Mount Lover

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Tentang Blog Ini

Blog ini merupakan cerita murni dari penulis dari pengalaman yang pernah kami lalui, semoga blog ini bermanfaat buat pembaca dan selalu menerima kritikan yang bersifat membangun. Saya ucapkan terimakasih kepada yang telah mengunjunginya, jika anda terkesan silahkan isikan tulisan anda melalui kolom komentar atau bila membutuhkan jasa guide pendakian gunung, bisa hubungi saya, Mr.Ady, WA/SMS/Telp. 085725247115

Follow Us

Sunset di Gunung Kelir Tapak, Jambu, Ambarwa

Sunset di Gunung Kelir Tapak, Jambu, Ambarwa


Perjalanan kami berawal dari kota Salatiga saat bertemu teman dan hendak mencari sunset di Bukit Kelir. Mendengar kata bukit Kelir yang terlintas adalah pemikiran tentang arti dari kata Kelir yang berarti WARNA. Sehingga bukit Kelir sendiri merupakan bukit yang penuh dengan warna artinya memiliki pemandangan yang tidak kalah cantik dengan tempat-tempat lain. 

Menggunakan sepeda motor kami berboncengan melewati jalan lingkar Ambarawa dan melintasi desa Jambu. Menuju arah ke Magelang kita akan bertemu dengan Desa Tapak yang dilintasi rel kereta api wisata dari stasiun Tuntang - Ambarawa dan menuju tujuan terakhir di Bedono dan kembali lagi ke Ambarawa. Dari desa Tapak kita belok kiri dan menuju ke arah basecamp bukit kelir yang terletak 1 km dari arah jalan raya. Sesampai basecamp kami registrasi dengan membayar harga tiket masuk sebesar Rp. 5000 per orang dan parkir motor Rp. 3000. Tidak lupa kami membeli bekal makanan untuk perjalanan. Setelah selesai registrasi dan sholat ashar, kami mulai perjalanan pukul 16:30. 

Rumah Panggung Sekaligus Gapuro

Perjalanan menuju bukit Kelir cukup enak melewat jalan yang cukup lebar dan bisa dilalui sepeda motor para petani atau pencari rumput yang sudah tertata rapi dengan batuannya. Dalam perjalanan kami dipertemukan dengan Rumah Panggung yang berdiri di tengah-tengah Jalan seperti Gapuro. Kami memasuki rumah tersebut sekedar untuk mengabadikan momen pada sore itu. Kemudian kami berjalan kembali menyusuri jalan yang semakin sempit setelah bertemu pertigaan dan kami kembali menapaki jalan terjal yang sudah tidak berbatu lagi. Tidak sampai jam kami bertemu dengan papan nama BUKIT KELIR yang dipasang di samping kiri jalan. Tulisan ini juga bisa terlihat dari jalan raya Ambarawa-Magelang. 

Dari tempat ini kita bisa melihat desa-desa sekitar Ambarawa serta gunung Ungaran dan di sebelah barat nampak gunung kembar Sindoro Sumbing. Sesaat kami kembali mengabadikan moment di tulisan ini. Setelahnya kami melanjutkan perjalanan menuju ke puncak Bukit Kelir yang menjadi tempat hunting sunset sangat cantik menurut saya. Di puncaknya sudah dibangun beberapa gasebo untuk istirahat dan beberapa bangunan dari bambu untuk swafoto yang cocok bagi para anak-anak muda jaman sekarang.

Hanya Caption Saja Tidak Minum Sungguhan

Dari bukit ini kita bisa melihat keindahan kota Ambarawa serta luasnya Rawapening. Sebelah selatan bisa kita lihat pula gunung telomoyo yang terlihat gagah yang dibawahnya terdapat gunung Kendil. Kamipun menikmati senja bersama tenggelamnya matahari diantara gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. 

Kisah Mistis Gunung Merbabu Part I (Penunggu Jalur Pendakian Basecamp Thekelan)

Kisah Mistis Gunung Merbabu Part I (Penunggu Jalur Pendakian Basecamp Thekelan)

Gagahnya Puncak-Puncak Merbabu Dari Pucak Tower

                     Perjalanan waktu itu kami mulai dari percakapan kami di media sosial, yang akhirnya                             kami dipertemukan di kota D. Mereka berempat dari kota Jawa Timur dengan naik                                  kendaraan umum dan mereka singgah sesaat di kota D sebelum melanjutkan perjalanan                          menuju Gunung Merbabu.

Singkat cerita, siang itu kami berangkat berdelapan dengan mengendarai motor. Kurang lebih 3 jam sampailah kami di Kopeng dan kami memutuskan untuk naik Gunung Merbabu melalui Basecamp Thekelan. Sebelum sampai ke basecamp kami sempat mampir ke waralaba untuk berbelanja keperluan di pendakian nanti. Selain itu kami juga menunggu teman yang dari Magelang yang ingin ikut gabung dalam pendakian kali ini. Setelah bertemu dengan teman dan semua keperluan sudah terbeli dan meluncurlah kami menuju basecamp Thekelan. 

Kami disambut dengan ramah oleh crew basecamp, saat itu menunjukkan pukul 15:30. Sembari beristirahat kami mulai mengemas barang-barang yang kita perlukan daat pendakian dan menitipkan barang di basecamp yang sekiranya untuk keperluan setelah pendakian esoknya. Beberapa teman keluar dari basecamp untuk sekedar menikmati cuaca sore itu yang cukup cerah dimana senja datang dan lampu-lampu kota Salatiga sudah mulai menampkan cahayanya. 

Sesaat kami mulai memesan makanan untuk makan malam kami, serta sholat Maghrib dan Isya' yang kami jamak sudah kami lakukan. Bergegas, kami mengemas barang kami kembali untuk segera melakukan pendakian malam itu. Tepat pukul 18:30, kami mulai pendakian dan sebelumnya kami berdoa terlebih dahulu supaya perjalanan kami diberikan kelancaran dan tidak ada halangan dalam pendakian. Akhirnya kami mendaki bersebelas orang diantaranya 9 orang laki - laki dan 2 orang perempuan. Perlu diketahui bahwa salah satu dari teman perempuan kami memang sedang udzur, sehingga kami perlu berjaga-jaga supaya dalam perjalanan dia tetap kuat dan tidak mudah lelah.

Perjalan kami lalui dengan santai, dengan harapan bisa menikmati setiap langkah kami di setiap posnya. Cukup cepat kami juga berjalan karena pada saat itu pukul 19.40 kami sudah sampai Pos 1. Sembari mencuci muka dan mengisi air di botol, kami mencairkan suasana lelah kami dengan mengemil jajanan yang kami bawa. Saya juga melakukan hal yang sama dan minum air kran yang sangat segar dan lebih segar dibanding dengan air kemasan yang dibeli di toko waralaba. 

 

Sabana-Sabana di sepanjang jalur

Perjalanan kami lanjutkan kembali dengan formasi seperti awalnya untuk yang perempuan selalu berada di tengah-tengah supaya tidak tertinggal terlalu jauh. Baru beberapa langkah dari pos 1, salah satu teman kami yang perempuan yang sedang udzur tiba-tiba merasakan perutnya sakit. Selain sakit perutnya dia sedikit lemas. Kami berhenti sejenak sebelum mendekati sungai dan teman perempuan yang satu memberikan minyak kayu putih untuk dioleskan ke bagian-bagian yang terasa sakit. Sejak saat itu dia menjadi pendiam dan sering melamun dalam perjalanan. Perjalanan kami lanjutkan dan saat melintasi sungai kami berhenti sejenak lagi untuk sekedar membasuh muka untuk menyeka keringat kami. Termasuk teman yang sedang sakit tadi, dia agak tertegun lama di sungai itu, dengan tatapan yang sedikit kosong. Kemudia kami mengajaknya untuk segera beranjak dari sungai itu, akan tetapi dia selalu bilang sebentar, sebentar dan sebentar. Sampai akhirnya diapun mengiyakan untuk melanjutkan perjalanan masih dengan rasa lemas kakinya. 

Dalam perjalanan dia mulai lemas, dan kami berupaya untuk menyemangatinya dan memang dia berfikir pada dua sisi yang berbeda. Satu sisi dia sangat semangat untuk segera mencapai tempat untuk mendirikan tenda di Watu Gubug. Dissatu sisi keadaan yang membuat di lemas dan sempat mabuk gunung sehingga makanan yang dimakan sebelumnya keluar dan dimutahkan. Tidak berhenti begitu saja, kami menyemangati dan dengan sabar kami mendampingi setiap langkahnya. Cukup lama perjalanan kami dari pos 1 ke pos 2, karena banyak berhenti dan selalu memberi semangat kepada dia tadi. Pukul 21:30 kami sampai pos 2 dan kamipun beristirahat sejenak. Dalam istirahat saya melihat dia masih saja duduk melamun dan dalam gandengan tangan dengan teman sesama perempuannya. Wajahnya terlihat pucat dan banyak keringat yang keluar dari tubuhnya. Dia mencoba tetap untuk bertahan dan tegar untuk tetap melanjutkan perjalanan kali ini. 

Sempat merasa sesak nafas juga di Pos 2, kemudian dengan minyak kayu putihlah yang menjadi senjata kami untuk melegakan pernafasannya. Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan akan mendirikan tenda di Pos 3 Gumuk Mentul setelah Pereng Putih. Ada satu keanehan terjadi pada saat saya mengajak teman-teman untuk melanjutkan perjalanan. Dia tiba-tiba sangat semangat untuk berjalan, setengah lari jalannya pada malam itu yang akhirnya kami mengejarnya agar tetap terkendali dalam perjalanannya.

Menuju pos 3 Gumuk Mentul juga bukan hal yang mudah saat itu, medan yang cukup nanjak membuat kami menyemangati satu sama lain dengan sedikit gurauan untuk menghilangkan rasa letih kami. Akhirnya kami pun sampai di Pos 3 pada pukul 23:00 dan kamipun segera berbagi kerja untuk mendirikan tenda. Dua puluh menit kemudian tenda sudah berdiri dan semua memasuki tenda masing-masing. Dari sinilah akhirnya kami tahu apa yang terjadi pada temanku yang sedang udzur tadi.

Pada saat di pos 1 dia sudah mulai diganggu semacam tuyul yang selalu merengek untuk mengajak main di sungai. Dia di bergelayutan di kakinya sehingga dia juga susah berjalan. Itu berlangsung hingga pertengahan antara pos 1 dan pos 2. Sebenarnya setelah pertengahan menuju pos 2 dia sudah enak dan bisa diajak komunikasi lebih baik. Namun pada saat sampai pos 2, dia kembali di temui kakek-kakek besar yang berjenggot sangat panjang dan berdiri di belakangnya. Sehingga memang pada saat di pos 2 kami melihat wajahnya sangat pucat dan merasa sangat ketakutan tidak berani memandang di sekitarnya kecuali merunduk dan merunduk. Dan saat kami ajak melanjutkan perjalanan dia sangat ingin buru-buru untuk segera beranjak dari pos 2. 

Akhirnya malam itu kami bisa beristirahat dengan nyaman meski sesekali kami mengontrol keadaan teman perempuan kami. Usai sholat subuh yang sudah aga kesiangan kami berkemas untuk melakukan pendakian kembali menuju ke puncaknya. Semua terasa fresh dan semangat setelah istirahat kami yang cukup nyaman. Perjalanan kami lalui dan pada pukul 08:30 kami sampai di Pos 4 Pemancar. Kami menyempatkan istirahat dan makan perbekalan kami. Di sini kamipun memutuskan untuk lanjut perjalanan kami menuju ke puncak trianggulasi. Akan tetapi teman perempuan yang satu memilih di Pos Pemancar dan ditemani salah satu teman kami yang laki-laki.

Akhirnya kami sampai di Puncak Trianggulasi pada pukul 11 dan sesuai dengan keinginan kami untuk mengibarkan bendera HW di Puncak Gunung Merbabu dengan selamat, meskipun sempat terjadi hal-hal yang mistis, namun kami tetap berusaha untuk tetap tenang. Karena kami yakin setiap permasalahan ada jalan keluarnya selama kita masih bisa berfikir dengan tenang.

Bendera HW yang Kami Kibarkan

Kami kembali ke Pos 3 Gumuk Mentul dan setelah makan dengan cukup dan berkemas untuk turun kami agak mempercepat tempo kami saat turun. Waktu sudah menunjukkan pukul 15:30 saat itu. Kami hanya berusaha sebelum waktu mahgrib sudah melewati pos 1 dan alhamdulillah kami sampai di Pos 1 sesaat sebelum adzan maghrib berkumandang. Kami merasa lega setelah semua kondisi tidak terjadi apa - apa khususnya teman yang satu tadi. Menuju basecamp akhirnya malah menjadi bahan bercanda dalam cerita tersebut hingga akhirnya kami tidak merasakan lagi sebuah kebosanan dalam perjalanan meski rasa letih ini tetap menempel di badan kami. Pukul 18:45 kami sampai di basecamp dan langsung order makanan untuk mengembalikan stamina kami.

Pukul 19:30 akhirnya kami pamit dari basecamp dan menuju kota Salatiga untuk mencari angkutan umum ke Jawa Timur dan dapatlah Bus Eka malam itu. Perjalanan yang cukup mengesankan dengan sedikit berbau horor. Dari sini saya bisa menyimpulkan bahwasannya khususnya untuk perempuan, jika sedang datang bulan sebaiknya jangan dipaksakan untuk mendaki gunung, akan tetapi jika memang mau mendaki bekalilah dengan keyakinan yang kuat sehingga tidak terjadi apa yang tidak diinginkan, karena orang sedang udzur memang banyak titik lemahnya, baik tenaga, emosional dan spiritualnya.


Embung Kledung, Harga Murah tapi Fasilitas Tidak Murahan

Embung Kledung, Harga Murah tapi Fasilitas Tidak Murahan

 

Gunung Sindoro 

Liburan telah datang teman-teman, khususnya bagi yang hampir 6 bulan berkutat dengan pekerjaan sekolah, kuliah ataupun pekerjaan. Nah... untuk mengisi liburan sudahkah anda menyiapkan persenjataan untuk mengisi liburan akhir tahun ini??

Selain kondisi dompet tentu juga harus menyiapkan fisik, kesehatan dan jangan pernah berhenti untuk menjaga jarak, protokol kesehatan dan selalu pakai masker dimanapun berada. Karena meski tidak terlihat virus covid - 19 ini tetap menjadi momok tersendiri khususnya bagi para traveler, backpacker atau temen-temenya.

Jika para travelers singgah di Jawa Tengah, banyak tempat yang cantik yang tidak boleh ditinggalkan karena di wilayah Jawa Tengah banyak sekali tempat-tempat nan eksotik yang sangat memanjakan mata, disamping untuk merefreshkan pikiran penat setelah sekian lama beraktivitas dalam kesibukan.

Nah kali ini saya akan sedikit mengulas tempat wisata murah yang tidak murahan yang lokasinya mudah dijangkau dari jalan raya.

Embung Kledung dilihat dari atas

Embung Kledung

Berada diketinggian 1200 MDPL embung ini berada di Temanggung Jawa Tengah dan tepatnya di Jalan Raya Parakang-Wonosobo KM 12, Area Sawah, Kledung, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, 56264.

Embung Kledung ini merupakan danau kecil/Waduk buatan yang dipergunakan sarana penampungan air untuk area petani di kaki Gunung Sindoro yang memiliki ketinggian 3150 MDPL. Namun karena lokasi yang strategis dan memiliki pemandangan yang sangat bagus, akhirnya Embung Kledung ini dikelola menjadi destinasi wisata yang sangat menarik para travelers atau sekedar singgah sesaat di embung ini. 

Selain untuk kebutuhan perairan warga, embung ini juga dijadikan tempat untuk kegiatan outdoor, camp ceria, serta berbagai acara yang bersifat alam. Harga tiket masuk juga tidak terlalu mahal hanya Rp. 4000. Sedangkan untuk parkir motor hanya dikenakan Rp. 2000, Parkir mobil Rp. 5000 dan parkir bis Rp. 7000, sangat murah bukan??? Dengan harga yang sangat terjangkau kita bisa menikmati pemandangan yang sangat bagus.  Bagi travelers yang ingin singgah di sana dan tidak bawa tenda, juga sudah tersaji cukup membayar 50K untuk semalam dengan tenda kapasitas 3-4 orang.

Rute Embung Kledung

Jika dari arah Temanggung bisa mencari arah Jalan Raya Temanggung - Wonosobo. Setelah ketemu dengan Pom Bensin sebelah kanan jalan, maka akan bertemu dengan TPU (Tempat Pemakaman Umum). Nah dari situ bisa belok kanan dan masuk melewati jalan perkampungan yang ditata rapi dengan batu-batuan. Kurang lebih 500 M akan menemukan lokasi ini.

Jika dari arah Wonosobo, kita bisa belok kiri di pertigaan Kertek, kurang lebih 10-15 km kita akan ketemu dengan gerbang perbatasan Temanggung dan Wonosobo. Maju 500 M kita akan ketemu Basecamp Gunung Sindoro di Kledung. Dari situ juga tidak jauh lagi bertemu dengan TPU belok kiri setelahnya bertemu dengan pemakaman tersebut.

Fasilitas Embung Kledung

Fasilitas yang ditawarkan juga sangat variatif seperti, Rumah Pohon, Ayunan, Tempat Camp, Toilet, Mushola, serta tempat parkir yang luas, sehingga kita tidak perlu bersusah payah jika kita membutuhkan semuanya.

Sementara jika di lokasi Embung Kledung yang paling unik adalah, kita bisa melihat bayang Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing pada sudut yang berbeda. Inilah yang menjadi salah satu daya tarik buat para traveler untuk singgah di Embung Kledung ini. 


Jadi, segera persiapkan liburanmu, biar murah tapi tidak murahan.


Mendaki Gunung Muria Puncak Natas Angin

Mendaki Gunung Muria Puncak Natas Angin


Mengunjungi kota Kudus yang paling khas di sana adalah Menara Kudus serta tempat ziarah untuk mengunjungi makam salah satu wali songo yakni Sunan Kudus, yang berlokasi di kaki Gunung Muria. Mendengar kata gunung Muria sendiri juga tidak asing saat melintas di kota kretek ini. Gunung yang tidak terlalu tinggi ini memiliki banyak puncak yang terlihat berjajar rapi. Akan tetapi puncak yang sering dikunjungi adalah Puncak songolikur (29), Puncak Argo Jembangan, Puncak Argo Piloso dan Puncak Abiyoso atau Puncak Natas Angin yang berada di Desa Rahtawu. Perjalanan menuju ke desa Rahtawu dihadapkan dengan jalan yang sudah beraspal meskipun ada beberapa yang berlobang namun tetap masih aman untuk naik kendaraan mobil ataupun dengan sepeda motor. Hanya pada malam hari harus exstra hati-hati karena medan jalan banyak tikungan-tikungan tajam dan ada yang berbatasan dengan tebing jurang, serta rawan juga tanah longsor jika saat musim hujan. 

Khususnya Puncak Natas Angin, ini menjadi tujuan saya kali ini. Terakhir saya ke Puncak Natas Angin 5 tahun yang lalu setelah bencana tanah longsor di Sempliro Rahtawu Kudus. Kali ini sudah terasa jauh berbeda dengan keadaan sebelumnya.

Basecamp atau tempat parkir.

Saat ini kondisi basecamp atau tempat parkir sudah tertata rapi serta ada beberapa gasebo yang disediakan untuk pengunjung beristirahat dan menikmati makan dari warung-warung yang tersaji di tempat parkir ini. Mushola juga sudah tersedia bagi mereka yang akan menunaikan sholat, di bawahnya terdapat sungai yang mengalir jernih dari mata air di kaki gunung Muria. Kita juga bisa bermain-main karena sungai sudah dibuat sedemikian rupa sehingga memberikan rasa aman terhadap pengunjung selama kondisi tidak sedang banjir hehehehehe. Selain itu juga sudah tersedia beberapa warung makan yang menjajakan makanan khas kudus seperti Nasi Pecel, Nasi sayur lodeh Gori, Soto dan beberapa camilan lain yang bisa dicicipi di sana.

Perjalanan Mendaki


Pintu Gerbang - Pos I (3 menit)

Pintu Gerbang masuk persis berada di pinggir jalan raya Gebog - Rahtawu belum ada perubahan dalam bentuk atau belum ada pemugaran. Menuju Pos I yang hanya beberapa langkah dari pintu gerbang kita disambut dengan perkebunan para petani di lereng Gunung Muria ini. Hanya kurang lebih 2 sampai 3 kita akan sampai di sebuah gasebo yang dibelakangnya kita bisa melihat air terjun yang cukup tinggi dan lokasi ini akan ramai pada hari-hari libur. 

Pos I - Pos II (30 menit)

Perjalanan ke Pos II kita akan menapaki jalanan yang sudah di cor sehingga memudahkan kaki kita untuk bergerak. Di kanan dan kiri jalan ada pohon Sengon Laut yang tumbuh cukup subur. Selain itu pohon Nangka yang tidak terlalu subur akan tetapi jika pada saat musimnya berbuah pohon ini sangat lebat di setiap dahannya. Sesekali kamipun mendapatkan buahnya yang jatuh karena sudah matang dan bisa kita mencicipinya hehehehe. Selanjutnya kita akan bertemu dengan jalan yang mulai dibuat zig zag yang bertujuan untuk meringankan para pendaki. Mendekati dengan Pos II jalur sudah tidak di cor dengan batuan khasnya yang berwarna kekuningan karena didasari dengan tanah berpadas. Di Pos II ini kita akan mendapati shelter yang cukup luas yang biasanya digunakan untuk berjualan pada saat ramai pendakian yang akan padat pada malam tahun baru baik Hijriah ataupun Masehi. Selain itu di Pos II ini kita bisa mengisi air untuk jika air kita sudah habis. 

Pos II - Pos III ( 20 menit)

Menuju ke Pos III ini kerap sekali kita akan menjumpai jalanan yang berbatu yang tidak tertata rapi. Kanan dan kiri masih merupakan ladang penduduk yang ditanami pohon Kopi dan beberapa tanaman lainnya yang tumbuh cukup subur. Jalur yang lebar dibuat berkelok inilah yang membuat jalan semakin nyaman meskipun perjalanan dilakukan dimalam hari. Di Pos III kita akan bertemu dengan warung makan penduduk yang setiap hari buka dari pukul 08:00 - 17:00 sore hari. Warung ini cukup lengkap dari minuman, makanan berat atau sekedar camilan juga tersaji di sini. Untuk harga tentunya lebih mahal dibanding dengan harga di basecamp. Di belakang warung jika pada saat musim hujan kita akan bisa melihat air terjun yang cukup tinggi. 

Pos III - Pos IV Mata Air ( 1,5 Jam)

Jarak ini menjadi terpanjang dari masing-masing pos yang ada. Ada kurang lebih 26-30 kelokan dari pos III. Jalanan yang terjal dan menanjak serta panjang membuat kita harus bersabar untuk menempuhnya. Pada malam hari kita mulai bisa menikmati kelap kelip lampu kota Kudus di sepanjang jalur ini. Pada siang hari kita juga bisa melihat gugusan bukit-bukit yang berbaris rapi dan puncak yang lain seperti Argo Piloso dan Argo Jembangan. Mendekati mata pos IV ada satu tanjakan yang cukup licin jika pada saat hujan dan beberapa diantaranya sudah terpasang tali untuk berpegangan karena di sebelahnya terdapat jurang yang cukup dalam. Tiba di Pos IV ini kita bisa istirahat dan membasuh muka dengan jernihnya air dari mata air Sendang Suci. Jika ingin mandipun juga cukup nyaman karena sudah ada penutupnya yang penting air sabun jangan di celupkan ke sendangnya ya gaeess. 

Pos IV - Puncak Abiyoso (15 menit)


Dari sini tidak terlalu lama lagi untuk sampai di Puncak Abiyoso. Perjalanan menuju kesana lebih banyak seperti meniti anak tangga yang sudah tertata rapi, meskipun tidak berbatu dan tidak begitu menanjak namun demi keamanan ada beberapa titik yang dipasang dengan tali untuk berpegangan. Kurang lebih 10 kali belokan kita akan sampai di puncak Abiyoso yang disambut dengan pintu gerbang yang bertuliskan Huruf Jawa. Di komplek ini terdapat pemakaman para leluhur yang banyak dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai daerah. Ada warung-warung yang buka setiap harinya. Tersedia pula toilet yang cukup bersih yang bisa digunakan untuk pengunjung. Di belakang pemakaman ini biasanya para pendaki mendirikan tenda untuk bermalam.

Puncak Abiyoso - Puncak Banyangan (15 menit)

Biasanya para pendaki yang memilih mendirikan tenda di Puncak Abiyoso akan summit pada dini hari setelah sholat subuh. Diawali dengan jalan menurun dan bertemu dengan perkebunan pisang yang cukup subur. Setelah itu jalan menanjak hingga bertemu dengan pemakaman yang cukup rimbun dan teduh. Jalur untuk menuju Puncak Bayangan ditumbuhi perdu yang masih rimbun dan cukup nyaman untuk sebuah perjalanan. Di Puncak Bayangan ini kita bisa melihat jalur untuk menuju ke puncaknya yang hampir mirip dengan jalur Gunung Raung. Makanya terkadang ada orang yang menyebut Puncak Natas Angin adalah Raungnya Jawa Tengah.


Puncak Bayangan- Puncak Natas Angin (25 menit)

Kembali jalan menurun beberapa meter untuk menuju ke puncak. Dilanjutkan menyusuri jalan setapak yang berbatasan dengan bibir jurang yang sangat dalam vertikal. Cukup riskan pada saat naik atau turun dalam keadaan gelap. Beruntung saat ini jalur sudah ada yang diperbaharui sehingga ada beberapa titik yang dahulu benar-benar harus berjalan di bibir tebing sekarang dibuat mlipir untuk membuat aman bagi para pendaki. Mendkati puncak, jalur yang licinpun juga dibelokkan ke kiri sehingga tidak begitu menanjak meski lebih jauh. Tidak masalah yang penting kita selamat itu adalah yang utama. 

Di Puncak Natas Angin, saat ini sudah terpasang papanisasi, untuk mendirikan tenda sebaiknya jangan di pas puncaknya. Bisa sedikit ke arah utara yang lokasinya juga cukup lebar dan masih berhutan lebat dan cukup terlindung jika terjadi badai. 

View Puncak Natas Angin

Sebaiknya jika ingin naik Gunung Muria khususnya di Puncak Natas Angin, lebih baik dilakukan pada bulan-bulan yang sudah turun hujan. Selain pemandangan yang menghijau kita juga bisa menikmati hawa dinginna. Karena sesungguhnya gunung Muria ini pada musim kemarau tidak begitu dingin atau bahkan cenderung panas. Membawa air dari bawah cukup untuk bekal minum di perjalanan, karena mata air di Sendang Suci tetap ada meski di musim kemarau sekalipun. Estimasi perjalanan kurang lebih 3-4 jam, jika hanya ingin tek tok lebih baik berangkat pagi dari tempat menitipkan motor. Tetap menghormati dengan segala adat yang berlaku di gunung dan selalu bawa sampahmu turun.

Salam Literasi dan Salam Lestari Alamku


Gunung Semeru Sudah Dibuka Untuk Pendakian, Durasi Pendakian 2 Hari 1 Malam

Gunung Semeru Sudah Dibuka Untuk Pendakian, Durasi Pendakian 2 Hari 1 Malam


Kabar dibukanya Gunung Semeru sangat ditunggu-tunggu bagi para pendaki yang sudah merindukan sejak hampir satu tahun ditutup untuk pendakian. Tentu saja ini menjadi geliat para pendaki untuk mengagendakan untuk mendaki Gunung Semeru sebagai atap tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3676 MDPL. 

Sebuah kebijakan baru dari manajemen pengelolaan pendakian gunung Semeru di Lumajang pada saat pandemi Covid 19 ini memberlakukan quota pendakian adalah 30% dari jumlah sebelumnya. Artinya kalau hari normal jumlah pendakian dalam satu hari adalah 600 orang kali ini hanya 120 orang saja. Kemudian durasi pendakian juga berbeda yang biasanya 3 hari dua malam kini berubah menjadi 2 hari 1 malam. Sehingga para pendaki bisa mengatur waktu dan ritme pendakian dengan sebaik mungkin. Selebihnya untuk peraturan masih sama seperti pendakian-pendakian sebelumnya.

Sebaiknya sebelum melakukan pendakian cek websitenya terlebih dahulu dan booking online untuk registrasi dan untuk info persyaratan mendaki Gunung Semeru bisa dibuka dalam link sebagai berikut; 

 http://www.mountlover.com/2020/01/cara-booking-on-line-pendaftaran-dan.html 

Berikut tips pendakian Gunung Semeru dengan durasi waktu 2 hari 1 malam:

1. Booking tiket paling tidak 1 minggu sebelum hari H pendakian

2. Booking Jeep satu hari sebelum pendakian

3. Lebih baik sampai di Pasar Tumpang Malang 1 hari sebelum pendakian

4. Mulailah pendakian pada pagi hari jam 8 pagi & usahakan sampai kali mati sebelum jam 5 sore

5. Gunakan waktu sebaik mungkin untuk istirahat dan pukul 23:00 persiapan untuk Summit.

6. Pukul 00:00 summit dan diperkirakan sampai puncak pukul 05:30

7. Pukul 07:00 turun dari Puncak Semeru dan sampai di Kalimati pukul 09:00

8. Pukul 10:00 mulai perjalanan turun & usahakan sebelum jam 18:00 sudah tiba di Ranupani

Lakukan perjalananmu seefisien dan seefekif mungkin dan disarankan untuk mendaki dengan jumlah minimal 3 orang, karena jika hanya 2 orang kita harus membayar 1 guide.

Tips Menghadapi Cuaca Ekstrim Saat Mendaki Gunung

Tips Menghadapi Cuaca Ekstrim Saat Mendaki Gunung


Mendaki sebuah gunung sebenarnya merupakan faktor keberuntungan pada pendaki masing - masing, karena faktor cuaca yang setiap saat berubah-ubah. Pada musim penghujan para pendaki harus mengantisipasi curah hujan, badai, petir, badai dan jalur pendakian yang licin serta beresiko yang lebih besar. Pada musim kemarau para pendaki akan menghadapi debu yang tebal, suhu dingin yang kadang dibawah rata-rata, bahaya kebakaran dan lain sebagainya yang terkadang para pendaki tidak diprediksi sebelumnya. Terlebih-lebih saat ini banyak pendaki yang hanya berkebutuhan pengganti profil media sosialnya, yang belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk pergi berpetualang. 

Untuk mengantisipasi cuaca buruk di gunung sebaiknya kita harus yang harus kita perhatikan pada saat naik gunung antara lain:

Ketika para pendaki melakukan pendakian, ada baiknya selalu siapkan fisik dan perlatan yang aman atau safety. Karena ketika sudah berniat terjun ke alam bebas pendaki sudah harus siap dengan segala resiko yang akan dihadapi selama perjalanan. Selain itu mendaki gunung gunung bukanlah ajang untuk bermain-main aka tetapi memang perlu sebuah nyali yang kuat dan keseriusan. Apalagi saat menghadapi cuaca yang ekstrim yang tiba-tiba datang tanpa permisi. Nahhh, Berikut beberapa hal yang muncul sebagai efek dari adanya cuaca ekstrim saat mendaki, diantaranya:

1. Menimbulkan kepanikan: terutama jika pendaki masih pemula mental belum terlatih, perlengkapan yang tidak memadahi dan tidak mengenal medan.

2. Disorientasi: Cuaca yang buruk yang datang dengan tiba-tiba membuat pendaki kehilangan kendali. Tentu saja jika pendaki mengalami disorientasi maka keputusan-keputusan yang diambil pendaki bisa berakibat fatal. Misalnya kabut tebal yang datang dengan tiba-tiba akan membuat jarak pandang terbatas dan pendaki bisa tersesat bahkan masuk jurang apabila tidak mengenal medan dengan baik.

3. Hipotermia: cuaca yang buruk seperti hujan lebat, angin kencang akan berpotensi menimbulkan hipotermia bagi pendaki. Hipotermia yang terjadi saat cuaca buruk akan menambah kepanikan dan berujung pada penanganan yang kurang tepat, tidak sedikit para pendaki yang kehilangan nyawa karena terkena hipotermia.

4. Cidera: perlengkapan yang tidak memadahi misalnya sepatu yang tidak standard, pakaian yang tidak semestinya akan menimbulkan cedera bagi pemakainya saat terjadi cuaca yang ekstrim.


Selain itu yang harus kita perhatikan saat mendaki dan dihadapi dengan cuaca ekstrim antara lain:

1. Saling mengawasi dan menjaga komunikasi dengan rekan pendakian agar kita tahu kondisi satu sama lain dan selalu jaga jarak aman supaya tidak terlepas dari rombongan

2. Jaga kekompakan karena keselamtan nyawa teman pendaki lain juga menjadi bagian dari tanggungjawaba bersama.

3. Jangan memaksakan kehendak jika kondisi sudah tidak memungkinkan lagi. Kondisi ini harus berani memutuskan antara dilanjutkan atau putar balik.

4. Jika memang harus mendirikan tenda carilah tempat yang nyaman dari tiupan badai atau aliran air jika pada saat hujan deras.

5. Kemas pendakian dari awal dengan sebaik mungkin antara di depan sebagai penunjuk arah, ditengah pendaki pemula dan leadernya dan dibelakan adalah sweeper yang siap dengan segala kondisi. 


Source : #gunungindonesia
Gunung Bromo dan Gunung Semeru Dibuka Untuk Pendakian Kembali

Gunung Bromo dan Gunung Semeru Dibuka Untuk Pendakian Kembali


Pengelola Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) berencana membuka kembali jalur pendakian Gunung Semeru.

Rencana itu menyusul dibuka kembali aktivitas wisata di Gunung Bromo yang berada dalam satu kawasan hutan taman nasional. Kepala TNBTS John Kendie mengatakan jalur pendakian Gunung Semeru akan dibuka 14 hari setelah pembukaan Gunung Bromo (11 September 2020). Adapun saat ini Gunung Bromo sudah dibuka pada tanggal 28 Agustus 2020 yang lalu. "14 hari kemudian rencana saya kita akan membuka juga pendakian ke Semeru,'' kata John di kantornya.

Gunung Semeru ditutup sejak 23 September 2019 ketika mengalami kebakarn. Sejak saat itu gunung dengan ketinggian 3676 meter di atas permukaan air laut (MDPL) ini belum dibuka kembali. Jika di buka 14 hari setelalh pembukaan Gunung Bromo atau pada September mendatang, gunung dengan puncak tertinggi di Pulau Jawa genap setahun tutup.

Layaknya Gunung Bromo, kuota pendakian Gunung Semeru juga dibuka untuk 20 % dari total kapasitas pendaki per hari. Selama ini total kapasitas pendaki Gunung Semeru berjumlah 600 pendaki per hari. Sehingga untuk saat ini pendakian Gunung Semeru hanya berjumal 120 orang per hari.

Dalam dua pekan ke depan pihaknya akan membersihkan jalur pendakian agar aman dilalui. Dalam satu minggu ini kita akan melibatkan bagaimana pembukaan Bromo ini dan juga akan membersihkan pendakian menuju pendakian Semeru,'' ungkapnya..

Sumber: Kompas.com

Untuk booking pendakian Gunung Semeru bisa juga baca : http://www.mountlover.com/2020/01/cara-booking-on-line-pendaftaran-dan.html

Adapun tahap untuk booking kendaraan Jeep bisa menghubungi komunitas kami dari Rindu Alam Adventure yang berlokasi di Pasar Tumpang Malang untuk tujuan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sebagai berikut:


#RinduAlamAd
TAHAPAN BOKING ONLINE WISATA BROMO.
1.Buka situs boking online bromo; bokingbromo.bromotenggersemeru.org
2. Lengkapi data dgn mencentang persyaratan.
3. Pilih tanggal berangkat.
4. Pilih pintu masuk (CobanTrisula-Malang) dan jenis kendaraan. (JEEP/Roda4)
5. Lengkapi form boking dgn mengisi data ketua dan jumlah anggota.
6. Lengkapi jumlah anggota WNI atau WNA.
7. Periksa nomor virtual account.
8. Ketua kelompok menerima SMS dan EMAIL..
9.Atas perhatianya disampaikan terima kasih
Arsy: #RinduAlamAdv.

Untuk info lebih lanjut bisa menghubungi Abah Arsy : 0822-6522-4003