Mount Lover

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Tentang Blog Ini

Blog ini merupakan cerita murni dari penulis dari pengalaman yang pernah kami lalui, semoga blog ini bermanfaat buat pembaca dan selalu menerima kritikan yang bersifat membangun. Saya ucapkan terimakasih kepada yang telah mengunjunginya, jika anda terkesan silahkan isikan tulisan anda melalui kolom komentar atau bila membutuhkan jasa guide pendakian gunung, bisa hubungi saya, Mr.Ady, WA/SMS/Telp. 085725247115

Follow Us

Pendakian Gunung Gede Pangrango Via Cibodas (Mie Instan Rasa Kari)

Pendakian Gunung Gede Pangrango Via Cibodas (Mie Instan Rasa Kari)


Hari ke dua selama kami menghabiskan liburan di Gunung Gede Pangrango, sudah terencana untuk summit pada pukul 03:30 dini hari. Namun wacana itu harus mundur hampir dua jam karena memang faktor capeknya pendakian tektok kemarin serta udara dingin yang memaksakan kami untuk betah-betah di dalam sleeping bag kami. Namun kekuatan niatlah yang membangunkan semangat kami untuk segera berkemas dan memulai menyiapkan segera keperluan untuk summit pagi ini. Namun sebelumnya tetap kami menunaikan sholat subuh terlebih dahulu dengan bertayamum di dalam tenda mengingat udara pagi itu sangat tidak bersahabat bagi kulit saya terutama karena cukup menusuk sampai ke tulang.

Uniknya persiapan pagi ini ketika menyiapkan segalanya ternyata logistik yang siap dimakan sudah menipis sehingga ala kadarnya yang kita bawa. Mengandalkan air mineral beberapa botol, mie instan, kopi, susu, kompor, gas dan beberapa camilan yang lain untuk kami berdelapan. Saya sendiri masih punya sisa madu satu sachet untuk mengurangi rasa haus di perjalanan nanti. Pukul 05:00 WIB kami berkumpul dan berdoa untuk yang terbaik dan diberikan kemudahan selama perjalanan. Sesaat kami mulai bergerak dengan sisa tenaga yang sudah terkuras kemarin. Meskipun hanya sedikit beban dalam pundak kami tetap saja langkah kami tidak secepat saat kita masih fit, hehehehheeee.....

Senter kami masih menyala saat kami sampai di pertigaan dan mulai belok kanan mengarah ke tujuan. Diawali jalan yang datar sedikit membuat lebih cepat langkah kami. Beberapa pohon yang tumbang juga membuat jalur ini menjadi daya tarik tersendiri untuk segera melintasi karena di sela-selanya pasti kami taruh pantat kami untuk beristirahat dan bercanda supaya menghilangkan rasa lelah, lapar dan haus kami. 

Setengah jam kami berjalan, senter kami sudah dimatikan karena mentari sudah mulai menerangi jalur-jalur pendakian. Lambat laun dingin dalam tubuh mulai sirna seiring sinar matahari yang menerobos lebatnya hutan di sepanjang jalur ke puncak Pangrango ini. Kicauan burung seakan menyambut kedatangan kami dan memberikan semangat tersendiri. Beberapa burung Jalak Gunung yang sesekali lewat dan menjadi petunjuk jalan buat kami mana jalur yang paling baik untuk dilaluinya.

Gunung Gede dari Pangrango

Mentari pagi ini memang suguh menawan yang terangkap melalui celah celah dedaunan serta semilir anginnya menambahkan sejuk suasana selama perjalanan kami. Jujur saja untuk menuju ke puncaknya jalan yang terkadang memang harus bergelayutan di antara akar-akar pohon yang kuat, namun terkadang harus mlipir di tepianya dengan sedikit basah tanahnya. Hutan di gunung Pangrango ini tidak beda jauh dengan gunung Gede bahkan cenderung lebih lebat. Perjalanan kamipun terasa sejuk karena hutan yang lebat ini. 

Sesekali kami berhenti untuk mengisi perut kami dengan berbagi super irit mengingat bekal yang kami bawa memang tak terlalu banyak. Beruntung madu yang saya miliki tetap menempel di mulut saya hingga rasa dahaga itu sedikut berkurang. 

Menuju puncak hampir tidak ada papanisasi yang mengarahkan, hanya berbekal mengikuti jejaklah kami menyusurinya hingga kami sampai pada dataran panjang yang hutannya semakin lebat dan pohon-pohon yang berumur tua meski begitu tetap rimbun dan terjaga kelestariannya. Beberapa menit kemudia sampailah kami di Tugu Gunung Pangrango pada pukul 08:00. Bersyukur kami sampai dengan selamat di puncaknya serta melihat puncak Gunung Gede yang cerah rasanya sesuatu banget dan hanya membayangkan coba saja kami kemarin mendapat view yang cerah seperti pasti akan berbeda lagi ceritanya hehehehehe.

Di puncak Gunung Pangrango kami bertemu pendaki lain yang lebih awal datangnya. Mereka sedang menikmati view dan menikmati kopi dan mie instan yang mereka buat. Mereka menawarkan kepada kami untuk menikmati hidangan tersebut. Tentu tanpa merasa malu kami menerima tawaran tersebut serta tanpa basa basi kami ikut menyruput kopi serta mie istan yang rasa kari..... KARI MAKAN maksudnya hehehehehe....ups.

Puncak Gunung Pangrango Berlatar Belakang Gunung Gede

Tim Mie Instan Rasa Kari

Tibalah sesi berfoto sebagai kenangan yang khususnya buat saya mungkin atau entah kapan akan terulang lagi, karena memang jaraklah yang membuat saya sendiri dengan kedua gunung ini. Di Puncak Pangrango ini sebenarnya minim view hanya Gunung Gede saja yang terlihat karena memang selebihya hutan belantara yang lebat. Beruntung buat kami di suguhi cuaca cerah sesuai ekspektasi, coba kalau berkabut pasti akan berbeda lagi ceritanya. Untuk mendirikan tenda juga lumayan banyak tempat yang nyaman namun ternyata para pendaki sangat jarang sekali mendirikan tenda di puncak ini. Rata-rata para pendaki lebih memilih turun ke ladang edelwisnya Mandalwangi. 

Ladang edelwis Mandalwangi hampir mirip dengan Surya Kencana hanya ini lebih kecil akan tetapi edelwis yang tumbuh subur membuat semakin cantik tempat ini. Gunung Salak terlihat di ujung saat kita menuruni menuju mata air yang super jernih di lokasi ini. Sehingga menjadi tempat camp yang pas untuk mendirikan tenda, selain pemandangan juga bagus, air bersihpun juga tersedia. Namun jangan di bawa pulang bunga edelwisnya ya teman-teman.

Kami cukup lama berada di sini namun waktu jugalah yang membatasi kami hingga kami memutuskan untuk turun ke Kandang Badak kembali. Pukul 10:00 kami mulai bergerak untuk menuju kandang Badak dengan sejuta kenangan yang tak akan pernah terlupakan. 

Lembah Mandalwangi

Pukul 12:00 kami sampai di Kandang Badak dan segera kami merebahkan badan kami untuk sesaat sebelum melaksanakan sholat duhur yang kami jamak dengan ashar. Usai mencemili bekal tersisa tiba saat buat kami masak-masak untuk makan siang kami. Menu siang ini adalah nasi putih, sarden, bakwan, tempe, telor dadar, sosis juga ada dan semua bekal memang kami habiskan untuk mengurangi beban kami saat pulang. Makan siang kami gelar dengan seadanya namun penuh dengan keakraban bersama kelakar-kelakar sisa perjalanan tadi.

Kamipun berkemas untuk segera packing sesuai anjuran dari basecamp. Pukul 15:00 kami mulai meninggalkan Kandang Badak dengan kenangan manis kami. Semoga suatu saat buat saya sendiri bisa kembali ke gunung ini doa saya dalam hati. Perlahan namun pasti kami menyusuri jalur pendakian dan ada beberapa pendaki yang kami temui sepanjang perjalanan kami turun. Sampai di Sumber Air Panas kami sempatkan istirahat sejenak untuk memulihkan stamina yang mulai menurun dan beberapa teman sudah terlebih dahulu meninggalkan kami. Sempat kami mecuci muka untuk menambah segar tentunya. 

Pukul 16:45 kami sampai di pertigaan yang mengarah ke Curug Cibeureum, di sana sudah ditunggu teman-teman yang lebih dulu sampai di lokasi sekalian mereka beristirahat. Kemudian kami berenam  menuju ke curug yang tidak terlalu jauh dari lokasi kami beristirahat. 10 menit kami sampai meski langkah kami agak tergesa karena takut ke sorean dengan melintasi jembatan yang super panjang tertata dengan rapinya. 

Sesampai di Curug Cibeureum aku hanya berdecak kagum dengan keindahan air terjun ini. Air terjun dengan air yang super jernih. Seketika aku mencari tempat yang datar untuk segera mencuci muka dan merasakan air nya yang cukup manis menurut saya seperti iklan salah satu air mineral. Bukan hanya satu air terjun akan tetapi ada dua air terjuan yang membuat lokasi ini menjadi tempat favorit untuk menghabiskan liburan meskipun memang harus di tempuh cukup jauh dari basecamp Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Namun saya rasa itu tidak akan merugi selama pemandanga cantik ini tetap terjaga ke asliannya dan tidak ada tangan-tangan jahil yang berusaha untuk mengeksplorasinya. 

Curug Cibeureum

Nuansa senja kali itu memang melekat sekali dengan rimbunnya hutan di sekitar air terjun, bergegaslah kami untuk mengambil langkah dimana teman masih menunggu dengan sabarnya. Sesampai di pertigaan kami lanjutkan perjalanan kami turun. Sesaat kami melintasi jembatan dimana tempat kami melaksanakan sholat subuh kemarin lusa. Gunung dibelakang nampak cerah sekali sehingga kami manfaatkan kesempatan tersebut untuk mengabadikan moment dan foto bersama untuk kenangan kebersamaan kami. Usai berswa foto langkah kembali kami ayunkan untuk menuju basecamp dan melewati telaga sunyi kembali hawa mistis ini begidik di punggungku. Aku mencoba menatap ke shelter yang dibangun di sekitar telaga sunyi. Sepi, gelap, angker dan cukup menakutkan senja itu. Tetapi saya berusaha untuk menguasai rasa takut itu dengan mulai menyalakan senterku yang mulai meredup setelah digunakan dua malam sebelumnya. 

Jembatan Unik Sebelum berpisah

Akhirnya kami sampai di basecamp pukul 20:00 malam hari. Es teh manis dan es susu manis yang menyegarkan tenggorokan ku. Tidak berlama-lama beberapa teman sudah mulai mengemas untuk segera beranjak pulang ke rumah masing-masing namun beberapa teman juga masih beristirahat di sana karena memang jaraknya lebih dekat. Pukul 21:00 saya dan mas Zikril berpamitan untuk lebih awal pulang. Namun sebelumnya saya sempatkan untuk beli cendera mata berupa stiker dan gantungan kunci untuk menjadi kenangan saya sendiri dan buat oleh-oleh anak-anak dan teman dekat. 

Terimakasih Gunung Gede dan Gunung Pangrango, semoga suatu saat nanti saya bisa kembali kesana dengan kesan yang berbeda lagi. Aamiin

Pendakian Gunung Gede Pangrango ( Cerita Horor Di Mushola Kandang Badak)

Pendakian Gunung Gede Pangrango ( Cerita Horor Di Mushola Kandang Badak)

Puncak Gunung Gede

Setelah Gunung Cikuray beberapa tahun lalu saya menyinggahinya, akhirnya tahun ini saya memiliki kesempatan untuk menyinggahi gunung Gede dan Pangrango yang berlokasi bersebelahan seperti di Jawa Tengah ada gunung Merbabu dan Merapi dan di Jawa Timur ada gunung Arjuno dan Welirang. Nah gunung Gede dan Pangrango saya rasa sudah tidak asing lagi bagi para petualang dengan keindahan pesona gunung ini. 

Gunung Gede yang memiliki ketinggia 2958 MDPL dan Gunung Pangrango yang memiliki ketinggian 3019 MDPL berada di kawasan Puncak Bogor, sehingga setiap perjalan ke arah puncak atau belibur di kota Bogor akan melihat dua gunung ini. Adapula juga Gunung Salak yang terkenal dengan keangkerannya yang bisa kita lihat di kota hujan ini. Kedua gunung ini memiliki dua basecamp yang memiliki spot-spot menarik. Basecacmp Putri yang menawarkan lokasi camp yang cukup fenomenal yaitu Surken atau Surya Kencana yang memiliki ladang bunga edelwis yang sangat luas serta mata air yang cukup melimpah apalagi jika pada musim hujan. Sementara satu jalur lain yang terkenal adalah jalur Cibodas yang menjadi icon Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang ditunjang dengan relatif jalan yang enak untuk dilalui oleh seorang pendaki.

Perjalanan ku kali ini adalah yang pertama kalinya ke Gunung Gede dan Gunung Pangrango yang sebenarnya misi tambahan dari misi utama yakni saat saya di minta untuk menjadi wali nikah keponakan di Jakarta akhirnya aku sisipkan untuk mlipir di kedua gunung Gede dan Pangrango sekalian. Bersyukur saat itu adikku merekomendasi teman dari Jakarta untuk menemaniku ke tempat tujuan. Dari sanalah terbentuklah grup whatsApp se saat dan memulai menginvite teman yang berada di sekitar kota Bogor dan sekaligus pengelola basecamp di Cibodas untuk mempermulus jalannya rencana kami. 

Singkat saja setelah pagi hari menghadiri pernikahan keponakan di Duren Tiga segera saya berkemas untuk keberangkatan ku dan kamipun memutuskan untuk ke Bogor dengan mengendarai motor biar simpel dan ngirit tentunya. Pukul 16:30 saya berangkat dengan dibekali makanan yang super banyak dari kakakku di tas ranselku kami menuju Kota Hujannya Jawa Barat. Di sana sudah janjian untuk bertemu di Jembatan Gadog pukul 20:00. Kami berdua sampai di Bogor sekitar pukul 19:00 an dan langsung menuju Ciawi dan berhenti di Jembatan Gadok. 

Disambut dengan hawa dingin kota ini kemudian saya menuju warung jamu yang tidak terlalu jauh dari jalan raya sambil menunggu teman-teman datang. Tidak lama kemudian teman-teman sudah berkumpul dan kami melanjutkan perjalanan ke puncak untuk menuju basecamp Cibodas. Akan tetapi teman yang satu masih harus ditunggu karena baru bisa keluar dari kerjaan sekitar pukul 17:00 sore dan akhirnya bisa berkumpul semua pada pukul 23:00 malam hari. Pihak basecamp menyarankan kami untuk istirahat dan memulai pendakian pada dini hari. 

Pukul 03:00 saya sendiri sudah bangun kemudian membangunkan teman-teman untuk mempersiapkan segala pendakian kami. Pukul 03:30 kamipun mulai perjalanan kami menyusuri jalan yang masih sangat nyaman untuk sebuah perjalanan. Hawa dingin yang menyusup di sela-sela baju dan ransel kami lambat laun menghilang saat kami sudah memulai perjalanan. Sayup-sayup  terdengar ayam berkokok untuk menyambut datangnya sang mentari. Kami sudah sampai pada Telaga Sunyi di samping Rumah atau shelter yang cukup seram menurut saya. Bersamaan dengan adzan subuh berkumandang teman-teman mengambil air untuk kami gunakan berwudlu nantinya. 

Pukul 04:45 sampailah kami di jembatan yang sangat panjang dan menjadi spot foto yang sinematik jika gugusan gunung yang kita tuju terlihat dengan jelas. Kemudian kami menunaikan sholat subuh berjamaah di lokasi jembatan dengan aliran air yang jernih di bawahnya serta gemericiknya semakin membuat nuansa yang sangat alami. Doa kami adalah semoga perjalanan kami dipermudah dan diberikan cuaca yang bersahabat. Selepas doa kami, kamipun bergegas untuk melanjutkan perjalanan kami. 

Burung-burung mulai berkicau dan keluar dari sarang tidurnya semalam untuk menyambut hangatnya sang mentari pagi. Kami melewatinya tanpa permisi begitu saja hingga perjalanan kami sampai di pertigaan yang mengarah ke air terjun Curug Cibeureum. Kami berhenti sesaat karena ada beberapa teman request untuk pergi air terjun tersebut. Akan tetapi kami memutuskan untuk ke air terjun sepulangnya dari mendaki kedua gunung tersebut. Langkah kami lanjutkan untuk menyusuri jalan berbatu yang sudah mulai terasa tanjakannya. Meskipun tidak terlalu tinggi tanjakannya namun karena perjalanan yang cukup panjang akhirnya rasa lelah dan laparlah yang memberhentikan kami di Shelter Denok 1. Kami mengisi perut kami dengan nasi yang kami beli di basecamp tadi beserta lauk yang sederhana. Rasa lapar jugalah yang membuat kami semangat untuk menghabiskan makanan tadi. 

Sarapan Seru Seadanya

Kurang lebih pukul 08:00 kami sampai di sumber mata air panas yang menjadi idaman saya untuk merasakan kehangatan airnya. Benar saja baru beberapa meter menjelang ke sumber mata air ini sudah terlihat uap mengepul di sela-sela gemericik airnya. Satu per satu kami melewatinya, karena ada beberapa batu yang berlumut kami pun cukup hati hati untuk melangkah karena di sebelahnya memang jurang yang cukup dalam meskipun sudah ada kawat pegangan. Satu yang ku rasakan adalah seperti mandi saona di jalur itu meski hanya sesaat dan memegang airnya pun hanya secukupnya karena memang terasa panas untuk dibuat mainan. Mungkin bagi teman-teman yang mau merebus telur juga bisa tinggal menunggui sekitar 5-10 menit akan masak telurnya.

Di atasnya ternyata juga masih ada satu lagi aliran sungai yang cukup deras dan airnya juga cukup hangat hingga kami menyeburkan diri meskipun tidak seluruh badan kami hanya kaki-kaki kami yang bermainan air dan sekaligus mengabadikan moment ke sekian kalinya. Ngemil beberapa makanan untuk menumbuhkan stamina kami lagi sebelum kami melanjutkan perjalanan kami.

Sungai Air Hangat 

Air Terjuan Super Hot

Pos demi pos kami lewati hingga kami sampailah di Pos Kandang Badak pada pukul 11:30. Perjalanan yang cukup melelahkan memang buat kami kurang lebih berjalan 7 jam untuk sampai di tempat camp terkahir. Tempat ini sangat luas dan super teduh karena tempat camp yang datar serta ditumbuhi pohon-pohon yang tumbuh dengan subur serta rindang hingga sinar matahari tidak bisa menembus di tempat area ini. Selain itu pos Kandang Badak terdapat mata air yang melimpah sehingga untuk kebutuhan air sangat tercukupi. Selain itu toilet dan mushola juga tersedia dan tidak perlu susah lagi jika ingin beribadah ataupun buang hajat. Karena waktu itu termasuk hari kerja sehingga suasana sepi yang membuat kami tidak antri di tempat ini. Tentunya akan berbeda dengan weekend days akan sedikit memberikan kesabaran kepada kita untuk mengantri.

Selesai Ishoma, kami sepakat untuk melanjutkan perjalanan ke Gunung Gede yang katanya temanku medan nya lumayan enak untuk di naiki dengan kondisi fisik yang memang sudah terkuras selama perjalanan tadi. Selain itu juga ketinggiannya juga lebih rendah dibanding dengan Gunung Pangrango. Baru berjalan beberapa menit kami bertemu dengan pertigaan jika belok ke kanan kita akan mengarah Pangrango dan kamipun mengambil arah lurus untuk menuju puncaknya gunung Gede. Jalanan mulai merambat dari akar ke akar atau dari batu ke batu hingga akhirnya kami sampai di Tanjakan Setan. Meski tidak terlalu tinggi namun kemiringan ini memang menjadi tantangan tersendiri. Dengan dipasang webbing memang terasa lebih mudah untuk melewatinya. Namun ada sebagian teman kami yang memang agak takut sehingga terkesan lebih lambat dalam melewati tanjakan dengan kemiringan 80 derajat ini. Sebenarnya di sebelah kiri ada jalur yang tidak menanjak namun agak memanjang. 

Tanjakan Setan

Selepas dari tanjakan setan ini kami masih bergelut dengan hutan cantigi yang tumbuh subur bersamaan dengan kabut yang sore itu mulai turun dan mendinginkan tubuh kami. Beruntung kami sudah menyiapkan jaket sehingga rasa dingin itu bisa kami nikmati dengan nyaman. Sempat turun gerimis kecil sepanjang perjalanan, namun kami merasa itu adalah gerimis dari kabut itu sendiri. Benar saja menjelang sampai ke puncak Gunung Gede gerimis itu menghilang meskipun masih berkabut. Dataran pertama kami temui saya berharap sudah sampai puncaknya, ternyata memang masih harus meniti pagar dan menuntun kami hingga ke Tugu Gunung Gede yang kami tempuh sekitar 20 menit dengan medan yang sedikit berpasir dan berkerikil cukup tajam-tajam.

Swa Foto yang tidak antri hehehehe....

Sampai di Tugu Gunung Gede alhamdulillah tidak sesuai ekpektasi mendapat sun set, tembok putih pun kami tetap bersyukur karena tidak berebut juga untuk berswafoto di tugu Gunung Gedenya. Tidak telalu lama kami di Puncak Gunung Gede kurang lebih dua puluh menit dengan mengembalikan stamina kami dan perut kami isi dengan perbekalan seadanya. Pukul 16:30 kami beranjak turun dengan sedikit rasa kecewa tidak bisa melihat cerahnya di puncak tadi. Menelusuri jalur-jalur sempit menuju turun membuat kami berhati-hati. Memang cukup bersahabat namun banyak sekali jalur-jalur ke bawah yang membuat kami harus memilih jalur yang lebih banyak dilalui oleh pendaki lain dengan harapan kita tetap selamat sampai di tempat camp kami Kandang Badak. 

Semakin turun suasana semakin sore saat kami kembali dipertemukan Tanjakan Setan, dengan kesabaran kami turun satu persatu dan memastikan kami semua selamat. Pukul 17:30 kami sudah sampai di pertigaan yang mengarah ke Gunung Pangrango yang akan kami lalui besok pagi hari. Jelang maghrib kamipun sampai di tempat camp Kandang Badak, sesaat kami beristirahat ternyata tempat camp sudah mulai ramai dengan pendaki-pendaki lain yang berdatangan meski tidak terlalu padat namun cukup ramai. Bersamaan dengan itu lampu bertenaga surya pun mulai menyala yang berarti kamipun juga sudah menggunakan senter kami untuk penerangan dalam tenda. 

Kami menunaikan sholat maghrib meskipun tidak berjamaah semuanya, dan ada kesan tersendiri selama di mushola Kandang Badak ini.

Cerita Horor di Mushola Kandang Badak

Saya sendiri termasuk orang yang masih percaya dengan mahluk-mahluk cipataan Allah SWT yang berbeda tempat. Di tempat camp ini saat saya memasuki area memang belum terasa apa-apa akan tetapi saat senja menjelang hawa mistis itu sudah mulau terasa pada saat saya mengambil air wudlu untuk sholat maghrib saya menuju ke tempat penampungan air kotak karena saat itu tempat wudlu yang di sediakan ada antrian. Hawa mistis itu terasa saat saya mulai membasahi tangan ku dan berbeda sekali dengan hawa sebelumnya. Tangan saya terasa berat untuk saya gerakkan seolah ada yang memegangnya. Sementara mata saya seakan bertatapan dengan mahluk asing yang berada di sekitar itu tampungan air yang menunggui dan duduk di atasnya. Orang yang sudah tua dan berjenggot putih itu seolah terus menatapku meski tidak seram namun tetap saja bulu kuduk ku juga berdiri dan sembari menyelesaikan air wudlu aku berdoa yang terbaik agar semua terkondisikan. Sayapun tidak langsung balik kanan namun saya berjalan mundur dan sambil menghormati kepada yang punya tempat. Saya pun tidak bercerita kepada teman-teman sesampai di mushola dan saya membiarkan mereka untuk mengambil wudlu. Saya menunggu di mushola untuk sholat berjamaah dan saya menjadi imam buat teman-teman saya yang selanjutnya sholat maghrib kami jamak dengan sholat isya'. 

Sekitar Mushola Angker itu hehehe


Tempat Camp yang Super nyaman

Sesampai di tenda saya pun ceritakan apa yang saya alami saat berwudlu tadi, lantas di sambung beberapa teman yang mengalami hal yang sama. Satu teman saya juga melihat di pojok sebelah kanan ada mbak kunti yang berdiri sambil memperhatikan kami sholat dan yang satu lagi juga melihat di belakang ada mahluk besar hitam entah apa yang dia lakukan. Saya sendiri hanya merasa ada sedikit hawa seram dan tidak bisa melihatnya saat itu karena memang saya tidak bercerita supaya teman-teman tidak merasa ketakutan. Namun ternyata teman-teman juga merasakan sendiri hehehehhehe......

Sudahlah cerita horor itu kemudian kami ganti dengan candaan kami saat kami masak buat makan malam. Cukup simple masak untuk makan malam karena masih melekat rasa lelah kami sepulang naik dan turun Gunung Gede. Pukul 20:00 selepas makan malam sudah mulai terdengar teman yang mengorok karena lelapnya tidur, selepas itu semua sepi hingga akhirnya akupun juga ikut merebahkan tubuh ku untuk segera masuk ke SB.

Pendakian Gunung Sumbing 3371 MDPL, Via Bowongso, Wonosoba, Jawa Tengah

Pendakian Gunung Sumbing 3371 MDPL, Via Bowongso, Wonosoba, Jawa Tengah

Puncak Rajawali

Pertama kali mendengar di Gunung Sumbing terdapat miniaturnya sabananya Sembalun Gunung Rinjani, saya menjadi penasaran seperti apa sabananya tersebut. Keinginan itu akhirnya baru terealisasikan setelah beberapa kali mencoba jalur pendakian Gunung Sumbing Via Bowongso, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia. Desa Bowongso sendiri berada di kecamatan Kalijajar, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia. Rata-rata penduduknya sebagian besar bercocok tanam dengan menanam tanaman khas pegunungan seperti kentang, kol, tomat, seledri dan lain sebagainya. Karena berada di ketinggian atau perbukitan, rumah-rumah penduduk dibuat berundak dan tersusun rapi. Yang menjadi icon desa ini adalah memliki lapangan sepakbola yang bersebelahan dengan basecamp pendakian Gunung Sumbing yang berada berdampingan di sebelah Sekolah Dasar. Untuk menuju desa Kalijajar ini dari arah Wonosobo ke arah selatan setelah pertigaan Kertek. Kurang lebih 2 km kita akan bertemu dengan perempatan dan kita belok kiri. Akses menuju kesana sebagaian besar sudah bagus namun ada beberapa titik yang aspalnya mengelupas sehingga perlu pembenahan dari pihak pemerintah setempat. 

Berada di ketinggian kurang lebih 500 MDPL, desa ini terletak di sisi barat Gunung Sumbing, memiliki panorama yang menakjubkan dengan berlatar belakang Gunung Sumbing yang sangat menawan. Di senja hari juga akan tersaji matahari tenggelam atau sunset yang didampingi gunung Sindoro di sebelah utara di desa ini.

Sabana yang terlihat cantik

Untuk saat ini pendakian gunung Sumbing via Bowongso masih dengan sistem manual. Namun juga bisa melalui pesan whatsApp untuk booking jika nantinya terjadi sistem quota pembatasan dalam pendakian. Untuk tiket masuknya adalah Rp. 15.000 dengan parkir motor Rp. 5000 dan mobil Rp.10.000. Kondisi basecamp cukup luas, parkir yang memadahi dan tempat makan dan warung-warung juga sudah tersedia rapi. Tempat ibadah seperti mushola kecil yang unik juga tersedia di basecamp Bowongso ini, hanya saja untuk toilet memang masih kurang memadahi jika pengunjungnya di akhir pekan yang banyak. Namun sebagai alternatif bisa ke masjid yang berada tidak jauh dari basecamp untuk sekedar mandi, cuci muka dan buang air kecil. 

Kali itu kami hanya berdua saat mencoba jalur pendakian ini bersama murid di SMA kami yang sedang liburan setelah pelaksanaan Ujian Akhir Semester. Pukul 17:00 WIB kami sampai di basecamp setelah perjalanan sempat di guyur hujan meski tidak terlalu deras, namun rasa dingin itu yang semakin membuat kami merasa dingin dan jas hujan yang bisa mengcovernya. Sembari menunggu adzan maghrib kamipun menyiapkan segala keperluannya dan mengatur ulang packing tas kami. Adzan berkumandang kami bergegas untuk menunaikan kewajiban kami untuk sholat maghrib yang sekalian di jamak dengan sholat isyak. 

Sejenak kemudian kami menghubungi tukang ojek untuk mengantarkan kami pintu gerbang pendakian yang masih berjarak kurang lebih 2 km dari basecamp dan bisa ditempuh kurang lebih hampir satu jam dengan jalan kaki. Dengan ojek bisa memangkas waktu menjadi seperempat jam saja dengan harga ojek Rp. 25.000,-. Jalan yang masih berbatu yang rapi terkadang cukup licin jika setelah diguyur hujan. Kamipun berdoa sebelum memulai perjalanan kami.

Setelah memasuki pintu gerbang pendakian atau Parkiran Swadas, jalanan masih tertata rapi dan terkadang jika cuaca tidak hujan sepeda motor bisa sampai di Gardu Pandang yang berada tidak jauh dari pintu gerbang. Hanya membutuhkan waktu 10 menit jalan kaki kita akan bertemu dengan gardu pandang yang asri dengan view pedesaan Kalijajar dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip di malam hari serta beberapa spot kota Wonosobo. Di gardu pandang ini juga ada beberapa warung yang menjajakan makanannya serta ada yang jual souvenir untuk para pengunjung membelinya. Karena kami sampai di lokasi sudah malam hari maka suasana berbeda dan yang ada hanya sepi dan semilir angin dan suara daun pinus membuat semakin terasa benar alami ini. Sesaat setelah kami beristirahat kami mulai mendapati jalur yang mulai menanjak. Jalan yang sudah mulai terlihat membuat kami mudah untuk menapakinya, namun terkadang kontur tanah liat juga membuat jalan menjadi licin manakala ada sisa-sisa air hujan.

Menuju ke Pos 1 (Taman Asmara) dari Gardu Pandang ini bisa ditempuh kurang lebih 20 menit dengan medan yang masih bersahabat. Akan tetapi jalur ini sudah memasuki kawasan hutan, meskipun tidak begitu lebat namun kalau perjalanan dilakukan di malam hari tentunya diawali dengan sesak nafas karena harus beradapatasi dengan lingkungan sekitar dan harus berebut oksigen dengan perdu-perdu di sepanjanga jalur pendakian. Taman Asmara ini berupa lahan datar yang tidak terlalu lebar hanya muat sekitar 3-4 tenda dan ada beberapa spot khusus untuk berfoto dan uniknya tempat ini di halangi pohon besar yang tumbang dan dijadikan tempat untuk menyandarkan badan-badan berkeringat setelah beberapa jam melakukan perjalanan. 

Menuju ke tempat camp selanjutnya yaitu Camp Plalangan, menurut saya ini adalah pos bayangan yang bisa ditempuh kurang lebih 30 menit. Perjalanan cukup menguras tenaga dengan medan yang tidak terlalu lebar dan sesekali harus rambatan akar-akar pohon di beberapa spot. Ini yang menjadi rasa tersendiri dimana ada beberapa titik yang mengharuskan dengkul ketemu hidung. Namun itulah sebuah pendakian yang sudah wajar untuk kita hadapi.

Camp Gajahan dengan Background Sabana dan Puncak Gunung Sumbing

Menuju Pos 2 Bogel, jalan tidak lagi berbonus, dengan kemiringan sekian derajat rasanya setiap melangkah adanya tanjakan dan tanjakan meski tidak tajam namun terasa panjang. Untuk mencapai tempat ini memakan waktu kurang lebih satu jam dengan perjalanan yang normal. Setibanya pos 2 ada dua tempat yang bisa kita buat mendirikan tenda, yang pertama adalah di sekitar hutan yang bisa memuat kurang lebih 15-20 tenda sementara yang satunya di area terbuka yang luas dan bisa mencapai 50 tenda dengan latar belakang sabana gunung Sumbing yang sangat luas. Diantara sabana itu terlihat dua jalur yang berbeda di sebelah kanan dan kiri. Yang membedakan adalah kalau jalur sebelah kiri penuh dengan tanjakan dan lurus sementara yang sebelah kanan jalur full dengan sabana dengan dibuat zig zag sehingga membuat jaraknya pendakian semakin jauh dan membutuhkan waktu yang lama. Kurang lebih hampir satu jam akan bertemu dengan Pos 3 Zorro.

Pos 3 Zorro ini ditandai dengan pohon lamtoro tunggal yang cukup besar, cukup teduh saat digunakan untuk berteduh sebentar. Berlokasi di dataran yang miring sehingga jarang atau bahkan tidak ada yang mendirikan tenda di sekitar Pos 3 Zorro ini. Dari pos 3 Zorro ini kita bisa melihat sabananya yang dimulai dari Camp Gajahan yang terbentang luas serta berlatar belakang Gunung Sindoro dan Gunung Kembang di sebelah barat. Melanjutkan perjalanan ke Puncak Gunung sumbing dari Pos 3 medan sudah mulai berbatu dan rasanya lebih diperlama lagi untuk mencapai puncaknya. Selain berbatu juga di sebelah kanan jalur pendakian ada tebing-tebing terjal yang cukup tinggi yang ditumbuhi perdu-perdu liar yang semakin sinematik untuk di abadikan dengan kamera.

Pos 3 Zorro

Kurang lebih 1 jam dari pos 3 Zorro kita akan sampai di Puncak Bowongso yang jika ke arah kiri kita akan ketemu dengan Puncak Buntu yang jalurnya cenderung datar dengan pemandangan full Gunung Sindoro. Jika kata belok kanan ke arah Puncak Rajawali kita akan menaiki punggukan bukit cadas yang terjal. Bersyukur di sana sudah terpasang tali webbing untuk mempermudah pendakian. Bukan hanya itu saja, untuk mencapai puncak Rajawali kita harus menuruni batu vertikal yang di selanya tumbuh pohon cantigi yang bisa digunakan untuk berpegangan dan memasang webbing untuk ke amanan. Tidak terlalu tinggi memang kurang lebih 4-5 meter namun di bawahnya ada jurang menganga jika tidak hati hati juga akan risiko yang lebih berat akan kita dapatkan. 

Tebing-Tebing di Puncak Rajawali

Sesudahnya kita bertemu dengan pertigaan jalur pendakian dari Banaran dan Kaliangkrik yang jalurnya menyusuri kawah gunung Sumbing terlebih dahulu untuk mencapai Puncak Sejati. Dari sini sudah tidak jauh lagi kurang lebih 15 menit. Dengan jalur yang sedikit diputar dan zig zag rasanya bisa mempermudah para pendaki untuk segera sampai di Puncak Rajawali sebagai puncak tertingginya Gunung Sumbing yaknni 3371 MDPL. Dari sinilah kita bisa melihat keindahan kota-kota di kaki gunung Sumbing jika cuaca cerah. Luasnya kawah gunung Sumbing juga membuat semakin apik view gunung tertinggi ke dua di Jawa Tengah ini. Sekilas meski tipis juga terlihat asap sulfatara yang keluar dari celah-celah batu yang berwarna ke kuningan karena terkandung belerangnya. Di pojok utara terlihat pula segara wedi yang terlihat memutih jika dilihat dari puncak Rajawali.  Sungguh pesona gunung Sumbing ini memberikan kesan tersendiri untuk tidak menolak jika untuk kembali ke sana. 

Kawah Aktif Gunung Sumbing


Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo Part III - Jurang Mele, Nguras Air Mata

Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo Part III - Jurang Mele, Nguras Air Mata


Dari pos I Wukir Bayi, kembali kaki kami melangkah untuk menyusuri jalan setapak yang kanan kirinya ditumbuhi ilalang-ilalang liar. Sesekali tangan kami berpegangan untuk menguatkan pijakan kaki agar tidak terperosok ke semak-semak yang tidak landai lagi. Seperempat jam kemudiian kami menemui aliran sungai yang sangat jernih. Gemericik di sela - sela bebatuan yang sedikit berlumut karena seringnya dialiri air dan tidak dijamah oleh manusia. Terkesan asri dan menyejukkan mata manakala mata kami memandang di sekitar dengan perdu-perdu yang menghijau. Sejenak kami mulai mengisi botol kosong yang sudah kami habiskan di Pos 1 tadi. Buat saya sendiri bukan hanya mengisi botol akan tetapi orang Jawa bilang NGOKOP hehehehe. Bukan hanya menghilangkan tenggorokan tetapi buat bekal perjalanan menuju ke Pos 2.

Menuju Pos 2 yang dikenal dengan nama NGUDAL ini tanaman yang tinggi-tinggi dan berukuran besar sering kita jumpai di jalur ini. Karena memang jalur yang memang jarang dilewati, jalur ini memang sedikit tertutup dengan rumput-rumput hijau yang tebal. Medan yang sudah mulai menguras tenaga membuat perjalanan kami sedikit terhambat pada saat itu. Matahari mengiri perjalanan semakin terik dan setiap kalinya ketemu dengan perdu yang rimbun kami singgahkan pantat kami untuk mengambil nafas dan mendapatkan asupan oksigen dari perdu-perdu yang rimbun. 

Menuju Pos 2 kita melwati Jurang Mele. Selain teduh juga di sini sinyal hape daru semua jaringan sangat bagus untuk bisa berkomunikasi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.  Jurang Mele ini merupakan dataran yang cukup nyaman untuk beristirahat, dan di sebelah kirinya terdapat jurang yang cukup terjal yang agak panjang, mungkin ini mengapa disebut dengan Jurang Mele. Perjalanan kami tempuh tanpa terburu-buru sehingga perjalanan kami memang cukup lama dengan durasi yang seharusnya bisa di tempuh 1,5 jam kami menempuhnya kurang lebih 2 jam. 

Pos 2 Ngudal ini ada Shelter yang cukup sejuk untuk kita singgahi. Sementara itu di sisi lain shelter ini juga dekat dengan mata air dan jika kehabisan bekal air kita cukup berjalan ke arah sebelah kiri kurang lebih 5 menit kita akan ketemu aliran sungai yang sama dengan saat kita ketemu di setelah Pos 1. Sesaat kami singgah akhirnya perjalanan kami lanjutkan kembali untuk menuju ke Pos 3 yang di sebut dengan WATU KLOSO yang jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh dari Pos 2. Namun karena medan yang cukup menanjak dan cukup panjang akhir nya perjalanan kami juga tersendat, akan tetapi kami tetap enjoy menikmati setiap langkah kami.

POS 2 NGUDAL

Dari basecamp kami sudah di wanti-wanti untuk sampai di Pos 3 Watu Kloso sebelum jan 12 siang, dan puji syukur kami sampai di Pos 3 pukul 11:00 WIB. Kami pun bergegas menuruni jalur menuju sungai yang berair jernih dan sudah mulai terdengar dari beberapa ratus meter dari jarak kami. Air yang jernih, dan sejuk kita dapati di sungai tersebut. Tanpa segan-segan saya sendiri langsung meminum air yang jernih dan segar serta lebih dingin dari kulkas di rumah rasanya. Kami serombongan mulai membuat masakan untuk makan siang kami dengan menu sarden, orek tempe dan beberapa lauk lain. Cukup lama kami berada di Watu Kloso dan kami sempatkan untuk sholat Dzuhur dan dijamak dengan Sholat Ashar. Hingga akhirnya kami pukul 13:30 keluar dari sungai dan beranjak ke Pos 3 sesungguhnya yang berada di bawah Tanjakan Ondo Rante. Salah satu temen kami tiba-tiba sandal japit nya putus dan diapun memutuskan untuk tidak memakai alas apapun.

Jujur saja di Pos 3 ini saya sebenarnya sudah penasaran dengan Tanjakan Ondo Rante yang katanya super kejam, dan teman saya bilang, jika di tanjakan ini lolos, maka gunung yang lain pun akan lebih mudah. Kepoku bertambah saat kami sebelum naik tanjakan berisitirahat sesaat untuk mengumpulkan tenaga sebelum melangkahkan kaki kami.

Pos 3 Wotu Kloso

Pukul 15:00 tepat kami beranjak dari Pos 3 Watu Kloso menuju ke Pos 4 KUPATAN. Baru beberapa langkah dari tempat kami beristirahat, benar saja kami sudah disambut dengan batuan-batuan yang cukup besar sebagai pijakan kaki kami dan betul juga tanjakan ini selain kemiringan yang cukup sadis dan panjang betuuuuullll sangat menguras tenaga dengan beban di tas yang kami bawa. Sudah berjalan seharian dengan medan yang panjang dan di tiga per empat  dari perjalanan disuguhkan medan yang super duper. Ini membuat saya hanya berharap untuk segera sampai Pos 4 Kupatan. 

Waktu itu sudah 3 jam kami berjalan menyusuri Ondo Rante ini namun belum juga nongol itu papan Pos 4 Kupatan. Kurang ajarnya teman saya yang sudah tahu Pos 4 itu diam saja dan memang tidak berpapan hanya berupa dataran sempit untuk beristirahat sesaat. Sialnya lagi itu sudah lewat di beberapa tanjakan sebelum aku tanyakan. Dalam hati aku hanya bilang.... Kurang ajar ini teman njaluk di kepruki tenan iki. hahahahahaha........

Menjelang maghrib kami sampai di dataran yang cukup syahdu untuk rebahan sesaat sambil melihat rona-rona awan merah yang menandakan matahari akan tenggelam. Pohon-pohon pinus besar yang bekas kebakaran beberapa tahun silam yang memerahkan lereng lawu ini nampak berbeda dan ada kesan unik tersendiri. Di sisi lain saya dan teman-teman sudah mendambakan untuk segera mendirikan tenda untuk segera merebahkan badan kami yang sudah sangat kepayahan meskipun di sela-sela perjalanan kami sempilkan candaan untuk menghibur paras-paras wajah yang bermuka capek. 

Di Atas Pos 4 Kupatan

Pohon Pinus sisa-sisa kebakaran

Hingga suatu ketika saya sendiri sudah benar-benar di ujung kesabaran untuk berjalan dan rasanya saat itu aku mau nyerah saja dengan keadaan karena jujur saja saat itu aku lapppaaarrr sangat serta kondisi usus-usus yang tidak terkendali lagi untuk menahan rasa lapar. Sayapun akhir nya bilang sama salah satu temen yang orangnya memang wak-wakan tapi menyenangkan.

Aku: Mas aku lapar aku tak mangan disek yoo...

Aldi : Lah ngarep kui loh wes dataran penak sedelok engkas teko nggon gawe ngedekke tendo

Aku: emoh-emohh aku ngeleh tenan re mas.

Aldi: yo wes mandek sek nak anu.

Akhirnya akupun mengganjal perutku dengan beberapa roti coklat yang aku bawa, kurang lebih setengah jam aku beristirahat di situ sambil mengumpulkan tenaga sebelum kami lanjutkan ke Pos 5 CEMORO LAWANG. Dalam perjalanan saya pun bilang sama temenku

Aku: Iki Pos 5 Cemoro Lawang masih jauh toh kak aldi

Aldi ; Ngarep kui loh mas wes dataran

Aku: tenan ora kui ora sah ngasih PHP

Aldi: tenanan mas nggon Dataran Tinggi.

Aku : ASUUUUU .... tenan kowe ki

Aldi ; Hahahahahaha.......

Itulah spontanitas ucapan yang memang jarang sekali aku ucapkan, namun semua memang berupa candaan dan akhirnya kami tertawa ngakak bersama. Dengan langkah yang masih gontai, akhirnya saya lah yang terkahir sampai di Cemoro Lawang pada pukul 19:30 an. Sementara teman-teman sudah membangun tenda dan hampir jadi, saya baru unthuk-unthuk di hajar tanjakan asuuuuu nya Ondo Rante Jogorogo. Tapi kami tetap hepppier kawan hehehehehehe.

Pukul 20:00 tenda saya sudah berdiri, aku sudah merasa bodo amat dengan teman yang di luar masak-masak menawarkan jajanan satu sama lain. Aku ambil SB dan kukenakan karena kabut malam itu juga cukup tebal dan mulai menusuk tulang-tulangku. Akupun ambil tayamum dan melaksankan sholat maghrib dan isyak yang aku jamak sekalian sebelum saya benar-benar terlelap dalam buaian SB yang cukup menghangatkanku. 

Malam itu turun gerimis yang semakin membuat kami betah dalam tenda, dan dipertengahan malam akhirnya ada anak-anak mapala yang datang dan ikut bergabung dengan kami untuk camp di Pos 5 Cemoro Lawang. Oh ya Cemoro Lawang ini juga memiliki tempat yang luas untuk mendirikan tenda dengan teduhya pohon-pohon cemara yang besar dan tinggi membuat hunian kami terlindung dari rintikan hujan secara langsung serta sinar matahari di siang harinya.

Rencana kami akan summit pada pukul 04:00 WIB untuk mencari sun rise di puncaknya. Tetapi apa hendak dikata, ternyata kami bangun pukul 05:30 yang artinya sunrise pun sudah hampir menampakan wajahnya dengan kehangatan yang khas. Akupun bergegas untuk segera sholat subuh yang hampir habis waktunya. Benar saja saat keluar tenda di sebelah timur sudah ada rona-rona merah yang menyisip diatara ranting-ranting cemara. 

Pos 5 Cemoro Lawang

Pukul 06:00 kami melanjutkan perjalan tanpa beban karena tas dan tenda kami tinggal di Pos 5 dan hanya beberapa orang yang membawa day pack dan keril untuk membawa perbekalan untuk sepanjang perjalanan sebelum kami akan sarapan di warung Legenda Gunung Lawu di Mbok Yem. Kurang lebih seperempat jam kami sampai di Bulak Peperangan dan melihat banyak tenda para pendaki yang lewat jalur Candi Cetho. Ada beberapa yang melihat kami keluar dari balik bukit dan ada beberapa yang bertanya, dari jalur mana mas kalian naik. Kami hanya menjawab dari Ngawi bang. 

Disambut jalur yang landai membuat langkah kami sedikit di percepat untuk sampai di Gupakan Menjangan yang saya idam-idamkan. Saya berharap full dengan air sehingga kami bisa minum dan menambahkan air dari sana untuk bekal sampai mbok yem nanti. Cekrak-cekrek di sepanjang jalur tidak lupa kami lakukan sebagai mengabadikan moment kami yang tentu tidak akan terlupakan. Tidak lama kemudian kami sampai di Gupakan Menjangan, dan benar saja Ranukumbolo mini ini penuh dengan air. Tidak jarang para pendaki untuk berpose di telaga yang jarang penuh dengan air ini. 

Angin semilir mengiringi langkah kami untuk segera bergegas menuju persinggahan Mbok Yem untuk mengisi perut kami yang semakin keroncongan. Namun itu tertunda saat kami berada di Pasar Dieng karena saya sendiri mengingat tempat ini menjadi mula seseorang pendaki yang hilang di gunung Lawu dan hingga kini belum diketemukan. Beliau hilang dan tidur dalam hangat dekapan gunung Lawu yang entah sampai kapan akan dipertemukan. Semoga arwah beliau akan di abadi dikenang oleh para pendaki gunung Lawu untuk selalu berhati-hati dalam segala kondisi, apapun itu. Kami menyempatkan foto bersama dengan jejak si gundul dari Lamongan yang menjadi icon pendakian kami saat itu. Hehehehe.....

Pasar Dieng

Pukul 08:30 kami sampai di Warung Mbok Yem dan segera kami memesan sebanyak 13 porsi nasi pecel dan susu putih anget. Makan di depan warung mbok yem rasanya memang sangat beda ditemani dengan pemandangan yang super duper cantik dilapisi awan-awan serta kabut tipis yang semaki mempesonakan mata. Pukul 09:00 kami mulai naik ke puncak Hargo Dumilah dan setibanya di sana kami pun bersama-sama mencari spot yang cantik untuk di abadikan. Tidak lupa kami foto bersama di tugu Kiky Hargo Dumilah.

Antri Makan

Si Gundul dan Si Gondrong

Pukul 11:00 kami pun memutuskan untuk turun dan kembali ke Pos 5 di Cemoro Lawang, pukul 13:00 kami sampai dan bergegas untuk segera turun ke basecamp di Jogorogo. Pukul 13:30 kami bertiga belas mulai menuruni tanjakan asssuuuuudahlah di Ondo Rante. Tetap dengan berbagai cerita guyon dan yang laiinya kami bersama sama untuk menghibur diri dari rasa letih kami. 
Tugu Kiky, Hargo Dumilah

Pukul 17:00 WIB kami sampai di basecamp disambut dengan gerimis yang cukup menghilangkan rasa panas sepanjang perjalanan. Dan alhamdulillah ibu yang baik hati kami disambut pula dengan teh serta kopi panas untuk menghangatkan udara yang mendinginkan kami waktu itu. Sejenak rehat sambil cekrak-cekrek kami lanjutkan turun untuk ke rumah teman sebagai persinggahan terkahir kami. Sama-sama kami memutuskan untuk segera lanjut pulang ke daerah kami masing-masing karena besoknya sama-sama kerja. Pukul 20:00 we have to say good bye to each other and has planning to meet in another time. 

Rumah salah satu Teman, See You Next Time


Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo Part II - Ketemu Ciwik-Ciwik Cantik

Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo Part II - Ketemu Ciwik-Ciwik Cantik

Pos I Wukir Bayi

Kamipun bertemu dengan rombongan lain yang berasal dari Kabupaten Semarang, tepatnya anak Mapala dari Polines Semarang, yang sedang menguji juniornya dalam perjalanan lintas dari Jogorogo dan akan turun di Cemoro Kandang, Karanganyar sisi selatan yang berbatasan dengan Magetan Jawa Timur. Tim saya sendiri ada saya (Mr. Adi) dari Demak, Mas Dwi dari Ungaran, Egi Alfiansyah dan Sherif Juniar dari Lamongan, Tawon dan Rois dari Jombang, Ipunk, Aldi, Yogi dan Roni dari Jogorogo yang akan mendampingi kami sepanjang perjalanan. Dari Polines berkenalan dengan nama lapangan antara lain Ting-Ting, Genjeh, Pacet, Giri dan Aziz dan memang rencananya akan naik bersama sampai Pos I (Wukir Bayi).

Pukul 08:05 waktu itu kami mulai perjalanan kami dari basecamp naik sedikit ketemu dengan lapangan Voly. Kami di brefing sama kak Irvan Handri untuk teknis perjalanan kami dengan satu pesan yang selalu saya ingat, "Kalau Bisa Pukul 12:00 sudah sampai di Watu Kloso, jadi ke atasnya akan aman". Sesaat kami berdoa untuk keselamatan, kelancaran dan kekuatan selama perjalanan kami.

Hutan cemara menyambut kami dengan semilir anginnya yang menerpa kulit kami. Terasa sejuk dan segar untuk sebuah perjalanan di jalanan berbatu kerikil merah yang sesekali menyandung kaki jika tidak hati hati. Kabut tipis pagi itu pun cukup memberikan rasa sendiri yang mungkin tidak pernah kami rasakan di dataran rendah. Beberapa menit kemudian kami kami mendapati pohon-pohon pinus itu di kelupas kulitnya untuk diambil getahnya oleh penduduk dengan dikasih tandan dari batok kelapa atau dari bekas botol minuman.

Sesekali kami menyeka keringat kami yang mulai keluar di raut wajah kami, meskipun berudara sejuk tetap saja beban di badan kami yang membuat kami harus berkeringat juga. Tidak lupa canda demi canda yang keluar dari mulut kami yang selalu menyemangati satu sama lain. Tidak jarang kami bertemu dengan warga yang turun dari merumput untuk ternak mereka dengan beban yang mungkin dua kali lipatnya dari beban tas saya hehehe. Salut buat warga yang sudah berusia namun tenaga yang dimiliki masih di atas rata-rata. Tanaman lain yang bisa kami temukan adalah ladang kopi yang sudah berbuah, meski masih hijau-hijau namun dalam beberapa bulan ke depan akan di panen dengan kwalitas yang pasti bagus. Jalan masih banyak bonus yang datar saat kami bertemu dengan pertigaan dan kebetualan saat itu kami bertemu dengan dua pemuda yang mencari daun pisang yang akan digunakan untuk bungkus makanan dan ternyata bisa diakses dengan sepeda motor.

Tak ada dalam lintasan saya saat ketemu jalan yang sangat lebar untuk menuju pos 1, bahkan untuk sebuah truk pun bisa melaluinya. Akan tetapi karena sebuah keadaan alam dan faktor yang lain dan tidak memungkinkan kendaraan melaluinya kecuali motor trail. Semoga kedepannya lebih bisa dikelola lebih baik lagi. 

Langkah semakin kami percepat, mengingat jalan yang enak dan bersahabat. Bayangan saya adalah Pos 1 segera kami dapati, mengingat perjalanan kami sudah hampir 1, 5 jam, pun belum tampak yang namanya Pos 1. Jalan yang masih berbatu dan tertata cukup rapi membawa kami ke sebuah belokan dan terdapatlah shelter yang cukup luas dan memang Pos 1 sudah terlihat. Pos 1 ini kondisinya cukup luas dan cocok untuk kegiatan out bond, selain teduh dan sumber mata air juga dekat dan tempat ini cukup terjangkau. Untuk tenda bisa memuat kurang lebih 40-60 tenda yang berkapasitas 4 orang.

Pos 1 yang diberikan nama WUKIR BAYI. Tempat ini masih berada di ketinggian kurang lebih 900 MDPL. Kata Wukir Bayi yang diambil dari kata, Pawukir Bayi. Tempat memandikan Bayi jaman dahulu kala. Selain itu Wukir Bayi juga memiliki filosofi yang tinggi yang mana para peziarah tidak terlalu paham nama desa Kletekan, tidak terlalu peduli dengan nama Randu Kuning tetapi mereka akan sangat familiar dengan nama Wukir Bayi. Di Pos I Wukir Bayi ini sampai saat ini juga masih sangat menghormati kepada para leluhur sebagai bentuk kearifan lokal yang harus dihormati untuk para penerusnya. Setiap tahun sekali Perum Perhutani melakukan tradisi Wedus Kendhit yaitu acara penyembelihan kambing dan masak-masak secara mendadak. Kegiatan ini dilakukan oleh Perum Perhutani bersama Penyadap pinus sebagai bentuk rasa syukur mereka kepada Allah SWT atas rezeki yang telah diberikan. Makan bersama dan turut mengundang warga untuk makan bersama menjadikan warga guyub dan tanggap disetiap melakukan aktivitas. Menurut mereka rasa syukur itu adalah yang utama jika kita pandai mensyukuri apa yang Allah berikan maka senantiasa guyup masyarakat itu akan selalu berkesinambungan.

Apa Bedanya dengan foto yang di atas hayooooo

Di Wukir Bayi inilah kami beristirahat cukup lama di shelter yang terlihat asri diantara pepohonan rimbun yang menjadikan tempat ini sejuk. Setelah melewati jalan yang cukup panjang menuju lokasi ini kami minum dan makan camilah yang sudah kami bawa satu persatu kami keluarkan dan kita menikmati bersama sambil sesekali menikmati pemandangan di sekitar yang masih rimbun dan asri.

Lokasi ini menjadi tempat buat makrab kami dengan mahasiswa dari Polines yang sedang mengadakan Diklatsar anggota Mapala nya yang sudah berangkat terlebih dahulu dengan jalur yang memutar. Kami kenalan satu persatu dan uniknya team mapala mereka memiliki nama lapangan yang lucu-lucu. Ada yang namanya Gajeh, Pacet, Ting-Ting, Amsyong dan Dugong temen saya sendiri ada yang namanya Twon dan dari nama itu memiliki cerita tersendiri buat mereka. Karena mereka kebanyakan cewek-cewek yang enak buat dilihat ehhh..keceplosan jadi memberikan semangat tersendiri buat kami para cowok cowok bang jon kecuali aku yang sudah tuwir sendiri hehehehe. Sudahlah lupakan saja hanya sebatas guyonan hehehehe.

Sesi cekrek-cekrekpun kami lakukan sebelum kami melanjutkan perjalanan kami menuju pos 2.

Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo - Part I ( Pengobat Kecewa)

Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo - Part I ( Pengobat Kecewa)

Gunung Lawu

Perencanaan yang gagal akhirnya saya mengalihkan tujuan untuk tetap berjalan di sebuah pegunungan bersama teman saya mas Dwi dari Ungaran. Awalnya kami akan pergi ke Gunung Gede Pangrango bertepatan dengan pelaksanaan pernikahan keponakan saya yang di Jakarta yang terjadwal tanggal 9 April 2021. Berkoordinasi teman-teman yang di Jakarta dan Bogor sudah saya lakukan, namun akhirnya semua ditunda karena akad nikah yang ditunda menjadi tanggal 31 Juli 2021 nantinya. Untuk mengobati rasa kecewa akhirnya kami alihkan tanggal tersebut ke Gunung Lawu yang tidak seperti biasanya.

Kami mengambil jalur yang jauh dari keramaian dan sangat jarang di lewati oleh pendaki kecuali penduduk lokal yaitu Gunung Lawu dengan jalur pendakian Jogorogo Ngawi, Jawa Timur. Jalur ini merupakan jalur terpanjang di Gunung Lawu yang dimulai pendakian dari ketinggian 500 an MDPL. Sementara yang lain jalur pendakian sudah dimulai di atas 1200 an MDPL.

Singkat cerita kami mulai perjalanan kami dari tanggal 8 April 2021 yang saat itu memang sudah terjadi grup mini di WA dengan teman-teman dari Lamongan dan Jombang yang ingin bergabung dengan kami untuk mencoba jalur Gunung Lawu Via Jogorogo. Ada Egi Firmansyah dan Sherif dari Lamongan serta Mas Tawon dan Rois dari Jombang, ditemani relawan basecamp mas Aldi dan mas Ipung. Akan tetapi pada prakteknya masih ada dua orang lagi yang mbarengi kami yaitu mas Yogi dan satu lagi saya lupa namanya. Saya sendiri berangkat dari Demak pukul 14:00 siang dengan mengendarai motor matik saya dan janjian sama mas Dwi di terminak Tingkir pukul 18:00 sore karena mas Dwi nya baru keluar dari pekerjaan pukul 16:00 nya. Saya sampai di terminal tingkir pada pukul 4 sore dan langsung ke mushola untuk menunaikan sholat ashar.

Usai Sholat ashar saya langsung berbaur dengan anak-anak bus mania di terminal Tingkir yang sore itu cukup ramai. Setiap bus yang jadi pelari kami foto satu-satu apalagi kalau yang datang bus Haryanto dan STJ, auto penggemarnya merapat semua termasuk saya hehehehehe....

Bersama temen-temen bus mania dan Mas Rehan Pedagang Cilok yang super koca

Momen-momen itu saya abadikan dengan kameraku yang sudah menua, hingga akhirnya ada kebersamaan berfoto dengan anak-anak bus mania yang salah satunya pedagang cilok yang sangat ramah dan baik hati minta di foto bareng dengan latar belakang bus Haryanto. Kamipun sambil bercerita dan bercanda hingga adzan maghrib berkumandang. Sejenak temanku yang dari Ungaranpun juga sudah sampai. Bergegas kami segera laksanakan sholat Maghrib dan di jamak dengan Sholat Isyak sebelum kami bertolak menuju ke kota Ngawi. 

Sebelum perjalanan kami mulai, saya menitipkan motor saya di parkiran belakang terminal dan akan saya ambil hari Minggunya. Pukul 6:30 malam itu kami mulai perjalanan dari Salatiga dan awalnya aku yang berada di depan untuk mengendarai motornya mas Dwi. Sementara dari Jombang juga sudah mulai bergerak untuk meninggalkan kotanya dengan tujuan yang sama yaitu Kota Ngawi dan ke basecamp Jogorogo. Malam itu kami sampai di kota Solo sekitar pukul 19:30 yang akhirnya Mas Dwi lah yang mengendarai sepeda motor karena harus menggunakan Google map untuk mempermudah perjalanan kami. Kota Sragen kami lalui pukul 20:00 an sementara yang dari Jombang sudah sampai di Ngawi dan mendekati Jogorogo. Sementara yang dari Lamongan belum bergerak sama sekali dari kota nya karena masih menunggu mas Sherif yang baru keluar dari tempat kerjanya pukul 18:00. Alhasil kami segera menuju ke Ngawi dan sekitar pukul 21:00 kami sudah berada di Ngawi menuju segera munuju ke Pasar Jogorogo yang menjadi tempat bertemu kami. 

Pukul 21:30 kami sampai di Pasar Jogorogo dan yang dari Jombang sudah berada di tempat mas Irvan Handri yang beralamat Dukuh Pocol Ds Kletekan RT 05 RW 04, Jogorogo, Ngawi. Kami dijemput mas Irvan di pasar yang sebelumnya kami sudah keblabasan menuju kota Ngawi sekitar 6 km hahahaha. Gagal fokus karena perut mulai laperrrrrrrrrrrrrrrrrr. Namun karena sudah ada janji yang membawakan nasi Boran khas Lamongan akhirnya kami memutuskan untuk tidak makan di perjalanan melainkan menunggu yang dari Lamongan. Tapi eh tapi.... ternyata aku salah sangka, yang sudah sampai di tempat mas Irvan itu adalah teman yang dari Jombang dan nothing nasi Boran. Saking lapernya aku tidak malu-malu untuk menembung ke mas Irvan buat makan malam, memang sudah di siapkan sebenarnya hahahaha. Wahh lauknya ampuuun dahhh kesukaan saya semua, Sayur Gori Kemarin, Tuntuman dan ikan asinn... auto nambah pokoke apalagi temenku yang sudah kelaparan mas Dwi, awale malu-malu tapi akhire nambah juga hahahahahha.... gak usah isin-isin pokoke.

Karena lelah dalam perjalanan kamipun terkantuk dan tertidur lelap hingga akhirnya terbangun karena yang dari Lamongan datang pada pukul 01:00 dini hari. Pun temen saya tetap terlelap tuh tanpa harus terganggu sedikitpun. Nah disitulah akhirnya nasi boran nya sudah tercium bau nya dan saya pun sempat mencicipi meskipun sedikit karena memang cukup pedas buat saya hehehehe... maaf ya mas Sherif. Namun rasa penasaran itu kan sudah tidak lagi seperti apa rasa nasi Boran itu ???

Nasi Boran Khas Lamongan

Tak seberapa lama kamipun semua putuskan buat rehat sampai subuh hari, meski sebentar kamipu cukup nyenyak. Sebenarnya dalam jadwal kami berangkat pukul 06:00 pagi start dari basecamp untuk perjalanan kali ini, akan tetapi semua tidak bisa dipaksakan untuk sesuai dengan jadwal karena berbenturan dengan perjalanan yang jauh dan kondisional sebuah pekerjaan itu lebih penting dibanding sebuah hiburan perjalanan. Usai sarapan dengan nasi Boran dan ada menu-menu lain yang sudah di depan mata kami menyantap dengan lahab tanpa basa basi sedikitpun. Kami berangkat ke basecamp Jogorogo sekitar pukul 07:30 dari rumah mas Irvan Handri. Karena masih ada beberapa bekal yang kami beli di jalan serta jas hujan yang kelupaan membawa, kami singgah di warung sesaat untuk melengkapinya. 

Perjalanan ke basecamp Jogorogo cukup bagus juga viewnya dan kami melewati beberapa perkampungan yang kanan kirinya terbentang sawah yang teras iring di latarbelakangi dengan bukit-bukit di kaki Gunung Lawu. Kata satu temen saya mas Sherif, "Aku tidak pernah menyangka jika kota Ngawi itu punya gunung yang sebesar ini dan berhawa sejuk". Nyatanya tetap nyegerin tanpa harus minum Sprite hehehehhe. Karena udara yang sejuk dan air yang masih bersih semuapun terlihat bersih di perkampungan menuju basecamp ini. Jalan yang sudah beraspal dan betonisasi yang mempermudah kami sampai di basecamp yang berujung batu yang tertata rapi pun kami tidak kesulitan untuk sampai di basecamp.' Dengan nomor kontak person Basecamp Pendakian Lawu via Jogorogo 0857-3552-9131 (Irvan Handri)

https://maps.app.goo.gl/UKn6P4CmRiM8F5bd6

Basecamp & Lapangan Voly yang menjadi start Pendakian

Sesampai di basecamp kamipun sudah ditunggu oleh rekan-rekan yang sekaligus relawan yang akan mengantar kami. Nah disitulah buly demi bulyan dimulai dari jam yang molor serta ada saja yang di buat ngebanyol yang terkadang nganyelake tapi seru. Namun di sisi lain adapula peserta lain yang akan naik gunung Lawu yaitu anak-anak Mapala dari POLINES Semarang yang sedang memantau adik-adiknya yang sudah naik duluan. Akhirnya kami berlima belas (15) naik bersama sesuai arahan Kak Irvan Handri sampai pos 1, karena jalur menuju pos 1 memang banyak cabangnya yang ditakutkan kesasar tentunya. Kalau setelah Pos 1 terserah saja kata beliau (kak Irvan Handri).

Akses Menuju Jogorogo jika naik transportasi umum, baik naik bus dari arah timur atau barat lebih baik turun di kota Ngawi, dari sana biasanya sudah ada travel yang siap mengantar untuk sampai ke basecamp dengan harga juga masih relatif murah lah untuk kantong para traveler. Jika naik motor atau mobil pribadi tinggal klik link di atas, insya allah sudah teraksesable di google map, jadi jangan khawatir kesasar hehehehehe...................

Cerita Pendakian Gunung Lawu Via Jogorogo Part II judul (Jalur Jogorogo Menyapa) will be coming soon




Piknik di Gunung Andong Bersama SMA Muhammadiyah I Demak

Piknik di Gunung Andong Bersama SMA Muhammadiyah I Demak

Tidak terlintas sebelumnya dalam benak saya dan teman-teman saat sekolah kami memiliki kesempatan untuk mengadakan kegiatan rutin dua tahunan sekali. Biasanya sekolah kami mengadakan piknik di tempat wahana permainan selera anak-anak muda jaman sekarang dan diakhiri dengan belanja kesukaan anak muda di tempat-tempat yang menjajakan makanan khas suatu daerah saat pulang dari tempat wisata tersebut. 

Namun kali ini tiba-tiba kepala sekolah memanggil saya untuk menghadap di ruang kerja beliau. Saya hanya mengira urusan kegiatan PPDB di sekolah kami. Namun ternyata jauh diluar perkiraan saya yang ditanyakan kepada saya. Beliau bilang kepada saya, Mr jika kegiatan rutin dua tahun sekali sekolah kita diadakan tazabur alam bagaimana??

Tapppppp... pikiran saya seperti gayung bersambut saja hehehe. Mungkin juga karena kepala sekolah kami, melihat saya suka mbolang dan akhirnya meminta saya untuk mengurus segala keperluan tersebut. Dipilihlah Gunung Andong yang sangat ramah untuk mereka para pemula dengan medan yang tidak begitu terjal serta jarak tempuh yang tidak terlalu lama.

Setelah fix dengan hari yang ditentukan, saya awali dengan survei lokasi tempat yang pas untuk dijadikan tempat mendirikan tenda nantinya. Terpilihlah puncak makam Joko Pekik yang sedikit berlembah dan lebih nyaman dan aman jika terjadi badai saat sudah mendirikan tenda. Singkat cerita di lokasi tersebut sudah tersedia toilet dan ada lapangan yang cukup luas untuk sekedar dibuat arena bermain. Lokasi yang dibuat berundak untuk mendirikan tenda membuat view yang cantik dengan latar belakang Puncak Alap-Alap yang terlihat pula Gunung Telomoyo di baliknya. Selain itu saya pun berkoordinasi dengan pihak basecamp Andong (Bapak Aji) di basecamp bambu yang berdekatan dengan masjid serta memiliki halaman parkir yang cukup luas.

Di hari H keberangkatan perjalanan kami mulai dari kota Demak pukul 08:00 dan sampai di basecamp pada pukul 10:30 dengan mengendarai bus mini dua buah. Sesampai di lokasi kami istirahat sebentar dan beberapa menit kemudian kami melakukan kegiatan Pelantikan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan pelantikan Hisbul Wathan (HW) di halaman basecamp. Hanya 45 menit kegiatan itu akhirnya diakhiri dengan doa penutup dan setelahnya bergegas sholat dhuhur yang dijamak dengan sholat ashar berjamaah di masjid. Makan siang sudah disiapkan dari Demak oleh panitia dan dibagikan kepada murid-murid dan kitapun makan siang bersama. Dari raut wajah anak-anak sebenarnya sudah tidak sabar untuk segera naik dengan mereka yang sering keluar masuk dan memandang Gunung Andong di belakang basecamp Bambu mas Aji. 

Pelantikan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM)

Pelantikan Hisbul Wathan (HW)

Sebelum keberangkatan naik tetaplah koordinasi dengan basecamp serta membayar tiket dan menyewa beberapa perlengkapan yang dibutuhkan oleh siswa dan guru pendamping yang terdiri dari 20 siswa serta 9 guru pendamping dan 4 anak kecil yang ikut perjalanan kami. Dalam kegiatan awal adalah kami meminta pihak basecamp untuk memberikan pengarahan kepada siswa-siswi kami serta pembagian jatah masing-masing untuk makan malam, snack, perlengkapan untuk camp yang dibawa masing sehingga semua merasakan termasuk bapak ibu guru pendamping juga mendapat jatah yang sama.

Pukul 14:00 perjalanan kami mulai dari basecamp. Untuk saya sendiri alhamdulillah anak kecilku sudah tidur siang, jadi saya rasa aman dan tidak akan rewel di perjalanan. Semangat yang menggebeu untuk merasakan sensasi anak tangga menuju pos satu akan mereka rasakan. Saya sendiri karena harus mengurus beberapa administrasi akhirnya saya berangkat paling belakang. Kami pun menyusul dan saya sendiri membiarkan anakku yang berusia 4 tahun juga jalan sendiri, untuk dia adalah yang kedua kalinya naik gunung Andong.

Perjalanan kami disambut dengan kabut tipis yang menerpa dingin di kulit kami yang membuat kami meskipun berkeringat terasa dingin. Semilir angin yang sejuk yang mungkin bagi anak-anak kami jarang dirasakan di kota panas seperti lokasi sekolah kami, seakan membuat mereka tetap bersemangat untuk tetap melanjutkan perjalanan. Terutama anak-anak laki-laki yang seakan berlomba untuk segera sampai di puncaknya. Namun karena kebersamaanlah yang membuat kami tidak serta merta bergegas untuk siapa yang paling dulu sampai di lokasi. 

Setelah pos 2 dengan medan yang cukup menguras energi, beberapa siswa terutama yang perempuan sudah mulai goyah dengan setiap bawaannya yang akhirnya tetap teman-teman dan guru pendamping yang memback up mereka. Jujur saja hampir semua siswa ini adalah kali pertamanya naik gunung dan termasuk beberapa guru putri, meskipun mereka terbiasa ngecamp tetaplah berbeda dengan naik gunung yang memang membutuhkan tenaga ekstra terutama yang membawa anak kecil seperti saya dan bu Ria yang memang anak kami seusia. 

Satu demi satu pos kami lalui hingga kami sampai di Pos 3 Watu Wayang, di sana kami istirahat cukup lama, dan sambil menikmati jajanan yang dibelikan pak ustad tadi hehehe. Semilir angin dingin dan kabut tipis membuat anak-anak kami semakin betah dan sesekali memandang Gunung Merbabu dan Merapi di sebelah Selatan serta Gunung Sumbing Sindoro di sebelah Barat. Tidak lupa cekrak cekrek untuk mengabadikan momen yang sangat berharga buat mereka. Ada pula yang merekam yang nantinya akan menjadikan kenangan tersendiri buat mereka.

Pos III Watu Wayang Dengan Latar Belakang Gunung Merbabu Merapi

Tidak lama kemudian kamipun melanjutkan perjalan menuju lokasi yang sudah saya tentukan untuk mendirikan tenda. Kurang lebih seperempat jam, akhirnya kami sampai di tempat tujuan tepatnya pukul 15:30 WIB. Berteriak dengan keras adalah cara mengekspresikan luapan bahagia mereka ketika sampai di lokasi. Tidak berhenti begitu saja, pada saat itu anak laki-laki yang sudah terkelompok dan sebelumnya sudah saya ajarkan untuk membangun tenda, dengan sigap mereka langsung mendirikan tenda dengan tetap jaga jarak sebagai penerapan protokol kesehatan di musim pandemi ini. 

Ada kejadian lucu yang menurut saya, dengan pembagian tenda kepada anak-anak dan salah satunya ada tenda saya yang biasa kami gunakan tidur di rumah malam minggu bersama anak kecilku yang akan di pakai ustad Firqi akhirnya dilihat anakku. Sementara saya sendiri sudah mendirikan tenda yang memang anakku belum pernah lihat sebelumnya. Al hasil anakku nangis dan nangis tendanya tidak boleh dipakai orang lain dan dia ingin tidurnya pakai tenda itu. Beberapa kali aku membujuk dan memberikan pengertian kepadanya, tetaplah pendirian yang kuat untuk si oik. Kekeh untuk memakai tenda tersebut. Mengalahlah aku akhirnya daripada nanti dia tetap ngambeg. Kemudian tenda aku pindah sejajar dengan tenda yang aku bangun sebelumnya. Demi kenyamanan dan tidak bocor jika terjadi hujan aku pasang flysheet yang cukup lebar dan cukup nyaman. Baru diam anakku hehehehe....

Sementara yang perempuan sambil menunggu tenda terbangun mereka asik mengabadikan moment, yang mana pada sore itu cuaca sangat cerah. Kabut tipis yang tadi berhembus sirna membuat mereka berlomba-lomba untuk mengabadikan momen yang tepat. Anak-anak kecil juga berlarian kesana kemari tanpa rasa takut sedikitpun. Saya sendiri juga tidak terlalu khawatir terhadap anak saya yang naik turun dan terpantau dari jarak pandang saya. 

Menjelang sholat Maghrib dari masing-masing guru pendamping mendampingi anak-anak untuk melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan Roundown acara yaitu sholat jamaah dan dilanjutkan baca al qur'an bersama untuk surat-surat pendek. Adapun yang laki-laki di dampingi Ustad Firqi dan yang perempuan mereka mandiri dan didampingi guru-guru karena yang awalnya ustazah akan ikut namun berhalangan dengan kegiatan kampusnya. Selepas kegiatan selesai mereka makan malam dan mereka dengan kegiatan masing-masing. 

Puncak Makam Joko Pekik, Lokasi Tempat Mendirikan Tenda

Untuk saya sendiri karena capek ternyata anakku tidur lebih awal, aku hanya berjalan di sekitar tenda sambil mengawasi anak-anak. Ada yang naik ke puncak Jiwo dengan alasan sambil mengecas HP lah atau apalah, yang kami ia kan saja. Kami percaya mereka tidak akan macam-macam di sana. Pun di sana ada mas Adi (Dobleh) yang sengaja diutus basecamp untuk ikut mengawasi anak-anak kami. Pada akhirnya kamipun asik dan menikmati malam itu dengan kegiatan kami masing-masing. Kira-kira pukul 10 malam hujan rintik mulai turun dan kamipun memasuki tenda kami masing-masing untuk. 

Subuh hari kami dibangunkan oleh alarm yang berbunyi yang sudah di setting sebelumnya. Sholat shubuh berjamaah oleh santri santri. Karena saya antri dan saya sholat sendirian. Diakhir salam terdengarlah anakku menangis, usai salam saya lari menuju tenda dan mendapati anakku sudah terbangun sambil sesenggukan yang saya tinggal sendirian. Hehehehe. Aku dekap dan kuusap air matanya untuk memberikan rasa aman dan nyaman. Tidak beberapa lama kemudian kamipun keluar tenda untuk menikmati udara pagi itu yang masih tetap berkabut sisa badai semalam. 

Menjelang Sun Rise kamipun bergegas ke puncak gunung Andong yang biasa disebut dengan Andong Peak dan menikmati pemandangan yang di sekitar gunung Andong. Ladang yang berkelok-kelok menambah cantik dengan kabut tipisnya. Meski mentari pagi itu tidak nampak tetaplah kami senang bisa menapakkan kaki-kaki kami di puncak tertinggi gunung Andong ini. Mentari yang tak kunjung nampak membuat kami kembali camp area.

Makan pagi dengan menu alakadarnya yang dibawa anak-anak, mereka mencoba dan memasak sendiri. Ada yang bawa mie instan, energen, minuman penghangat dan lain sebagainya. Saya sendiri membuat nasi goreng ala-ala yang dicampur dengan daging burung yang cukup mantap rasanya. Karena membuat porsi banyak , aku bagi-bagikan ke guru lain dan siswa yang rata-rata sedang semego (sedang lahab-lahabnya makan) jadi keingat masa muda dulu ya hehehehe.

Sarapan usai, untuk menghilangkan rasa dingin kamipun diajak guru olah raga untuk bermain di depan warung air dengan beberapa permainan antaralain, menyanyikan lagu "Sedang Apa" saling bersahutan dengan tim laki-laki dan perempuan dan yang kalah adalah skotjam lima kali. Kedudukan seimbang antara mereka dan sama-sama mendapatkan hukuman sekali. Kemudian dilanjtukan permainan ambil botol yang start awalnya lari dengan berjongkok baik putra ataupun putri. Permainan terkahir adalah permainan tradisional Ulo-Ulo Cabe. Saya merasa ini menjadikan pengalaman yang tak terlupakan buat mereka dan alhasil dari permainan itu adalah tetap kami merasakan sebuah kehangatan diantara perdu-perdu kecil yang terambing oleh angin sepoi-sepoi gunung Andong. 

Suasana Pagi Hari di Camp Area

Anak-Anak Kecil Tangguh

Berkemas kurang lebih setengah jam, pukul 09:00 kami berpamitan sama simbah Tumar sang Penunggu Gunung Andong yang ternyata beliau sudah berusia 80 tahun dan beliaulah yang membuat jalan pendakian dari tahun 1980 an lalu. Tidak lupa sampah-sampah kami bersihkan untuk dibawa turun supaya kebersihan tetap terjaga. Ingat pepatah gunung yang banyak sekali di ucapkan oleh mereka para pecinta alam yakni

"Janganlah kau bunuh sesuatu kecuali Waktu"
"Janganlah kau tinggalkan sesuatu kecuali Jejakmu"

"dan janganlah kau petik sesuatu kecuali Gambar dengan kameramu"

Simbah Tumar

Keceriaan yang terpancar pagi itu dan sampailah kami sampai di basecamp pukul 10:20. Belum juga menempatkan pantat kami, tiba-tiba salah satu anak kelas 12 mendekati saya mengusulkan nanti perpisahan anak kelas 12 di gunung saja ya mister. Ampunnnn ampuuun... akhirnya terkontaminasi juga itu bocah yang awalnya berfikir negatif untuk sebuah pendakian. Heheheheee..... semoga keinginannya tersapaikan nanti, aamiiin.