersifat membangun. Saya ucapkan terimakasih kepada yang telah mengunjunginya, jika anda terkesan silahkan isikan tulisan anda melalui kolom komentar atau bila membutuhkan jasa guide pendakian gunung, bisa hubungi saya, Mr.Ady, WA/SMS/Telp. 085725247115

Follow Us

SPOT CANTIK, HARGA MURAH; Homeland Ampel Gading Bandungan Untuk Weekend Anda

SPOT CANTIK, HARGA MURAH; Homeland Ampel Gading Bandungan Untuk Weekend Anda





Berbicara tentang lokasi wisata di Jawa Tengah tidak akan ada habisnya untuk di eksplor. Kali ini saya akan mengulik tempat camp yang super cantik tanpa harus mendaki dan kendaraan bisa sampai di lokasi camp area.

I love Homeland Ampel Gading itu menjadi jargon dari camp area ini. Saat datang ke area yang berada di Bandungan, Kabupaten Semarang ini kita akan di sambut dengan ramahnya oleh pengelola parkir yang kemudian akan di arahkan untuk ke lokasi camp areanya. Cukup murah untuk parkir kendaraan di sini untuk motor hanya Rp 3000 dan mobil Rp 10.000.

Bisa memuat ratusan tenda yang dibuat teras iring, menjadi tempat favorit untuk menghabiskan akhir pekan ataupun liburan di musim sekolah. Sangat menguntungkan memang dengan pemandangan yang dimiliki Ampel Gading. Pesona untuk mengabadikan momen yang tepat dan mengajak keluarga tentu akan menjadi cerita tersendiri untuk di kemas dengan rapi.

Lokasi yang mudah dijangkau membuat Ampel Gading tidak sepi dari pengunjung, apalagi disaat weekend datang. Banyak anak-anak muda dan keluarga yang membawa perlengkapan berkemah mereka datang untuk menikmati sejuknya udara di kaki Gunung Ungaran. Memiliki ketinggian 1300 MDPL yang berada di selatan kaki Gunung Ungaran membuat pemandangan semakin cantik pada saat cuaca cerah.


Di sebelah selatan kita bisa melihat danau Rawapening, dilatarbelakangi oleh Gunung Telomoyo yang biru. Di belakangya lagi juga ada gunung Merbabu yang terlihat gagah diantara bukit-bukit yang ada di sekitarnya. Pamorama ini semakin menambah cantiknya camp area Ampel Gading bersama keluarga tercinta.

Di malam hari akan lebih aestetik lagi jika tidak turun kabut, city light kota Ambarawa dan Salatiga nampak seperti kunang-kunang beterbangan untuk menghiasi malam. Sementara kalau pagi hari sun rise juga akan menyapa dengan hangatnya. Di belakang Homeland Ampel Gading begitu cantiknya panorama gunung Ungaran yang menghijau dengan hutan basahnya. Perdu yang menghijau menambah sejuknya mata untuk setiap kali memandangnya.


Jadi tunggu apalagi, segera agendakan ke Homeland Ampel Gading untuk liburan anda, dijamin murah meriah dengan view maksimal tidak murahan.

4 LOKASI WAJIB YANG HARUS KAMU KUNJUNGI UNTUK LIBURAN PANJANG MU DI JAWA TENGAH

4 LOKASI WAJIB YANG HARUS KAMU KUNJUNGI UNTUK LIBURAN PANJANG MU DI JAWA TENGAH


Libur sekolah telah tiba, ada yang sudah memiliki rencana untuk menghabiskan liburan dengan teman-teman sebaya mereka ataupun dengan keluarga tercinta. Semua memang harus direncanakan dengan betul-betul sehingga tidak ada kendala selama menikmati liburan.

Nah teman-teman yang suka berpetualang atau kegiatan outdoor dan rekomendasi yang hukumnya wajb kalian coba spot-spot berikut untuk mengisi liburan kalian.


1. Ampel Gading


Berlokasi di kaki Gunung Ungaran sebelah selatan tepatnya di kawasan Bandungan Jawa Tengah. Ampel Gading merupakan glamping area yang cukup luas. Kawasan ini menyediakan area tempat camping yang sangat nyaman. Tempat yang berada di kaki pegunungan dan menyajikan pemandangan yang menyejukkan mata. Dengan latar belakang gunung Ungaran dengan hutan yang menghijau, tentu akan semakin cantik untuk camping bersama keluarga. Fasilitas yang lengkap seperti toilet, tempat parkir dan beberapa warung penjaja makanan, rasanya semakin komplit untuk merasakan nikmatnya udara yang sejuk bersama keluarga. Di sebelah selatan nampak gagah beberapa gunung yang bisa kita ekspos untuk mengambil gambar, ada gunung Merbabu, Telompyo, Andong dan gunung Gajah yang di depannya terhampar birunya Rawapening. Di sebelah barat ada gunung Sindoro dan Sumbing.


2. Gunung Telomoyo



Gunung Telomoyo menjadi gunung sejuta umat di akhir pekan. Berada di antara dua kabupaten yakni kabupaten Semarang dan Magelang menjadi agenda rutin para remaja ataupun mereka yang suka berkelana di alam. Untuk mencapai puncaknyapun tidak perlu repot-repot mendaki dengan segala perlengkapannya akan tetapi cukup dengan motor atau menyewa jeep di basecamp Ardath sudah bisa menikmati sun rise, negeri di atas awan (jika beruntung) ataupun pemandangan sekitar yang menakjubkan. Melintasi jalan yang berkelok menyuguhkan panorama alam yang tidak akan terlupakan


3. Gunung Andong


Gunung ini juga tidak terlalu jauh dari gunung Telomoyo. Memiliki ketinggian 1726 MDPL dan memiliki 3 puncak, yakni Puncak Makam Ki Joko Pekik, Puncak Andong Peak dan Puncak Alap-Alap, menjadikan gunung Andong tidak sepi dari pengunjung. Ada yang ngecamp ataupun sekedar tektok. Pendakian minimal dan view maksimal akan kalian dapatkan di gunung Andong ini. Kurang lebih satu jam untuk sampai ke puncaknya tentu tidak terlalu mahal dibanding dengan suguhan alam yang istimewa di atasnya.


4. Nepal Van Java




Masih di area Magelang sebelah barat tepatnya di kaki Gunung Sumbing, Nepal Van Java ini memilik daya tarik tersendiri untuk dikunjungi oleh para traveler. Keindahan pemandangannya yang menakjubkan ditambah suasana pegunungan yang berhawa sejuk menambah romantis untuk menghabiskan liburan bersama keluarga atau teman di Nepal Van Java. Jika di pagi hari kita juga dapat view sun rise yang sangat cantik tanpa harus mendaki ke puncak gunung.


Jadi, mana sob yang akan kalian pilih untuk menghabiskan liburan sekolah panjang bersama keluarga. Semoga liburan anda menyenangkan tanpa terkendala oleh faktor teknis ataupun non teknis.

KERENNNN!!!!!!!!! CITY LIGHTNYA KOTA MOJOKERTO DARI GUNUNG LOROKAN 1100 MDPL

KERENNNN!!!!!!!!! CITY LIGHTNYA KOTA MOJOKERTO DARI GUNUNG LOROKAN 1100 MDPL

 



Mengunjungi ke kota Lamongan di dusun Cani, Desa Candisari, Kecamatan Sambeng menjadi suatu kesempatan emas buat saya. Lamongan yang terkenal dengan berbagai varian masakannya membuat sepanjang jala di kota Lamongan banyak berdiri restoran yang menyajikan masakan-masakan khas Lamongan. Seperti Soto Lamongan, Nasi Boran, Pecel Lele dan masih ada beberapa aneka sajian makanan yang bisa kita nikmati jika mengunjungi kota Lamongan. Bisa silaturahim ke tempat bu Eko yang begitu ramah dan kebetulan putra beliau yang suka berpetualang mengajak saya untuk menghabiskan akhir pekan ke Gunung Lorokan yang berlokasi di kabupaten Mojokerto Jawa Timur. 

Dusun Cani, Desa Candisari, Sambeng, Lamongan

Sore pukul 15:00 kami memulai perjalan dari rumah bu Eko dengan berboncengan sepeda motor. Melewati desa-desa yang cukup padat dan sesekali melewati perkebunan petani yang ditanami pohon kayu putih dengan bahasa latin Melaleuca Leucadendra tumbuh subur diantara sayuran ataupun jagung yang sudah siap di panen. Melintasi sungai terpanjang dan terbesar di Mojokerto menjadikan rasa senang tersendiri buat saya. Sungai yang lebar dan air yang melimpah tentunya menguntungkan bagi warga di sepanjang sungai Brantas untuk kebutuhan pertanian mereka. Memasuki area perbukitan di Mojokerto jalan mulai berliku dan disuguhi pemandangan yang cukup menarik di sepanjang jalan. Warung-warung gaul yang hit dan merupakan tempat thongkorangan anak-anak muda berjejer dan menawarkan masakan kekinian ataupun kerajinan tangan yang beraneka ragam dengan harga yang sangat terjangkau. Ada pula mereka memermak sebuah tempat menjadi cafe yang bernuansa alam dengan pemandangan alam serta menjadi camp area untuk menghabiskan akhir pekan.


Sampai di Pacet jalan mulai menanjak dan melintas di belokan ekstrim yang sering memakan korban jika kendaran tidak dalam keadaan sehat. Tidak lama saya diajak belok kanan menuju base camp pendakian Gunung Lorokan. Gunung Lorokan sendiri memiliki ketinggan 1100 MDPL, yang sebenarnya merupakan bukit di kaki gunung Welirang, sangat ramah buat para petualang untuk menghabiskan akhir pekan. Karena tidak pesiapan dari awal akhirnya kami menyewa tenda dan perlengkapan yang lain buat kami rehat.

Senja itu sedikit gerimis saat kami memulai pendakian, namun saya dan kak Egi tetap memulai perjalanan yang ditemani kicauan burung-burung yang mulai merapat ke ranting pohon menuju sarang bermalamnya. Suara binatang malam juga menyambut kedatangan kami di sepanjang jalur pendakian. Tidak kurang dari 20 menit kami sampai di pos satu yang merupakan spot taman dan camp area yang menyediakan gasebo berjajar rapi. Banyak pengunjung yang menikmati jajanan alakadarnya yang mereka pesan di warungnya. Menyeduh kopi susu atau teh hangat rasanya cocok sekali untuk mengurangi hawa dingin yang dirasakan setiap seduhannya. Namun tidak bagi kami, kami lebih memilih mengambil air wudlu untuk melaksanakan sholat Maghrib dan sekelagus kami jamak dengan sholat isya. Angin sepoi yang menyapa kami sangat lembut meski demikian memberi rasa dingin di kulit kami yang tidak berbalut jaket. Lantas kami melanjutkan perjalanan dengan melewati jalan setapak yang sedikit datar. 

Pohon-pohon besar dan rindang senja itu meliuk-liuk karena terpaan angin. Kami di tuntun oleh alunan air yang gemericik untuk kami lintasi, ada air terjun yang cantik meskipun tidak begitu tinggi akan tetapi ada pesona tersendiri untuk melihatnya di sela-sela batu yang besar. Air sangat jernih dan tidak lupa kami mengambilnya satu botol besar untuk kebutuhan masak-memasak di atas nanti. 30 menit perjalanan kami menyusuri jalan setapak menuju camp area. Sayup terdengar suara berbicang-bincang di atas yang menandakan tempat camp sudah dekat atau tidak lama lagi.


Pertigaan dan bangku singgahan untuk beristirahat sejenak mengiyakan kami dan mempersilahkan duduk. Menikmati candu malam itu dengan gugusan bintang yang kemerlip di antara awan yang sedikit mendung. Menikmati camilan dan menyeka keringat mengarahkan kami untuk meneguk minuman yang kami bawa. Terasa dingin dan segar meski tidak keluar dari kulkas untuk mengaliri kerongkongan yang sudah sedikit mengering sejak tadi. 


Lantas kami ayunkan lagi langkah kami di atas tanah yang becek sisa gerimis petang tadi. Sandal kami menjadi seperti sepatu High Heel karena tertempel tanah merah gunung Lorokan. Jalan cenderung menurun untuk mendapatkan spot-spot cantik malam itu. Ada beberapa tenda yang sudah berdiri dan kami menyapa kepada mereka sekedar untuk permisi dan ikut mendirikan tenda yang mengarahkan pintu ke timur untuk mendapatkan city light kota Mojokerto. Kota Mojokerto dan Gunung Penanggungan menyapa kami dari kejauhan, di bawahnya kerlap kerlip lampu kota Mojokerto menjadi daya tarik sendiri untuk di abadikan dengan kameran ponsel kami. Malam itu kami kurang beruntung, kabut datang lebih cepat yang menutupi punggungan gunung Lorokan. Segera kami rapatkan pintu tenda setelah makan malam selesai. Berkemas untuk ke peraduan dengan dua selimut yang kami bawa dari rumah bu Eko. Selimut tebal itu membungkus badan kami serta mengantarkan kami ke alam mimpi. Ada mimpi terselip yang kemudian membangunkanku tepat awal sholat subuh. Bergegas aku mengambil tayamum untuk segera menunaikan sholat subuh.


Kicauan burung kutilang mengundanga kami keluar dari tenda. Kami di sambut segerombolan penghuni Gunung Lorokan yang sedang sarapan pagi di perdu dekat tugu. Meski singkat kami sempat memberinya mereka sedikit camilan, meski malu-malu mereka tetap mengambil dan bergegas melarikan diri. Ahh sudahlah tidak perlu di kejar seperti perasaan dia yang ke kamu. Cuek saja supaya kau bisa menikmati keindahan alam di Gunung Lorokan. Begitu kami melebarkan pandangan mata, sebelah barat terbentang luas perbukitan yang menghijau. Ada rasa nyaman saat kami menatapnya bersama teman-teman lain yang sedang menikmatinya. Ada rasa sejuk dari pandangan saat menatap gugusan alam yang terbentuk, seolah menjadi wallpaper gratis untuk di singgahi dan di bidik oleh kamera-kamera kami. 



Aku senang bisa berada di sini, mengujungi teman yang sekaligus di kasih gunung Lorokan untuk di daki. Aku merasa tertegun sejenak, saat kami melihat tingkah anak-anak muda yang tidak hentinya untuk berpose ini dan itu. Mau mengikuti rasanya kok malu dengan usia yang sudah berkepala 4 dan tentu itu bukan masa-masa saya lagi. Aku patutnya berterimakasih kepada yang sudah mengajakku berkelana di Jawa Timur khususnya di Gunung Lorokan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Kisah ini semoga menjadi satu memori tersendiri bersama cerita untuk menginspirasi para pembaca dan jangan segan-segan untuk berpetualang, karena di alamlah kita banyak belajar yang tidak pernah kita dapatkan di bangku sekolah atau perkuliahan.


Termimakasih gunung Lorokan, terimakasih Mojokerto dan terimakasih kak Egi.


AMAZING!!! GUNUNG UNGARAN VIA PERANTUNAN: Viewnya Gak Ada OBAT

AMAZING!!! GUNUNG UNGARAN VIA PERANTUNAN: Viewnya Gak Ada OBAT



Mengenalkan anak-anakku ke alam adalah sebuah mimpi yang sudah ku inginkan sejak lama. Salah satunya mengenalkan mereka ke Gunung Ungaran Via Perantunan. Sesuai dengan harapan dapat libur panjang bulang Mei selama 4 hari, memanfaatkan momen sebai-baiknya untuk merencanakan liburan ke gunung yang memiliki ketinggian 2050 MDPL.
Mengunjungi rumah embah di Salatiga dan menginap 2 malam sebelumnya. Waktu yang tidak terlalu lama kami gunakan persiapan dengan matang untuk selanjutnya melakukan perjalanan ke gunung Ungaran.
Sabtu pagi kami sengaja bangun pagi-pagi untuk packing segala perlengkapan dan kebutuhan untuk pendakian. Membawa beras, ubi dan telor bebek kami kemas dengan baik di samping masih ada beberapa kue TURBO di tempat embah terbawa pula.

Pukul 10:00 WIB kami sampai di alun-alun Bandungan. Sedikit bercerita sebelum menjadi alun-alun dan icon di kecamatan Bandungan, dulunya alun-alun ini merupakan pasar tradisional yang sangat ramai dikunjungi para wisatawan. Dampaknya sering terjadi kemacetan di area ini, hingga akhirnya dirubah menjadi alun-alun Bandungan dengan view Gunung Ungaran. Meski terkesan berbeda dengan alun-alun di kota lain yang biasanya identik dengan pada lahan yang datar, alun-alun Bandungan di buat sesuai dengan kontur tanah yang sedikit miring namun di situlah aestetiknya.

Kami menunggu teman dari Wonosobo di Bandungan Mart yang berada di sebelah pojok alun-alun. Udara yang dingin nampaknya membawa kami ke sebuah kedai soto untuk mengisi amunisi sebelum pendakian. Rp 10.000 rasanya tidak mahal untuk menikmati soto ditemani hawa yang sejuk. Hingga akhirnya yang ditunggu sudah sampai, kami memasuki Bandungan Mart untuk membeli bekal minum dan makanan kesukaan anak kami.

Adzan duhur kami sampai di basecamp Perantunan, registrasi yang seadanya untuk tiga orang kami membayar Rp 85.000. Menitipkan barang yang tidak dibawa dalam pendakian, lalu kami memarkirkan motor yang sudah di sediakan, di bawah rimbunnya hutan pinus. Sholat dzuhur kami jamak dengan Ashar sudah kami laksanakan sebelum pendakian di mulai pada pukul 12:15 WIB.

Jalan datar yang menerima kedatangan kami seolah meloloskan keinginan saya untuk segera sampai di camp area. Gerbang pendakian menjadi daya tarik tersendiri buat anakku, berisitirahat dan auto cekrek untuk mengambil gambar sebagai dokumentasi. Sisa hujan semalam masih nampak jelas saat kami bertemu jalur yang tidak berbatu. Sisa air yang masih mengalir membuat jalur pendakian sedikit licin dan harus ekstra hati-hati. 

Berpapasan dengan tektokers yang naik atau turun justru menambah semangat anak kami untuk berjalan. Sebut saja Oik (7 thn) dan Alifa (16 thn) ehhh jauh juga ya jarak usia mereka hehehe. Tidak terasa Pos 1, Pos 2, Pos 3 terlewati dengan medan pendakian yang random. Kadang berbatu, kadang landai, kadang beranak tangga semuanya kami nikmati dengan gurauan. Saat kami tiba di Pos 4, kami memutuskan untuk singgah beberapa saat. Banyaknya pendaki lain yang singgah tidak menyurutkan kami untuk bergabung. Sejenak kabut tebal turun, menghampiri tubuh-tubuh kami yang basah dengan keringat. Tidak berselang lama rintik hujan mulai berbunyi di antara rimbunnya lebatnya daun di hutan gunung Ungaran. Tidak memaksa kami untuk singgah lebih lama karena faktor keamanan yang membuat kami lebih lama untuk berada di pos 4.

Kami melanjutkan perjalanan kami saat hujan deras mengguyur, mantol plastik kami tautkan di tubuh kami, jalan semakin licin dan sedikit melambat perjalanan kami. Semua tidak menyurutkan perjalanan kami untuk segera mencari tempat untuk bisa mendirikan tenda.

Tanjakan Cinta menyambut kami dengan lahan datar dan kami putuskan untuk mendirikan tenda. Masih hujan lebat saat saya membuat KILI (aliran air supaya tidak menggenang). Pasang fly sheet supaya tenda tidak basah dan nyaman saat mendirikannya. Setengah jam kami berkutat dengan pendirian tenda kami. Satu persatu barang kami masukkan dan anak-anakku berganti baju yang kering.
The Real Sabana 



Masak air untuk menghangatkan tubuh, kami menyeduh susu instan sembari makan kue-kue turbo dari embah. Sayup terdengar adzan maghrib bergegas kami mengambil tayamum untuk menunaikan sholat maghrib yang kami jama dengan sholat isyak. Setelahnya makan malam dan go to sleep to take a rest then. 

Tidur yang terlalu awal membuatku nyenyaknya berkurang, sesaat keluar tenda, gerimis sudah hilang dan city light malam itu begitu cantik. Menyuguhkan aroma-aroma candu untuk menikmati malam itu diantara lalu lalang pendaki yang naik dan menyapa dengan ramahnya kepada saya. Tidak terlalu dingin seperti sifat dia (ehh dia nya siapa yaakkk) untuk menikmati keindahan dan panorama gunung Ungaran di bagian selatan ini.

Pagi menjelang saat terdengar adzan subuh dari berbagai penjuru di kaki gunung Ungaran. Bergegas kubangunkan anak-anak ku untuk segera sholat subuh. Jaket tebal masih kami pertahankan saat mulai keluar dari tenda untuk Summit Attack. Rona jingga menggoda kami untuk menyunggingkan senyuman dan segera mengabadikan dengan kamera-kamera kami. Di belakang tenda kami banyak yang bertahan dengan view di Tanjakan Cinta ini.

Mimpi saya harus terwujud untuk membawa kedua anakku untuk ke puncak Gunung Ungaran (kataku dalam hati). Sisa hujan semalam masih menyisakan tanah yang licin, meski demikian semangat anak-anak ku tetap konsisten untuk sampai di puncak. Perjalan Oik yang masih kecil menjadi pusat perhatian para pendaki yang bertemu. Tidak sedikit mereka yang memberikan semangat bahkan ngajak foto bersama, memberi jajanan. Anak yang ramahable (humble maksudnya ya hehehehe) semakin lucu tingkahnya. Sedikit was-was juga sebenarnya saat melintas di bibir jurang hingga tidak kurang-kurangnya mulut ini menasehatinya.
"Aku tak akan berhenti untuk memberimu seteguk ilmu"

Sabana dan puncak gunung Ungaran menyapa kami dengan hijau rerumputan dan perdu-perdu. Matahari menyingsing di antara ranting-ranting kering hingga kedip mata ini tertahan untuk menatapnya. Hembusan angin sepoi menuntun kami untuk bertahan di bebatuan, membuka bekal dan menikmatinya bersama panorama cantik yang terbentang. Gunung Merbabu, Andong, Merapi, Telomoyo nampak menyapa di balik kabut tipisnya. Tetap terlihat cantik meskipun samar hingga bidikan-bidikan kamera kami untuk mengabadikannya. Di sebelah barat ada gunung Sindoro dan Sumbing yang tertutup awan di pucuknya tetap terlihat gagah.



Lantas kami berhenti di batas ketinggian bersama pendaki yang lain. Candu Gunung Ungaran kini merambah ke urat nadi buah hatiku. Aku tidak menyesal membawanya ke sini. Sekedar berbagi suka dan ceria bersama mereka. Tentu kami tidak akan berhenti begitu saja, untuk menapaki ketinggian di sini, ada wacana lain yang lain untuk ku kenalkan kepada kalian gunung baru dan sahabat alam yang baru untuk menggali dan mengkaji bersama.

I love you my Buah Hati
Pantai Istambul: Sun Set Tercantik Pantai Utara di Kota Demak

Pantai Istambul: Sun Set Tercantik Pantai Utara di Kota Demak



Berlibur di kota Demak jangan lupa mampir di Pantai Istambul yang berjarak kurang lebih 15 km dari pusat kota Demak. Memiliki nama asli Pantai Glagah Wangi yang berlokasi di desa Tambak Bulusan Kecamatan Sayung Demak ini, akhirnya masyarakat lebih mengenalnya dengan Pantai Istambul atau Pantai Istana Tambakbulusan. 

Pantai yang menawarkan keramahan dan kearifan lokal ini banyak dikunjungi para traveler pada saat weekend atau weekday pada sore hari. Untuk ke pantai Istambul ini anda tidak perlu susah mencarinya cukup menuju jembatan Karangtengah yang berdekatan dengan SMA N 1 Karangtengah atau biasa disebut dengan SMA  Pelita. Menuju utara kurang lebih 6 km. 

Papanisasi sudah mengarahkan anda sampai di tempat parkir menuju ke tempat yang sangat eksotik ini. Ramahnya penyewa kapal akan menuntun anda untuk menaiki kapal dengan tarif kurang lebih Rp. 20.000 untuk PP (Pulang Pergi) kurang lebih 5-10 menit. 



Sambutan hutan Mangrove yang tumbuh subur, membuat pantai Istambul cukup sejuk. Menapaki jembatan kayu kurang lebih 500 meter dengan kanan kiri perdu mangrove yang hijau. Suara katak atau sejenisnya menyambut pengunjung berama kepiting-kepiting besar liar yang berbaris malu-malu.

Pantai ini cukup ramah buat para pengunjung, ombak yang tidak terlalu besar, dan pantai yang tidak terlalu dalam dan berpasir lembut ini sangat cocok buat mengisi liburan keluarga dengan anak-anak kecilnya. Bila anda lapar, haus dan lain sebagainya, di sepanjang pantai juga tersedia warung-warung yang menyediakan jajanan. Harga terjangkau untuk ukuran di pantai Istambul. Tersedia persewaan tikar untuk duduk-duduk menikmati makanan dan sambil melihat pemandangan yang cukup bagus. Penyewaan alat-alat permainan anak juga tersedia, sehingga para pengunjung bisa menyewakan putra putrinya untuk bermain di air.

Namun bagi para pecinta sun set, pantai inilah sangat cantik dan candu untuk menikmati senja. Berlatar belakang kota Semarang sesekali terlihat kapal tongkang melintas. Nelayan melaut seolah menjadi daya tarik sendiri untuk membidik indahnya Sun Set di Pantai Istambul. Tidak menjanjian apa-apa kecuali ketenangan yang ada di depan mata. Saat merenda bersama cerita untuk kebahagiaan kita


"Adapun senja tak pernah bohong akan keindahannya, meski sesaat namun cukup bermakna untuk di cerna"


Muncak Merbabu via Thekelan Kopeng Salatiga, Kamu Bisa Lewati Rute Ini

Muncak Merbabu via Thekelan Kopeng Salatiga, Kamu Bisa Lewati Rute Ini



Gunung Merbabu yang memiliki ketinggian 3142 MDPL menjadi salah satu destinasi wisata yang tidak pernah sepi dari pengunjung. Mereka datang dari berbagai wilayah kota lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, bahkan dari luar pulau Jawa juga tidak segan-segan untuk mengeluarkan koceknya untuk mengunjungi gunung Merbabu yang terkenal dengan keeksotisan pemandangannya.

Persiapan yang baik tentu akan memperlancar teman-teman untuk mendaki gunung Merbabu. Salah satunya rute perjalanan yang harus dipersiapkan dengan baik, sehingga tidak salah jalur untuk bisa ke basecamp yang diinginkan.

Basecamp legendnya gunung Merbabu yakni Thekelan yang berada di desa Kopeng, Jawa Tengah. Lokasi yang berada di dalam perkampungan yang memiliki ketinggian kurang lebih 1300 MDPL membuat para pengunjung dari luar kota sedikit bingung untuk mencari transportasi baik darat ataupun Udara. Untuk mempermudah teman-teman sampai di basecamp Thekelan, berikut saya sampaikan rute-rute untuk sampai di basecamp Thekelan:

Rute ke Basecamp via Darat.

A. Jawa Barat dan Sekitarnya

Apabila anda dari Jawa Barat atau arah barat bisa menggunakan transportasi umum baik bus ataupun kereta api. Naik bus dari arah barat dengan tujuan kota Solo kemudian turun di Pasar Sapi atau terminal Tingkir Salatiga. Setelah itu naik micro bus ke arah Kopeng turun di Indomaret Kopeng. Dari Indomaret anda bisa menggunakan jasa ojek ke Basecamp Thekelan. 

Rekomendasi bus yang cepat dan murah yaitu kelas PATAS - Excecutive antara lain, bus Sinar Jaya, Gunung Mulia, Bhaladika, Haryanto, Laju Prima, Agra Mas dan lain-lain, tarif bus kurang lebih Rp. 250.000 - Rp. 300.000 sudah dapat snack dan makan sekali.

Rekomendasi bus yang nyaman tersedia beberapa kelas, Executive, Suite Class, Super Excecutive yaitu bus, Rosalia Indah, Putera Mulya, Indorent, Raya, Gunung Harta, Harapan Jaya dan lain-lain. Tarif bus kurang lebih Rp 350.000 - Rp. 500.000 tergantung dari kelas yang anda pilih.

Apabila anda lebih nyaman menggunakan kereta api, anda bisa turun di Stasiun Tawang Semarang. Dari Stasiun Tawang biasanya sudah ada jasa transportasi untuk ke seluruh basecamp gunung di Jawa Tengah, namun untuk tarif tentu berbeda-beda. Untuk sampai ke basecamp pendakian gunung Merbabu via Thekelan biasanya dikenai tarif untuk satu elf atau kendaraan pribadi sebedar Rp 500.000 bisa diangkat dengan teman-teman sekali jalan. Namun jika tidak ada jasa travel maka anda bisa memakai jasa transportasi umum. Trans Semarang ke arah terminal terboyo (Rp. 5000) kemudian naik bus jurusan Solo (Safari, Raya, Ismo, Taruna) tarif Rp 20.000 turun di Pasar Sapi Salatiga. Setelah itu naik micro bus harga Rp. 7000 - 10.000 ke arah Kopeng turun di Indomaret Kopeng. Dari Indomaret anda bisa menggunakan jasa ojek ke Basecamp Thekelan dengan tarif kurang lebih Rp. 25.000.

"Jadikan duniamu lebih bervariasi, berkeliling mencari inspirasi untuk lebih produktif dalam diri."

B. Jawa Timur

Khususnya dari arah kota Surabaya jalur selatan anda bisa naik bus EKA, Sugeng Rahayu dengan harga PATAS Rp 100.000 dan ekonomi Rp 75.000 turun di Pasar Sapi Salatiga. Kalau dari arah Solo dan sekitarnya anda bisa naik bisa jurusan Semarang (Safari, Raya, Ismo, Taruna) tarif Rp 20.000 turun di Pasar Sapi Salatiga. Setelah itu naik micro bus harga Rp. 7000 - 10.000 ke arah Kopeng turun di Indomaret Kopeng. Dari Indomaret anda bisa menggunakan jasa ojek ke Basecamp Thekelan dengan tarif kurang lebih Rp. 25.000.

Nomor telpon basecamp Thekelan Kopeng Jawa Tengah: +62 853-2500-8322

Links Basecamp Thekelan: https://instabio.cc/4031402o7gacb



Air Terjun Gunung Muria via Colo, Destinasi Yang Cocok Untuk Healing

Air Terjun Gunung Muria via Colo, Destinasi Yang Cocok Untuk Healing

Menelusuri Kota Kretek di Kudus Jawa Tengah ternyata masih banyak spot-spot wisata yang belum kita ketahui. Seperti di Gunung Muria yang memiliki banyak puncak yang bisa di daki oleh para pengelana. Ada beberapa basecamp yang sering dilewati pendaki untuk mendaki gunung Muria. Seperti Pucak Songolikur/Dua Sembilan (29) dan Puncak Abiyoso/Puncak Natas Angin  atau Petilasan Sukarno, keduanya bisa dijangkau di desa Rahtawu Gebog Kudus. Puncak Argo Piloso dan Argo Jambangan bisa di jangkau di Desa Rejenu, Colo Kudus.

Mengupas sisi gunung Muria masih banyak masyarakat yang belum tahu jika di Rejenu ada beberapa wisata yang bisa di kunjungi. Salah satunya Air Terjun Ginggomino yang berada di balik wisata ziarah makam di area Rejenu, Colo, Kudus. Air terjun dari sumber mata air gunung Muria ini memiliki ketinggia 30-50 meter. Air yang jernih dan sejuk berlokasi di bawah rimbunnya hutan gunung Muria. 

Akses untuk menuju ke air terjun Ginggomino ini anda cukup berjalan ke arah utara mengikuti aliran sungainya. Kurang lebih 300 meter dari petilasan akan anda temui air terjun yang berdekatan dengan Goa Jepang. Tidak bayar alias gratis untuk mandi atau bermain air di sini. Mengeluarkan kocek hanya Rp. 3000 untuk membayar parkir di basecamp sangatlah terjangkau. 

Lelah anda akan terbayar saat mulai merasakan sejuknya air terjun ini. Arus yang tidak deras semakin betah untuk bermain air di sini. Perlu diingat untuk membawa bekal dari rumah, karena di lokasi tidak ada orang yang berjualan.

Bulan yang paling cocok buat ke air terjun Ginggomino yaitu bulan Januari - Mei, dimana debit air masih banyak. Cocok buat keluarga dan para remaja yang meyukai kegiatan outdoor.